LOGINaku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara.
"keluarga dari saudara dodit menemukan fakta baru, telah ditemukan sebuah kamera tersembunyi di tempat kejadian peristiwa ibumu. dari kamera tersebut kita bisa tau bahwa dodit tidak andil dalam pemerkosaan itu, justru dia menjadi korban kekerasan dari ketiga pelaku itu." jelas pa firman yang sedikit mengagetkanku
"untuk lebih jelasnya kamu bisa liat rekeman ini." pa firman mengarahkan layar laptopnya ke hadapanku.
vidio yang menampilkan ibu disekap disebuah ruangan. ibu duduk disebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat mulutnya ditutup sebuah kain yang mellingkar ke kepalanya. Disampingnya terdapat lemari yang sudah sangat usang.
Disana aku melihat 3 orang mendekati ibu dan melakukan aksi bejatnya. Aku tak sanggup melihat itu, ibu masih tetap tak sadarkan diri, setelah ketiganya menyelesaikan aksinya 2 orang diantara mereka yaitu izul dan yogi pergi.
15 menit menunggu lalu izul dan yogi datang dengan menyeret tubuh ddodit kulihat gelagat dodit seperti seseorang yang sedang mabuk, tapi mukanya penuh lebam, tubuh dodit diletakan disebelah ibu yang masih telentang dengan baju yang sudah terkoyak, lalu mereka memukuli dodit sampai tak sadarkan diri. Aku tak bisa menebak, Izul dan yogi membuka sedikit celana yang dikenakan dodit, kemeja yang dipakai pun dilepas paksa oleh mereka berdua. Sebelum mereka benar benar pergi adit mengambil gambar ibu dan dodit. Entah apa yang mereka fikirkan.
setelah itu mereka bertiga pergi.
satu jam kemudian ibu sadar dan duduk dipojokan ruangan, dodit masih pingsan setelah dikeroyok 3 orang gila itu. kulihat ibu menghampiri dodit dan membangunkannya.
dodit membuka mata, lalu memeluk ibu, mereka berdua menangis bersamaan, setelah tangisan mereka mereda kulihat mereka sedikit berbincang, tapi kamera ini tidak bisa menangkap suara yang ada, karena jaraknya cukup jauh, kalau dilihat sepertinya kamera ini diletakan dilantai atas yang mengarah ke sebuah ruang yang lebih rendah.
Beberapa saat kemudian ibu dan dodit pergi. Mereka pergi tepat pukul 11.18.
setelah melihat vidio itu aku berfikir ketika ibu pulang setelah kejadian itu, ibu pulang diantar uminya dodit dan mba sarah. mungkin ibu dibawa dodit kerumahnya dan menginap disana.
Dan kembali teringat saat aku menemui dodit ditaman dengan wajah yang penuh lebam.
satu minggu setelah kejadian itu aku menikah dengan dodit. Resepsi baru selesai tapi masalah besar datang beruntungan, mulai dari ibu yang masuk rumah sakit jiwa lalu dodit ditangkap polisi. Sampai puncaknya aku mengetahui bahwa ibu depresi karena menjadi korban pemerkosaan dan salah satu pelakunya adalah dodit suamiku.
sehari sebelum acara pernikahanku ketiga pelaku sudah ditangkap dahulu, disusul sehari kemudian dodit juga ditangkap.
Hatiku bertanya jika memang dodit tidak bersalah kenapa dia tidak melakukan pembelaan, dia hanya diam saja.
Pa firman berbicara panjang lebar dan menunjukan sebuah foto bergambar ibu dan dodit yang sedang terlelap mungkin itu foto yang diambil adit setelah peristiwa itu.
setelah pukul 2 sore kuputuskan untuk pulang dan istirahat. Nanti sore aku berniat untuk datang ke rumah dodit dan menanyakan semuanya.
Sore Hari
Aku sudah ada di halaman rumah ddodit kutarik napas dalam dalam dan kusiapkan mentalku untuk kemungkinan apa pun yang akan terjadi.
"assalamualaikum."
"wwaalaikumsala." pintu terbuka kulihat mba sarah sangat senang melihat kehadiranku.
"ayo masuk aaii, aku panggil umi dulu ya."
"umi abi ini ada aini." mba sarah sedikit berteriak.
Umi dan abi terlihat keluar dari dapur bersamaan. Umi langsung menghambur memelukku.
