Beranda / Semua / Istri Tomboiku (Indonesia) / Pertemuan Pertama, Kesan Pertama

Share

Pertemuan Pertama, Kesan Pertama

last update Tanggal publikasi: 2020-11-05 05:18:19

Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.

Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.

Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.

Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari duduknya dan keluar untuk menyambut kedatangan mereka.

Seorang lelaki tua—yang tampak seumuran dengan Anas—turun dari taksi tersebut. Rambut kakek itu tampak kecokelatan. Postur lelaki tua itu tidak cukup tinggi, dengan tubuh sedang. Kemeja batik coklat dan sarung bermotif kotak-kotak mengawal penampilan kakek tua itu. Lelaki itu segera mengangkat satu tangannya ke arah Anas. Sedangkan tangannya yang lain tengah membawa seikat petai.

Anas tersenyum lebar dan penuh antusias melihat sahabat karibnya datang. Adi, Diana, dan Sakti juga keluar untuk menyambut mereka.

Sementara seorang gadis yang berpenampilan sedikit aneh turun dari taksi. Gadis itu mengenakan celana jeans panjang dan jaket jeans berwarna agak kebiruan. Jaketnya sengaja tidak dikancingkan, sehingga kaos berwarna hitam bergambar kepala tengkorak terekspos. Rambut panjang dan sedikit ikal itu diikat tinggi, agak berantakan. Sepatu kets warna putih juga mengikutsertakan penampilannya.

Adi, Diana, dan juga Sakti tampak terkejut melihat gadis itu berjalan bersama kakeknya. Sungguh diluar dugaan mereka, gadis yang datang itu sama sekali tidak mempersiapkan penampilannya dengan baik. Justru gadis itu terlihat tomboi. 

Lihat saja gayanya dan cara berjalannya. Sama sekali tidak mencerminkan kepribadian wanita yang anggun dan manis. Mereka—kecuali Anas tentunya—bergidik melihat penampilan gadis tomboi itu.

Anas berjalan menghampiri mereka dengan wajah secerah matahari terbit. 

“Woy, Bro! Apa kabar?” Kakek yang mengenakan batik coklat itu menyapa.

“Baik, Bro! Bagaimana denganmu?” Anas segera menjabat tangan sahabatnya tersebut.

Mereka bersalaman ala anak gaul. Dengan tangan kanannya yang mengepal, kemudian saling bertautan. Berpelukan dengan hangat, saling menepuk punggung, sembari tertawa gembira.

“Tambah tua, tambah jiwa muda, ha-ha!” jawab sahabat Anas.

“Haruslah, Sujarwo!” Anas menepuk pundak sahabatnya yang bernama Sujarwo tersebut. “Wah, rambutmu ganti warna, Bro?” Anas mengacak rambut Sujarwo dengan gemas.

“Ganti style, Bro. Biar makin muda. Kemarin sempat dicat merah sama cucuku ini. Eh, pas ngaca, berasa kayak ayam jago,” tutur Sujarwo sembari tertawa.

“Wah, aku jadi tertarik untuk mengecat rambut. Bosan warna putih terus, ha-ha!”

“Coba dicat kuning, Bro.”

“Nanti dikira lampu lalu lintas, ha-ha!”

Adi, Diana, dan Sakti masih melongo saking tertegunnya melihat kerempongan sepasang sahabat yang lama tak bersua itu. Anas dan Sujarwo adalah sahabat sejak masa unyu hingga masa peyot. Wajar keduanya begitu dekat dan bisa saling mengimbangi candaan.

“Ini cucumu?” tanya Anas sembari memperhatikan gadis tomboi di belakang Sujarwo.

“Iya, ini Alea Maharani.” 

Sujarwo segera memberikan kode kepada Alea agar menyalami mereka. Alea bersalaman tak kalah gaul dari sang kakek. Anas hampir kewalahan ketika Alea menepuk punggungnya agak keras sembari memeluk Anas.

“Wah, ha-ha, Alea kau sudah besar, Nak. Bersemangat sekali!” Anas menahan nyeri di tangannya akibat genggaman kuat dari Alea.

Alea hanya tersenyum tipis menanggapi Anas. Gadis tomboi itu pun melakukan hal serupa untuk menyalami papa dan mama Sakti. Menyebabkan kedua calon mertuanya itu terheran bukan main dengan tingkah Alea.

Kecuali Sakti. Ia yang sudah ngeri sendiri sedari tadi segera menghentikan niat Alea melakukan hal serupa kepadanya. 

“Salamannya biasa saja!” ujar Sakti seraya mengulurkan tangannya terlebih dahulu.

Alea hanya menyeringai kecil, lalu menjabat tangan Sakti. 

“Ayo, kalian kenalan saja dulu!” perintah Anas.

“Dimas Sakti Wiraguna. Panggil Sakti saja,” kata Sakti.

