MasukPa Firman, bukankah kasus ibu sudah selesai, tapi kenapa dia menelfonku sepagi ini.
"Hallo... Aini ?? Apa kamu bisa ke kantor ku hari ini ?"
"Hari ini iya bisa pa, memangnya ada apa ya? Bukannya kasus ibu sudah selesai"
"Maaf aini saya tidak bisa bicara lewat telefon, kalau bisa nanti kamu temui aku dikantor . Ada hal penting yang harus dibicarakan"
"Oke pa nanti saya ke kantor bapa jam 11 ya."
"Iya, saya tunggu."
Telfon ditutup. Tapi aku masih penasaran bukankah ke empat tersangka sudah dipenjarakan.
1 tahun yang lalu.
Saat itu malam setelah acara wisuda di kampusku Dodit pacaraku melamarku dipdepan orang banyak, tanpa banyak pikir akupun langsung menerimanya karena memang kita sudah berpacaran 4 tahun lamanya . Ibu juga sudah merestui dan ingin aku cepat menikah. Saat itu ibu sangat bahagia .
"Nak Dodit tolong jaga Aini baik baik ya. Ibu harap kamu bisa secepatnya meminang dia."
"Iya bu aku sangat menyanyangi dia, aku pasti akan menjaganya sebisaku oh iya tadi aini bilang katanya dia mau ke tempat Gina, ibu disuruh bareng aja sama aku."
"Biar ibu ikut aini aja dit. Udah lama ibu ngga ketemu gina"
"Tapi aini sudah berangkat bu, biar ibu ikut aku aja, tapi nanti aku anterin temen temen dodit dulu."
Kutitipkan ibu ke dodit. Setelah aku sampai dikosan gina kuhubungi dodit. Kutanyakan dia dimana, ternyata dia masih dijalan."
Dikosan Gina
"Gin kamu kenapa? Udah ke dokter? Mau ke rumah sakit aja?."
"Ngga ka tadi aku suruh temenku beliin obat diapotik, kaka tidur disiniaja ya ka. Temenin aku"
"Ya udah. Tapi gimana cara ngomongnya ke ibu ya?."
"Bilang aja aku sendirian temenku pulang kerumahnya aku takut."
"Ya udah kaka sms dulu."
Tak lama kemudian ibu membalas pesan ku. Tadinya aku merasa agak aneh karena pesan dari ibu tidak seperti biasanya. Balasan pesan dari ibu sangat singkat Tapi fikiran itu segera kutepis karena badanku sangat lelah. Rasanya ingin cepat cepat mandi dan tidur.
Esoknya pukul 9 pagi aku pulang, tapi tak kudapati ibu, ku tanyakan pada bi inah dia bilang dari semalam dia tidak pulang.
Aku mulai panik. Ku cari nama Dodit dinponselku kutelfon juga nomornya tidak aktif.
"Oh Tuhan kemana ibu apakah dia tidur dirumah dodit?."
Keesokannya aku bangun tidur keluar dari kamar menuju ke kamar mandi mencuci muka. Kulihat ada bi inah sedang menyiapkan sarapan. "ini sarapannya non, ko non belum siap siap apa ngga ke kantor non.""ngga bi saya agak pusing." kuhabiskan nasi goreng buatan bi inah, rasanya hampir sama dengan buatan ibu, aku jadi kangen sama dia.Setelah menghabiskan makanan aku berjalan menuju halaman belakang. Aku duduk dibawah pohon mangga, terlihat rumah bagian belakangku, begitu banyak kenangan disini, ibu yang sudah 25 tahun merawatku disini sedang sakit, jiwa nya terguncang akibat perbuatan manusia yang sifatnya jahat melebihi setan.Aku sangat merindukannya.Ibu aku akan
aku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara."keluarga dari saudara dodit menemukan fakta baru, telah ditemukan sebuah kamera tersembunyi di tempat kejadian peristiwa ibumu. dari kamera tersebut kita bisa tau bahwa dodit tidak andil dalam pemerkosaan itu, justru dia menjadi korban kekerasan dari ketiga pelaku itu." jelas pa firman yang sedikit mengagetkanku"untuk lebih jelasnya kamu bisa liat rekeman ini." pa firman mengarahkan layar laptopnya ke hadapanku. vidio yang menampilkan ibu disekap disebuah ruangan. ibu duduk disebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat mulutnya ditutup sebuah kain yang mellingkar ke kepalanya. Disampingnya terdapat lemari yang sudah sangat usang.
1 bulan berlalu, aku sudah bisa beradaptasi di tempat kerjaku. Begitu juga hubunganku dengan willyam yang semakin hari semakin intens.Hari itu tepatnya saat istirahat willyam menghampiriku dikantin. Dia membawa piring makanannya dan duduk disampingku."Hari sabtu aku ada meeting di bandung 3 hari kamu ikut aku ya?.""Sama bu indah kan?." Bu indah itu sekertarisnya willyam."Yaa.""Kita berangkat jam berapa ya pak.""Sorean aja."Agak aneh sih, pemberitahuan meeting kok mendadak.
Masih dalam keadaan sadar, aku memesan satu botol minuman memabukan, minuman yang baru saja ku kenal, aku fikir satu botol itu cukup untuk menghilangkan rasa sesak di dada, tapi aku salah. Ternyata dari sinilah masalah terbesar dihidupku dimulai.Pukul 10 pagi aku masih belum sadar, mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman haram itu.Aku terbangun saat merasakan tubuhku diguncang kuat kuat. Kudengar samar samar suara perempuan menangis. Pelan pelan kubuka mataku."Asstaghfirulloh Gina, kapan kamu datang." Dia masih menangis."Kaka ini apa apaan, kondisi ibu sakit separah itu tapi kaka tidak memberitahuku. Kemarin sore aku bertemu ka sarah dikafe.awalnya aku tidak tau, Dia menanyakan keadaan ibu.
Pukul 8 pagi kuputuskan untuk membawa ibu ke Rumah Sakit jiwa sesuai anjuran dokter, tentunya ditemani dodit."Dodit maafkan aku harusnya hari ini adalah hari bahagia kita. Tapi aku sudah menyusahkan kamu saja.""Tak apa ayy, ibu kamu juga berarti ibu aku. Aku minta apa pun yang akan terjadi nanti kamu harus bisa menerimanya ya. Aku ingin kamu bisa bersikap lebih dewasa."Aku sedikit bingung dengan perkataan dodit."Sudah sampai ayo kita turun."Ibu masih belum sadar karena pengaruh obat penenang. Ibu diperiksa dan lagi lagi ibu mengamuk hilang kendali. Hatiku sangat hancur melihat ibu seperti itu.
Kriiiiiiiing ... telfon rumah berbunyi."Hallo assalamualikum Aini, ini umi Amira, Oh iya ibu dengar kamu semalem dilamar sama Dodit ya, Selamat ya Ayy.""Waalaikumsalam umi, iya mi alhamdulillah itu waktu yang sangat aku tunggu tungu mi. Dodit udah cerita ya sama umi, dodit ngomong apa aja mi. Aku jadi malu sama umi.""Iya syukur insyaalloh nanti dalam waktu deket umi ingin berkunjung ke rumahmu bersama abi. Oh iya semalem umi liat di fb nya dodit. Dodit sendiri belum cerita. Umi malah mau nanya sekarang Dodit sedang bersamamu atau tidak ayy.""Ya alloh jadi dodit belum pulang dari semalem. Kemana ya mii. Ibuku juga belum pulang, semalem ibu pulang bareng dodit mi... gimana ini mi aku