Share

Broken Arm

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:25:44

Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.

Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor.

"Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

"Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." Mary turut gundah. "Kamu sudah menginformasikan kepadanya kemarin jika pagi ini ada rapat penting?"

"Sudah," jawab Anjani. "Ia kemarin tidak mengatakan mau mengubah rencana hari ini."

"Bagaimana jika kau datangi rumahnya? Tidak terlalu jauh, aku bisa meminta James untuk mengantarmu segera," saran Mary sambil mengangkat telepon untuk menghubungi pengemudi Samuel itu.

"Baik, terima kasih, Mary," ucap Anjani. "Aku segera turun ke bawah."

Sesampainya Anjani di lobby, James sudah menunggu di dalam Chrysler 300 milik Samuel. Mereka segera meluncur ke kediaman Alexander. Kondominium Alexander berada di jalan Beach Drive SE, dengan pemandangan birunya teluk Tampa dan jajaran yacht yang terparkir dengan anggun di dermaga. 

Setengah berlari Anjani berlari ke lift menuju ke lantai 10. Ia mengetuk pintu unit Alexander beberapa kali, namun tidak ada respon. Ia kemudian meminta bantuan pengelola kondominium untuk membukakannya. Begitu pintu dibuka, Anjani sempat ragu untuk masuk ke dalam kediaman Alexander itu, akankah murka yang diperolehnya karena lancang masuk tanpa persetujuan. Namun, kekhawatirannya akan kondisi Alex mendominasi. Ia memanggil Alexander lirih sambil menyusuri hunian yang ditata apik dengan disain modern minimalis.

Di depan sebuah kamar yang ia perkirakan adalah kamar Alexander, Anjani mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia lalu memberanikan diri membuka dan melihat Alexander meringkuk di atas tempat tidurnya membelakangi pintu masuk kamar.

"Mr. Lind ... maafkan aku, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Anjani pelan sambil berjingkat masuk.

Tidak ada jawaban.

"Mr. Lind ...," panggilnya lagi sambil mendekat ke tempat tidur. Dilihatnya Alexander mengenakan sweater dan berselimut tebal.

Apakah ia demam lagi? tanya Anjani dalam hati. Ia memberanikan diri untuk meraba dahi Alexander agar mengetahui suhu badan pria itu.

Saat tangan Anjani menyetuh kening Alexander, pria itu tersentak. Terbiasa berlatih beladiri, membuat refleknya terhadap serangan menjadi sangat cepat. Ia menarik tangan yang memegang dahinya, memelintir, dan membanting si empunya tangan ke hadapannya di tempat tidur. Dengan serta merta ia bangun dari posisi tidur meski kepalanya masih terasa berputar, lalu menduduki orang yang dibantingnya tadi. Tidak sulit baginya yang bertubuh tinggi besar untuk melakukan itu terhadap perempuan berbadan mungil, meski dalam keadaan setengah sadar.

"Aaawwwww ...!" jerit Anjani kencang. Ia tidak menduga reaksi dari Alexander dan seketika merasa tulangnya remuk.

Alexander terkejut begitu melihat orang yang terkapar di hadapannya adalah Anjani.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Alexander setengah membentak. Ia melonggarkan pegangannya dan melepaskan jepitan kakinya di badan Anjani.

Anjani terdiam, masih belum pulih dari kekagetannya. Diangkat, dibanting, dan diduduki orang sebesar Alexander sungguh membuatnya shock.

"Hey ... hey," Alexander menepuk pelan pipi Anjani, khawatir perempuan ini tidak sadarkan diri karena bantingannya barusan. Untunglah ia membanting ke tempat tidur, jika ke lantai pasti patah tulang perempuan berbadan kecil itu.

Anjani ingin menjawab, tapi lidahnya kelu.

"An ...,"panggil Alexander lirih, ia mulai waswas karena perempuan itu tidak juga mengeluarkan suara. Ia dekatkan wajahnya ke muka Anjani. "Anjani ...," ulangnya, ditatapnya mata perempuan itu.

Anjani mengerjapkan matanya. Baru kali ini ia melihat mata biru cekung itu menatapnya lembut, tak ada stalaktit di pancarannya.