“Alea Maharani. Panggil saja Alea.”

Usai saling berkenalan. Mereka pun masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di ruang tamu. Beberapa pelayan segera mengantarkan jamuan penyambutan.

“Bagaimana perjalanan dari Jawa ke Jakarta? Macetkah?” tanya Anas.

“Lumayan melelahkan. Tapi demi sahabatku yang paling kurindukan ini, aku rela melakukannya.”

“Terima masih petainya. Lain kali bawa juga singkong, ya, ha-ha!”

“Kebetulan bulan depan aku mau memanen singkong di kebunku. Pasti kubagi denganmu, Anas.”

Begitu mereka duduk dan saling mengobrol. Sementara Anas meminta agar Sakti mengajak Alea jalan-jalan berkeliling rumah agar saling mengobrol dan mengenal.

Sakti pun mengajak Alea jalan-jalan ke pinggir kolam renang.

“Apa kau tidak bisa berpakaian yang rapi dan sopan untuk berkunjung ke sini?” tanya Sakti yang sudah sedari tadi ingin mencibir penampilan gadis itu.

“Ada apa dengan penampilanku? Bukankah ini sudah sopan? Aku tidak memakai pakaian yang kurang bahan, loh. Pakaianku tertutup. Kalau rapi, sih, memang tidak,” jawab Alea santai.

“Tapi kamu itu, kan, perempuan. Bergayalah selayaknya perempuan. Apa ini! Pakaian laki-laki!” cibir Sakti seraya melirik kaos bergambar kepala tengkorak itu.

“Sudah bersyukur aku tidak memakai celana jeans sobek favoritku.”

“Oh, astaga!” Sakti meremas rambutnya agak frustasi.

Keduanya berjalan berdampingan. 

“Aku tidak menyetujui perjodohan ini! Apalagi dengan pria sok perfeksionis sepertimu! Kamu bukan seleraku!” tutur Alea tiba-tiba.

“Jangan terlalu PD. Kamu juga sama sekali bukan tipeku! Gadis urakan, ingusan, dan ... jorok! Apa kamu tidak pernah mencuci rambutmu?” Sakti mengendus rambut Alea, kemudian mengusap hidungnya seolah gatal dikarenakan bau rambut Alea.

“Aku hanya mandi sesuka hati. Tergantung mood. Termasuk mencuci rambutku.”

Sakti benar-benar merasa mimpi buruk dipertemukan dengan gadis seperti Alea. Pertemuan pertama dan kesan pertama saat ini sungguh membuatnya frustasi. Ia tidak habis pikir, bagaimana kakeknya bisa melakukan perjodohan ini. Tidakkah sang kakek berpikir matang-matang untuk merekomendasikan jodoh terbaik bagi Sakti? Begitu di benak Sakti saat ini.

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Duel Kentut

    Alea benar-benar tidak menyangka, candaannya yang dikira hal biasa justru mengakibatkan Sakti sangat marah. Tidak mau ambil pusing, Alea pun masuk ke dalam kamarnya dan tidur.***Keesokan harinya.Alea bangun pukul lima pagi. Seperti biasa, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ya, meskipun Alea adalah gadis tomboi, tetapi perihal salat, ia jarang melalaikannya. Setelah itu, ia pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk turun dan sarapan pagi.Setelah memakai pakaian rapi dan menguncir rambutnya seperti biasanya, Alea turun ke bawah. Anas Khan yang tengah duduk di sofa bersama Sujarwo memanggil Alea.“Alea! Kemari, Cu!” panggil Anas.Alea pun berjalan menghampiri kedua orang kakek tua yang tengah asyik mengobrol itu.“Duduklah!” perintah Anas sembari menepuk sofa di sisinya, agar Alea duduk di sebelahnya.Alea pun duduk. “Ada apa, Kek?”“Kakek ingin mengobrol denganmu.”“Iya, Kek.”

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Makan Malam Bersama

    Setelah mengantarkan Sakti ke kamar, Diana mengajak Alea ke kamar tamu agar mengeringkan tubuh dan rambutnya, serta mengganti pakaiannya yang sudah basah kuyup.“Pakailah ini. Ini dress yang pernah tante pakai sewaktu muda dulu.”Diana memberikan sebuah dress santai berwarna hijau muda kepada Alea. Alea pun menerimanya dan segera terkejut begitu melihat model dress tanpa lengan itu.“Aduh, Tante. Alea tidak biasa memakai pakaian seperti ini.”“Lho, memangnya kenapa? Kamu ini, kan, gadis, dan ini tante rasa akan cocok di tubuhmu.”Alea merasa tidak enak hati bila menolak dress tersebut. Akan tetapi, Alea juga merasa konyol bila harus memakai pakaian feminim yang tidak biasa dikenakannya.“Lihat, ini akan cocok di tubuhmu. Kamu juga lumayan langsing, kok,” ujar Diana membujuk.Diana tersenyum dan memaklumi perasaan Alea. Ia pun tidak berusaha memaksa.“Tunggu sebentar. T

