Home / All / Istri Tomboiku (Indonesia) / Makan Malam Bersama

Share

Makan Malam Bersama

last update publish date: 2020-11-11 11:32:34

Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.

“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”

Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.

“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”

“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”

Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.

“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.

Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa. 

“Tunggu sebentar. Tante akan ambil pakaian yang lain untukmu. Kau bisa memilihnya sendiri nanti.”

Diana pun keluar dari kamar tersebut untuk mengambil pakaiannya yang lain. Setelah itu, ia kembali dengan membawa beberapa pakaian untuk Alea.

“Pilihlah yang mana yang menurutmu cocok untukmu. Tante tunggu di meja makan, ya?”

“Terima kasih banyak, Tante.”

Diana pun keluar, lalu menutup pintu kamar. Ia menunggu Alea bersama yang lainnya di meja makan. Sementara Alea tengah sibuk mengurusi dirinya yang kebingungan akan memilih pakaian yang mana.

Alea melepaskan pakaiannya yang basah, lalu mengeringkan rambut dan tubuhnya dengan handuk yang diberikan oleh Diana. Iseng-iseng, Alea ingin mencoba dress feminim yang Diana berikan tadi.

Dan ... alhasil. Alea tampak begitu berbeda dan sangat cantik memakai dress berwarna hijau muda itu. Rambut Alea yang basah disisirnya tergerai indah. Alea benar-benar seperti gadis manis pada umumnya bila penampilannya seperti ini. 

Namun, berbeda dengan pendapat Alea sendiri. Ia merasa tidak cocok berpenampilan feminim. Mungkin, itu karena ia sudah terbiasa berpenampilan tomboi. Padahal, apabila Sakti melihat Alea dengan penampilan feminim, kemungkinan Sakti akan terpana atau jatuh hati.

Sayangnya, Alea justru melepaskan dress itu dari tubuhnya. Ia malah menggantinya dengan sebuah sweeter berwarna putih lembut, dipadu dengan celana jeans berwarna abu-abu. Alea merasa penampilan ini lebih cocok untuknya.

“Ah, ini sangat pas. Apa ini baju dan celana Tante Diana semasa muda?” gumam Alea.

Alea tak lupa untuk menguncir rambutnya. Setelah itu, ia pun segera keluar dari kamar dan menuju meja makan. Beberapa orang sudah menantinya di sana. Alea pun duduk di sebelah kakeknya.

Diana tersenyum hangat menyambut Alea. Sementara Sakti justru menunjukkan sikap dingin dan cuek terhadap Alea. 

“Wah, bajunya pas di tubuhmu. Pakai saja itu. Tidak usah dikembalikan, ya? Lagi pula, baju itu baju lama tante. Sudah tidak pernah tante pakai lagi.”

“Terima kasih, Tante.” Alea tersenyum tulus membalas senyuman Diana.

“Ya, sudah. Karena semua sudah berkumpul, ayo kita mulai makan malamnya. Alea pasti sudah lapar, kan?” tanya Anas.

“Iya, Kek. Alea sudah sangat lapar,” jawab Alea jujur. 

Perjalanan dari Jawa ke Jakarta memakan waktu tidak sedikit. Sedangkan Alea memilih untuk tidur di sepanjang perjalanan. Tentu saja ia sudah sangat kelaparan.

Anas terkekeh mendengar jawaban dari Alea. “Ya sudah. Ayo Alea makan yang banyak. Biar cepat gede. Biar cepat menikah dengan Sakti, ha-ha!”

Sakti dan Alea sama-sama membuang muka mendengar pernyataan sang kakek. Makan malam pun dimulai dengan sama-sama berdoa terlebih dahulu. 

Alea yang sudah sangat merasa lapar, akhirnya bisa makan dengan begitu lahapnya. Semua yang juga tengah menyantap hidangan di piring masing-masing, keheranan melihat tingkah Alea yang makan tanpa jaim sedikitpun.

Diana dan Adi beberapa kali bertukar pandangan. Keduanya sama-sama ilfeel melihat cara makan Alea. Begitupun Sakti. Dalam hatinya, Sakti benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena akan dijodohkan dengan seorang gadis tomboi yang tidak tahu tata krama yang baik seperti Alea. 

Berbeda dengan Anas Khan. Ia justru malah senang melihat sikap Alea yang jujur dan blak-blakan. Sungguh, sangat beda dari gadis-gadis lainnya, begitu pemikiran Anas.

Alea mengambil sepotong ayam goreng, nasi yang banyak, ditambah beberapa sendok sambal. Alea makan tanpa menggunakan sendok ataupun garpu. Baginya, sendok dan garpu hanya akan menyusahkannya untuk bersantap. Begitu sepotong ayam habis, Alea mengambil sepotong ayam goreng lagi. Dan tanpa rasa malu, Alea menambah nasi di piringnya.

Sakti, Diana, dan juga Adi sama-sama melongo memperhatikan cara gadis tomboi itu makan. Terlebih lagi, ketika Alea mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan cepat. Kemudian Alea bersendawa keras. Refleks, semua yang tengah memperhatikan Alea semakin ilfeel.

Anas tiba-tiba terbahak melihat tingkah Alea yang baginya sangat menarik. “Kakek sangat senang melihat gadis yang apa adanya sepertimu, Alea. Kakek semakin yakin untuk menjodohkan kalian berdua.”

‘Ah, sial! Mengapa kakek tua itu justru memujiku?’ batin Alea sedikit kesal. Padahal, ia sengaja ingin membuat Anas Khan berpikir ulang untuk perjodohan ini.

‘Astaga! Aku benar-benar bisa gila bila perjodohan ini dilanjutkan! Aku bisa mati ilfeel gara-gara manusia alien ini!’ batin Sakti seraya melirik Alea sinis.

