LOGINKriiiiiiiing ... telfon rumah berbunyi.
"Hallo assalamualikum Aini, ini umi Amira, Oh iya ibu dengar kamu semalem dilamar sama Dodit ya, Selamat ya Ayy."
"Waalaikumsalam umi, iya mi alhamdulillah itu waktu yang sangat aku tunggu tungu mi. Dodit udah cerita ya sama umi, dodit ngomong apa aja mi. Aku jadi malu sama umi."
"Iya syukur insyaalloh nanti dalam waktu deket umi ingin berkunjung ke rumahmu bersama abi. Oh iya semalem umi liat di fb nya dodit. Dodit sendiri belum cerita. Umi malah mau nanya sekarang Dodit sedang bersamamu atau tidak ayy."
"Ya alloh jadi dodit belum pulang dari semalem. Kemana ya mii. Ibuku juga belum pulang, semalem ibu pulang bareng dodit mi... gimana ini mi aku khawatir sama ibu mi."
"Jadi ibumu belum pulang juga. Ya udah kamu tenang dulu, nanti umi coba kabarin temen temen dodit ya."
"Iya mi, kalau ada apa apa kabarin aku ya mi."
Aku masih cemas, aku bingung dimana ibu sekarang. Sampai sekarang pukul 11 ibu belum sampai dirumah. Nanti pukul 1 terpaksa aku harus ke kantor polisi aku takut ibu kenapa napa.
Pukul 13.30 ibu belum sampai dirumah ibunya dodit pun tak kunjung memberi kabar. Aku akan siap siap ke kantor polisi .
Sesampainya dihalaman aku mendengar deru mobil dan ternyata itu mobil dodit. Aku sedikit lega. Tapi yang membuat aku bingung tidak ada dodit disana hanya ada umi dan mba sarah kakanya dodit.
"Ibu, ibu dari mana aja sih bu. Aku khawatir nyariin ibu." Ucapku sambil memeluk ibu.
"Ibu engga papa semalem mobil dodit mogok jadi ibu terpaksa menginap dirumah temen ibu." Ucap ibu sambil melengos masuk ke dalam rumah dia tidak perduli dengan keberadaan umi ataupun aku. Aku jadi penasaran seperti ada yang ditutupi saja.
"Ya udah ayy.. umi langsung pulang aja ya, spertinya ibu kamu cape banget, ohh iya nanti umi sudah rencanain bulan depan kamu nikah ya sama dodit"
"Umii kenapa mendadak seperti ini mi."
"Tadi kami sudah bicara sama ibumu dirumah kami nak, ya udah umi permisi dulu ya, assalamualiku."
"Waalaikumsalam."
Sebenarnya aku masih bingung. Kenapa ibu bisa pulang sama umi juga tentang pernikahan yang mendadak dan sifat ibu yang dingin. Lebih baik aku masuk menemui ibu dan menanyakan langsung.
Aku masuk kekamar ibu tapi apa yang kulihat ternyata ibu sedang menangis. Entah apa yang terjadi melihatnya menangis seperti itu membuat hatiku sangat sakit.
"Ibu, kenapa menangis?."
"Tidak papa nak. Ibu ingin bulan depan kamu segera menikah dengan dodit, ibu menangis bahagia."
"Tapi bu kenapa mendadak seperti ini."
"Ibu takut, ibu takut tidak bisa menyaksikan putri ibu menikah, kamu kan tau akhir akhir ini ibu sering sakit sakitan."
"Ibu jangan bicara seperti itu."
"Tolong nak. Penuhi permintaan ibu, ibu takut tidak bisa lagi menjagamu, makanya ibu serahkan kamu kepada Dodit dia sudah cukup dewasa, dia pasti bisa menjagamu"
"Ya sudah bu, terserah ibu saja. Nanti siang aku mau menemui dodit ya bu." Kutinggalkan ibu dikamar dia masih saja menangis.
Jawaban dari ibu tak cukup membuatku puas. Rasanya ingin cepat cepat menemui dodit dan menanyakan semuanya .
Ku kirim pesan ke dodit untuk menemuiku di taman deket rumahku
DI TAMAN
Rupanya dodit sudah mmenungguku dia datang lebih awal
"Dodit, sudah lama menunggu."
"Baru aja."
