Home / All / Konstelasi Emosi (Indonesia) / Thanksgiving Incident

Share

Thanksgiving Incident

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:24:09

Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.

Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

Sekitar jam 5 sore, Alexander datang. Mukanya terlihat pucat.

"Halo, sayang, mengapa kamu terlihat pucat?" tanya Anna sambil memegang dahi anaknya. Olivia dan Anjani mengamati Alex sambil menyiapkan makanan.

"Aku merasa kurang sehat, Mom, tampaknya terkena flu," sahut Alex. "Bolehkan aku tidur dulu sebelum acara makan malam?"

"Tentu, tidur saja di kamar bawah," saran Anna. "Apakah kamu sudah minum obat?"

Alexander mengiyakan. Ia berjalan menuju kamar tidur yang diperuntukkan untuk tamu di lantai bawah.

"Apakah ia demam?" tanya Olivia.

"Suhunya normal," sahut Anna, "mungkin kepalanya terasa berat, seperti layaknya gejala flu."

"Apakah ia perlu diberi minum hangat, Mom?" tanya Anjani, "seperti hot ginger."

"Boleh saja ... tapi sebaiknya tanyakan saja dulu padanya apa yang dibutuhkan, An," saran Anna.

Anjani mengangguk. Ia berjalan menuju kamar tidur. Di sana, ia melihat Alexander mendekam di tempat tidur sambil memeluk selimutnya. Ia memberanikan diri mendekatinya.

"Apa kamu membutuhkan sesuatu untuk mengurangi rasa sakit, Mr. Lind?" tanya Anjani.

"Apa? Bagaimana kamu memanggilnya barusan, An? Mr. Lind?" tanya Erik dengan suara tinggi. "Kamu suruh ia memanggilmu seperti itu, Alex?"

Anjani tersentak, ia tidak menyangka ada Erik di belakangnya. Pria itu berdiri di pintu kamar.

"Bukan urusanmu!" balas Alex dengan suara tak kalah tinggi. Ia menarik selimut hingga menutupi kepala, berusaha mengabaikan Erik.

"Tentu saja itu urusanku!" Erik makin menaikkan suaranya.

Anjani terperanjat, tak menduga situasi tiba-tiba memanas. Jantungnya berdegup keras, dingin menjalar di tangannya.

"Mengapa itu menjadi urusanmu, hah?" tantang Alex sambil menyibakkan selimut dan bangkit dari tempat tidur. Ia lantas berjalan mendekati pintu di mana Erik berdiri. Mukanya terlihat seperti ingin memakan musuh hidup-hidup.

"Apapun tentang Anjani adalah urusanku!" sahut Erik. Ia juga melangkah mendekati Alex.

Anjani berada di antara kedua pria jangkung itu. Ia seperti terhimpit di antara dua raksasa.

"Oh ... mengapa bisa begitu?" ejek Alexander. Ia menundukkan badan, menyejajarkan mukanya agar setara dengan mata Anjani. Mata birunya membelalak dan muncul seringai di bibir, seperti melihat mangsa empuk di depannya.

Anjani tak dapat menahan rasa takutnya. Ia sungguh tak menduga kejadian ini. Matanya tiba-tiba terasa panas. Ia menunduk ketakutan.

Erik tidak menyukai apa yang dilihatnya. Ia mendorong bahu Alex menjauhkannya dari Anjani.

"Menjauh dari dia!" perintah Erik pada Alexander.

"Hohoho ... ada apa ini?" cela Alexander. "Mengapa ada yang bertingkah sebagai pahlawan?"

Erik menarik Anjani ke belakangnya. Sekarang ia berhadapan dengan kakaknya.

"Jangan coba-coba berlaku buruk padanya atau ...," ancam Erik. Tangannya mengepal.

"Atau apa?" tantang Alexander. Ia menyengih, menantang adiknya.

Anjani melihat tangan Erik yang sudah mengepal, ia harus segera bertindak sebelum ada perkelahian.

Ia memeluk tangan kanan Erik. "Erik, sudah ... itu bukan masalah."

Alexander terkekeh, ia mengejek Anjani, "Ow ... so sweet. Kamu takut little sparrow ini terluka ya?"

Erik tak dapat menahan amarah, sejak dulu ia paling benci tiap kakaknya itu menyebut little sparrow atau burung gereja kecil karena tubuhnya lebih kecil. Ia meninju muka Alexander dengan tangan kirinya. Alex terhuyung.

