LOGINAlea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.
“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.
Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.
“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.
“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.
“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”
Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”
“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”
“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”
Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “Tunggu!”
Keduanya kini saling bertatap muka. Sakti meletakkan kedua tangannya ke pinggangnya sendiri. Kemudian menatap Alea dengan sinis.
“Kau pikir hanya kau yang merasa dirugikan di sini? Aku juga sangat ... sangat malas bila harus menikahi gadis yang kelaki-lakian sepertimu. Sekali lagi kau bukanlah tipeku! Dan ini bukanlah permainan jodoh-jodohan! Ini perjodohan sungguhan!” jelas Sakti.
“Oh,” gumam Alea santai saja.
“Berapa usiamu?” tanya Sakti.
“Tujuh belas tahun.”
“Pantas!” Sakti agak terbahak. “Rupanya kau benar-benar gadis ingusan. Apa kau masih SMA?”
“Aku baru saja lulus SMA. Dan seandainya kita tidak dijodohkan, aku ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin meraih cita-cita menjadi arsitektur handal!” jawab Alea begitu mantap.
“Sayangnya kita akan dinikahkan. Buang impianmu itu,” ujar Sakti seraya tertawa.
Alea menatap Sakti heran. “Apa kau sedang menertawai impianku?”
“Tidak. Aku tidak sedang menertawai impianmu. Semua orang bebas bermimpi. Toh, mimpi itu gratis! Aku hanya tidak menyangka saja, harus dijodohkan dengan gadis bau kencur!”
“Apa maksudmu? Kau sedang menghinaku?” Alea terlihat tidak senang.
“Kenapa marah? Bukankah kau memang gadis kelaki-lakian yang masih bau kencur?” Sakti kembali tertawa.
Hal itu menyebabkan Alea geram dan dengan sengaja mendorong Sakti. Byur! Sakti jatuh ke kolam renang. Disusul tawa Alea yang pecah. Ia merasa senang bisa mengerjai Sakti.
“To-tolong ...!” seru Sakti seraya gelagapan di kolam renang.
Alea membuang muka. “Tidak usah pura-pura! Masak berenang saja tidak bisa!”
“To-tolong ...!” Sakti terus berteriak seraya berjuang melawan air kolam.
“Sudah kubilang, tidak usah bercanda! Apa kau seorang aktor yang pandai berakting?”
“A-aku tidak bisa berenang!”
“Hah, aku tidak percaya!”
“Sungguh! Tolong ...!”
Alea masih tetap cuek. Hingga akhirnya Alea memperhatikan Sakti dan mimik wajah Sakti yang tampak ketakutan.
“Eh, apa kau serius tidak bisa berenang?” Alea yang terkejut melihat ekspresi Sakti yang sepertinya tidak sedang berpura-pura pun segera meluncurkan dirinya masuk ke dalam kolam.
Alea berenang menghampiri Sakti. Gadis tomboi itu segera menangkap tubuh Sakti. Sakti yang sangat gelagapan dan sudah sangat ketakutan, segera memeluk tubuh Alea erat-erat.
“Tolong! Aku takut sekali!” ujar Sakti sembari memeluk Alea.
Alea terkejut bukan main mendapati tubuhnya dipeluk oleh Sakti. “Apa kau sengaja mencari-cari kesempatan terhadapku?!” Alea berusaha melepaskan diri dari pelukan Sakti.
“Kumohon ... selamatkan aku! Jangan lepaskan aku!” pinta Sakti merengek.
“Ish! Kau gila! Jangan memelukku!” omel Alea.
Sementara kedua orang kakek, beserta papa dan mama Sakti keluar dari rumah. Mereka begitu khawatir ketika mendengar teriakan Sakti yang meminta tolong tadi.
“Sakti!” seru Diana cemas melihat putranya berada di dalam kolam renang.
Sementara kedua orang kakek itu malah tersenyum senang melihat kedua cucunya tengah saling berpelukan.
“Cepat! Bawa Sakti ke tepi!” seru Diana kepada Alea.
Alea pun segera membawa Sakti berenang dan menuju tepi kolam. Sesampainya di tepi kolam, Sakti segera memeluk mamanya dengan sangat ketakutan. Sakti yang hampir tenggelam itu segera memuntahkan air kolam yang sudah banyak mengisi perutnya akibat gelagapan.
“Mama, Sakti takut sekali!”
“Sayang, tenanglah!”
Alea yang juga sudah basah kuyup pun menjadi merasa bersalah terhadap Sakti. Alea benar-benar tidak menyangka, cowok seganteng dan sekeren Sakti ternyata tidak bisa berenang.