"Muka kamu kenapa dit, kamu habis berantem ya"
"Ngga papa biasa masalah lelaki."
"Yakin ngga papa?"
"Ngga ko."
"Ibu dan umi bilang kita akan menikah bulan depan. Bagaimana ceritanya dit, aku masih kaget aku ngga percaya bakalan secepet itu"
"Kalau udah matang semuanya untuk apa ditunda tunda ay.. lagian ini semua juga permintaan ibu kamu aku juga udah siap lahir batin ay, keluarga aku juga sudah menyetujui semuanya."
Entah kenapa aku masih merasa ada yang mengganjal, Tapi tak apalah aku ikuti saja kemauan ibu.
Hampir 1 bulan semua persiapan sudah selesai. Tibalah hari yang ditunggu, tapi aku merasa ada yang aneh dengan ibu. Ibu lebih sering menyendiri dan melamun. Setiap aku tanya, ibu hanya menjawab kalau dia hanya terharu.
Setelah resepsi
Setelah semua tamu undangan pulang, aku segera membersihkan diri dikamar. Ku perhatikan. Sedari tadi dodit suamiku seperti memikirkan sesuatu, mukanya kusam.
"Dit kamu kenapa, sepertinya kamu ngga bahagia ya?."
"Bukan begitu sayang, aku cuma terlalu cape."
"Ohh ya udah sana mandi dulu, habis itu langsung tidur."
Kurebahkan tubuhku dikasur rasanya bandanku cape sekali. Sampai akhirnya aku terlelap. Dan terbangun saat mendengar suara ribut ribut dilantai bawah.
Ku lihat masih jam 4 pagi, dodit juga tidak disini segera ku cuci muka dan bergegas ke bawah. Rupanya suara itu dari dapur.
Kulihat dodit dan bi inah sedang berusaha menenangkan ibu, sedangkan ibu terlihat sangat marah dia melempar barang apapun yang ada didekatnya. Pecahan piring dan gelas dimana mana. Sampai akhirnya keributan itu berakhir saat ibu pingsan.
Dodit membopong ibu ke kamar. Hampir 1 jam ibu tak kunjung sadar. Aku sangat panik, kusuruh dodit untuk membawanya ke RS.
Di Rumah Sakit
Ibu masih di ruang icu. Dokter bilang keadaan ibu sangat lemas. Dokter memanggilku ke ruangannya.
Perlahan dokter menjelaskan keadaan ibu. Dokter bilang ibu hanya kelelahan saja. Aku sedikit lega. Saat sedang meuliskan resep untuk ibu, tiba tiba datang seorang suster.
"Dok pasien dengan nama ibu Dinda di ruang icu, sudah sadar tapi dia mengamuk seperti orang depresi."
Aku, dodit dan juga dokter itu langsung menuju ke ruang iicu, benar saja ibu sedang melempar barang kesana kemari, sesekali ia menjambak rambutnya sendiri.
Aku syok dan bingung apa yang terjadi dengan ibu.
"Suster beri dia obat penenag."
5 menit kemudian tubuh ibu lunglai dan tertidur.
"Maaf saudara Aini, setelah dilakukan pemeriksaan semua hasilnya menunjukan bahwa ibu Dinda sehat sehat saja, hanya saja dia sedikit kelelahan. Tapi Sebaiknya ibu anda dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa saja sepertinya dia mengalami depresi yang cukup serius.
Deg, hatiku kaget bukan main. Kenapa harus rumah sakit jiwa. Bukankah selama ini ibu baik baik saja, apa yang dia fikirkan. Setelah kematian ayah 2 tahun yang lalu sepertinya ibu sudah mengikhlaskan. Aku juga sudah memenuhi keinginan ibu untuk menikah, dari segi ekonomi juga bisa dibilang selalu tercukupi.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu?