"Y-y-ya ..." Anjani memaksakan diri menjawab.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alexander pelan. Belum pernah Anjani mendengar nada suara Alexander sehalus itu padanya.

Anjani mengangguk. Ia berusaha bangkit, meski tangannya terasa sangat sakit. Kesadarannya mulai terkumpul. Alexander membantunya duduk.

"Ma-maafkan aku, Sir," ucap Anjani. "A-aku hanya mau mengetahui apakah kamu demam." Ia meringis menahan nyeri.

"Tanganmu sakit?" Alexander memegang dan memeriksa lengan Anjani yang tadi dipelintirnya. Rautnya sangat khawatir. "Kamu harus memeriksakan tanganmu ke dokter."

Anjani tiba-tiba merasa kikuk karena posisi dirinya dan Alexander yang berdekatan di atas tempat tidur.

"Aku tidak apa-apa, Sir," ujarnya sambil menarik tangannya perlahan dan beringsut ke pinggir tempat tidur lalu berdiri. "Ada rapat pagi ini, Sir, terkait akuisisi channel. Aku berusaha menelepon tapi tidak ada respon darimu. Jadi kuputuskan ke sini untuk mengecek keadaanmu," jelas Anjani dengan lancar. Sikap Alexander yang tidak menekan tanpa disadari membuatnya lebih mudah mengungkap kata.

Alexander seperti tersadar akan posisinya. Bahasa tubuhnya berubah.

"Minta Webber mewakiliku," jawabnya ketus.

"Su-sudah, Sir," sahut Anjani.

"Aku perlu istirahat hari ini, kamu kembali ke kantor saja!" perintah Alexander, kepalanya kembali terasa berat dan berputar. Ia merebahkan badannya.

"Badanmu panas, apakah perlu ke dokter?" tanya Anjani.

Alexander tidak menjawab, ia menarik selimutnya dan membelakangi Anjani.

Anjani perlahan ke luar dari kamar Alexander, kepalanya penuh dengan berbagai pikiran yang mengalahkan rasa sakit di lengannya. Anjani merasa kekhawatiran pria itu tadi seperti memperlihatkan siapa dia sesungguhnya. Sikap sinisnya selama ini tampak sebagai sebuah kamuflase.

Anjani melewati dapur menuju pintu keluar, terpikir olehnya untuk mengecek makanan Alexander. Ia tidak melihat bekas makanan apapun, bisa jadi atasannya itu belum makan sejak semalam. Dengan bahan seadanya yang tersedia di kulkas, ia memutuskan membuatkan cream chicken soup.

Setelah selesai, ia kembali ke kamar Alexander yang masih meringkuk dan terlelap. Namun posisinya kali ini menghadap ke arah pintu masuk. Diletakkannya sop dan susu hangat di nakas, lalu berjingkat ke luar.

Begitu pintu ditutup, Alexander membuka matanya, ia tahu yang dilakukan perempuan itu. Pikirannya berkecamuk.

Tampaknya ia berperilaku baik, apakah ia berbeda dengan perempuan lain. Ah ... tidak mungkin, selama ini perempuan-perempuan itu hanya tergiur harta. Sekarang dia berpacaran dengan Erik, maka sudah pasti motifnya adalah harta. Keluargaku saja yang bodoh, terlalu mudah iba pada perempuan dengan muka memelas dengan segala penderitaan macam dia. Apalagi Erik yang mudah tergoda wanita. Aku tidak mau ikut terjebak. Sudah terlalu banyak benalu dalam hidupku.

***

Jam 12 siang, ponsel Anjani berdering. Nama Erik terpampang di layar ponselnya.

"An, kamu di mana?" tanya Erik. "Aku tidak melihatmu setengah hari ini."

"Aku di tempat Alex," jawabnya berbisik. Ia tidak mau membangunkan Alexander yang mungkin masih terlelap. "Dia panas."

"Suruhlah dia ke dokter, mengapa harus kamu yang menjaganya?" Nada suara Erik meninggi. Ia tidak suka kakaknya memperlakukan Anjani seperti pembantu. Peraturan di LuNet, sekretaris dibatasi hanya mengurusi hal terkait langsung dengan pekerjaan atasan.

"Ia tidak menyuruhku, Erik. Aku hanya khawatir dengan kondisinya, tadi badannya panas sekali. Jadi aku menungguinya di sini sambil bekerja, mungkin dia butuh sesuatu."

"Aku juga membutuhkan sesuatu di sini," ujar Erik.

"Apa?" tanya Anjani bingung.

"Kamu ...." jawab Erik lembut, beberapa detik kemudian ia tergelak.

Anjani tersipu, Erik selalu bisa mengeluarkan kata-kata yang membuatnya melambung.

"Ada Matt di situ yang bisa membantumu," sahut Anjani sambil terkikik. Ia menjaga agar suaranya tidak terlalu kencang.

Erik tertawa makin keras. "Apakah kamu sudah makan siang?" tanyanya.

"Sebentar lagi aku akan makan, jangan khawatir."

"Okay, sampai nanti," tutup Erik.

Begitu Anjani menutup teleponnya, Alexander telah berdiri di dekatnya. Ia terkejut, khawatir suaranya terlalu keras, sehingga membangunkan pria itu.

"Mengapa kamu masih di sini? Bukankan aku menyuruhmu kembali ke kantor?" tanya Alexander ketus.

"A-aku ... aku pikir mungkin kamu membutuhkanku, Sir," jawab Anjani.

"Aku sudah bilang ... aku hanya butuh istirahat. Aku tidak butuh bantuanmu. Kamu digaji untuk bekerja, bukan untuk bersantai di sini!" tegur Alexander.

Anjani terperanjat, niat baiknya dianggap jahat. Ada getir di dadanya.

"Ba-baik, Mr. Lind. Semoga kamu cepat sembuh. Makan siang sudah tersedia," sahutnya pelan sambil membereskan peralatannya dengan tangan kiri, tangan kanannya masih nyeri akibat pelintiran tadi. Ia kemudian bergegas ke luar dari kondo Alexander.

Sebutir air mata menetes di matanya begitu ia berada di luar kondo itu. Mengapa ia begitu membenciku? Mengapa begitu banyak orang yang membenciku. Sakit hatinya melampaui sakit di lengannya.

***

Jam 5 sore, Anjani membereskan mejanya, bersiap untuk pulang. Ia melihat ke arah ruangan Erik, Matt masih sibuk di mejanya, belum ada tanda-tanda ia akan pulang. Itu berarti Erik masih punya setumpuk pekerjaan. Anjani mempercepat gerakannya yang masih terbatas dengan tangan kiri saja. Ia tidak ingin pulang bersama Erik sore ini, enggan menerima pertanyaan mengenai Alexander. Masih terngiang makian pria itu tadi siang. Ia hanya ingin sendiri.

Berhasil keluar dari Luminous Building sendirian, Anjani berjalan kaki menuju pemberhentian bus terdekat. Ia menaiki bus nomor 4. Setelah melewati sembilan halte yang hanya ditempuh dalam waktu 7 menit, ia turun di 17th Ave N. Dari situ dibutuhkan waktu sekitar 20 menit berjalan kaki untuk sampai ke rumah keluarga Lind.

Saat berjalan di 17th Ave N, sebuah mobil mendekatinya. Anjani menoleh dan melihat mobil Dodge Durango putih. Jendela mobil itu dibuka dan terlihatlah senyum jenaka yang tak asing lagi.

"Mengapa kamu tidak sabar menungguku?" tanya Erik dengan wajah cemberut.

Anjani tersenyum dan menjawab, "Aku tak mau mengganggumu, kupikir kamu masih banyak pekerjaan. Lagipula aku hendak mampir ke CVS sebentar untuk membeli susu buat Andra."

"Naiklah," ajak Erik. "Kuantar kamu ke CVS."

Anjani menurut.

Di supermarket CVS, Erik memerhatikan sejak tadi Anjani hanya menggunakan tangan kirinya, yang kanan hanya diluruskan saja, sedangkan ia bukanlah seorang kidal.

Untuk membuktikan kecurigaannya, ia sengaja menggandeng tangan kanan Anjani.

"Auuuccch .... " Anjani mengaduh kesakitan.

"Oh, maafkan aku. Ada apa dengan tanganmu?" selidik Erik penasaran.

"A-a-aku tadi terpeleset di kamar kecil," dalih Anjani. Akan sangat repot baginya untuk menceritakan kejadian sesungguhnya, belum lagi adanya kemungkinan Erik menyalahkan Alexander.

"Mengapa kamu diam saja, kita harus segera memeriksakannya, jangan-jangan ada yang patah." Erik sangat khawatir.

"Ah ... tidak, kok, ini hanya terkilir saja, tidak terlalu parah," kilah Anjani. Ia bergegas ke kasir.

Erik tidak berkata apapun. Ia memutuskan untuk nanti langsung menyetir ke rumah sakit terdekat.

***

Erik menghentikan kendaraannya di St. Anthony Urgent Care, sebuah klinik kesehatan yang memberikan layanan kegawatdaruratan.

Dokter yang menanganinya adalah Neval Yavuz, pria keturunan Turki berbadan tegap. Potongan rambutnya bergaya militer dan terdapat stubble beard di wajahnya. Meski penampilannya lebih cocok sebagai anggota militer, namun sikapnya sangat ramah. Sambil melakukan serangkaian pemeriksaan, ia mengajak Anjani berbincang untuk mengalihkan pikiran dari rasa nyeri.

"Dari nama dan wajah Anda, sepertinya dari Asia Tenggara ya?" tanyanya ramah.

"Betul ... Indonesia," jawab Anjani. "Kebanyakan orang lebih mengenal Bali daripada Indonesia."

"Ya ... itu pulau yang indah. Saya sangat ingin berkunjung ke sana suatu saat nanti. Saya baru sekali ke Asia Tenggara, Bangkok," sahut Neval.

"Anda tidak akan menyesal datang ke Bali," ujar Anjani tersenyum.

"Berapa lama Anda sudah di St. Pete?" tanya Neval.

"Baru sebulan."

"Apakah Anda suka St. Pete? Lebih dingin daripada Indonesia, tapi tidak ada salju di sini." Neval tampak tidak kehabisan bahan pembicaraan.

"Saya suka di sini. Dulu saat SMA saya pernah tinggal di sini setahun untuk pertukaran pelajar," jelas Anjani. Ia menyukai sikap dokter yang ramah ini. Seketika teringat bagaimana Arya melayani pasiennya, yang kemungkinan menggunakan pendekatan yang sama.

"I see, jadi tidak asing lagi dengan St. Pete," ujar Neval. Ia mengamati hasil rontgen tangan Anjani.

"Apakah Anda pernah mengalami hal ini sebelumnya?" tanya Neval.

Anjani memutar bola matanya dan menggeleng. "Seingatku belum pernah."

"Kalau dari hasil pemeriksaan, Anda mengalami fraktur radius distal atau patah pergelangan tangan. Tidak terlalu serius, namun tetap memerlukan perawatan yang cermat. Ini memang biasa terjadi jika seseorang terpeleset," jelas Neval. Ia menatap mata Anjani, mukanya berubah lebih serius. "Akan tetapi, bisa juga karena tindak kekerasan."

Anjani terdiam. Apakah ia tahu aku berbohong? Tapi aku tidak ingin nanti Erik mengetahuinya.

"Mohon maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya sebagai dokter, saya harus waspada dengan kemungkinan adanya tindakan kekerasan."

Anjani menggeleng. "Tidak, tidak ada tindak kekerasan pada saya." Ia tersenyum.

Dokter Neval Yavuz kemudian memberikan obat penghilang rasa sakit dan membelat tangan Anjani. Ia meminta Anjani untuk datang kembali minggu depan.

Setelah selesai, Anjani berjalan ke ruang tunggu. Di sana ia melihat Erik tertidur. Ia merasa terharu dengan perhatian dan kebaikan lelaki itu. Tidak ditampiknya bahwa ia sungguh jatuh hati dan berharap bahwa semua kata manis yang terlontar, sikap lembut yang tertampil dari pria berambut gelombang itu bukan sekedar fantasi yang akan membuat dirinya kembali terpuruk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status