"Erik!" pekik Anjani. Ia tak menduga Erik nekat memukul kakaknya.

Tidak sulit bagi Alexander yang sering berlatih thai boxing untuk segera menyeimbangkan diri. Ia mengusap pipi bekas pukulan Erik dan dengan cepat maju, membalas serangan, melayangkan pukulan yang membuat adiknya jatuh tersungkur.

Anjani menghambur ke Erik. Ia tak dapat menahan air matanya begitu melihat darah segar mengalir dari hidung Erik. "Kamu berdarah."

Erik mengusap darah dari hidungnya, ia bangkit dan menerjang Alex. Anjani hanya bisa terduduk lemas tak berdaya. Ini semua gara-garanya.

"Hentikan!" Suara Samuel menggelegar. Jay datang bersamanya, ia langsung menarik Erik dan berdiri di antara kedua pria itu mencoba melerai perkelahian.

"Kalian seperti anak kecil. Memalukan!" hardik Samuel. "Ini hari Thanksgiving, bukan Fighting!" Alex dan Erik mundur beberapa langkah. Mata mereka masih saling membelalak. Jay memilih merangkul Erik, menurutnya Erik lebih mudah ditenangkan dibanding Alexander.

Anna datang tergopoh-gopoh. "Apa yang terjadi?"

Samuel mendengus, "Kelakuan anak-anakmu yang seperti bocah kecil." Ia kemudian meninggalkan kamar.

"Apa yang kalian pikirkan, hah?" omel Anna. Ia melihat darah di hidung Erik. "Tidakkah kalian bisa bersikap seperti orang dewasa?" Ia menoleh ke arah Anjani yang meringkuk ketakutan.

"Erik!" panggil Anna. Erik memandang ibunya. Anna menggerakkan kepala, menyuruh anaknya mengajak Anjani keluar kamar. Erik mematuhi perintah. Ia membantu Anjani berdiri dan merangkulnya sambil berjalan ke luar kamar.

Setelah Erik, Anjani, dan Jay ke luar, Anna menghampiri Alexander.

"Apa yang baru saja terjadi, Alex?"

"Ah, hanya lelucon kecil," sahut Alex sambil kembali tiduran dan menarik selimut. Kepalanya terasa lebih berat dari sebelumnya.

"Aku minta bersikap baiklah terhadap Anjani. Ia sudah melalui banyak hal berat dalam hidupnya." Anna merapihkan selimut di badan Alex. Ia paham betul untuk tidak bersikap keras pada anak sulungnya itu.

"Apakah mereka berpacaran?" tanya Alex sambil menatap ibunya.

"Entahlah, namun tampaknya mereka saling menyukai," jawab Anna sambil mengangkat bahu. "Kamu tidur saja dulu, nanti jika sudah siap makan malam, aku akan memanggilmu." Ia mencium kening anaknya dan meninggalkan kamar.

Alex memicingkan matanya sambil tersenyum simpul. Ia punya amunisi untuk menghabisi Anjani.

***

Badan Anjani bergetar hebat. Ia merasa begitu bersalah, karena dirinya kakak beradik itu berkelahi.

Erik mengajaknya ke luar dari kamar dan duduk di beranda belakang. Mereka duduk bersisian di bangku panjang.

"Maafkan aku. Aku tak bisa menahan diri melihatnya menghinamu," pinta Erik. Ia menyelipkan rambut Anjani ke belakang telinganya, kemudian mengusap bulir air mata Anjani yang mengalir di pipi. "Aku tak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu." Ia menatap lekat Anjani.

Kata-kata Erik begitu menyentuh Anjani, jantungnya mulai berdegup kencang. Andai ia tidak pernah mendengar cerita Minji, mungkin saat ini ia sudah menerobos ke dada pria itu. Ia hanya mengatakan akan melindungiku, cinta seorang kakak pada adiknya. Anjani meyakinkan diri untuk tidak terlena.

Anjani tersenyum. "Kuambilkan es untuk mengompres hidungmu," ujarnya sambil berdiri. Ia memutuskan untuk tidak berlama-lama mendengar kalimat yang akan membuat terlena.

Erik menahan tangan Anjani, melarangnya pergi.

"Aku tidak perlu es, aku hanya memerlukanmu di sini bersamaku," ucap Erik sambil mengajak Anjani untuk duduk kembali.

Kalimat itu begitu indah terdengar di telinga Anjani. Ia berusaha menguasai dirinya.

"Aku duduk di sini tidak bisa menghentikan darahmu," ujar Anjani. Ia merasa khawatir melihat darah yang masih mengucur.

Erik melepas kaosnya yang sudah terkena noda, kemudian menempelkan di hidung untuk menahan kucuran darahnya. "Beres, kan?" ujarnya sambil tersenyum.

Jantung Anjani makin bergedup tidak karuan melihat dada bidang Erik. Ia mengalihkan pandangannya.

Olivia membuka pintu beranda.

"Ini ... kompres hidungmu, jagoan!" perintah Olivia. Ia menyodorkan es yang sudah dimasukkan ke dalam ice bag. "Drama apa barusan?" tanyanya.

"Aku tidak suka melihat caranya memperlakukan Anjani," jawab Erik.

"Menurutmu dengan berkelahi menyelesaikan masalah? Apa itu tidak membuatnya makin menekan Anjani?" cecar Olivia.

"Tidak usah pikirkan aku, Liv. Aku akan baik-baik saja," sela Anjani. Ia sungguh tidak mau terjadi perpecahan di keluarga Lind.

"Maafkan aku, An," pinta Erik. Ia menyadari ketidakmampuannya menahan emosi akan berdampak negatif bagi perempuan itu. Ia menggenggam tangan Anjani, mengecup jemarinya, merengkuh kepala perempuan itu dan mendekapnya.

Anjani tak sempat mengelak, ia telah berada dalam pelukan Erik. Dari sudut matanya, ia melihat Olivia tersenyum penuh arti. Dengan kikuk, ia menarik kepalanya menjauh dari dada Erik.

"It's okay, Erik," jawabnya sambil tersenyum. Ia merasa sangat canggung.

Jay membuka pintu beranda dan memanggil mereka, "Hey, mari masuk, kita akan mulai makan malam."

Mereka bertiga beranjak masuk. Erik mengambil kaos ganti di mobilnya sebelum ke ruang makan.

Olivia berjalan sambil merangkul Anjani. Ia berbisik padanya, "Kurasa dia sungguh menyukaimu."

Anjani terkesiap, ia tidak mau membangkitkan khayalan. "Menurutku dia hanya berusaha melindungiku saja."

Olivia tertawa, "Aku berani bertaruh."

Anjani ingin mencubit Olivia, namun melihat Alexander sudah berada di meja makan, ia tidak berani bertingkah macam-macam.

Semua menempati posisinya masing-masing di meja makan sesuai dengan formasi yang biasa mereka lakukan. Terasa ada suasana dingin karena perseteruan antara Alexander dan Erik tadi. Samuel pun terlihat masih menahan amarah. Rahangnya terlihat mengeras, matanya menyipit, dan dahinya mengerut.

"Mari kita melupakan insiden konyol tadi dan memulai makan malam pada hari Thanksgiving ini sebagai rasa syukur kita," buka Samuel dengan suara seraknya. "Aku harap kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kalian secara dewasa." Ia menoleh ke arah Alexander dan Erik yang duduk bersebelahan di sisi kirinya.

Terdengar suara mendesis dan tawa tertahan dari mulut Alexander, mengejek adiknya. Anjani yang duduk di sebelah kiri Erik spontan menekan paha Erik, memberi isyarat untuk tidak terpancing. Erik menoleh dan tersenyum, memegang tangan perempuan itu dan meremas dengan lembut. Ada rasa hangat menjalar dari genggaman Erik, namun Anjani menyadari tidak boleh larut, ia pun perlahan menarik tangannya.

Dari sudut matanya, Alexander melihat gerak-gerik Erik dan Anjani. Ia terbahak dalam hati. Betapa mudah menjatuhkan kalian berdua sekaligus.

Samuel memimpin doa, kemudian Anna mulai memotong kalkun dan membagikan ke semua yang ada di meja makan.

Sambil menikmati hidangan Thanksgiving, sesuai tradisi semua anggota keluarga menyatakan rasa syukur mereka atas hal-hal baik yang telah terjadi pada mereka.

"Meski Thanksgiving hanya dirayakan setahun sekali, namun aku setiap hari bersyukur karena telah memiliki keluarga yang luar biasa – termasuk Anjani dan Andra, dan bisnis yang berjalan dengan baik. Kalian semua adalah berkah dari Tuhan yang sangat berharga bagiku." Samuel memulai ucapan syukurnya.

Anna melanjutkan, "Ya ... aku mensyukuri semua yang kita miliki, kesuksesan dalam karir, kesehatan, kasih sayang antar kita semua. Aku bersyukur LuNet makin berkembang, klinik Jay dan Liv terus ramai, dan Orbit Foundation telah banyak memberi bantuan tahun ini," – Anna memegang tangan Anjani yang duduk di sebelahnya - "Aku juga bersyukur kita kembali berkumpul, Anjani dan Andra. Kalian keluarga kami juga sekarang."

Anjani merasa terharu atas ucapan syukur Samuel dan Anna yang menerima dirinya dengan tangan terbuka. Mulutnya mengatakan terima kasih kepada Anna tanpa mengeluarkan suara.

Selanjutnya adalah giliran Alexander, namun ia tidak memulai hingga Samuel menegurnya.

Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan sentakan, seperti enggan bicara, "Well, aku bersyukur atas semua yang kumiliki." Hanya kalimat pendek itu yang akhirnya keluar dari mulutnya.

"Alex, tidak bisakah kamu membuatnya sedikit lebih panjang," canda Oliva. Ia berusaha agar suasana lebih hangat.

"Aku tidak suka mengumbar kata-kata hanya untuk mengambil hati orang," sindir Alexander.

Erik merasa sindiran itu untuknya, ia meletakkan garpu dan pisaunya, rahangnya mengeras. Kakaknya itu sungguh menguji kesabaran hari ini.

Anjani mengelus lembut tangan Erik, tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan. Ia belum pernah melihat Erik yang biasanya jenaka menjadi segusar itu. Alexander memang sangat pintar memainkan emosi orang.

Erik mengatur nafasnya, berusaha mengendalikan emosi, "Giliranku ya ... aku merasa bersyukur karena tahun ini Departemenku mencapai hasil yang baik, melampaui target yang ditetapkan. Aku juga bersyukur ada Anjani dan Andra yang menambah keramaian keluarga ini." Ia menoleh dan tersenyum pada Anjani sejenak, kemudian kembali memandang anggota keluarga lainnya. "Bersyukur memiliki kalian - keluarga yang kusayangi, walau terkadang ada konflik, tapi kurasa itu biasa selalu ada orang yang bersikap menyebalkan."

"Erik! Jangan memulai!" sergah Anna dengan mata melotot. Alexander melirik tajam ke arah adiknya.

Anjani gelisah, konflik hari ini karena kesalahannya.

"Aku ya sekarang," sela Olivia, ia sengaja segera berbicara karena melihat raut muka kedua kakaknya sudah mulai menegang. "Aku bersyukur kedua anakku tumbuh dengan sehat dan pintar, suami tersayangku telah meraih gelar sebagai pedodonsia - dokter gigi khusus anak, klinik kami terus berkembang, dan kami akan kedatangan anggota baru." Ia tersenyum lebar sambil mengusap perutnya.

"Kamu hamil lagi, Liv?" tanya Anna dengan muka berbinar.

Olivia mengangguk menatap dengan penuh cinta pada suaminya. Jay tersenyum lebar memandangi istrinya. Anjani sangat menyukai keromantisan antara Olivia dan suaminya.

Semua pun menyelamati mereka berdua. Lalu giliran Jay mengucapkan rasa syukurnya.

"Sama seperti semua, aku bersyukur memiliki keluarga bahagia yang makin bertambah besar dengan kehadiran Anjani dan Andra, serta calon bayi ini, teman-teman yang luar biasa, dan karir yang baik."

Anjani merasa sulit bicara, terlebih melihat muka sinis dari Alexander. Ia mengumpulkan keberaniannya dan mulai bersuara, "Aku sangat bersyukur memiliki kalian semua, orang-orang yang menerimaku dengan baik. Aku ...." Ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya, sekelibat muncul masa-masa sulitnya.

Anna dan Erik bersamaan memegang tangan Anjani.

"Baiklah, mari kita bersulang untuk semua hal baik yang kita miliki," ajak Samuel. Mereka mengangkat gelasnya.

Erik menyondongkan tubuhnya ke Anjani dan berbisik, "Dari semua hal baik yang kusebut tadi, kamu adalah yang terbaik."

Anjani terperanjat, tidak menampik betapa hatinya sangat berbunga mendengar Erik membisikkan itu. Ia menoleh ke arah Erik yang menatapnya lembut disertai Duchenne smile-nya yang begitu memesona. Di saat yang bersamaan, Anjani juga melihat Alexander sedang memerhatikannya, dari gelagatnya Anjani tahu betul bahwa laki-laki itu akan melakukan hal yang mengerikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status