LOGINHari ini genap dua minggu Anjani bekerja di LuNet. Tekanan dari Alexander terhadap kinerjanya sungguh di luar bayangan. Namun, ia tidak punya pilihan selain bertahan.
Pagi ini ia berangkat sendiri ke kantor, karena Samuel dan Erik harus terbang ke Seattle untuk urusan bisnis. Dengan susah payah dikumpulkannya energi untuk melangkah masuk ke ruang Anförare. Di dalam ruangan sudah ada Matt dan Gwen yang sedang berbincang di meja kerja mereka sambil meminum kopi.
"Pagi," sapa Anjani. Ia berusaha memasang senyum di wajah seraya berjalan menuju mejanya.
"Pagi," balas Matt dan Gwen bersamaan. Matt menghampiri meja Anjani.
"Anjani, kamu terlihat tidak bersemangat pagi ini. Apa karena ditinggal Erik ya?" kikik Matt.
"Ih ... kamu ...." Anjani mencubit lengan Matt. "Aku hanya lelah, anakku susah tidur semalam."
"Yang susah tidur, anakmu atau kamu?" Matt terus menggoda. Ia berdiri di samping Anjani, menyenderkan pantatnya di meja sambil memegang gelas kopi.
Anjani memelototinya, bibirnya dikerucutkan. Matt tertawa makin keras.
"Aku merasakan hawa cinta di sini," goda Matt. Ia terus tertawa.
"Maatttt ... kamu bicara apa, sih?"
"Aku bicara soal bosku yang begitu perhatian padamu tentunya," ujar Matt genit. Ia menikmati muka Anjani yang tersipu.
Gwen mendekat ke meja Anjani sambil tertawa kecil, "Sudahlah, Matt. Kamu senang sekali mengganggu Anjani. Kasihanilah dia."
Pintu ruang Anförare terbuka, Alexander masuk dengan ekspresi dingin seperti biasa. Ia melewati meja Anjani, menoleh padanya, dan berkata dengan suara pelan namun penuh tekanan, "Anjani, masuk!"
Tawa Matt dan Gwen langsung terhenti, mereka paham betul makna intonasi itu.
Anjani segera berdiri dan mengikuti Alexander. Ia sudah pasrah apapun yang akan terjadi padanya, dua minggu bekerja bersama Alexander membuatnya nyaris mati rasa.
Anjani masuk dan menutup pintu ruangan Alexander. Ia berada 1 meter di belakang pria jangkung itu. Aroma rempah dan musk dari tubuh Alexander tercium sangat jelas, dan menghirupnya membuat Anjani lemas. Asosiasi antara aroma itu dengan situasi mencekam telah melekat di memori Anjani.
Tiba-tiba Alexander membalikkan badannya, mendekat ke Anjani dan menundukkan badannya sehingga mukanya sejajar dengan muka Anjani.
Anjani terperangah, tidak menyangka gerakan tiba-tiba dari Alexander.
Alex menatap tajam, mata biru cekungnya begitu mengerikan.
"Sudah kubilang ... aku tidak suka kamu bergosip dengan mereka."
Anjani mengumpulkan keberanian untuk bicara, ia berusaha mengikuti anjuran dr. Fida. Mengatur nafas guna mengendurkan kerja saraf simpatisnya, mencoba memahami arti perkataan Alexander, mengabaikan ekspresi emosi pria itu.
"Ka-kami tidak bergosip, Mr. Lind. Mereka hanya menanyakan kabarku," jawab Anjani pelan. Dalam hati ia bersorak karena bisa mengeluarkan kata.
Alexander mendengus. Ia membalikkan badan dan berjalan ke mejanya. Ia menaruh tas kerja, membuka laptop dan mengabaikan Anjani.
Anjani mulai terbiasa dengan pengabaian Alexander. Ia menunggu sekitar satu menit apakah akan ada kata keluar dari mulut pria itu.
Setelah satu menit, ia mencoba bersuara, "Mr. Lind, semua jadwalmu hari ini sudah terkonfirmasi, tidak ada perubahan. Jam 9.30, Mr. Kumar akan siap di lobby untuk pergi bersamamu memantau kesiapan penyelenggaraan kompetisi e-sport di Tampa Convention Center. Aku juga sudah mengirimkan bahan presentasimu siang nanti bersama Mr. Webber."
Alexander bergeming, tidak bereaksi apapun.
