Share

Sibling Rivalry

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:22:29

Sabtu pagi ini Anjani bangun dengan mood lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Ini adalah akhir pekan ketiga Anjani di St. Pete. Jam menunjukkan pukul 6 pagi, baru masuk waktu sholat subuh di St. Pete. Anjani pun segera mengambil air wudu dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Selesai sholat, ia bertafakur, merenungi hidupnya.

Terlintas bagaimana perjuangannya melawan depresi setelah Arya mencampakkannya. Mencoba mencari kembali makna hidup setelah hancur berkeping-keping. Dari sesi terapi yang dijalaninya, teridentifikasi bahwa sifat submisifnya adalah salah satu sumber masalah. Pola asuh orang tuanya yang sangat otoriter membentuk pribadi Anjani sebagai seseorang yang tidak berani mengutarakan pendapat, pemalu, dan cenderung tidak percaya diri.

Meski memiliki paras yang tergolong menarik, pandai secara akademik, dan berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah atas, namun rasa rendah diri Anjani begitu besar. Pertukaran pelajar saat SMA cukup membantu Anjani untuk menjadi sosok yang lebih percaya diri. Ia cukup aktif di berbagai organisasi saat kuliah. Di sana lah ia bertemu dengan Arya, seniornya dari fakultas yang berbeda.

Karakter Anjani yang tidak banyak tingkah dan cenderung mengalah merupakan daya tarik tersendiri bagi Arya karena berlawanan dengan kepribadiannya, opposite attract. Di mata Arya, Anjani adalah gambaran wanita yang didambanya. Akan tetapi, dominansi Arya dalam kehidupan perkawinan menyuburkan kembali sifat submisif Anjani.

Anjani menyadari kelemahannya ini dan sudah menjalani terapi untuk memperbaikinya. Ia berasumsi dirinya sudah siap menghadapi hidup baru di St. Pete, akan tetapi sikap Alexander yang sangat dominan dan otoriter memantik ketidakberdayaannya. Ia seperti diseret kembali ke titik minus, mundur beberapa langkah ke belakang. Namun, dua hari kemarin, ia merasa seperti maju perlahan. Ia mulai dapat mengutarakan pendapatnya kepada Alexander, meski baru sepenggal kalimat yang tergugu. Baginya, itu sebuah prestasi.

Tangisan Dirandra membuyarkan lamunannya. Ia segera menghampiri anaknya. Tak dapat ia bayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kehadiran Dirandra. Darinya lah ia menemukan makna baru dalam kehidupan. Berjuang untuk menjaga amanah terbesar dalam hidupnya.

Anjani membopong anaknya turun dan menuju dapur. Terdengar lantunan lagu R&B Lovely Day dari Bill Withers. Anna tampak sedang sibuk membuat sesuatu di dapur sambil berdendang dan bergoyang.

"Pagi, Mom," sapa Anjani, "Wah, kau tampak ceria sekali. Apa yang sedang kau buat?"

"Pagi, sayang," jawab Anna sambil mencium dahi Dirandra, "Oh ... ini aku membuatkan pretzels untuk Samuel. Biasanya jika ia baru pulang dari luar kota, ia hanya mau bermalas-malasan di rumah."

"Jam berapa Daddy kembali?" tanya Anjani sambil meletakkan Dirandra ke kursi makan anak. Terbersit rasa senang karena berarti Erik juga sudah pulang. Dua hari tanpa Erik membuat Anjani merasa kehilangan sesuatu, meski tak mau diakuinya.

"Semalam sekitar jam 11.30 malam dia sampai rumah," sahut Anna. "Erik juga sudah kembali bersamanya. Pasti ia masih terlelap sampai sekarang, sehingga belum menghubungimu. Penerbangan lima jam dari Seattle cukup melelahkan." Anna sengaja mengatakan itu untuk melihat reaksi Anjani. Ia sungguh penasaran untuk menggali apa yang terjadi antara mereka berdua.

Anjani tersipu sambil bertanya dalam hati, Mengapa Mommy berkata seperti itu. Apakah dia menduga sesuatu?

Anna tersenyum penuh arti. Reaksi Anjani makin memperkuat dugaannya, dan ia menyukai hal itu.

"Apa yang bisa kubantu, Mom?" Anjani mengalihkan pembicaraan.

"Terima kasih, sayang, ini sudah mau selesai, tinggal dipanggang saja," jawab Anna sambil memasukkan pretzels ke dalam oven.

"Kita sarapan saja, yuk," ajak Anna. "Aku tadi sudah menyiapkan sandwich." Ia berjalan ke meja makan.