Tapi sikapku biasa saja acuh tak acuh, sakit hati ini kembali terasa, jika mengingat peristiwa itu.
"gimana kabar kamu ay.. setiap umi datang kerumahmu kamu tidak ada. mari duduk dulu" kita semua berjalan menuju ruang tamu.
"baik mi, umi abi aku datang kesini untuk minta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi."
"aini mungkin kamu sudah dengar kabar tentang akan dibebaskannya dodit, semua itu benar adanya dodit memang tidak bersalah." ucap abi sambil merebahkan tubuhnya disofa sejenak dia menatap langit langit rumah.
"bii.. kalau mas dodit tidak bersalah lalu kenapa dodit hanya diam, dan kenapa kalian semua menyembunyikan ini dariku." air mataku mulai menetes, sungguh bebanku sangat berat saat ini.
"aini, ibumu meminta dodit untuk menjagamu dan menikahimu. dan tidak memberitahumu tentang masalah ini. tepat 3 hari sebelum kalian resmi menikah ibumu melaporkan masalahnya. awalnya hanya 3 orang yang ditangkap tapi sehari kemudian setelah acara resepsi kalian dodit juga ikut ditangkap polisi. ketiga pelaku itu menerangkan bahwa dodit ikut dalam peristiwa pemerkosaan itu, awalnya abi juga kaget ada sebuah bukti selembar foto yang menunjukan ibu dan dodit sedang tertidur dilantai. kamu pasti sudah melihat foto itu bukan?" jelas abi
"kami tidak mempunyai bukti yang kuat untuk melawan kasus ini. disini dodit dijebak seolah olah dia adalah pelaku, sampai saat sidang terakhir mereka divonis 12 tahun penjara. Dan akhirnya kami serahkan semuanya kepada yang kuasa." lanjutnya lagi
semuanya hening hanya terdengar suara isak tangisan aku dan umi.
"baru setelah 4 hari yang lalu suami mba sarah pergi ketempat peristiwa itu dan dia menemukan kamera yang akan menjadi bukti terkuat."
"mungkin satu minggu kedepan dodit akan bebas"
semua masih diam dengan fikiran masing.
Hening...
"baiklah abi umi, terimakasih atas penejlasannya, aku akan pulang."
"tidak aini semua sudah jelas, dodit tidak bersalah, tetaplah disini kamu dan dodit kan masih suami istri, kita sambut kepulangannya sama sama ya." ucap umi sambil memegang tanganku.
"aku tidak bisa umi aku harus pulang."
kalau aku tetap disini apa yang akan aku katakan padanya tentang willyam, bagaimana jika dia menanyakan kesucianku yang belum sempat dia dapatkan setelah ijab kobul.
Siall kepalaku sangat pusing masalah yang satu sudah sedikit selesai mulai lagi masalah baru.
Aku memang masih mencintai dodit, tapi karena kesalahpahaman kasus ibu aku menjadi buta dan membencinya.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur aku sudah berhubungan terlalu jauh dengan willyam, mungkin aku harus merelakan dodit untuk pergi. Tapi bagaimana dengan perasaan dodit.
Fikiranku jadi serba salah, aku merasa sudah menyakiti dodit dan membuatnya menderita. Tapi apa aku pantas untuk disalahkan atas semua yang telah terjadi .
...
aku berpamitan dengan umi dan abi, aku akan pulang. ditengah jalan aku mampir disebuah bar dan membeli minuman terlarang itu.
sesampainya dirumah aku langsung masuk kekamar menguncinya dan menikmati setiap teguk dari minuman itu, kulihat ada sebungkus rokok yang tidak utuh lagi, mungkin itu milik willyam. Kuambil sebatang dan kuhisap perlahan.
Dengan cara ini aku bisa menghilangkan sejenak beban didadaku, meskipun aku tau saat efek dari minuman ini sudah habis aku akan kembali terbebeni. Setidaknya otakku bisa istirahat sejenak.
