Share

First Strike

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:25:21

Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti.

Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caffè latte untuk Anjani, menyodorkannya sambil membisikkan kata penyemangat yang membuat hati perempuan itu berpacu mengelibat. Meski demikian, Anjani berusaha untuk menahan raut wajahnya agar tidak menyinggung perasaan Minji yang sudah melirik ke arahnya dengan senyum masam.

Anjani melihat jam tangannya, masih pukul 9 kurang 20 menit, kemungkinan Alexander akan datang sekitar 10-15 menit lagi. Ia segera menyusul Erik ke ruangannya.

“Erik, maaf … boleh aku menyita waktumu sebentar?” tanya Anjani begitu memasuki ruangan Erik.

“Tentu, An,” jawab Erik. Ia meletakkan tasnya di meja kemudian menghampiri Anjani yang berdiri tidak jauh dari pintu. “Ada apa?”

“A-aku … aku sangat menghargai kebaikanmu membawakan aku kopi, tapi kamu tidak perlu melakukannya setiap hari. Aku tidak mau orang-orang di sini menganggapku memanfaatkan kedekatan dengan keluarga Lind,” ungkap Anjani. Ia hanya berusaha menjaga perasaan Minji, tak mau temannya itu kembali terluka.

“Aku senang melakukannya, tidak perlu kau pikirkan apa perkataan orang lain,” sahutnya sambil tersenyum.

“Ta-tapi …,” Anjani berusaha mencari alasan yang bisa menghentikan perlakuan istimewa Erik.

Erik berjalan lebih mendekat lagi ke posisi Anjani. Sangat dekat nyaris tak berjarak, sehingga memaksa perempuan mungil itu mendongak.

“Lagi pula kalau memang kita dekat, lalu kenapa?” sela Erik sambil membelai pipi Anjani dengan telapak tangannya dan menyelipkan rambut hitam Anjani di belakang telinga.

Anjani bagai tersengat listrik. Sama sekali tidak menduga Erik akan melakukan hal tersebut. Ia mundur selangkah.

Erik tersenyum begitu manisnya. Anjani salah tingkah, ia tidak tahu harus mengartikan apa pada sentuhan Erik barusan, yang ia tahu pipinya pasti berona.

“A-aku … aku permisi,” pamitnya lalu berlari ke luar ruangan. Menghindar memang senjata andalan dirinya tiap menghadapi peristiwa yang ia tak bisa kendalikan.

Bersamaan dengan Anjani ke luar dari ruangan Erik, Alexander baru saja masuk ke ruang Anförare.

Anjani terkesiap. Untuk beberapa detik ia berhenti di luar ruangan Erik. Alexander menatapnya dengan sangat sinis.

Mati aku! kutuk Anjani pada dirinya sendiri. Ia menyesali impulsivitasnya, mengapa tidak sabar menunggu hingga sore hari untuk mengatakan itu pada Erik. Sekarang Alexander memergokinya keluar dari ruangan Erik.

Begitu Alexander melangkah masuk ke ruangannya. Anjani segera duduk di kursi kerjanya. Ia perlu waktu untuk mengumpulkan tenaga dan kesadaran, setelah mendapat belaian tak terduga dari Erik dan pandangan tak bersahabat dari Alexander. Ia berusaha menurunkan aktivitas saraf simpatiknya yang menggila.

Setelah merasa tenang, Anjani memberanikan diri memasuki ruangan Alexander. Langkahnya terasa berat layaknya terdakwa mati mendekati tiang pancung.

Alexander hanya menatapnya - tanpa kata dan rasa, saat Anjani menginformasikan semua jadwalnya hari ini. Bagi Anjani, itu lebih baik daripada sebaris makian. Setelah tidak ada respon beberapa menit dari pria bermata cekung itu, ia meminta ijin ke luar, yang tetap tidak mendapat jawaban apapun dari mulut Alexander.

Keluar dari ruangan Alexander, Anjani langsung menuju ke kamar kecil. Ia membasuh wajahnya dengan air, kemudian memegang pipinya yang tadi dibelai Erik. Apa maksud pria itu, setelah kemarin mengungkapkan bahwa ia adalah yang terindah dari semua hal baik di tahun ini, mengatakan bahwa dengan dirinya lah lelaki itu merasa cocok, dan pagi ini membelai lembut pipinya. Anjani tidak berani menafsirkan lebih banyak, namun tak urung harapannya menanjak.