Anjani memberanikan diri melanjutkan kalimatnya, "Jika kamu tidak membutuhkanku lagi, aku ijin ke luar."
Alexander mengangkat tangan dan mengibaskannya menyuruh Anjani ke luar. Pandangannya tetap menatap layar laptop.
"Baik, Mr. Lind. Aku permisi ke luar." Anjani bergegas ke luar dari ruangan yang suhunya dirasa melebihi ruang pendingin daging.
Setelah menutup pintu, Anjani menghembus nafas lega dan menjatuhkan diri ke kursi kerjanya. Ada sedikit rasa lega pada dirinya karena kali ini berhasil ke luar dari ruangan Alexander tanpa genangan air mata.
Mary menghampiri, ia seperti memahami apa yang Anjani rasakan.
"Berusahalah selangkah demi selangkah, tidak ada perubahan yang instan. Jangan terlalu keras pada dirimu. Biarkan dirimu berproses." Mary berkata lembut sambil mengusap pundak Anjani.
Anjani tersenyum dan mengangguk. Ia tercenung mengingat nasihat dr. Fida tempo hari saat dia mengeluhkan pekerjaannya, tentang makna dari situasi ini, mengapa Tuhan membiarkan Samuel menjadikannya sekretaris Alexander. Mungkin betul yang dikatakan Mary, ini adalah cara untuk membuatku lebih baik. Ah entah apa rahasia Allah, aku hanya coba bertahan demi anakku, batinnya.
Lamunannya buyar saat wangi sandalwood dan bunga lily menyeruak, di hadapannya telah berdiri Lynnette Page dengan dua gelas kopi. Ia menggunakan high waisted pencil skirt biru tua dikombinasikan dengan atasan berkerah V rendah yang memperlihatkan belahan dadanya. Perempuan ini sungguh seksi, batin Anjani.
"Pagi, Anjani," sapanya ramah. Ia menyodorkan segelas kopinya untuk Anjani. "Ini untukmu, kita sudah tidak ada masalah lagi terkait insiden kopi minggu lalu ya."
Anjani tercengang, kaget dengan kebaikan Lynnette. Pantas saja banyak perempuan iri padanya, selain fisiknya menarik, perilakunya pun santun. Seperti tidak ada cela pada dirinya.
"Pagi, Ms. Page," jawabnya. "Terima kasih banyak, kamu tidak perlu repot."
"Ah, tentu tidak," balasnya sambil menyunggingkan senyum. "Ada Alex di dalam?"
Anjani mengangguk dan Lynnette langsung masuk ke ruangan Alexander.
Matt, Kate, dan Minji tersenyum penuh arti melihat sikap Lynnette, namun Anjani memilih mengabaikan. Ia tidak mau terlibat pada obrolan yang diakhiri dengan cacian Alexander.
Tidak berapa lama, Lynnette ke luar dari ruangan. Ia tersenyum pada Anjani sebelum ke luar dari ruang Anförare. Telepon di mejanya berdering, Alexander memintanya masuk.
Anjani tergopoh-gopoh masuk ke ruangan Alexander. Pria itu sedang berdiri sambil menutup laptopnya.
"Ya, Mr. Lind?"
Alexander menghampirinya dengan tatapan setajam stalaktit.
"Tidak ada yang boleh memasuki ruanganku tanpa meminta persetujuanku ... siapa pun!" tegas Alexander.
"Ma-maaf, aku pikir Ms. Page ...," jawab Anjani pelan. Ia memikirkan kata yang tepat.
"Kamu pikir, dia siapa, hah?" Nada suara Alex meninggi.
"Di-dia ... dia temanmu." Hanya itu jawaban yang menurut Anjani aman.
Alexander menyeringai, "Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Kamu pikir dia pacarku, bukan? Itu akibat kamu terlalu banyak bergosip dengan para sekretaris di luar situ." Ia berlalu meninggalkan ruangan dan Anjani yang termangu.
Selalu ada saja sikapku yang salah di matanya. Anjani membatin kesal. Ia tidak habis pikir mengapa hal sepele selalu menjadi besar di mata Alexander.
***
Saat istirahat, Anjani makan siang bersama Minji. Mereka sama-sama memilih menu spicy chicken wrap yang berukuran tidak besar. Porsi makan Minji cukup seimbang dengan Anjani. Baru saja hendak menyuapkan makanannya, Kate dan Matt datang menghampiri. Mereka turut bergabung.