“Bagaimana kau bisa jatuh ke kolam, Nak?” tanya Diana sembari menepuk-nepuk punggung Sakti, berusaha menenangkan putranya tersebut.
Wajah Alea langsung pias. Ia menjadi gugup dan khawatir Sakti akan mengatakan yang sebenarnya, bahwa Alealah yang dengan sengaja mendorong Sakti hingga jatuh ke kolam.
“Sakti, jawab! Apa ada yang telah mengerjaimu? Tidak mungkin kau sengaja jatuh ke kolam, kan? Kau, kan, tidak bisa berenang. Pasti ada yang telah mendorongmu!” Diana melirik sekilas ke arah Alea. Ia curiga orang yang telah berusaha mencelakakan putranya adalah Alea sendiri.
“Diana sudahlah. Toh, Sakti juga sudah selamat,” kata Anas.
“Tapi, Ayah. Sakti hampir saja celaka! Dan ini adalah masalah serius!” Diana masih sangat mencurigai Alea. Ia pun berpaling dan bertanya kepada Alea. “Apa kau yang sudah melakukannya? Kau yang sengaja telah mendorong Sakti?” Menatap Alea tidak suka.
“Aku ....” Alea yang dipandang seperti itu oleh Diana pun merasa takut. Ia sudah hampir mencelakakan diri seseorang dan Alea sadar kesalahannya.
“Jawab!”
“Tante, aku ....”
“Aku jatuh sendiri, Ma. Tadi Sakti tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke kolam renang!” Akhirnya Sakti terpaksa berbohong demi menjaga suasana yang mulai tidak baik.
Alea langsung tertunduk. Ia tidak menyangka bahwa lelaki calon jodohnya itu benar-benar masih berhati nurani. Bila tidak, sudah pasti Alea dan juga kakeknya merasa sangat tidak enak hati.
“Benarkah?” Diana masih kurang percaya.
“Ya ampun, Ma. Sakti sudah berkata jujur. Sakti terpeleset tadi.” Sakti berkata meyakinkan. “Benarkan, Lea?” Sakti melirik ke arah Alea yang wajahnya sudah pias. Dan entah mengapa Sakti sangat menikmati wajah Alea yang seperti itu.
“Ah, iya, benar,” jawab Alea menimpali.
“Sudahlah, Diana. Sakti, kan, sudah bilang bahwa dia terpeleset tadi. Lebih baik, bawa Sakti untuk berganti pakaian. Kemudian kita makan malam bersama,” perintah Anas.
“Ya, Ayah,” jawab Diana sembari menuntun Sakti.
“Diana, setelah itu, berikan pakaian untuk Alea. Dia pasti juga kedinginan,” perintah Anas lagi.
“Baik, Ayah.”
Akhirnya, Sakti pun dibawa mamanya ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu, Diana mengajak Alea untuk mengeringkan diri dan berganti pakaian juga. Diana memberikan sebuah dress miliknya untuk dikenakan oleh Alea.
Bersambung ....
Alea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.***Keesokan harinya.Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”“Kakek ingin mengobrol denganmu.”“Iya, Kek.”
Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa.“Tunggu sebentar. T
Alea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “
Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya.Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari d
Pukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.“Sayang, kamu baru pulang?”“Iya, Ma.”“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”“Sakti sudah makan, Ma.”“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”“Apa itu penting?”“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kam
Namanya Dimas Sakti Wiraguna. Seorang pengusaha mapan dan sukses asal Indonesia. Memiliki wajah yang tampan dan karismatik, membuatnya banyak digandrungi para kaum hawa. Terlebih bibit, bebet, bobotnya, yang menyebabkan para wanita sangat mendambakan diri untuk menjadi istri Sakti.Sakti sendiri sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta kepada wanita. Sifat dan karakter playboy-nya hanya sekadar untuk hura-hura dan bersenang-senang. Tidak dipungkiri, kadang-kadang Sakti merasa jenuh sendiri. Mengurus bisnis properti yang diturunkan oleh sang ayah membuatnya harus ekstra mandiri dan ekstra energi. Itulah sebabnya, Sakti merasa wajar bila menggunakan sedikit materi yang dimilikinya untuk membahagiakan para gadisnya.Meskipun playboy, Sakti bukan tipe lelaki cabul yang senang bermain ranjang dengan para wanita. Ia juga bukanlah pembohong ulung yang suka mengibuli para wanitanya dengan mengatakan, “Kau pacarku satu-satunya.” Atau, “Kau kekasihku yang palin