Home / All / Konstelasi Emosi (Indonesia) / The Fran's Caramels

Share

The Fran's Caramels

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:23:38

Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday.

Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pria feminin itu.

"Senyummu tampak lebih lebar dari biasanya," goda Matt genit. "Apakah ada sekotak Fran's Caramels?"

Anjani tergelak, aksi Matt sudah diduganya. Ia mengeluarkan kotak coklat itu dari tasnya. "Ini kusisakan khusus untukmu," jawabnya.

"Lalu, apa yang terjadi setelahnya?" tanya Matt sambil memasukkan sebutir coklat ke mulutnya.

Anjani melongo, ia sibuk mengartikan maksud pertanyaan Matt. Pria itu terkekeh melihat reaksi Anjani.

"Dasar lugu, kamu tahu tidak artinya bila seorang pria memberi coklat?" tanyanya sambil mencubit pipi Anjani.

Pintu Anförare terbuka dan Minji masuk sambil tersenyum riang seperti biasa.

Matt menegur Minji, "Minji, kamu mau coklat?" Ia mengambil kotak coklat di meja Anjani dan menyodorkannya kepada Minji.

"Tentu mau," ujar Minji sambil berlari kecil menghampiri, namun begitu melihat coklat itu, ia mengurungkan niatnya. Mimik mukanya berubah seketika dan ia berkilah, "Oh ... aku tidak terlalu menyukai yang itu. Terima kasih tawarannya." Ia lantas berjalan ke mejanya. Anjani melihat perubahan pada raut Minji, ia merasakan ada sesuatu yang janggal.

"Hey, kamu belum menjawab pertanyaanku, jadi setelah ini apa?" ulang Matt kepada Anjani sambil menunjuk coklat itu sambil cekikikan.

"Sudah ... sudah, Matt, kamu usil sekali, ya," tegur Mary sambil menarik tangan Matt. Ia khawatir sebentar lagi Alexander datang dan akan memarahi Anjani jika melihat mereka bersenda gurau.

Anjani tertawa kecil melihat tingkah Matt yang seperti anak kecil dimarahi oleh ibunya.

Pintu Anförare kembali terbuka dan Erik masuk dengan senyum khasnya. Ia menghampiri meja Anjani. Segelas caffè latte disodorkannya pada Anjani, kemudian menunduk berbisik di telinga Anjani.

"Semoga harimu indah hari ini," bisiknya lirih, namun sangat berdampak pada degupan jantung Anjani.

"Terima kasih, kamu juga," jawab Anjani tak kalah lirih. Erik kemudian berbalik menuju ke ruangannya, meninggalkan aroma daun birch, akar nilam dan nuansa kayu di hidung Anjani.

Lamat-lamat, Anjani melihat Minji membuang muka. Ia seolah tidak mau menyapa Erik yang melintas di depannya. Anjani mencium sesuatu yang sangat aneh. Tiga minggu mengenal Minji, ia belum pernah melihatnya bersikap seperti itu.

Rasa penasaran Anjani terhempas oleh aroma rempah dan musk yang tiba-tiba terendus olehnya. Alexander! Pria jangkung atletis itu melintas, masih seperti biasa, tanpa ekspresi dan kata.

"Pagi, Mr. Lind," sapanya parau menahan dingin yang tiba-tiba menjalar. Alexander tak menoleh, apalagi menjawab.

Anjani mengatur nafasnya sejenak, inhale exhale, dikumpulkannya semua keberanian, diingatnya semua keberhasilan minggu lalu menghadapi Alexander. Ia kemudian menunggu beberapa menit untuk mengetuk pintu Alexander.

Mary menghampiri saat Anjani akan mengetuk pintu Alexander.

"Anjani, dia adalah Lind, kamu juga bagian dari mereka. Anggaplah Alex seperti kakakmu sendiri, sehingga kamu tidak perlu terlalu takut padanya," nasihat Mary.

Anjani mengangguk, "Terima kasih, Mary." Ia pun melangkah masuk ke ruangan Alexander, berharap agar mood pria itu baik hari ini.

"Mr. Lind ... 10 menit lagi Anda, Mr. Webber, dan Ms. Murphy akan berangkat ke kantor Florida News 123 di Orlando. Malam nanti menghadiri Gala Dinner di Tampa, Anda akan datang bersama Ms. Page."

Alexander memandangi Anjani. Ia melihat perempuan ini tidak lagi secemas sebelumnya, nada bicaranya sudah terdengar lebih percaya diri. Namun, ia tidak mau kalah bertaruh. Ia harus bisa membuat perempuan ini menyerah.

Ia menyeringai, "Katakan pada Page, ia tidak perlu ikut. Aku mau pergi dengan Boyd saja."

Anjani tersentak. Ini bukan permintaan mudah, Lynnette pasti akan mencecarnya.

"Me-mengapa?" tanya Anjani. Ia mulai panik.

"Terserah kamu mau bilang apa, pokoknya aku tidak mau dia ikut, okay?" sahut Alexander datar. Ia tersenyum penuh kemenangan, tahu betul kalau Lynnette pasti tidak akan terima dengan permintaannya itu.