"Wah, terima kasih, seharusnya aku yang menyiapkan," jawab Anjani sambil mengambil bubur untuk Dirandra.

"Bagaimana harimu di kantor, An?"

"Baik, aku sudah mulai dapat beradaptasi dengan pekerjaan ini."

"Apakah Alex baik padamu?" selidik Anna.

"Alex baik, Mom." Tentu Anjani tidak akan mengatakan yang sesungguhnya kepada Anna tentang sikap anak sulungnya tersebut.

Anna tersenyum. Ia sudah menduga Anjani akan menjawab seperti itu. Sejak dulu, ia menilai Anjani bukanlah seseorang yang dengan mudah mengungkapkan perasaannya dan tidak mau mengatakan hal buruk tentang orang lain.

"Alex memiliki sifat yang keras, Anjani. Sama persis seperti ayahnya. Aku pun dulu cukup kesulitan memahami Samuel. Bukannya aku membela anakku, tapi sebenarnya Alex punya maksud yang baik, namun ia sering tidak berpikir dampak dari perkataan dan perilakunya pada orang lain," jelas Anna.

"Ya, Mom," sahut Anjani tersenyum. "Aku bisa memahami maksud Alexander, kok. Kamu tidak usah khawatir." Ia tidak mau membuat Anna cemas memikirkan dirinya.

"Ah, aku senang mendengarnya. Aku sudah sering mengingatkannya untuk lebih bersikap lembut kepada orang lain, namun dasar anak keras kepala. Padahal jelas-jelas itu yang membuat Aubrey akhirnya memutuskannya."

"Siapa Aubrey?" Anjani tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

"Tunangan Alex. Aku menyukainya, dia anak yang baik," jawab Anna. Terlihat raut kecewa darinya.

"Mereka sudah merencanakan pernikahan, tapi batal karena Alex sulit sekali berkompromi. Wanita kan selalu ingin sebuah pernikahan yang diidamkan, tapi menurut Alex keinginan Aubrey terlalu merepotkan, dia sama sekali tidak mau mengalah," cerocos Anna menumpahkan kekesalannya. "Aku sungguh tidak dapat memahami jalan pikiran anak itu."

"Aku turut prihatin," sahut Anjani. Berarti wajar jika aku sulit memahaminya juga, ibu dan tunangannya saja mengalami hal yang sama, bela Anjani dalam hati.

"Apakah sudah lama kejadiannya?"

"Sekitar tiga tahun yang lalu," jawab Anna.

"Berarti di tahun yang sama dengan perceraian Erik?"

Anna kaget. "Oh ... kamu sudah tahu? Erik bercerita padamu?" tanyanya. Anjani mengangguk.

"Itu sungguh tahun yang berat buatku sebagai ibu. Kedua anak lelakiku mengalami masalah dalam kehidupan percintaannya." Anna menghela nafas. "Yah, meskipun mereka sudah dewasa, namun sebagai ibu, aku turut merasakan sakit yang mereka alami. Untunglah mereka dapat melaluinya dengan baik, meski sampai saat ini aku belum melihat mereka berdua mengencani wanita dengan sungguh-sungguh."

"Mungkin mereka butuh waktu," hibur Anjani.

"Ya, aku tak keberatan dibilang konservatif, tapi aku ingin melihat mereka memiliki anak, dan berkesempatan mengasuhnya, seperti yang kulakukan pada Charlotte dan Scarlett. Rasanya itu adalah sebuah kebahagiaan bagiku." Anna menggenggam tangan Anjani sambil tersenyum penuh makna. Ingin rasanya menanyakan kepada Anjani mengenai perasaannya terhadap Erik. Akan tetapi, ia khawatir akan membuat Anjani malu.

Anjani sedikit terkejut dengan reaksi Anna, namun tidak berani mengartikannya lebih jauh. Ia tidak mau Anna tahu bahwa ia memendam rasa terhadap anak lelakinya.

Mereka dikagetkan dengan bunyi telepon. Anna segera beranjak. Tidak lama kemudian dia kembali ke meja makan.

"Anjani, apakah kamu punya rencana siang ini?"

"Tidak, Mom. Mengapa?"

"Olivia ingin mengajakmu dan Andra makan siang dan bermain ke playground. Dia akan menjemputmu sekitar jam 11.30."

"Baik. Terima kasih." Dalam hati Anjani bersyukur Olivia menelepon, karena ia tadi sempat merasa kikuk dengan sikap Anna.