'Tuhan, bagaimana mungkin aku harus memiliki mantu seperti dia? Aku bisa mengidap penyakit jantung bila terus-terusan melihat tingkahnya yang tidak punya tata krama itu!’ gerutu Diana kesal dalam hati. Ia semakin tidak menyukai Alea. 

“Maaf, apa cara makanku berlebihan? Kalian memperhatikanku seperti tengah terkejut. Aku tidak biasa makan dengan santai dan manis layaknya gadis yang feminim.” Alea mengatakan itu usai menghabiskan nasi dan lauk di piringnya.

“Tidak apa-apa, Cu. Santai saja. Anggap saja ini rumahmu. Sebentar lagi kau juga pasti akan tinggal di rumah ini. Kakek tidak akan kesepian lagi nantinya. Apalagi kalau kalian cepat-cepat punya bayi,” jawab sang kakek.

“Uhuk!” Sakti langsung tersedak mendengar perkataan kakeknya. 

“Hati-hati, Sayang. Minumlah ini!” Diana menyodorkan segelas air putih kepada Sakti.

“Terima kasih, Ma.” Sakti pun mengambil gelas tersebut dan meminum airnya. ‘Jangankan punya bayi darinya. Membayangkan bagaimana kita akan membuatnya saja, aku sudah sangat ngeri, Kek,' batin Sakti.

Meskipun tingkah Alea sedemikian rupa. Namun, makan malam tetap berjalan dengan baik. Malam ini, Alea dan Sujarwo akan menginap di rumah Sakti. Besok sore, niatnya mereka baru akan pulang ke kampung halaman.

Setelah makan malam usai, Alea berjalan menuju kamar tamu atas. Kamar itu khusus Anas pilihkan agar Alea bisa lebih dekat dengan Sakti. Sedangkan Sujarwo tidur bersama Anas di kamar bawah milik Anas Khan. 

Sebelum masuk ke kamar, Alea melihat Sakti tengah duduk di balkon. Ia pun mengurungkan niatnya untuk segera tidur. Alea menghampiri Sakti.

“Belum tidur?” tanya Alea yang langsung berdiri di tepi balkon—membelakangi Sakti yang tengah duduk di kursi.

“Hm.” Sakti yang masih malas bicara dengan Alea hanya berdehem.

“Di sini udaranya segar, ya,” ujar Alea seraya merentangkan kedua tangannya sebentar. 

“Hm.”

“Aku tahu kau tidak menyukaiku. Aku juga tahu aku bukan gadis yang cocok denganmu. Aku juga tahu, kalau kita sama-sama tidak setuju dengan perjodohan ini. Namun, yang aku pikirkan sekarang adalah ... apa kita tega menolak perjodohan ini?”

Sakti mendongak, menatap punggung gadis tomboi itu. “Aku juga tidak tahu,” katanya dengan lesu.

“Oh, ya, maaf, sudah hampir membunuhmu,” kata Alea. “Tapi, aku masih tidak menyangka, bagaimana lelaki sepertimu tidak bisa berenang?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Huh! Bagaimana kau bisa menjaga istri dan anak-anakmu nanti, bila tiba-tiba rumahmu kebanjiran? Ini, kan, Jakarta? Banjir adalah momok yang biasa terjadi di kota ini, kan?”

“Hentikan omong kosongmu itu!” Sakti tiba-tiba berdiri dengan ekspresi wajah yang menunjukkan rasa marah.

Alea membalikkan badannya menghadap Sakti. 

“Jangan ungkit masa lalu itu lagi, kau dengar! Aku benar-benar tidak bisa menyukai gadis urakan sepertimu! Mengenalmu adalah mimpi buruk!”

Setelah mengatakan itu dengan penuh amarah, Sakti pun beranjak masuk ke kamarnya.

“Hei! Aku, kan, hanya bercanda! Kenapa kau marah-marah seperti itu?” 

Alea yang merasa dirinya hanya bercanda biasa pun merasa bingung dengan tanggapan Sakti yang tiba-tiba naik pitam.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Duel Kentut

    Alea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.***Keesokan harinya.Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”“Kakek ingin mengobrol denganmu.”“Iya, Kek.”

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Makan Malam Bersama

    Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa.“Tunggu sebentar. T

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Tidak Bisa Berenang

    Alea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Pertemuan Pertama, Kesan Pertama

    Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya.Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari d

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Ultimatum Sang Kakek

    Pukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.“Sayang, kamu baru pulang?”“Iya, Ma.”“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”“Sakti sudah makan, Ma.”“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”“Apa itu penting?”“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kam

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Prolog

    Namanya Dimas Sakti Wiraguna. Seorang pengusaha mapan dan sukses asal Indonesia. Memiliki wajah yang tampan dan karismatik, membuatnya banyak digandrungi para kaum hawa. Terlebih bibit, bebet, bobotnya, yang menyebabkan para wanita sangat mendambakan diri untuk menjadi istri Sakti.Sakti sendiri sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta kepada wanita. Sifat dan karakter playboy-nya hanya sekadar untuk hura-hura dan bersenang-senang. Tidak dipungkiri, kadang-kadang Sakti merasa jenuh sendiri. Mengurus bisnis properti yang diturunkan oleh sang ayah membuatnya harus ekstra mandiri dan ekstra energi. Itulah sebabnya, Sakti merasa wajar bila menggunakan sedikit materi yang dimilikinya untuk membahagiakan para gadisnya.Meskipun playboy, Sakti bukan tipe lelaki cabul yang senang bermain ranjang dengan para wanita. Ia juga bukanlah pembohong ulung yang suka mengibuli para wanitanya dengan mengatakan, “Kau pacarku satu-satunya.” Atau, “Kau kekasihku yang palin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status