Apakah itu berarti Erik menyukaiku? tanyanya dalam hati, yang langsung ditepisnya sendiri. Ia mengamati pantulan wajahnya. Tak ada hal menarik pada perempuan di cermin itu. Mungkin ia hanya menggodaku, cuma kasihan padaku. Arya saja berpaling, apalagi Erik. Anjani bermonolog.

Suara pintu yang didorong menyurai lamunannya. Minji masuk ke kamar kecil dan menghampirinya.

“Ada apa tadi?” tanyanya.

“Maksudmu?” Anjani bingung, kejadian mana yang ditanyakan Minji.

“Kamu seperti habis melihat hantu begitu keluar dari ruangan Erik,” jelas Minji.

“Oh …,” sahut Anjani. Ia terdiam sejenak, mencari penjelasan yang eksak. “Aku tadi mengatakan padanya untuk tidak perlu membawakan kopi setiap pagi, aku merasa itu merepotkannya.”

“Itu saja? Tidak mungkin.” Minji menyangsikan jawaban Anjani.

Anjani mengangguk, “Itu saja, sungguh.” Seketika mencuat lagi saat Erik membelai lembut pipinya.

“Mengapa kamu melakukan itu? Tidak enak padaku?” tebak Minji. Anjani kembali mengangguk.

“Lalu apa jawaban Erik?” desak perempuan berwajah cat-faced itu.

“Dia bilang, ia tidak merasa direpotkan,” jawab Anjani pelan, takut dustanya tersingkap.

Minji merangkul pundak Anjani, berdiri berdampingan dan bersuara, “Anjani, aku tidak keberatan jika kalian menjalin hubungan, jangan pikirkan tentang diriku. Aku akan baik-baik saja.” Ia tersenyum sambil menatap wajah Anjani di cermin.

Anjani menoleh ke Minji, “Kurasa dia hanya menganggapku perempuan malang yang perlu dikasihani, Minji, tidak lebih dari itu.” Ia tetap tidak mau menyakiti perasaan temannya itu, meski sudah mendapat restu. Selain itu, ia juga tidak yakin apakah yang dilakukan Erik adalah bentuk rasa cintanya.

Minji hanya tersenyum dan mengajaknya kembali ke ruangan.

Sesampainya di ruangan, Kate menyampaikan bahwa Alexander memintanya mengantarkan dokumen di meja Alex ke ruang rapat utama.

Anjani melirik jam tangannya, masih pukul 9, rapat baru akan dimulai jam 9.15. Biasanya Alexander hadir 5 menit sebelum rapat dimulai, namun mengapa sekarang ia sudah berada di sana. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dokumen di meja Alexander dan berlari ke ruang rapat utama. Ia tak mau mendapat sumpah serapah pagi ini.

Di ruang rapat utama, baru hadir lima orang, termasuk Alexander. Ruang rapat utama terdiri dari sebuah meja besar dengan 25 kursi, diperuntukkan untuk para chief, executive vice president, dan vice president. Alexander duduk di sisi meja yang berseberangan dengan pintu dan sedang berbincang dengan Stella Bennett - EVP Talent Acquisition. Anjani memasuki ruangan dengan takut-takut. Ia menciutkan badannya yang kecil, berharap kehadirannya tidak diketahui siapapun.

“Maaf, Mr. Lind, ini dokumen yang kamu butuhkan,” ujar Anjani pelan.

Alexander membuka dokumen yang diberikan Anjani tanpa melihat ke arah Anjani.

“Kamu tahu apa agenda rapat ini, kan? Mengapa kamu bawakan dokumen yang tidak ada hubungannya dengan rapat ini? Apakah tidak kamu periksa terlebih dahulu?” tanya Alexander sinis.

Anjani terperanjat, mukanya seketika pucat. Astaga … apakah aku salah mengambil dokumen, namun hanya dokumen itu yang tergeletak di mejanya. Mengapa tidak kuperiksa terlebih dahulu?

