LOGINPukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.
“Sayang, kamu baru pulang?”
“Iya, Ma.”
“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”
“Sakti sudah makan, Ma.”
“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”
“Apa itu penting?”
“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”
Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kambuh dan ia bisa saja kehilangan sang kakek.
Usai mandi, Sakti turun dari kamar atas dan menuju meja makan. Sang kakek beserta papa dan mamanya Sakti sudah duduk menunggu Sakti.
Baru saja duduk, Sakti merasakan ada atmosfer yang berbeda malam ini. Sakti merasakan ada sesuatu yang pasti akan terjadi. Sakti melihat ekspresi wajah mereka yang tengah berusaha tenang.
“Malam, Kakek,” sapa Sakti seperti biasanya.
“Malam, Sakti,” balas Anas Khan.
“Malam, Pa, Ma.”
“Malam juga, Sayang.”
Makan malam pun dimulai. Mereka mulai makan dengan khidmat. Adi Wiraguna—papa Sakti—tampak sesekali menoleh ke arah sang istri—Diana Puspita. Seakan tengah khawatir apabila Sakti akan marah usai mendengar ultimatum dari sang kakek.
Di sela-sela makan malam, akhirnya sang kakek pun memulai pembicaraan penting yang sudah ia pikirkan matang-matang.
“Sakti, kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Sakti meletakkan sendok dan garpu dari tangannya. Kemudian memandang serius pada sang kakek. “Iya, Kek.”
“Sakti, usiamu sudah cukup dewasa. Kamu juga sudah mapan. Apa kamu belum bisa menentukan calon istri?”
Lagi-lagi pertanyaan yang membuat Sakti malas untuk menjawabnya. Sudah berkali-kali Sakti mendengar pertanyaan itu dari sang kakek, papa, dan mamanya.
“Belum ada yang cocok, Kek,” jawab Sakti.
“Usiamu sudah 28 tahun. Kamu juga anak semata wayang. Papa-Mamamu, juga kakek, sudah sangat menantikan kehadiran menantu di rumah ini. Kami juga menginginkan kehadiran bayi di rumah ini. Sudah waktunya kamu menikah.” Sang kakek mulai berbicara dengan nada serius.
Sakti menghela napas. “Segera, Kek.” Sakti mengambil air minumnya, lalu meneguknya. Mendengar pembicaraan semacam ini adalah hal paling menyebalkan dan membosankan bagi Sakti.
“Ya, benar. Memang segera kamu akan kakek jodohkan dengan seorang gadis!” tegas sang kakek.
“Uhuk!” Sontak Sakti terkejut mendengar pernyataan dari Anas. Diletakkannya gelas berisi air putih itu. “Dijodohkan??”
“Ya.”
“Aduh, Kek. Ini bukan jamannya Siti Nurbaya, Kek? Bukan cerita atau kisah di dalam novel! Masak iya Sakti yang super keren ini tidak bisa memilih pasangan sendiri? Kalian hanya perlu sabar dan menunggu.”
“Menunggu apa, Sakti? Menunggu kakek mati, dan tidak bisa melihat cicit darimu?”
“Kakek, jangan berkata seperti itu. Kakek, kan, awet muda dan harus panjang umur. Harus tetap semangat!” Sakti mengangkat satu tangannya sembari mengepal.
“Umur tidak ada yang tahu, Sakti. Pokoknya kakek ingin kamu menikah dengan cucu sahabat karib kakek! Titik.”
“Tapi, Kek!”
Anas Khan beranjak dari duduknya. “Kalau kamu masih ingin kakek hidup, maka kamu harus turuti keinginan kakek!”
Sakti beranjak dan mengejar kakeknya. Sedangkan Adi dan Diana masih duduk dengan cemas. Mereka khawatir keinginan Anas hanya akan menyebabkan masalah.
“Kakek, Sakti, kan, sudah besar, Kek. Sakti juga sudah punya pacar,” rengek Sakti sembari menahan lengan kakeknya.
“Pacar? Berapa pacar kamu?”
“Tujuh, Kek.”
“Yang lima ke mana?”
“Sudah Sakti putusin.”
“Yang tujuh itu, segera putuskan juga mereka! Lusa, kakek akan mengundang jodohmu ke sini!”
“Aduh, Kek. Jangan, dong? Atau begini saja. Sakti akan menikah dengan Sandra. Tapi tidak tahun ini.”