***

Siang itu sinar mentari sangat bersahabat. Pukul 11.35, Olivia, Jay, dan si kembar, Charlotte dan Scarlett tiba di kediaman Lind menjemput Anjani dan Dirandra. Mereka pergi menuju sebuah restaurant Asia yang menjual makanan Jepang, Korea, dan Thailand. Setelah selesai menyantap makan siang, perjalanan dilanjutkan ke tempat bermain indoor untuk balita.

Dirandra terlihat sangat senang bertemu dengan banyak orang dan mencoba berbagai mainan, ditemani oleh si kembar yang sudah seperti kakaknya sendiri. Anak yang jalannya baru stabil itu tampak girang digandeng oleh Charlotte dan Scarlett. Jay menawarkan diri untuk memantau mereka, memberikan kesempatan pada Olivia untuk berbincang dengan Anjani.

"Bagaimana penyesuaian dirimu di sini, An?" tanya Olivia. "Semoga tidak banyak kesulitan."

"Sejauh ini baik, Liv."

"Alex menyulitkanmu?" selidik Olivia. Sebenarnya ia sudah mendengar sedikit informasi ini dari ibunya, namun ia ingin menggali lebih dalam dari Anjani.

"Tidak, kok. Dia baik." Anjani merasa semua anggota keluarga Lind terlalu khawatir Alexander akan membuatnya tidak betah.

"Oh ... come on, An. Ceritakan saja yang sejujurnya padaku. Sejak kapan kamu berbohong padaku. Lagipula aku tahu betul tabiat kakak tertuaku itu," tandas Olivia sambil memandang Anjani. Mata birunya membelalak.

Anjani terkekeh. "Kalian terlalu berlebihan. Erik, Mommy, dan sekarang kau, semua begitu mengkhawatirkan perlakuan Alex terhadapku."

"Tentu kami khawatir, karena kami tahu betul seperti apa Alex."

Meski Anjani selalu merasa nyaman bercerita kepada Olivia. Sejak dulu mereka menceritakan segala yang dirasakan, meski sempat terputus begitu Anjani pulang ke Indonesia. Olivia adalah orang kedua yang mengetahui semua permasalahan Anjani dengan Arya, setelah dr. Fida.

"Yah ... Alex memang agak keras, tapi menurutku maksudnya baik, kok," sahut Anjani. "Sejujurnya, aku masih berusaha memahaminya, tidak mudah memang, tapi sungguh aku tidak apa-apa." Kekhawatiran yang ditunjukkan keluarga Lind semakin membuat Anjani iba pada Alexander. Sikap kerasnya membuat semua orang menjadi lebih mudah berpikiran negatif tentangnya.

"Bagaimana reaksi Erik padanya?"

"Maksudmu, Liv?" Anjani mengerutkan dahi, ia tidak terlalu memahami maksud pertanyaan Olivia.

"Begini, An ... aku harus memberitahukanmu ini, sebelum kamu mendengar dari orang lain." Mimik Olivia berubah sangat serius. "Aku mencintai mereka berdua, aku pun dekat dengan keduanya. Akan tetapi, di antara Alex dan Erik seperti ada jurang. Mungkin orang tuaku tidak mau mengakuinya, tapi aku melihatnya dengan jelas.

Mereka tidak terlalu akur, bagi mereka segala sesuatunya adalah persaingan, semacam sibling rivalry. Selalu saja ada hal yang menjadi sumber perselisihan. Apa yang menurut Alex baik, disangkal Erik, begitu sebaliknya. Aku sangat sedih, tapi tidak banyak yang dapat kulakukan. Apakah kamu pernah melihat mereka saling bercanda? Tidak, kan. Bercakap seperlunya saja," ungkap Olivia.

Anjani terkejut, selama ini, ia tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Ia memang jarang melihat mereka berbincang di kantor, namun mengira itu disengaja agar terlihat professional. Ah, betul kata Minji, aku memang tidak peka.

"Aku tidak pernah mendengar Erik menceritakan hal buruk tentang Alexander, sehingga aku pikir hubungan mereka baik-baik saja," sahut Anjani. Dahinya berkerut, muncul garis di antara alis tebalnya. Ia berusaha mengingat semua percakapan dengan Erik tentang Alexander, tersempil pula momen saat Erik memeluk dan mengelus lembut rambutnya, aroma parfum pria itu seperti dapat tercium dengan jelas. Tanpa disadari, ia tersenyum sendiri. Olivia menangkap ekspresi itu.

"Hey ... tampaknya kamu akrab dengan Erik ya?" tebak Olivia sambil tersenyum jahil melihat Anjani yang sejenak tampak seperti orang kasmaran.