Keesokannya aku bangun tidur keluar dari kamar menuju ke kamar mandi mencuci muka. Kulihat ada bi inah sedang menyiapkan sarapan. "ini sarapannya non, ko non belum siap siap apa ngga ke kantor non.""ngga bi saya agak pusing." kuhabiskan nasi goreng buatan bi inah, rasanya hampir sama dengan buatan ibu, aku jadi kangen sama dia.Setelah menghabiskan makanan aku berjalan menuju halaman belakang. Aku duduk dibawah pohon mangga, terlihat rumah bagian belakangku, begitu banyak kenangan disini, ibu yang sudah 25 tahun merawatku disini sedang sakit, jiwa nya terguncang akibat perbuatan manusia yang sifatnya jahat melebihi setan.Aku sangat merindukannya.Ibu aku akan
aku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara."keluarga dari saudara dodit menemukan fakta baru, telah ditemukan sebuah kamera tersembunyi di tempat kejadian peristiwa ibumu. dari kamera tersebut kita bisa tau bahwa dodit tidak andil dalam pemerkosaan itu, justru dia menjadi korban kekerasan dari ketiga pelaku itu." jelas pa firman yang sedikit mengagetkanku"untuk lebih jelasnya kamu bisa liat rekeman ini." pa firman mengarahkan layar laptopnya ke hadapanku. vidio yang menampilkan ibu disekap disebuah ruangan. ibu duduk disebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat mulutnya ditutup sebuah kain yang mellingkar ke kepalanya. Disampingnya terdapat lemari yang sudah sangat usang.
1 bulan berlalu, aku sudah bisa beradaptasi di tempat kerjaku. Begitu juga hubunganku dengan willyam yang semakin hari semakin intens.Hari itu tepatnya saat istirahat willyam menghampiriku dikantin. Dia membawa piring makanannya dan duduk disampingku."Hari sabtu aku ada meeting di bandung 3 hari kamu ikut aku ya?.""Sama bu indah kan?." Bu indah itu sekertarisnya willyam."Yaa.""Kita berangkat jam berapa ya pak.""Sorean aja."Agak aneh sih, pemberitahuan meeting kok mendadak.
Masih dalam keadaan sadar, aku memesan satu botol minuman memabukan, minuman yang baru saja ku kenal, aku fikir satu botol itu cukup untuk menghilangkan rasa sesak di dada, tapi aku salah. Ternyata dari sinilah masalah terbesar dihidupku dimulai.Pukul 10 pagi aku masih belum sadar, mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman haram itu.Aku terbangun saat merasakan tubuhku diguncang kuat kuat. Kudengar samar samar suara perempuan menangis. Pelan pelan kubuka mataku."Asstaghfirulloh Gina, kapan kamu datang." Dia masih menangis."Kaka ini apa apaan, kondisi ibu sakit separah itu tapi kaka tidak memberitahuku. Kemarin sore aku bertemu ka sarah dikafe.awalnya aku tidak tau, Dia menanyakan keadaan ibu.
Pukul 8 pagi kuputuskan untuk membawa ibu ke Rumah Sakit jiwa sesuai anjuran dokter, tentunya ditemani dodit."Dodit maafkan aku harusnya hari ini adalah hari bahagia kita. Tapi aku sudah menyusahkan kamu saja.""Tak apa ayy, ibu kamu juga berarti ibu aku. Aku minta apa pun yang akan terjadi nanti kamu harus bisa menerimanya ya. Aku ingin kamu bisa bersikap lebih dewasa."Aku sedikit bingung dengan perkataan dodit."Sudah sampai ayo kita turun."Ibu masih belum sadar karena pengaruh obat penenang. Ibu diperiksa dan lagi lagi ibu mengamuk hilang kendali. Hatiku sangat hancur melihat ibu seperti itu.
Kriiiiiiiing ... telfon rumah berbunyi."Hallo assalamualikum Aini, ini umi Amira, Oh iya ibu dengar kamu semalem dilamar sama Dodit ya, Selamat ya Ayy.""Waalaikumsalam umi, iya mi alhamdulillah itu waktu yang sangat aku tunggu tungu mi. Dodit udah cerita ya sama umi, dodit ngomong apa aja mi. Aku jadi malu sama umi.""Iya syukur insyaalloh nanti dalam waktu deket umi ingin berkunjung ke rumahmu bersama abi. Oh iya semalem umi liat di fb nya dodit. Dodit sendiri belum cerita. Umi malah mau nanya sekarang Dodit sedang bersamamu atau tidak ayy.""Ya alloh jadi dodit belum pulang dari semalem. Kemana ya mii. Ibuku juga belum pulang, semalem ibu pulang bareng dodit mi... gimana ini mi aku