Keesokannya aku bangun tidur keluar dari kamar menuju ke kamar mandi mencuci muka. Kulihat ada bi inah sedang menyiapkan sarapan. "ini sarapannya non, ko non belum siap siap apa ngga ke kantor non.""ngga bi saya agak pusing." kuhabiskan nasi goreng buatan bi inah, rasanya hampir sama dengan buatan ibu, aku jadi kangen sama dia.Setelah menghabiskan makanan aku berjalan menuju halaman belakang. Aku duduk dibawah pohon mangga, terlihat rumah bagian belakangku, begitu banyak kenangan disini, ibu yang sudah 25 tahun merawatku disini sedang sakit, jiwa nya terguncang akibat perbuatan manusia yang sifatnya jahat melebihi setan.Aku sangat merindukannya.Ibu aku akan
aku sangat terkejut bagaimana bisa dia akan bebas sedangkan dia dijatuhi hukuman maximal 15 tahun penjara."keluarga dari saudara dodit menemukan fakta baru, telah ditemukan sebuah kamera tersembunyi di tempat kejadian peristiwa ibumu. dari kamera tersebut kita bisa tau bahwa dodit tidak andil dalam pemerkosaan itu, justru dia menjadi korban kekerasan dari ketiga pelaku itu." jelas pa firman yang sedikit mengagetkanku"untuk lebih jelasnya kamu bisa liat rekeman ini." pa firman mengarahkan layar laptopnya ke hadapanku. vidio yang menampilkan ibu disekap disebuah ruangan. ibu duduk disebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat mulutnya ditutup sebuah kain yang mellingkar ke kepalanya. Disampingnya terdapat lemari yang sudah sangat usang.
1 bulan berlalu, aku sudah bisa beradaptasi di tempat kerjaku. Begitu juga hubunganku dengan willyam yang semakin hari semakin intens.Hari itu tepatnya saat istirahat willyam menghampiriku dikantin. Dia membawa piring makanannya dan duduk disampingku."Hari sabtu aku ada meeting di bandung 3 hari kamu ikut aku ya?.""Sama bu indah kan?." Bu indah itu sekertarisnya willyam."Yaa.""Kita berangkat jam berapa ya pak.""Sorean aja."Agak aneh sih, pemberitahuan meeting kok mendadak.
Masih dalam keadaan sadar, aku memesan satu botol minuman memabukan, minuman yang baru saja ku kenal, aku fikir satu botol itu cukup untuk menghilangkan rasa sesak di dada, tapi aku salah. Ternyata dari sinilah masalah terbesar dihidupku dimulai.Pukul 10 pagi aku masih belum sadar, mungkin karena terlalu banyak menenggak minuman haram itu.Aku terbangun saat merasakan tubuhku diguncang kuat kuat. Kudengar samar samar suara perempuan menangis. Pelan pelan kubuka mataku."Asstaghfirulloh Gina, kapan kamu datang." Dia masih menangis."Kaka ini apa apaan, kondisi ibu sakit separah itu tapi kaka tidak memberitahuku. Kemarin sore aku bertemu ka sarah dikafe.awalnya aku tidak tau, Dia menanyakan keadaan ibu.
Pukul 8 pagi kuputuskan untuk membawa ibu ke Rumah Sakit jiwa sesuai anjuran dokter, tentunya ditemani dodit."Dodit maafkan aku harusnya hari ini adalah hari bahagia kita. Tapi aku sudah menyusahkan kamu saja.""Tak apa ayy, ibu kamu juga berarti ibu aku. Aku minta apa pun yang akan terjadi nanti kamu harus bisa menerimanya ya. Aku ingin kamu bisa bersikap lebih dewasa."Aku sedikit bingung dengan perkataan dodit."Sudah sampai ayo kita turun."Ibu masih belum sadar karena pengaruh obat penenang. Ibu diperiksa dan lagi lagi ibu mengamuk hilang kendali. Hatiku sangat hancur melihat ibu seperti itu.
Kriiiiiiiing ... telfon rumah berbunyi."Hallo assalamualikum Aini, ini umi Amira, Oh iya ibu dengar kamu semalem dilamar sama Dodit ya, Selamat ya Ayy.""Waalaikumsalam umi, iya mi alhamdulillah itu waktu yang sangat aku tunggu tungu mi. Dodit udah cerita ya sama umi, dodit ngomong apa aja mi. Aku jadi malu sama umi.""Iya syukur insyaalloh nanti dalam waktu deket umi ingin berkunjung ke rumahmu bersama abi. Oh iya semalem umi liat di fb nya dodit. Dodit sendiri belum cerita. Umi malah mau nanya sekarang Dodit sedang bersamamu atau tidak ayy.""Ya alloh jadi dodit belum pulang dari semalem. Kemana ya mii. Ibuku juga belum pulang, semalem ibu pulang bareng dodit mi... gimana ini mi aku