LOGINAlea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.
***
Keesokan harinya.
Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.
Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.
“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.
Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.
“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.
Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”
“Kakek ingin mengobrol denganmu.”
“Iya, Kek.”
“Bagaimana pendapatmu tentang Sakti?” tanya Anas dengan penuh penasaran.
Alea terdiam sejenak, lalu berkata, “Dia baik, kok, Kek.”
“Apa kamu menyukainya?”
“Aduh, Kakek. Mana mungkin Alea langsung menyukainya? Bahkan kita baru saling kenal,” jawab Alea jujur.
Anas terbahak mendengar jawaban polos Alea. “Kau benar, Cu. Tapi tidak masalah, toh, kalian bisa saling menyukai dan mencintai setelah menikah.”
Alea hanya melenguh, mendengar perkataan Anas. Sepertinya, Anas memang benar-benar menginginkan perjodohan ini, begitu di pemikiran Alea.
“Benar itu, Lea. Dulu, kakek dan almarhumah nenekmu juga awalnya tidak saling mencintai. Kalau orang zaman dulu, mah, banyak yang dijodohkan. Tapi, ya, akhirnya bisa saling mencintai juga. Semua itu butuh proses,” tutur Sujarwo.
“Oh ....” Alea hanya mengangguk-angguk kecil. Alea sudah sering mendengar kisah tentang kakek dan neneknya itu.
“Alea, dulu, aku dan kakekmu ini, sama-sama tinggal di kampung. Kami bersahabat sangat dekat. Namun, usai menikah, aku ikut istri ke Jakarta. Dan, almarhumah istriku meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Kakek jadi merasa sangat kesepian. Apalagi, Sakti—cucu kakek—tak kunjung menikah.” Anas mulai bercerita. “Oh, ya, aku dan kakekmu ini pernah menyukai gadis yang sama.” Anas terbahak sembari merangkul Sujarwo.
“Itu benar, Lea. Gadis itu cantik dan manis. Kalau melihat senyumnya yang aduhai itu, kutub utara seakan meleleh.” Sujarwo turut tertawa sembari bernostalgia.
“Dulu, kami pernah bertengkar hebat sewaktu ABG, gara-gara si Murni itu. Kami sampai berkelahi. Akhirnya, kami membuat perjanjian.” Anas melanjutkan ceritanya.
“Terus, terus, Kek?” Alea tiba-tiba tertarik untuk terus menyimak kisah mereka tersebut.
“Si Anas ini, membuat perjanjian, bahwa di antara kami tidak boleh ada yang memiliki dan mengungkapkan cinta kepada Murni. Dan dengan berat hati, kakek setuju.”
“Dan demi persahabatan yang sejati, akhirnya kami sama-sama bertekad melupakan Murni.”
“Terus, dimana Murni sekarang?” tanya Alea penasaran.
“Dia sudah menikah dengan orang Sunda. Tidak tahu kabarnya sekarang. Entah dia masih hidup atau tidak. Intinya, kami sudah sepakat memilih persahabatan dibandingkan seorang gadis,” jawab Anas Khan.
Alea benar-benar terkesan sekaligus takjub mendengar kisah betapa eratnya persahabatan kedua orang tua itu.
“Ada lagi. Dulu, sewaktu kamu masih di dalam kandungan ibumu. Anas sempat meneleponku. Kami saling mengobrol. Kemudian menanyakan perihal bayi yang dikandung oleh Rani—ibumu. Anas pernah bilang, jikalau bayi Rani perempuan, Anas ingin memintanya agar dijodohkan dengan cucu laki-lakinya yang sudah berusia 10 tahun. Dan tentu saja, kakek pun sangat setuju,” terang Sujarwo.
“Dan itu adalah Sakti?” tanya Alea.
“Benar.” Sujarwo menyahut.
“Kami berdua sangat berharap, agar kalian bisa saling mencintai. Agar, tali persaudaraan dan kekeluargaan, serta persahabatan kami terus terjaga,” tutur Anas dengan binar mata serius.
Alea merasa terharu sekaligus semakin bimbang. Ia tidak menyukai Sakti, tetapi di sisi lain, ia tidak ingin mengecewakan kedua orang kakek yang bersahabat sangat manis dan dekat itu.
Tanpa mereka sadari, Sakti ternyata sudah berdiri di tangga. Sakti sempat menguping kisah persahabatan antara dua orang kakek itu tadi.
“Sakti, kemarilah!” Anas yang baru menyadari bahwa Sakti tengah bergeming di tangga pun segera meminta agar sang cucu turun dan bergabung bersama mereka.
Sakti berjalan menghampiri mereka dan duduk di sofa, berseberangan dengan Alea.
“Sakti, apa hari ini kamu akan berangkat ke kantor?” tanya Anas yang melihat Sakti sudah memakai jas rapi.
“Iya, Kek. Sakti akan berangkat setelah sarapan.”