“Sandra? Yang model itu. Yang pernah kamu bawa ke sini? Yang muntah setelah mencium kentut kakek?”
“Benar, Kek.”
Jadi, Sandra pernah beberapa kali Sakti ajak ke rumahnya. Anas memang tidak menyukai Sandra. Bagi Anas, Sandra tidak natural dan terlalu ribet. Apalagi, Sandra tipe gadis yang sangat perfeksionis.
Pada suatu hari, ketika Sandra diajak Sakti main ke rumah, Anas dengan sengaja kentut. Itu hanyalah caranya untuk mengetes. Dan, Sandra gagal mengambil hati Anas pada saat itu. Sandra muntah-muntah dan langsung minta kepada Sakti agar mengantarnya pulang.
“Tidak. Kakek tidak suka dengan Sandra!” Anas mengempaskan tangan Sakti dan kembali berjalan menuju kamarnya.
“Kakek, lebih baik jangan main jodoh-jodohan. Kita pengenalan saja dulu.”
“Tidak. Ini bukan jodoh-jodohan! Ini jodoh betulan, Sakti.”
“Maksud Sakti, lebih baik PDKT dulu. Lagi pula, Sakti tidak tahu apa gadis itu cantik? Apa dia baik? Apa dia bisa menjadi istri yang baik untuk Sakti? Apa dia—“
“Kalian cocok. Dan kakek yakin, kalian akan saling melengkapi!”
Klek! Anas menutup dan mengunci pintu kamarnya. Membiarkan Sakti yang masih memohon di luar pintu.
“Kakek, please ...!”
Percuma. Anas tidak menanggapi rengekan Sakti. Sementara Sakti tidak berani menolak. Ia sadar kakeknya memiliki riwayat penyakit jantung. Sakti masih sangat menyayangi kakeknya dan ingin sang kakek panjang umur.
Diana menghampiri putranya yang berjalan lunglai menaiki tangga. Diana mengerti perasaan putra semata wayangnya tersebut. Ia sendiri juga sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini.
“Sayang, kamu yang sabar, ya? Besok, bicarakan ini baik-baik dengan kakekmu itu.”
“Hm.”
“Sekarang istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah. Mama akan membuatkan susu hangat untukmu.”
Sakti pun masuk ke kamarnya. Ia tidak tahu akankah gadis pilihan kakeknya adalah gadis cantik nan seksi seperti tipe idaman Sakti. Sakti tidak tahu apakah gadis itu berpendidikan dan memiliki atitude yang baik.
Memikirkan semua itu membuat kepala Sakti pusing. Ia pun berbaring sembari membayangkan lusa, ketika harus bertemu dengan gadis yang dijodohkan kakeknya.
“Kuharap gadis itu bukan gadis yang buruk. Mengingat karakter kakekku yang unik. Aku cemas, gadis pilihannya juga unik.”
Bersambung ....
*Jangan lupa dukung novel ini dan selalu tinggalkan review setelah membaca! Thank you ...!*
Alea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.***Keesokan harinya.Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”“Kakek ingin mengobrol denganmu.”“Iya, Kek.”
Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa.“Tunggu sebentar. T
Alea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “
Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya.Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari d
Pukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.“Sayang, kamu baru pulang?”“Iya, Ma.”“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”“Sakti sudah makan, Ma.”“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”“Apa itu penting?”“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kam
Namanya Dimas Sakti Wiraguna. Seorang pengusaha mapan dan sukses asal Indonesia. Memiliki wajah yang tampan dan karismatik, membuatnya banyak digandrungi para kaum hawa. Terlebih bibit, bebet, bobotnya, yang menyebabkan para wanita sangat mendambakan diri untuk menjadi istri Sakti.Sakti sendiri sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta kepada wanita. Sifat dan karakter playboy-nya hanya sekadar untuk hura-hura dan bersenang-senang. Tidak dipungkiri, kadang-kadang Sakti merasa jenuh sendiri. Mengurus bisnis properti yang diturunkan oleh sang ayah membuatnya harus ekstra mandiri dan ekstra energi. Itulah sebabnya, Sakti merasa wajar bila menggunakan sedikit materi yang dimilikinya untuk membahagiakan para gadisnya.Meskipun playboy, Sakti bukan tipe lelaki cabul yang senang bermain ranjang dengan para wanita. Ia juga bukanlah pembohong ulung yang suka mengibuli para wanitanya dengan mengatakan, “Kau pacarku satu-satunya.” Atau, “Kau kekasihku yang palin