"Ta-tapi ...." Rasa paniknya menjalar, ia mulai merasa otot laringnya kaku.

"Itu bukan hal sulit kalau kamu sekretaris yang pandai," ejek Alexander. Seringai seperti tidak pernah lepas dari mulutnya. Ia merasa terornya berhasil.

Anjani memejamkan mata, mengatur nafasnya. Diingatnya semua nasihat yang pernah didapat. Ia mencoba fokus pada esensi masalah, berpikir dari perspektif lain.

Alexander mengamati Anjani yang memejamkan mata di hadapannya. Ia menunggu detik-detik perempuan kecil itu meneteskan air mata dan berlari ke luar ruangan.

"Yang menyelenggarakan gala dinner ini adalah Bright Entertainment, Sir, dan Ms. Page sudah sering melakukan kerja sama dengan mereka, saat ini pun sedang menjajaki mereka untuk prospek baru. Jadi, dia akan menguntungkan bagi LuNet jika hadir nanti," ungkap Anjani. Ia sungguh ingin meloncat begitu kalimat sepanjang itu bisa keluar dari mulutnya. Ia memberanikan diri menatap wajah Alexander.

Seringai di bibir Alexander perlahan sirna. Ia tidak menduga perempuan ini bisa bicara. Ia tertegun beberapa detik. Mata mereka saling bertemu. Anjani melihat bara di mata cekung biru Alexander seperti memudar untuk sejenak, namun kemudian muncul kembali.

"Ya sudah ... Page ikut," jawab Alexander sambil mengalihkan pandangan ke laptopnya. Dalam hati ia mengutuk diri mengapa sampai bisa membiarkan perempuan ini membuatnya menjilat ludah.

Anjani sumringah, tidak menduga Alexander menyerah. Mungkin ia hanya perlu dipahami, batin Anjani.

***

Siang itu Anjani bertekad untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Minji. Begitu melihat Minji keluar dari ruangan untuk makan siang, ia mengikutinya.

"Minji, kamu hendak makan siang?" tanya Anjani. Minji mengangguk.

"Bolehkah aku makan bersamamu?" lanjut Anjani yang dijawab Minji dengan senyum kecil.

Sambil menyantap makan siang mereka, Anjani memberanikan diri bertanya pada Minji.

"Minji, bolehkah aku bertanya?" tanyanya hati-hati. Ia merasakan sikap Minji hari ini tidak sehangat biasanya.

"Boleh," jawab Minji cepat. Ia tampak tidak terlalu bersemangat.

"Kamu selalu memperingatkanku untuk berhati-hati terhadap Erik, aku sangat menghargai saranmu," ucap Anjani perlahan, ia takut menyinggung perasaan Minji. "Jika aku boleh tahu, apa yang pernah terjadi, agar aku berhati-hati."

Minji menghela nafasnya. "Bukankah aku pernah bilang bahwa dia seorang player?"

Anjani mengangguk, ia memandang perempuan di hadapannya. Darah campuran Amerika Korea yang mengalir di Minji membuatnya terlihat memiliki kecantikan tersendiri. Bola mata berwarna amber menghiasi matanya yang lebih lebar dibanding rata-rata orang Korea, namun tetap dengan satu kelopak. Bibir tipis dan hidung lancip menggantung di wajah cat-faced-nya yang memiliki garis tegas dan tajam. Kulitnya putih bersih dengan pori-pori yang halus, sehingga terkesan sangat mulus.

Minji menatap Anjani. Ia ragu untuk menceritakan kisahnya, namun tidak tega dengan wanita lugu di hadapannya.

"Aku mulai bekerja di sini, sekitar tiga tahun yang lalu. Itu bukanlah masa yang mudah bagiku. Aku besar di Korea bersama ibuku. Aku lama tidak bertemu ayahku karena mereka berpisah saat aku kecil. Menjelang kuliah, tiba-tiba ia menghubungiku dan memintaku berkuliah di Amerika. Aku menuruti dan berkuliah di Chicago, sekota dengan ayahku.

Setelah lulus, ibuku meninggal. Aku memutuskan kerja di Amerika agar dekat dengan ayahku karena hanya tinggal dia yang kumiliki. Setahun aku bekerja, ayahku meninggal." Minji menarik nafasnya, pikirannya melayang mengingat ayah dan ibunya.

"Aku turut prihatin, Minji," sahut Anjani.

Minji melanjutkan ceritanya, "Aku kemudian mendapatkan pekerjaan di LuNet. Itu tahun yang berat bagiku. Aku tidak punya siapapun di sini. Erik memperlakukanku dengan baik, meski aku bukan sekretarisnya. Kuceritakan semua yang kualami, dan ia tampak sangat peduli denganku. Ia juga sedang mengalami masa berat saat itu karena perceraian dengan istrinya. Jadi, kami saling menumpahkan rasa."

Anjani merasa dadanya bergetar. Ia seperti bisa menebak kelanjutan cerita Minji.