“Bagaimana kalau kau mengajak Alea pergi jalan-jalan saja?”
Mendengar itu, Alea segera menolak dengan halus. Semalam saja, Sakti sudah bersikap penuh kemarahan terhadapnya, bagaimana mungkin ia bisa pergi berdua dengan Sakti?
“Em, Kakek. Alea lebih baik di sini. Alea malas pergi jalan-jalan. Alea di sini saja, ya?” pinta Alea.
“Baik, Kek. Sakti akan mengajak Alea jalan-jalan,” jawab Sakti dengan nada serius.
Alea kembali terkejut mendengar jawaban Sakti. ‘Bukankah dia bilang, dia tidak menyukaiku? Dia bilang aku adalah mimpi buruknya, bukan?’ batin Alea. ‘Lalu kenapa dia ingin mengajakku jalan-jalan? Wah, mencurigakan! Jangan-jangan dia ingin membalas dendam terhadapku?’
“Nah, begitu. Ah, kakek menjadi lebih bersemangat untuk hidup. Pokoknya aku harus sehat. Biar bisa menimang cicit, ha-ha!” ujar Anas senang, berbeda dengan raut muka kedua orang cucu itu.
“Permisi, sarapan paginya sudah siap.” Seorang pelayan menghampiri mereka.
“Wah, saatnya kita sarapan pagi. Tapi sebelum itu, kakek ingin menunjukkan sesuatu kepada Alea,” ujar Anas.
“Apa itu, Kek?” tanya Alea seraya mengangkat kedua alisnya.
“Coba Alea tekan jempol tangan kanan kakek. Ini bisa berbunyi, lho?” kata Anas seraya mengulurkan tangannya kepada Alea.
Sakti segera tahu apa yang akan sang kakek lakukan. Ia segera mendesah kesal. Hal unik yang pernah Anas lakukan kepada Sandra dulu.
Alea pun segera menekan jempol Anas sedikit keras. Dan seiring dengan itu, bunyi kentut pun terdengar. PRUTT!! Anas kentut keras sekali.
“Kau menekannya terlalu kuat, bunyinya pun semakin kuat, ha-ha!” Anas tertawa.
“Kalau itu, sih, Alea juga bisa, Kek.”
“Oh, ya?”
Alea menyodorkan tangannya. “Pencet saja jempol Alea, Kek.”
Anas pun melakukan hal serupa. Dan ... PRUTT!! Bunyi kentut pun terdengar.
Alea, Anas, dan Sujarwo tertawa terbahak-bahak. Sementara itu Sakti segera beranjak menjauh seraya menutup hidungnya.
“Luar biasa sekali cucumu ini, Jarwo!” puji Anas kagum.
Anas memiliki cara sendiri untuk memilih jodoh untuk Sakti. Ya, begitulah gadis tomboi yang unik dan berhasil mengambil hati Anas Khan. Akankah Alea juga mampu mengambil hati seorang Dimas Sakti Wiraguna?
Bersambung ....
*Halo, readers gemesh tersayang ...! Novel ini akan dibalut dengan bumbu komedi yang asyik dan bumbu bawang (air mata) yang gurih. So, pastikan untuk selalu memberikan review yang menggemaskan dan dukungan termanis untuk Author Shitha, ya? Follow Instagram @nonashitha agar tidak ketinggalan update novel-novel terbaru! Thank you ...!*
Alea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.***Keesokan harinya.Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”“Kakek ingin mengobrol denganmu.”“Iya, Kek.”
Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa.“Tunggu sebentar. T
Alea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “
Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya.Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari d
Pukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.“Sayang, kamu baru pulang?”“Iya, Ma.”“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”“Sakti sudah makan, Ma.”“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”“Apa itu penting?”“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kam
Namanya Dimas Sakti Wiraguna. Seorang pengusaha mapan dan sukses asal Indonesia. Memiliki wajah yang tampan dan karismatik, membuatnya banyak digandrungi para kaum hawa. Terlebih bibit, bebet, bobotnya, yang menyebabkan para wanita sangat mendambakan diri untuk menjadi istri Sakti.Sakti sendiri sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta kepada wanita. Sifat dan karakter playboy-nya hanya sekadar untuk hura-hura dan bersenang-senang. Tidak dipungkiri, kadang-kadang Sakti merasa jenuh sendiri. Mengurus bisnis properti yang diturunkan oleh sang ayah membuatnya harus ekstra mandiri dan ekstra energi. Itulah sebabnya, Sakti merasa wajar bila menggunakan sedikit materi yang dimilikinya untuk membahagiakan para gadisnya.Meskipun playboy, Sakti bukan tipe lelaki cabul yang senang bermain ranjang dengan para wanita. Ia juga bukanlah pembohong ulung yang suka mengibuli para wanitanya dengan mengatakan, “Kau pacarku satu-satunya.” Atau, “Kau kekasihku yang palin