LOGINHari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.
Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.
Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah mengenal hampir semuanya. Berkumpul dengan banyak orang seperti menyedot energi, sedangkan besok Senin harus kembali bekerja. Akan tetapi, ia tidak mungkin bersembunyi di kamar. Ketiadaan Alexander di satu sisi membuatnya lega, tidak perlu dihinggapi ketakutan melihat pandangan dinginnya, akan tetapi ia khawatir ketidakhadiran lelaki itu disebabkan perkelahian Kamis kemarin. Ia masih belum bisa menghilangkan perasaan bersalah telah menjadi penyebab perseteruan itu, walau tidak ada seorang pun yang menganggapnya begitu.
Setelah selesai menyantap makan siang, Samuel dan Anna beserta teman-teman mereka berbincang di ruang tamu, sedangkan Olivia, Erik, dan para sahabatnya bercengkrama di beranda belakang dekat kolam renang. Donna Miller juga ikut bergabung. Anjani pernah bertemu dengannya, Donna adalah akuntan di LuNet. Berdasarkan cerita Minji, ia pun pernah menjalin hubungan dengan Erik. Ibunya - Olga Snigir yang berdarah Rusia, mewarisikan kecantikan khas orang-orang Slavs, mata biru kelabu dengan jarak antara kedua mata yang dekat, hidung mancung, dan garis muka yang menonjol. Didukung oleh tubuh yang padat berisi, Donna Miller sungguh tidak membosankan untuk dipandang.
Para wanita, duduk di bangku panjang dan beberapa armchair, berhadapan dengan para pria yang duduk di tembok pendek pembatas dengan area kolam renang. Mereka berbincang mengenai banyak hal, seputar bisnis, politik, kehamilan Olivia, hingga antrian panjang saat Black Friday kemarin. Anjani sengaja mengambil posisi duduk paling ujung dan memilih sebagai pendengar, ia merasa canggung untuk nimbrung. Lagi pula ia harus mengamati Dirandra yang sedang bermain bersama Ömer.
"Hey, aku tidak melihat Alex, kenapa dia tidak hadir?" tanya Kevin. Ia baru menyadari ketidakhadiran salah satu tuan rumah.
"Oh ... kemarin sewaktu makan malam Thanksgiving ia merasa kurang enak badan, sepertinya terserang influenza, sehingga hari ini dia memutuskan untuk beristirahat," kilah Olivia.
"Semoga ia lekas sembuh, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya," sahut Lucia dengan gaya centilnya. "Pasti ia tambah tampan dan gagah," tambahnya yang dibalas dengan tawa hampir semua orang, kecuali Erik. Semua sudah paham betul gaya bicara Lucia yang lugas dan kenes.
"Hey, kamu tampak tidak suka kalau kakakmu dibilang tampan sih, Erik," sindir Lucia yang ternyata mengamati kalau Erik tidak berespon sedikitpun. "Kamu pun tak kalah tampan loh," godanya sambil berjalan mendekati Erik. Ia mengalungkan tangannya di leher Erik. "Eh ... aku boleh merayumu kan, karena kudengar hubungan kalian sudah berakhir." Lucia menunjuk ke arah Donna dan Erik sambil tergelak.
Donna tersenyum tawar, "Silakan saja, Lucia. Lagipula sejak masih bersamanya pun aku sudah terbiasa melihat dia dirayu wanita lain." Erik hanya mesem mendengarnya, ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Wah ... tampaknya ada urusan yang belum selesai di sini," canda Hasan terbahak sambil menepuk punggung Erik yang duduk di sebelahnya. "Jangan kau lanjutkan lagi gurauanmu, Lucia, kami tidak mau lihat pertumpahan darah hari ini."
"Oh ... semua sudah baik-baik saja, kok, tidak ada lagi rasa benci apalagi dendam," sanggah Erik. "Bukan begitu, Donna?"
Donna mengangguk. Anjani menangkap guratan pahit di wajah perempuan berambut chestnut itu. Pandangannya beralih ke Erik, ia memergoki pria itu sedang menatap Donna dengan wajah memelas. Ia mengendus ada suatu persoalan di antara mereka. Tiba-tiba Erik mengalihkan pandangannya ke arah Anjani. Anjani terkejut, ia tidak menyangka gerakan mendadak dari Erik. Segera ia palingkan mukanya dan beranjak mendekati Dirandra dan Ömer.
Tak lama, Zehra menghampirinya.
"Anjani, kudengar kamu sedang mencari apartemen, apakah sudah menemukannya?" Perempuan Turki itu membuka pembicaraan.
"Ya ... betul, Zehra, aku sudah menyurvei beberapa dan tampaknya akan memilih Bay Garden," jawab Anjani.
"Wah ... kebetulan sekali, aku juga tinggal di situ," sahut Zehra. "Unitku di lantai 3."
"Oh ... sungguh? Unit yang kemarin ditawarkan untukku di lantai 4. Senang sekali jika ada dirimu di sana." Anjani berbinar. Ia sangat menyukai Zehra yang terlihat lembut dan rendah hati. "Aku menyukai disain apartemennya, selain itu tidak terlalu jauh dari tempat penitipan anak."
"Bayfront?" tanya Zehra yang dijawab dengan anggukan oleh Anjani. "Ömer juga sering kutitip di sana jika aku harus bekerja. Aku freelancer, jadi tidak setiap hari bekerja."
"Wah ... sungguh kebetulan yang indah," ujar Anjani. Ia semakin yakin memilih apartemen itu.
"Bayfront Day Care mengharuskan kita sudah menjemput anak paling lama jam 7 malam. Jika dirimu terpaksa harus lembur, kamu bisa menitipkan Andra padaku. Hasan memiliki adik sepupu yang sedang mengambil kuliah bidang pendidikan. Ia sering menerima pekerjaan sebagai part-time nanny jika kamu membutuhkan. Ia juga tinggal di Bay Garden bersama kakak laki-lakinya," terang Zehra.
"Thank God ... aku sangat beruntung, terima kasih banyak, Zehra," ucap Anjani antusias, matanya berbinar. Ia sempat mengkhawatirkan masalah adaptasi dan pengasuhan Dirandra, tapi informasi dari Zehra menghapus kecemasannya.
"Jadi kapan kamu pindah? Nanti aku bisa membantumu." Zehra menawarkan diri.
"Terima kasih, kamu tidak perlu repot, barangku tidak banyak," jawab Anjani. "Mungkin minggu depan, paling lama dua minggu lagi kami pindah ke sana."
Pintu beranda dibuka, Olga Snigir menyembulkan kepala, memanggil putrinya, "Donna sayang, mari kita pulang, ada beberapa hal yang harus diurus oleh ayahmu. Kami pamit terlebih dahulu ya."
Donna berpamitan dengan semuanya dan menyusul ibunya. Erik membuntutinya, menemani perempuan keturunan Slavs itu hingga ke halaman rumah. Entah mengapa Anjani justru ingin melihat Erik berdekatan dengan Donna atau pun Lucia, sehingga ia punya alasan bagi hatinya agar tidak membangun harapan maya.
***
Jam 4 sore, semua tamu sudah meninggalkan kediaman Lind. Anjani menidurkan Dirandra yang tampak kelelahan bermain kemudian segera turun ke dapur. Saat sedang memasukkan tumpukkan piring dan gelas kotor ke dishwasher, Erik tiba-tiba telah berada di sampingnya. Pria itu memakan apel, bersandar pada pinggir sink, dan menghadap ke arahnya.
"Kami dulu sempat dekat sekitar 3 bulan, namun tampaknya kami tidak cocok satu sama lain," jelas Erik tanpa diminta.
Anjani tidak memahami perkataan Erik. "Maksudmu?"
"Aku dan Donna, jika itu yang ingin kamu tahu," jawab Erik.
"Oh ... kamu tidak perlu memberitahu itu, aku tidak mau mencampuri urusan kalian," dalih Anjani. Ia tidak mau Erik berpikir macam-macam, walau tergelitik untuk mengetahuinya.
"Tentu kamu harus tahu, aku tidak suka menyembunyikan hal semacam itu." Erik menatap Anjani.
"Mengapa aku harus tahu?" Anjani merasa jantungnya berdebar. Ini pasti gara-gara ia tadi memergokiku saat sedang memandangi Donna, pikir Anjani.
Erik tersenyum, kemudian berkata, "Karena aku tidak mau kamu cemburu."
Jantung Anjani seperti berhenti berdetak. Ia berusaha memilih kata untuk menyembunyikan perasaannya yang tak menentu.
"Aku tidak mengerti maksudmu," pungkas Anjani, sambil berjalan ke lemari es, menghindar dari tatapan Erik. Ia membutuhkan soda dingin untuk menyejukkan kerongkongannya yang seketika terasa panas.
Erik terbahak, "Sungguh? Wajahmu mengatakan seperti itu tadi." Ia sangat menikmati kekikukan Anjani.
Anjani membuka kulkas, beberapa kaleng soda dingin ada di hadapannya, namun ia hanya berjongkok dan termangu karena didera rasa malu. Ingin rasanya Anjani membenamkan kepala bahkan badannya di dalam lemari pendingin ini, bersembunyi sejenak dari Erik. Apakah tadi mukaku terlihat cemburu? Apa banyak yang menilai begitu? Tuhan ... mengapa aku tidak bisa mengendalikan mimik mukaku sendiri, gerunyamnya dalam hati.
Rasa malunya membubung. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, menggeleng-geleng kepala berharap bisa mengulang peristiwa siang tadi, dan menepuk-nepuk kepala dengan kedua telapak tangan – menyesali kebodohannya. Ia kemudian mengambil sebuah kaleng diet coke dan menempelkan di lehernya.
Tak disadarinya bahwa Erik sejak tadi mengamati. Kepala pria itu menyembul dari atas pintu kulkas yang terbuka sambil tersenyum jenaka memperhatikan gerak-gerik Anjani.
Anjani merasa seperti ada yang mengamati, ia mendongak dan tersentak. Ia terjatuh, pantatnya mencium lantai.
"Erik! Kamu mengagetkanku!" Anjani bersungut sambil meringis dan mengusap pantatnya.
Erik segera menghampiri dan membantunya berdiri.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Anjani lirih, ia khawatir Erik melihat semua kekonyolannya.
"Sejak kamu hanya memelototi isi kulkas," jawab Erik menahan tawa. Anjani gelagapan, merasa mukanya saat ini bak kepiting rebus. Erik jelas melihat semua tingkahnya di depan lemari pendingin tadi. Tawa Erik makin kencang melihat ekspresi perempuan berbadan mungil itu.
Ia merangkul Anjani, mengacak-acak rambut di atas kepala perempuan itu dengan lembut, lalu mengajaknya duduk di sofa ruang baca. Ruang baca terletak di sebelah dapur, posisi paling ujung di rumah itu, sehingga sangat sunyi dan nyaman untuk membaca. Terdapat buku-buku yang terpajang rapih di dalam lemari kayu besar, kursi malas, sofa, dan seperangkat home entertainment dalam ruangan itu.
"Anjani, dengarkan," buka Erik, "Kamu pasti akan atau bahkan sudah mendengar banyak sekali rumor tentang keluarga kami." Ia menatap Anjani yang duduk bersebelahan.
"Aku tidak terlalu memusingkan itu, buatku itu hanya dilakukan oleh orang-orang bermulut usil. Yah ... kadang itu menjengkelkan karena bisa memengaruhi beberapa orang yang dengan mudah memercayainya," lanjut Erik.
Anjani teringat obrolan dengan para sekretaris yang dengan berapi-api membicarakan Erik dan Alexander.
"Aku berharap, kamu tidak dengan mudah meyakini apa yang didengar karena seringkali kejadian yang sesungguhnya berbeda." Erik jeda sejenak, ia yakin Anjani memahami kalimat terakhirnya karena pernah berada pada posisi tersebut.
Anjani melenggut, "Tentu, Erik. Aku paham."
"Termasuk soal Donna Miller dan mungkin beberapa wanita lain. Kamu pasti pernah mendengar hal tersebut, bukan?" tanya Erik yang diiyakan oleh Anjani.
"Terlepas dari kamu merasa cemburu atau tidak ...," goda Erik, "aku ingin menceritakan apa yang terjadi antara diriku dengannya."