"Ia sering mengajakku makan siang bersama, terkadang mengantarku pulang, bahkan membantuku saat pindah apartemen. Ia menghibur dan memeluk ketika aku mengalami hari berat." Bola mata amber Minji menatap langit-langit.

"Senyum indah dan pelukan hangatnya membuatku kasmaran. Aku jatuh cinta padanya, tapi aku tidak tahu apa yang dirasakannya padaku. Ia hanya selalu mengatakan bahwa ia akan selalu ada untukku. Aku pikir itu tanda bahwa ia juga merasakan hal yang sama denganku." Minji tersenyum hampa.

Anjani terperanjat, semua perlakuan Erik terhadap Minji sama persis dengan yang diterimanya. Erik pasti memperlakukanku dengan manis karena mengetahui dukaku, hanya karena kasihan.

"Tiga bulan kutunggu ia mengatakan sesuatu tentang perasaannya padaku, aku mencoba bersabar memahami bahwa ia masih emosional dengan perceraiannya. Sampai akhirnya, kuberanikan diri untuk mengutarakan apa yang kurasakan." Perempuan blasteran itu menarik nafas panjang.

Anjani diam, ia tidak berani menginterupsi, di dadanya seperti ada gunung api yang akan bererupsi.

"Aku ingat Jumat malam itu, kami pergi ke bar. Aku sengaja meminum alkohol lebih banyak untuk memberanikan diriku. Setelah kunyatakan cintaku, wajahnya berubah. Ia mengatakan  hanya menganggap hubungan ini sebagai pertemanan, tidak lebih dari itu," ungkap Minji. Raut wajahnya menggambarkan kekecewaan mendalam.

"Tiga bulan, bayangkan ... selama itu ia memperlakukanku dengan manis, memberikan harapan akan cinta yang ternyata semu. Semua perhatian, pelukan, belaian, dan kecupan yang diberikannya hanya bentuk kasih sayang seorang teman. Damn ... aku benar-benar bodoh!" Minji memaki dirinya sendiri.

Anjani tidak bisa membayangkan kasmaran Minji selama tiga bulan. Ia yang belum genap sebulan diperlakukan sangat manis oleh Erik saja sudah mabuk kepayang. Tapi ternyata, pria itu hanya bersimpati, tidak pernah mencintai. Ah ... ternyata aku tidak seistimewa itu di mata Erik, batin Anjani.

"Aku menyukaimu, Anjani ... sungguh. Oleh karena itu, aku memperingatkanmu, jangan sampai mengalami hal yang sama denganku atau wanita lain yang pernah menghampirinya. He's such a player."

Minji tersenyum kecut sambil menenggak habis minumannya. Kerongkongannya terasa sangat kering mengingat kebodohannya itu.

"Masalahnya adalah tidak mudah menghalau Erik dari pikiranku, apalagi setiap hari bertemu. Sikapnya yang tetap ramah dan senyum indah itu justru membuatku lebih sulit untuk melupakannya," lanjut Minji. "Walaupun lama-lama akhirnya terbiasa, aku tidak peduli lagi dengan segala sikapnya."

"Berapa lama akhirnya kamu terbiasa, Minji?"

"Sekitar 6 bulan," sahut Minji sambil menyipitkan matanya. "Tapi, melihatnya memperlakukanmu persis seperti dulu terhadapku, sedikit memicu kekesalanku lagi. Maafkan aku, ya."

Anjani tersenyum sambil berkata,"Tidak apa-apa, Minji. Aku senang kamu menceritakannya kepadaku. Apakah itu sebabnya kamu tidak mau mengambil coklat tadi pagi?"

"Iya ... dulu Erik juga pernah memberikanku itu sepulangnya dari Seattle. Aku sungguh berbunga, karena ketika seorang pria memberikanmu coklat artinya kita spesial di matanya. Ternyata aku keliru." Minji tersenyum kecut. "Jadi tadi begitu melihat Fran's Caramels, emosiku sedikit terpancing."

Anjani mendadak lemas, ia merasa seperti daun di musim gugur, jatuh dan terinjak.

"A-apakah begitu banyak wanita dalam hidupnya, Minji?" selidik Anjani.

"Aku hanya mengetahui wanita yang bekerja di LuNet saja, tidak tahu juga dengan yang di luar sana." Minji mengangkat bahu, matanya memandang ke sudut kiri atas, mulutnya komat-kamit berhitung. "Yang kukenal sepertinya ada sekitar tujuh orang, Lynnette Page, Donna Miller, Abby King, Lauren Nelson, Sophia Lopez, Cora Boyd, Skylar Hunt."

Anjani terbelalak. Tuhan, dia sungguh seorang player. Ia seperti ditarik ke luar dari raganya, memperhatikan dirinya, seorang single mother, perempuan minoritas dari negara dunia ketiga yang berbadan kecil dan penampilan ala kadarnya, jauh dari kategori menarik dibandingkan semua wanita yang disebut Minji tadi. Bahkan dibanding Minji sekalipun.

Mulai saat ini berhentilah bermimpi, Anjani. Tidak usah berpikir untuk jatuh hati, kamu terlalu rapuh untuk patah hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status