“Ma-maaf, Sir … a-aku … aku …,” jawab Anjani tergugu. Ia menyesali keteledorannya.

Alexander membanting dokumen tersebut, “Ambil map dokumen yang benar … sekarang!” perintahnya.

Anjani segera menghambur ke luar dari ruang rapat, tanpa sempat bertanya terlebih dahulu dokumen apa yang sebenarnya dibutuhkan pria itu saking paniknya. Ia baru menyadari setelah berada di ruangan Alexander. Tidak ada dokumen lain di meja kerja. Hanya terdapat satu kotak berisi tumpukan berkas di meja rapat yang sepertinya tidak berhubungan dengan agenda rapat kali ini. Tak mau menghabiskan waktu, ia angkut kotak tersebut yang cukup berat baginya. Tergopoh-gopoh ia kembali ke ruang rapat, hingga hampir menabrak Erik yang akan memasuki ruang rapat utama.

“An, astaga … hati-hati, kamu bisa terluka,” ujar Erik. “Mengapa kamu membawa dus seberat ini?” Ia hendak membantu membawakan kotak itu.

“Tidak usah, Erik, aku bisa membawanya sendiri,” tolak Anjani dengan halus. Ia khawatir Alexander akan murka melihat Erik membantunya.

“Aku memaksa!” tegas Erik, tak tega melihat Anjani kerepotan. Dalam hati ia menyumpahi kakaknya.

“Jang ….” Belum sempat Anjani menyelesaikan kalimatnya, Erik dengan cepat menarik kotak berisi puluhan dokumen itu dan masuk ke ruangan. Anjani panik, menebak pasti akan ada reaksi keras dari Alexander.

“Ini semua yang kamu butuhkan, bos,” sindir Erik sambil meletakkan tumpukan dokumen itu ke hadapan Alexander.

“Apa ini?” tanya Alexander heran.

“Kamu suruh Anjani membawa semua ini, kan?” tuduh Erik.

Anjani hanya berdiri di samping Erik, jantungnya seperti berdetak ribuan kali lipat lebih kencang.

“Siapa yang menyuruhmu membawa semua ini ke sini?” Alexander mengerutkan dahi, menatap Anjani tajam. “Aku hanya memintamu mengambil sebuah berkas, bukan segunung seperti ini! Apakah sulit bagimu memahami kalimatku? Bahkan Bennett di sini pun pasti mendengar aku menyuruhmu hanya mengambil satu map!”

Erik terdiam, sadar bertindak emosional dan itu akan merugikan Anjani.

“Dan kamu …,” - Alexander beralih memandang adiknya - “kalau kamu ingin membantu pekerjaan orang, mungkin para petugas kebersihan juga membutuhkan pertolonganmu, bukan cuma perempuan ini saja."

Erik mengeraskan rahangnya, menyipitkan matanya.

Anjani mengendus kemungkinan berulangnya perkelahian. Ia langsung membuka mulut sebelum Erik berespon, “Ma-maaf, aku yang salah.” Ia pasrah dimaki, asal mereka tidak berkelahi. “Tapi aku tidak melihat dokumen apa pun di mejamu.”

“Sebanyak ini kamu bawa, tidak ada yang benar. Aku sungguh tidak bisa memahami caramu bekerja.” Alexander menggeleng-gelengkan kepala. “Apa kamu sudah mencari di semua meja? Karena di ruanganku tidak hanya ada satu meja,” lanjutnya dengan sinis.

Astaga … mengapa aku tidak melihat ke arah sofa? Dasar bodoh! kutuk Anjani dalam hati. Ia mulai menyangsikan kemampuannya bekerja.

Ruangan yang sudah mulai ramai, menjadi senyap seketika. Dua orang VP wanita tampak berbisik-bisik mengomentari kejadian itu.

Erik mengambil kembali dus di hadapan Alexander.

“Tidak bisakah kamu membiarkan dia untuk bertanggung jawab atas ketololannya?” sindir Alexander. “Wah … kalian sungguh tidak profesional.”

Ia kemudian berpaling kepada Stella Bennett yang duduk di sebelahnya dan berkata, “Kamu lihat, Bennett, ini yang aku keluhkan kepada Halstead, tidak kompeten, tapi diabaikan.”