Anjani menduga pasti sebentar lagi mereka akan membicarakan soal sikap Lynnette tadi.
"Menurutmu kenapa Lynnette berbaik hati seperti tadi?" tanya Matt penasaran. Di antara semua sekretaris, Matt memang yang paling senang bergunjing.
Tuh, benar kan tebakanku. Pantas saja Alex kesal dengan mereka. Anjani tertawa geli dalam hati.
"Dia bilang, dia ingin aku melupakan insiden kopi itu," jawab Anjani cepat, ia tidak mau memperpanjang masalah.
Matt, Kate, dan Minji tertawa mengejek.
"Tapi ... memang itu yang Lynnette katakan padaku, aku tidak punya alasan untuk tidak memercayainya," imbuh Anjani.
"Anjani, kamu harus sedikit lebih peka, dong," sindir Minji.
Anjani mengerutkan dahi.
"Kamu itu memang sangat polos, ya ... pantas saja bosku kesengsem padamu," goda Matt.
"Matt, kamu ngawur, ah. Sikap baik Erik kan karena aku dianggap bagian dari keluarga Lind," kilah Anjani berusaha tenang meski hatinya girang bukan kepalang mendengar perkataan Matt.
"Lynnette itu selalu penuh agenda. Nanti kamu akan lihat sendiri. Dia hanya baik karena ada maunya. Dia baik padamu karena kamu bisa dimanfaatkkan untuk mendekati Alexander," cerocos Matt.
"Tunggu ... bukankah dia memang kekasih Alex?" tanya Anjani.
"Tampaknya sih belum, makanya Lynnette penasaran dan mengejarnya terus," ujar Matt sambil menyuap burgernya. Ia benar-benar sumber gosip. "Dulu saat mendekati Erik pun begitu. Dia baik sekali padaku. Begitu sudah selesai, aku pun dicampakkan, mana pernah sekarang dia menegurku."
"Oh ... Lynnette dan Erik pernah menjalin hubungan?" Anjani sontak bertanya.
Kate mengangguk, dia berbicara sambil mengunyah, "Waktu Lynnette baru mulai bekerja di sini, tapi sepertinya tidak terlalu lama."
Anjani terkejut. Dia membandingkan dirinya dengan Lynnette yang bak langit dan bumi. Mana mungkin Erik menyukaiku jika sebelumnya seleranya adalah Lynnette. Sungguh aku tidak selevel, Anjani membatin.
Matt menangkap raut wajah Anjani yang tampak berubah.
"Yah ... tampaknya sih mereka tidak cocok karena Lynnette terlalu glamor, Erik bukan tipe yang seperti itu. Jadi mungkin sekarang dia menyukaimu karena kamu jauh lebih sederhana." Matt terkekeh.
"Maaaattt ...," jerit Anjani tertahan.
"An, memang kenapa kalau Erik ternyata menyukaimu? Mengapa kamu seperti menekan kemungkinan itu, sih?" tanya Kate penasaran.
Anjani memutar otak mencari jawaban teraman untuk menghentikan perbincangan lebih dalam tentang itu. Ia tidak nyaman membicarakan mengenai perasaan pada teman-temannya ini, meski mereka sangat baik.
"A-aku belum siap, aku masih fokus untuk memulai hidup baru bersama anakku. Aku ... "
"Ah ... jawaban klise! Kamu jangan minder, An, kamu tampaknya tidak percaya diri," sela Matt. "Padahal menurutku, kamu perempuan Asia yang cukup menarik, loh. Wajahmu tidak membosankan untuk dilihat. Aku senang memandangimu," puji Matt dengan nada genit. Anjani tersenyum simpul.
"Matt, kalau menurutmu, aku perempuan Asia yang menarik, tidak?" tanya Minji genit sambil mengedipkan matanya.
"Kamu sih menarik juga, Minji, tapi aku tidak suka berlama-lama melihatmu," gurau Matt sambil mengelak menghindari pukulan Minji. Kate dan Anjani tertawa melihat ulah mereka berdua.
"Mmm ... menurut kalian, kira-kira usaha Lynnette akan berhasil tidak?" pancing Kate.
"Mendekati Alex, maksudmu?" tanya Minji. Kate mengangguk.
"Perkiraanku sih hanya akan dimanfaatkan saja oleh Alex. Hanya untuk senang-senang, tidur, setelah itu ... bye bye," ramal Matt. "Seperti wanita-wanita lain dalam hidupnya."