Anjani salah tingkah, "Ah, ti-tidak. Bi-biasa saja."

"Anjani, kamu harus tahu ya, pertama kamu adalah pembohong yang buruk, dan kedua kamu tidak bisa berbohong padaku." Olivia tergelak. "Lalu kenapa kamu canggung begitu kalau tidak ada apa-apa?" Tawa Olivia makin membesar.

Duh kenapa sih aku harus grogi setiap ada yang menanyakan Erik, maki Anjani dalam hati.

"Liv ... please," pinta Anjani dengan muka memelas.

Bukannya mereda, tawa Olivia malah makin membahana, hingga beberapa orang di sebelah mereka menoleh. Anjani menutup mulut Olivia begitu melihat reaksi orang-orang di sekelilingnya.

"Kamu ingat tidak, An. Dulu waktu di sekolah, kamu menyukai seorang pria di kelasmu, si Bell, Jacob Bell," ujar Olivia sambil menahan tawa.

Anjani tersenyum lebar. "Ya ampun, kamu masih mengingatnya?"

"Tentu saja. Aku ingat ketika kutebak bahwa kamu menyukainya, kamu menyangkalnya, tapi mukamu tersipu ... persis seperti sekarang ... hahahahaha." Olivia tidak dapat menahan tawanya lagi.

Anjani menutupi wajahnya. Ia memang tidak dapat menyembunyikan ekspresinya dengan baik.

Olivia berusaha mengendalikan tawanya, kemudian berkata, "Kenapa memangnya kalau kamu menyukai Erik, mungkin juga Erik menyukaimu, kan?"

Anjani menarik nafas panjang, meski merasa nyaman bercerita pada Olivia, mengungkapkan perasaan seperti ini bukan hal mudah baginya. "A-aku ... aku takut, Liv," ucapnya lirih.

Olivia mendadak terdiam, ia dapat berempati dengan apa yang telah dialami Anjani. Ia juga paham betul sifat kakaknya. Ia merangkul Anjani.

"Tenang, An, biarkan waktu yang akan menjawab semua itu," ujar Olivia pelan seraya mengecup kepala Anjani. "Apapun yang terjadi, aku tetap sahabatmu, kamu tidak perlu ragu menceritakan semua padaku."

Anjani mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, Liv, kamu memang sahabat terbaikku." Dipeluknya Olivia. Dalam hati ia sangat bersyukur memiliki banyak dukungan, masalahnya hanya satu saat ini, Alexander. Itu pun perlahan dapat dipahaminya. Everything's gonna be okay, Anjani, ia meyakinkan dirinya.

Dering ponsel Anjani membuat dirinya dan Olivia melepaskan pelukan. Nama Erik terpampang di layarnya.

"Halo, Erik, bagaimana kabarmu," sapa Anjani.

"Baik, bagaimana kabarmu selama kutinggalkan?" tanya Erik dengan suara agak serak.

"Oh ... aku baik-baik saja, Suaramu tampak seperti kelelahan." Anjani agak kesulitan mendengar suara Erik karena bisingnya playground.

"Tidak terlalu, hanya karena aku baru bangun saja. Kamu di mana, berisik sekali." Suara Erik mengeras. Ia khawatir latar berisik Anjani membuat suaranya tidak terdengar dengan baik.

"Aku sedang di playground bersama Olivia menemani anak-anak bermain." Anjani menutup salah satu telinganya agar dapat mendengar lebih jelas.

"Syukurlah jika ada yang menemanimu Sabtu ini. Aku mungkin akan menemuimu besok ya."

"Tidak masalah. Kamu beristirahat saja hari ini. Bahkan jika besok kamu masih lelah, tidak perlu repot."

Olivia mendekati ponsel Anjani, ingin ikut berbicara pada Erik.

"Hey, kamu mengganggu saja. Apa tidak cukup buatmu bertemu dengan Anjani setiap hari di kantor?" goda Olivia sambil terbahak.

"Liv? Dasar jahil ... suka-suka aku, dong," balas Erik sambil tertawa.

"Okay, sampai nanti, Erik." Anjani mengakhiri percakapannya.

Olivia memandangnya sambil tersenyum simpul, ia merangkul Anjani. Tanpa kata ia mengisyaratkan pada Anjani bahwa ia tahu apa yang sesungguhnya terjadi dan memberikan semua dukungan yang dibutuhkan. Anjani turut tersenyum sambil mengerjapkan mata, juga tanpa kata, ia berterima kasih atas semua pengertian dan bantuan sahabatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status