Erik tidak menggubris sindiran kakaknya, meski ada lahar yang ingin ia muntahkan. Wajah memelas Anjani menari-nari di matanya. Ia membawa sedus berkas itu ke luar. Anjani membuntuti Erik dengan muka pucat. Ia sungguh malu melakukan kebodohan yang disaksikan banyak orang di ruangan itu.

“Ma-maafkan aku, Erik,” pinta Anjani. “Aku membuatmu dalam masalah.” Ia berjalan cepat mengimbangi langkah Erik untuk membukakan pintu bagi pria itu.

Erik menarik nafas dan berkata lembut, “Kamu tidak perlu melakukannya. Justru seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuatmu dalam posisi sulit.”

Anjani membantu Erik meletakkan dokumen itu di meja rapat ruangan Alexander. Ia langsung mencari dokumen yang dimaksud Alexander, yang memang ternyata tergeletak di meja sofa. Anjani membuka map, mengecek isi dokumen, lalu tersenyum lega sambil mendekapnya.

“Aku sudah menemukannya,” ujarnya sambil hendak berjalan ke luar, namun Erik menariknya kemudian mendekatkan Anjani ke badannya. Anjani gelagapan.

“Aku hanya ingin melihatmu tersenyum sejenak saja,” ujar Erik sambil mengangkat dagu Anjani.

Anjani tersenyum hambar, ia khawatir Alexander akan meradang jika lama menunggu, lagi pula rapat pasti sudah dimulai. Samuel sangat tidak suka bila ada yang terlambat datang rapat.

“Bisakah kamu tersenyum lebih manis sedikit?” pinta Erik.

“Kamu terlambat rapat, Erik,” dalih Anjani.

“Aku tak peduli, yang penting bagiku saat ini adalah melihatmu tersenyum,” balas Erik.

Kata-kata yang keluar dari mulut pria itu tak ayal membuat Anjani spontan tersenyum.

“Nah … mudah, kan?” goda Erik. Ia kemudian menggandeng Anjani ke luar.

Anjani melepaskan tangannya, tak mau orang berpikir macam-macam.

Rapat sudah dimulai saat mereka sampai di ruang rapat utama. Sebelumnya, Erik menawarkan diri untuk menyerahkan dokumen itu ke Alexander, namun Anjani menolak. Ia tidak mau Alexander menghina adiknya itu, lebih baik dirinya yang dicaci.

“Mengapa kamu baru datang, Erik?” tanya Samuel dengan nada tegas. Ia sangat disiplin soal waktu dan tidak membedakan perlakuan kepada anaknya.

“Maaf, Sir, ada urusan penting,” sahut Erik enteng sambil cengar-cengir. Ia mengambil posisi duduk berseberangan dengan Alexander.

Anjani dengan gugup menyerahkan dokumen kepada Alexander. Konsentrasinya terpecah memikirkan teguran Samuel untuk Erik.

“Mr. Lind, benarkah yang ini? Aku sudah memeriksanya,” bisiknya sambil menyerahkan dokumen ke hadapan Alexander.

Pria itu sama sekali tidak menghiraukannya dan tidak juga membuka map dokumen tersebut. Untuk beberapa detik Anjani hanya berdiri mematung di sisi Alexander. Beberapa orang memandanginya, mungkin mengasihani atau mencemooh dalam hati.

“Apakah aku boleh keluar, Sir?” Anjani setengah memohon. Ia sangat jengah menjadi pusat perhatian.

Alexander hanya mengibaskan tangan, tidak melihat ke arahnya. Dalam hati ia bersorak, satu skor telah dibekukannya.

Anjani yang seperti mendapat angin surga, langsung beringsut meninggalkan ruangan. Sesampainya di luar, ia mengirim pesan ke ponsel Erik.

Terima kasih banyak sudah membantuku. Maaf membuatmu terlambat hadir rapat.

Tak berapa lama ia menerima balasan.

Terima kasih juga sudah tersenyum untukku. Itu sangat berarti bagiku.

Anjani seperti tidak menapak tanah membaca pesan tersebut. Kalimat itu bak sinar mentari di musim gugur, merambatkan kehangatan di tengah kecemasan, menyematkan harapan di antara kegelisahan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status