"Aku pun menduga begitu," sahut Kate. "Nah ... jadi Anjani, kamu terima saja semua sogokan dari Lynnette, karena mungkin itu tidak berlangsung lama. Seperti Matt dulu." Kate terbahak diikuti oleh Matt.
"Ya ... hanya itu kesamaan dari mereka berdua. Alex dan Erik punya karakter yang bertolak belakang. Kesamaan mereka adalah sama-sama player," ujar Minji. "Jadi, kamu hati-hati ya, Anjani."
Minji selalu mengatakan itu pada Anjani. Berhati-hati terhadap Erik. Anjani penasaran, tapi ia tidak mau membahasnya sekarang.
"Eh ... jangan sembarangan, ya," protes Matt, "bosku tidak suka mempermainkan wanita, loh!"
"Oh, really?" ejek Kate dan Minji bersamaan, mereka kemudian terbahak.
"Dia kan tampan, jadi wajar dong banyak wanita yang suka padanya. Tapi coba mana ada yang pernah sampai histeris seperti wanitanya Alex? Semua berakhir baik-baik dengan Erik," bela Matt.
"Tetap saja sakit, Matt ... meski caranya baik-baik," sanggah Minji, wajahnya meredup, senyumnya memudar. Anjani membaca perubahan ekspresi Minji yang membuatnya bertanya-tanya.
"Memang siapa perempuan Alex yang histeris?" Kate sibuk mengingat-ingat.
"Ah ... masa kamu lupa, kamu kan selalu iri dengan tubuhnya, semua baju yang ia kenakan bermerek dan membuat tubuhnya makin seksi," sindir Matt.
Oh ya ... ya, aku ingat, si Walker kan, Elsa Walker. Sampai pihak keamanan menggotong dia pergi ... hahaha," sahut Kate sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "dan gilanya Alex tetap tidak peduli dengan segala jeritan perempuan itu. Kurasa hatinya sudah mati."
"Aku sungguh prihatin denganmu, An," ujar Matt. "Pokoknya kamu harus bisa bertahan ya, jangan seperti para sekretarisnya dulu."
Anjani mengernyitkan dahi. Maksudnya sebelumnya banyak sekretaris Alex yang mundur gitu?
Kate menangkap kebingungan Anjani, ia menjelaskan, "Banyak sekretaris yang tidak tahan dengan sikap Alex. Sekretaris terakhir – Claire Hall, adalah yang terlama, dua tahun, kemudian sakit. Kurasa sakitnya disebabkan tekanan dari Alex juga."
"Kupikir dia akan melunak padamu karena kamu punya hubungan dekat dengan keluarga Lind. Ternyata tidak juga, malah lebih keras menurutku," sahut Matt mengasihani Anjani.
Anjani hanya terdiam. Ia merasa kurang nyaman dengan perbincangan itu. Bagaimanapun juga, Alex dan Erik adalah anggota keluarga Lind. Keluarga yang menolongnya. Ia tidak mau membicarakan hal negatif tentang mereka, seperti membongkar borok sendiri dan tidak tahu membalas budi. Anjani tidak mau jadi orang seperti itu. Ia tahu betul sakitnya digunjingkan. Masih lekat di ingatannya, bagaimana dulu semua mata memandang ke arahnya sambil membisikkan kata-kata cemooh. Bagaimana ia merasa terbelenggu dalam ketidakberdayaan karena tidak mampu menghalau desas-desus.
Tiba-tiba ia teringat kekesalan Alexander tadi pagi.
Oh, mungkin ini yang menyebabkan Alex begitu marah tadi. Ia pasti tahu kalau ia sering menjadi topik pembicaraan. Siapa pun pasti tidak suka digunjingkan. Alex hanya menumpahkan kekesalannya kepadaku. Tidak mungkin ia melabrak para pegawai LuNet yang menggosipkan dirinya atau keluarganya. Jadi hal yang dapat ia lakukan adalah memintaku untuk tidak masuk ke dalam pusaran. Pantas ia begitu gusar melihat aku cekikikan dengan para sekretaris ini. Hmmm ... kalau begitu ini yang dimaksud mbak Fida, abaikan emosi Alex dengarkan inti perkataanya, sehingga aku bisa lebih berkepala dingin.
Anjani sibuk menyatukan kepingan puzzle peristiwa dan mencari makna di kepalanya. Seketika itu, ia merasa bisa memahami sikap kasar Alexander sekaligus iba padanya.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja