Home / All / Konstelasi Emosi (Indonesia) / Lovely Day at The Dalí

Share

Lovely Day at The Dalí

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:23:04

Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk.

Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anjani lebih bersemangat. Walau ketiadaan Erik beberapa hari di kantor membuat Anjani tak perlu bersusah payah membekam rasa, namun pertemuan hari ini tak pelak memunculkan euforia.

Erik menyodorkan sekotak Fran’s Caramels yang dibeli di Seattle begitu mobil yang dikendarainya beranjak dari kediaman keluarga Lind. Ia melihat wajah Anjani sedikit berbeda hari ini, meski masih terlihat sendu, namun pancaran matanya menyiratkan sekelumit asa.

“Wah … terima kasih, Erik. Bagaimana Seattle?” ucap Anjani sambil membuka kemasan coklat.

“Musim gugur di Seattle membuatku merasa campur aduk,” sahut Erik.

“Campur aduk?” Anjani mengernyitkan dahi.

“Kebanyakan orang merasa gloomy saat musim gugur karena akan memasuki musim dingin, namun juga memanfaatkan detik-detik terakhir menikmati matahari. Begitu juga yang kurasakan, cemas sekaligus gembira,” jelas Erik. “Mungkin aku cemas karena mengkhawatirkan apakah kamu baik-baik saja selama aku tinggal.” Ia tersenyum jenaka.

Anjani tertawa, ia berseloroh, “Tapi kamu gembira karena tidak perlu melihat mukaku yang selalu masam, kan?”

Erik terbahak, ia tidak menduga Anjani bisa mengeluarkan lelucon macam itu. “Justru aku gembira karena akan segera melihat muka masammu itu,” sanggahnya sambil tetap tertawa.

Mobil berbelok dari Beach Drive NE ke 9th St N, menuju apartemen pertama yang akan mereka kunjungi. Dodge Durango putih Erik berhenti di bangunan berlantai 15, Palm Central Apartment. Lokasi apartemen itu hanya lima blok dari LuNet dan dua blok dari rumah Erik.

Erik dan Anjani berjalan ke lobby menemui Allison Wood, makelar yang akan menemani mereka, seorang wanita kaukasian paruh baya berbadan gempal dengan senyum yang lebar.

“Halo, apa kabar? Kamu pasti adalah Ms. Pra … , ah maafkan aku tidak bisa mengucapkannya dengan baik,” sapanya sambil menjabat tangan Anjani.

“Prastowo,” jawab Anjani tersenyum, memaklumi bahwa nama itu sangat sulit diucapkan oleh orang Amerika. “Panggil saja aku Anjani.”

Erik menjabat tangan Allison dan memperkenalkan diri, “Apa kabar? Aku Lind … Erik Lind.”

“Ah … Swedia ya?” tebak Allison yang dijawab dengan anggukan dan senyum lebar dari Erik. Ia kemudian menunduk menyapa Dirandra yang duduk di stroller dengan tenangnya.

“Betapa lucunya anak ini,” pujinya sambil mencolek pipi tembam Dirandra. “Okay, mari kita melihat unitnya, Mr dan Mrs. Lind,” ajak Allison sambil berjalan mendahului ke arah lift.

Anjani terkejut mendengar Allison memanggilnya Mrs. Lind, ia membuka mulut hendak meralat, namun Erik tiba-tiba merangkulnya.

“Mrs. Lind … terdengar sangat indah di telingaku,” bisik Erik sambil tersenyum jahil dan mendorong stroller Dirandra.

Anjani tersipu, namun berusaha mengendalikan diri. Ia merasakan degup di dada yang lebih kencang daripada biasanya.

Setelah mencermati unit di Palm Central Apartment, mereka pun beralih mengunjungi Bay Garden Apartment dan Wellwood Apartment bersama Allison. Perempuan itu bertanya apakah mereka bersedia melihat apartemen keempat.

Erik menggoda Anjani, “Bagaimana, Mrs. Lind, apakah kamu masih mau melihat lagi atau sudah ada yang membuatmu jatuh cinta?”

Anjani tersenyum sambil menggeleng, ia berkata pada Allison, “Tampaknya sudah cukup, Ms. Wood. Rasanya saya sudah menyukai salah satunya, namun akan kupertimbangkan dulu.”

Allison Wood tersenyum lebar, dan kemudian berpisah dengan mereka.

“Aku lapar, mari kita makan,” ajak Erik. “Ada sebuah tempat yang pasti kamu akan suka.”

Anjani mengangguk, cacing di perutnya pun sudah bernyanyi.

***

Erik memarkir mobilnya di The Dalí, sebuah museum berisi lukisan Salvador Dalí. Bangunan museum sangat unik terinspirasi surealisme, aliran yang dianut oleh Salvador Dalí. Pintu masuk yang disebut sebagai Enigma, terbuat dari kaca besar dan tebal, setinggi 75 kaki dengan tangga spiral di dalamnya.

Anjani tidak bisa menutupi kegembiraannya. Mata lebarnya berbinar, alisnya terangkat, dan rahangnya terbuka. Dulu saat ia di St. Pete, museum ini belum dibangun. Ia begitu ingin mengunjunginya. Ia tak menyangka Erik memberikan kejutan ini dan memahami bahwa ia begitu menyukai karya seni.

Di dalam museum juga terdapat sebuah tempat makan, Café Gala, diberi nama itu untuk menghormati Gala, istri pelukis eksentrik tersebut. Restoran ini menyajikan menu santapan bertema Spanyol. Tapas, gazpacho, caldo gallego, dan kue-kue tradisional Spanyol menjadi spesialisasi dari restoran ini.

Mereka dengan cepat memilih beberapa menu yang terlihat enak karena perut yang keroncongan. Untunglah, pelayan restoran dengan cepat menyajikan santapan siang mereka.

“Apakah kamu sudah menetapkan pilihan dari tiga apartemen tadi?” tanya Erik sambil menyantap tapas sebagai makanan pembuka.

“Hmmm … Aku suka Bay Garden, lebih artistik, terasa nyaman, dan tidak jauh dari tempat penitipan anak," jawab Anjani. “Bagaimana menurutmu?”

“Wah … aku tersanjung, kamu menanyakan pendapatku,” ujar Erik tersenyum, ia meletakkan tangannya di dada. Anjani mengikik. Ia menyodorkan peanut butter jelly yang disajikan dengan buah untuk anaknya, yang langsung diterima dengan muka tak sabar.

“Aku setuju denganmu, Bay Garden, lebih unik dan hidup. Tampaknya kita punya selera yang sama,” tambah Erik dengan senyum yang tak pernah sedetik pun lepas dari wajahnya. Anjani tergelak mendengarnya.

“Aku hanya meninggalkanmu dua hari, tapi tampaknya wajahmu tampak lebih ceria, ada keseruan apa?” tanya Erik.

“Ah … tidak ada apa-apa yang berlebihan, tapi memang aku merasa lebih senang, kenapa ya?” Anjani memutar bola matanya mencari penyebab.

“Semoga bukan karena aku tidak ada ya,” sindir Erik dengan muka cemberut yang dibuat-buat.

Anjani tertawa melihatnya. “Bisa jadi,” guraunya. Sekarang Erik yang terkekeh, ia tidak menyangka Anjani balas menggodanya. Ia merasa mulai menyibak sedikit demi sedikit karakter perempuan bermata sendu di depannya ini.

“Sepertinya … aku merasa sedikit senang karena aku kemarin dapat menjawab pertanyaan Alex. Mungkin konyol bagi orang lain, tapi buatku itu prestasi,” ujar Anjani sambil tersenyum lebar. Erik bak magnet yang menariknya untuk mencurahkan kata.

“Aku senang mendengarnya. Lalu bagaimana reaksi Alex?”

“Ya … dia tetap memberikan ekspresi yang sama, tapi aku sudah terbiasa dengan itu.” Anjani cengar-cengir.

“Apakah dia memakimu?” selidik Erik. Ia penasaran bagaimana sikap kakaknya itu terhadap Anjani.

“Ti-tidak, ia tidak pernah memakiku, kok. Ia hanya memasang muka datar saja,” bela Anjani. Ia teringat kata-kata Olivia kemarin tentang renggangnya hubungan antara Alex dan Erik. Ia tidak mau memicu perselisihan, walau harus berbohong.

“Aku senang mulai bisa mengatasi kegugupanku, aku tidak terlalu memedulikan reaksinya lagi, meski kadang masih gemetar setiap menghadapnya,” lanjutnya.

Good job!” puji Erik sambil mengacungkan jempolnya. “Aku senang sekali jika kamu mulai bisa menunjukkan bahwa kamu tidak terpengaruh oleh sikapnya.”

“Terima kasih, Erik. Aku tidak mungkin bisa melakukannya tanpa dukunganmu,” ucap Anjani malu-malu. Ia menunduk memainkan garpu di caldereta de cordero, pilihan makanannya berupa kaserol domba. Anjani tidak menyadari bahwa ucapannya membuat Erik melambung.

Erik memandangi wajah oval di hadapannya. Untuk sejenak ia kehilangan kata-kata, hal yang jarang terjadi pada dirinya saat menghadapi wanita. Kalimat yang meluncur dari bibir goldilocks itu sederhana dan tanpa bunga apalagi agenda, namun justru membuat hatinya berjingkrak gembira. Keluguan Anjani menghadirkan daya tarik tersendiri. Ada desiran di dadanya, betapa ia ingin melindungi perempuan ini dengan segenap jiwanya.

***

Selesai menyantap makan siang, mereka bertiga menuju ke lantai tiga, tempat berbagai lukisan Salvador Dalí dipajang. Erik mempersilakan Anjani untuk menikmati lukisan, sedangkan ia mendorong stroller Dirandra.

Anjani bak anak kecil yang berada di wahana permainan impian, disain interior museum yang menawan menambah keriangannya melihat ribuan lukisan Dalí terpajang. Ia tahu bahwa tidak akan mungkin menikmati semuanya hari ini, ia bertekad untuk kembali lagi.

“Mengapa kamu begitu menyukai lukisan?” tanya Erik sambil ikut memandangi lukisan Dalí yang menurutnya tampak aneh. Ia sungguh bingung bagaimana menikmati surealisme.

Anjani menahan tawa melihat ekspresi Erik yang menggaruk-garuk rambut messy-nya saat mengamati El gran masturbador atau the Great Masturbator, lukisan diri Dalí dengan komposisi yang memang aneh dan dianggap sebagai salah satu hasil karyanya yang kontroversial, namun menjadi terkenal karena menganggungkan sesuatu yang biasanya justru diejek.

“Bagiku, melukis membuatku bebas berkelana,” jawab Anjani. “Aku suka melukis sejak kecil, namun hanya untuk iseng saja.”

“Sungguhkah? Aku pikir kamu hanya menikmati melihat lukisan, tidak kusangka kamu juga bisa melukis. Luar biasa sekali,” puji Erik. Banyak hal menarik yang ingin diselami dari Anjani. Ia memutuskan untuk memandangi perempuan ini saja dibanding lukisan-lukisan Dalí yang sangat ganjil baginya.

“Melukis juga terapi,” lanjut Anjani sambil memandangi Galatea of the Spheres, lukisan tentang Gala, istri Dalí dengan wajah yang terdiri dari bola-bola padat, memberikan efek tiga dimensi yang luar biasa. Ia terkesima dengan pemikiran dan teknik melukis Dalí.

“Benarkah?” Erik penasaran. Mata birunya yang terbingkai kaca mata sporty itu melebar.

“Betul … melukis membantuku saat depresi. Seperti yang kau tahu, tidaklah mudah bagiku untuk mengungkapkan lewat kata, sehingga meluapkan apa yang kurasakan pada canvas terasa lebih enteng sekaligus menyenangkan,” papar Anjani sambil menoleh ke arah Erik. “Mereka menyebutnya art therapy.”

“Sampai sekarang kamu masih melukis?” tanya Erik.

Anjani menggeleng. “Semenjak di St. Pete aku belum pernah melakukannya.”

“Sepertinya kamu tidak memerlukannya lagi, An,” ujar Erik dengan mimik serius, “karena aku bisa menjadi canvasmu.” Ia kemudian mengeluarkan senyum andalannya.

Anjani tersipu, ia memalingkan muka ke arah lukisan The Persistence of Memory, menyembunyikan wajah yang sudah pasti berona mendengar rayuan Erik barusan. Dalam hati ia berharap agar waktu berhenti sejenak, ingin momen ini tidak lekang dari memorinya, seperti makna dari lukisan Dalí di hadapannya.

Dari sudut matanya, ia melihat Erik mengangkat Dirandra dari stroller begitu anak itu bergerak gelisah, sepertinya bosan berada di kereta itu. Lelaki itu menggendong sambil mengajaknya bercanda. Ia menciumi perut Dirandra yang membuat bocah itu terpingkal-pingkal kegelian. Tak ayal, hal itu membuat Anjani tersentuh. Erik tampak begitu perhatian terhadap anaknya, sedangkan ayah kandungnya sendiri tidak mau mengakui. Tuhan … mengapa begitu banyak hal memesona darinya?

***

Lagu berirama R&B, Lovely Day dari Bill Withers mengiringi mobil Erik yang bergerak ke luar dari areal The Dalí. Anjani merasa tidak asing dengan lagu ini.

“Aku mendengar Mommy memutar lagu ini kemarin, ia terlihat sangat menjiwai,” ujar Anjani tersenyum.

“Tentu, ia penggemar berat Bill Withers. Dulu waktu aku kecil, rasanya ia selalu menyetel setiap hari, sehingga lama kelamaan pun aku menggandrungi,” jelas Erik. “Selain itu, lagu ini sangat sesuai dengan keadaan hari ini, such a lovely day  karena kehadiranmu.” Lagi-lagi sambil melontarkan Duchenne smile-nya.

Erik bersenandung dan menggoyangkan badannya mengikuti irama lagu. Anjani mendengarkan lirik itu dengan seksama.

Then I look at you

and the world's alright with me

Just one look at you

and I know it's gonna be

A lovely day

Anjani tersenyum. Ia setuju, hari ini begitu indah, terutama dengan Erik bersamanya. Meski jauh di lubuk hatinya ia menyangsikan akankah hari-hari ke depannya akan selalu seindah ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status