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Tidak Bisa Berenang

    Alea dan Sakti tengah asyik berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain.“Berapa usiamu?” tanya Alea yang berjalan di sisi Sakti.Keduanya berdampingan di sisi kolam renang.“Dua puluh delapan. Kenapa?” Sakti balik bertanya.“Apa kau tidak bisa mencari seorang gadis untuk kau nikahi? Sampai-sampai kakekmu harus main jodoh-jodohan semacam ini! Menyebalkan!” gerutu Alea.“Hei, apa kau tidak lihat? Coba perhatikan diriku! Mana mungkin orang sepertiku tidak bisa memiliki pacar? Tentu saja aku punya pacar.”Alea melirik Sakti, memperhatikannya sejenak, kemudian bergumam, “Yah, secara nalar memang kau tidak terlalu buruk. Tapi kenapa kau tidak menikahi pacarmu saja?”“Aku hanya akan menikahi satu gadis. Dan itu adalah gadis yang sudah mantap di hati!”“Kau terlalu pilih-pilih. Coba rundingkan lagi dengan kakekmu itu. Aku malas sekali kalau harus bermain jodoh-jodohan denganmu!”Perkataan Alea menyebabkan Sakti menghentikan langkah. “

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Pertemuan Pertama, Kesan Pertama

    Malam yang paling tidak Sakti tunggu tiba. Di mana ia harus siap dipertemukan dengan gadis asing yang akan kakeknya jodohkan dengannya. Malam itu, di kediaman Sakti, para pelayan rumah tangga tengah sibuk memasak di dapur, guna menyiapkan hidangan penyambutan tamu spesial.Berbagai hidangan telah siap menggugah selera, tersaji di atas meja makan. Sementara Adi dan Diana sudah berpakaian rapi. Begitupun Sakti yang tengah mempersiapkan diri untuk menyambut jodoh yang paling tidak dinantinya itu.Malam ini, Sakti berpenampilan keren seperti biasanya. Kemeja warna putih menambah aura ketampanannya. Pakai baju apa saja, kalau dasarnya memang sudah ganteng, Sakti tetap terlihat ganteng.Anas Khan sendiri sudah duduk di ruang tamu. Ia tengah menunggu sahabat karibnya datang bersama sang cucu perempuannya.Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih. Benar saja, tidak menunggu lama, sebuah taksi masuk ke halaman rumah Sakti. Anas segera bangkit dari d

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Ultimatum Sang Kakek

    Pukul tujuh malam, Sakti baru pulang dari kantornya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia pun masuk ke dalam rumah. Sang mama menyambutnya dengan hangat.“Sayang, kamu baru pulang?”“Iya, Ma.”“Mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”“Sakti sudah makan, Ma.”“Sayang, ada yang ingin kami bicarakan.”“Apa itu penting?”“Ya. Kakek ingin mengatakan sesuatu padamu.”Sakti menghela napas panjang. “Aku mandi dulu.”Bila sudah menyebut tentang kakeknya, sudah pasti Sakti menurut. Sang kakek lebih dekat dengan Sakti bila dibandingkan papa dan mama Sakti. Selain memiliki hubungan yang sangat dekat, bila sang kakek sudah memberikan titah, maka siapapun tidak bisa mengganggu gugat. Maklum, Anas Khan—nama sang kakek—sudah sangat tua. Sakti khawatir bila tidak dituruti, maka penyakit jantung kakeknya akan kam

  • Istri Tomboiku (Indonesia)   Prolog

    Namanya Dimas Sakti Wiraguna. Seorang pengusaha mapan dan sukses asal Indonesia. Memiliki wajah yang tampan dan karismatik, membuatnya banyak digandrungi para kaum hawa. Terlebih bibit, bebet, bobotnya, yang menyebabkan para wanita sangat mendambakan diri untuk menjadi istri Sakti.Sakti sendiri sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta kepada wanita. Sifat dan karakter playboy-nya hanya sekadar untuk hura-hura dan bersenang-senang. Tidak dipungkiri, kadang-kadang Sakti merasa jenuh sendiri. Mengurus bisnis properti yang diturunkan oleh sang ayah membuatnya harus ekstra mandiri dan ekstra energi. Itulah sebabnya, Sakti merasa wajar bila menggunakan sedikit materi yang dimilikinya untuk membahagiakan para gadisnya.Meskipun playboy, Sakti bukan tipe lelaki cabul yang senang bermain ranjang dengan para wanita. Ia juga bukanlah pembohong ulung yang suka mengibuli para wanitanya dengan mengatakan, “Kau pacarku satu-satunya.” Atau, “Kau kekasihku yang palin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status