Anjani cemberut, bibir goldilocks-nya mengerucut. Ia sungguh tidak mau membicarakan soal Donna, tak ingin diingatkan lagi dengan perkara barusan.
"Kamu sudah membuka dirimu padaku, kurasa ini saatnya aku membuka diriku padamu," ujar Erik dengan mimik serius.
Apa maksudnya mengatakan itu? tanya Anjani dalam hati.
"Banyak orang mungkin melihatku mudah dekat dengan perempuan, namun gampang pula mencampakkan mereka. Padahal, aku sebenarnya sulit merasa cocok dengan wanita. Ketika aku mencoba menyelami dan kemudian merasa hubungan itu tidak akan berjalan dengan baik, dengan segera kusudahi, sehingga mereka bisa segera mencari pria lain yang lebih tepat." Erik menghela nafas, mengambi diet coke yang digenggam Anjani, membukanya untuk perempuan itu. Anjani tersenyum malu, menyadari kaleng itu sedari tadi hanya sekedar tumpuan ekspresi kecemasannya.
Erik meneruskan kalimatnya, "Aku tidak mau berada pada sebuah hubungan imajiner. Aku meyakini bahwa kita dapat merasakan kehadiran cinta dengan cepat. Jadi begitu tak kurasakan, tak perlu kuseriuskan. Meski begitu, aku tidak mau memperburuk relasi dengan langsung meninggalkan mereka, tetap berhubungan tapi sebatas teman. Namun, ada saja yang tidak mau menerima itu dan mengatakan aku hanya mempermainkannya. Donna salah satunya."
Ia memandangi mata Anjani yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama. Mata mereka saling bertaut. Anjani mengalihkan pandangan, tak kuat berlama-lama menatap mata biru teduh itu. Ia berusaha mencari cara cepat untuk bereaksi.
"Jadi, kamu sempat berpacaran dengan Donna atau hanya teman?" Hanya pertanyaan itu yang dapat terpikir oleh Anjani. Ia langsung menyeranah dirinya karena merasa konyol.
"Hmmmm ... ya itu tadi, setelah mencoba mengenalnya lebih dalam, aku yakin tidak merasa in love padanya. Aku katakan sebaiknya kita berteman, tapi dia menganggapku mempermainkan perasaannya." Erik cengar-cengir.
"Berapa lama kamu bersamanya?" selidik Anjani penasaran.
"Ya ampun, mengapa aku seperti disidang ya?" Erik terkekeh.
"Oh ... maaf, bukan maksudku begitu," ralat Anjani. Ia menyesal karena seolah terlalu ingin tahu.
"Biasanya dalam dua minggu aku sudah tahu apakah aku mencintai seseorang atau tidak. Namun, aku tetap mencoba menjaga hubungan selama tiga bulan," sahut Erik enteng.
Itu waktu yang sama dengan yang dialami Minji, batin Anjani.
"Jadi, selama tiga bulan kamu memperlakukannya dengan mesra, setelah itu kamu katakan bahwa hubungan kalian hanya pertemanan?" Anjani menggelengkan kepalanya. "Pantas saja ia kesal padamu, Erik!"
"Ah ... rasanya aku tidak terlalu mesra padanya, biasa saja," dalih Erik.
"Lalu dengan siapa kamu merasa cocok?" Anjani spontan menanyakan hal itu. Di kepalanya terdapat sederet nama wanita menawan yang pernah disebut Minji. Ia meneguk diet coke-nya. Kutebak pasti Skylar Hunt, wajah dan perangainya paling menawan, terka Anjani dalam hati.
"Kamu ...," sahut Erik lembut sambil mengeluarkan Duchenne smile-nya.
Sontak Anjani tersedak, lalu terbatuk dengan hebat.
"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Erik sambil mengusap punggung Anjani, wajahnya terlihat khawatir.
Anjani menggeleng, masih terbatuk. Ia menghambur ke luar ruangan, naik ke kamarnya. Entah apa maksud perkataan Erik barusan, yang jelas ia tidak sanggup melanjutkan pembicaraan dengan pria jenaka itu.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja