LOGINMendekati jam 5 sore, saat pulang kantor, Anjani resah. Ia tidak dapat membayangkan gejolak emosi macam apa yang akan dialami saat pulang bersama Erik nanti. Mata biru teduh dan senyum jenakanya pasti akan menghadirkan frekuensi tak menentu pada hatinya. Tuhan, aku tidak mau jatuh cinta, aku takut, pintanya dalam hati.
Pintu ruangan Alexander terbuka, Anjani tersentak, spontan berdiri siaga. Kate terkikik melihat reaksi Anjani.
Alexander ke luar dari ruangannya dengan menenteng tas olahraga gym duffel. Berbalut kaos dan celana di atas lutut, posturnya terlihat sangat atletisnya, buah dari rutinitas sore hari di gimnasium. Tanpa memedulikan Anjani, ia berjalan ke luar dari ruang Anförare.
Anjani bergegas masuk ke ruangan Alexander untuk merapihkan ruangan dan kemudian membenahi mejanya sendiri. Ia belum melihat Erik kembali dari klien, sehingga memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pulang, menghindar dari pria itu.
Namun, usahanya sia-sia. Belum selesai berkemas, Erik sudah masuk ke ruang Anförare dengan Duchenne smile-nya.
“Ah, tepat sekali,” ujarnya. “Sebentar ya, ada yang harus kukatakan kepada Matt dulu.” Ia pun setengah berlari menghampiri meja Matt, memberikan beberapa dokumen sambil menyampaikan beberapa hal, dan kembali ke Anjani.
Anjani hanya bisa berdiri lemas.
“Yuk, kita pulang,” ajaknya. Anjani menurut. Ia menghampiri Mary yang masih sibuk dengan berkas di mejanya.
“Mary, tolong sampaikan pada Samuel, aku pulang bersama Erik,” pamit Anjani.
“Tentu, An,” jawab Mary tersenyum, ia mengalihkan pandangan ke Erik. “Kamu antarkan dia dengan selamat ya.”
“Tenang, Mary, takkan kurang satu apapun,” sahut Erik tersenyum lebar.
Erik dan Anjani pun berjalan ke luar Anförare menuju lift.
Sepanjang jalan sejak memasuki lift hingga ke luar dari Luminous Building, Erik tidak henti tersenyum atau menyapa orang-orang yang dikenalnya. Ia terlihat begitu ramah terhadap karyawan LuNet. Anjani berpikir tentu Alexander tidak akan melakukan hal yang sama. Tiba-tiba Anjani bergidik membayangkan wajah dingin itu.
Dodge Durango putih Erik telah siap di lobby saat mereka sampai di sana. Erik membukakan pintu bagi Anjani sebelum dia memasuki mobilnya.
Mobil mulai meluncur ke luar dari area Luminous Building, saat ponsel Anjani berdering, Anna menelepon.
“Halo, Mom,” sapa Anjani.
“Anjani, apakah kamu keberatan jika aku mengajak Andra pergi bersama si kembar ke pertemuan Orbit sekarang?” tanya Anna.
“Aku tidak keberatan, Mom, tapi apakah itu tidak merepotkanmu? Aku sudah menuju pulang sekarang diantar Erik,” balas Anjani. Ia sungguh khawatir Andra akan membuat Anna kewalahan.
“Ini justru akan menyenangkan. Beberapa orang Orbit juga akan membawa cucunya, sehingga ini akan seru bagi anak-anak. Kamu santai saja dulu bersama Erik, ya,” bujuk Anna. “Aku akan pulang sekitar jam 8 malam, kamu minta Erik untuk mengajakmu makan malam. Daddy baru akan pulang sekitar jam 8 juga.”
“Baik, Mom.” Anjani tak punya pilihan selain menurut.
“Tolong pasangkan speaker, sehingga aku bisa bicara pada Erik, An,” pinta Anna.
Anjani memencet ikon pengeras suara pada layar ponselnya.
“Erik, temani Anjani makan malam, aku bersama Andra dan si kembar pergi ke pertemuan Orbit.”
“Ya, Mom,” balas Erik singkat.
“Okay, aku pergi dulu, kalian hati-hati,” sahut Anna, di belakangnya terdengar gelak tawa Andra dan si kembar.
Anjani menutup ponselnya.
“Well, mau ke mana kita?” tanya Erik.
Anjani mengangkat bahunya.
“Bagaimana kalau kita ke rumahku saja, aku akan memasakkan makan malam untukmu,” cetus Erik.
“Mmm … apakah kamu yakin bisa memasak?” goda Anjani.
Erik menoleh, rasanya hari ini ia baru mendengar nada ceria dari mulut Anjani.
“Wah, aku ini chef yang hebat loh, kamu pasti akan ketagihan,” ucap Erik bangga.
Anjani tersenyum. “Apakah rumahmu jauh dari sini?”
“Tidak, hanya 3 menit. Kadang jika hariku tidak terlalu padat, aku berjalan kaki dari rumah ke kantor,” jawab Erik. “Setelah belokan di depan sana, sudah sampai ke rumahku.”
Rumah Erik berada di pusat kota, sangat dekat dengan Mirror Lake - danau yang dikelilingi oleh taman berumput hijau dan pohon-pohon teduh. Sekitar 10 unit rumah ranch-style townhouse berjejer. Masing-masing rumah memiliki halaman depan dengan pagar kecil berwarna biru, dan garasi untuk dua mobil di bagian belakang. Pohon palem terdapat di tiap halaman dan trotoar depan rumah. Semua fasad rumah bernuansa biru dan putih, sangat menyegarkan sekaligus meneduhkan.
Interior hunian berlantai tiga tersebut didisain dengan gaya skandinavia, dominasi warna putih membalut dengan elegan. Erik mengajak Anjani naik ke lantai dua. Di sana terdapat dapur, ruang makan dan ruang keluarga yang dilengkapi dengan home entertainment. Erik menata rumahnya dengan apik.
“Wah, rumahmu bagus dan bersih, Erik,” puji Anjani.
“Terima kasih,” balas Erik tersenyum. “Hanya kekurangan sentuhan wanita saja.” Ia terbahak. Ia kemudian mengambil minuman soda dan memberikannya kepada Anjani.
“Silakan minum dulu, aku mengganti baju sebentar ya.” Ia pergi ke kamarnya yang berada di lantai tiga.
Anjani melihat sekelilingnya, kesan hangat menyelimuti ruangan ini. Dapur, ruang makan, ruang keluarga tanpa partisi dan didominasi furnitur berwarna putih, memberikan kesan luas pada rumah mungil tersebut. Antara dapur dan ruang makan terdapat meja bar dengan tiga stool. Meja dan kursi makan berwarna putih terbuat dari kayu mahogani dengan lapisan finishing kayu coklat di atasnya. Di ruang keluarga terdapat sofa kelabu dengan cushion bermotif geometris abu-abu putih yang senada dengan karpet, di dindingnya terhias beberapa lukisan kontemporer dengan dasar putih berbingkai hitam. Jendela besar di ruang keluarga memberikan pencahayaan maksimal bagi ruangan ini dan menyajikan pemandangan indah di luar.
Pandangannya terhenti saat melihat sederet foto yang tertata di atas kabinet bufet di ruang makan, ia mendekat. Di sana terpampang beberapa foto Erik, ada yang bersama keluarga Lind, berlima dengan teman kuliah berkaos Univ. of California – Berkeley, bertiga dengan si kembar Charlotte dan Scarlett yang saat itu berusia satu tahun, bersama dengan tim bola basketnya, dan juga berdua seorang wanita berambut brunette.
Oh, apakah ini kekasihnya? tanya Anjani dalam hati. Ia mengamati wanita di foto tersebut yang terlihat begitu menawan. Rambut brunette-nya tergerai, mata hijau bersinar, dan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih. Tampak sangat serasi dengan Erik yang juga tersenyum lebar di sampingnya. Saking fokusnya memperhatikan foto tersebut, Anjani tidak menyadari bahwa Erik sudah berdiri di belakangnya.
“Itu mantan istriku,” ujarnya. Anjani terperanjat mendengar suara Erik.
“Oh ….” Hanya itu reaksi yang dapat diberikan Anjani.
“Perkawinan kami hanya bertahan satu tahun,” jelas Erik tanpa diminta.
“Aku turut prihatin,” ucap Anjani.
“It’s okay, kami tetap berteman baik hingga sekarang. Dia tinggal di Boston,” tutur Erik. Ia mengambil sebotol bir Bud Light dari kulkas.
“Sudah lama berpisah?”
“Sekitar tiga tahun lalu,” jawab Erik pendek. Ia duduk di stool meja bar membelakangi dapur dan menghadap ke arah Anjani.
“Mengapa?” tanya Anjani spontan. Ia mengutuk dirinya karena terlalu ingin tahu masalah pribadi orang. “Oh, maaf, aku melanggar privasimu.”
“Tidak apa-apa, aku tidak keberatan,” sahut Erik sambil berjalan ke arah sofa kelabu. Ia duduk di sana dan menggerakkan tangannya mengajak Anjani duduk di situ. Anjani menurutinya. Mereka duduk bersebelahan di sofa.
“Kami sama-sama egois. Kami adalah sahabat dekat sejak kuliah, mulai berpacaran setelah lulus. Kami pikir karena sudah saling mengenal bertahun-tahun, maka pernikahan bukanlah hal yang sulit. Ternyata keliru, pernikahan justru memperburuk hubungan kami, sehingga kami memutuskan berpisah,” papar Erik tenang, tidak ada letupan emosi saat menjelaskan hal tersebut. Ia menyenderkan punggung ke sofa dan berselonjor.
Anjani mengerutkan dahi, baginya itu bukan alasan kuat untuk bercerai.
“Buktinya, setelah bercerai, hubungan kami membaik seperti sedia kala. Saat ini, ia sudah menikah lagi, sedangkan aku masih begini,” gelaknya. Ia terlihat sangat santai, tidak ada kegetiran saat menceritakannya. Erik menghabiskan Bud Light-nya.
“Jadi … apa yang terjadi pagi ini?” Erik mengalihkan pembicaraan.
“Ti-tidak ada apa-apa, kok,” jawab Anjani pelan. Sesungguhnya Anjani ingin menumpahkan kekesalannya, namun tidak siap menghadapi kehangatan yang mungkin ditawarkan Erik.
“Kamu itu pembohong yang buruk, An.” Erik terkekeh. “Alex terlalu keras padamu?” tebaknya.
Anjani terdiam, semua sikap dan perkataan Alexander pagi ini masih diingatnya dengan jelas.
Erik menegakkan punggungnya kemudian menghadap ke Anjani yang sedang meringkuk sambil menggenggam erat kaleng sodanya. Perempuan Asia berkulit sawo matang di hadapannya ini memiliki paras yang mungkin bukan standar cantik bagi orang Amerika, namun terkesan eksotis. Rambut lurus hitamnya yang berkilau disingkap ke belakang telinga, sehingga membingkai wajah ovalnya dengan sempurna. Mata lebar dengan alis tebal, tulang pipi yang agak ke bawah, hidung pipih, dan bibir berbentuk goldilocks membuat Anjani adalah salah satu wanita Asia tercantik yang pernah dilihat Erik.
Erik menyentuh dagu Anjani, dengan tangannya dialihkan pandangan Anjani ke arahnya. Mereka bertatapan. Ia menyunggingkan senyum yang membuat jantung Anjani berhenti berdetak. Anjani ingin menunduk, tak sanggup memandang mata biru teduh di hadapannya, namun tangan Erik yang berada di dagunya menahan.
“Aku pernah bilang bahwa aku akan mendukungmu, bukan?” tanya Erik lembut. Ia menatap bola mata Anjani lekat. Ingin dikikisnya semua pilu dari mata sendu itu.
Hening. Mereka hanya saling bertukar pandang.
Tuhan, tolong … aku tak sanggup … Anjani merengek dalam hati.
Erik tersenyum, ia melepaskan tangannya dari dagu Anjani.
“Alex senang memainkan emosi orang lain, ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu menguasai orang,” tutur Erik. “Jadi, kalau kamu terpengaruh dengan semua sikapnya, dia akan terus menindasmu.”
“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Anjani lirih. Ia tidak dapat membayangkan apa yang harus dilakukannya. Bagaimana mungkin sikap dingin dan ketus Alexander tidak akan memengaruhinya.
“Jangan pasang muka menggemaskan seperti ini,” goda Erik sambil mencubit lembut pipi Anjani. “Ini sasaran empuk.”
“Lalu harus muka seperti apa?” Pertanyaan yang terdengar bodoh di telinga Anjani sendiri.
“Ya … muka tidak peduli,” sahut Erik enteng.
“Aku takut padanya,” ujar Anjani. “Aku tidak berani ….”
Erik menarik nafas. Ia tahu Anjani tidak akan memberikan perlawanan apapun. Perempuan ini terlalu submisif.
“Atau ... bagaimana kalau aku minta kepada Halstead untuk memindahkanmu ke posisi lain,” cetus Erik.
“Jangan … jangan pernah lakukan itu, Erik!” sergah Anjani. “Aku tidak mau diperlakukan seperti itu.”
“Nah, kalau begitu, kamu harus tunjukkan padaku.”
“Tunjukkan apa?” Anjani bingung.
“Tunjukkan kalau kamu tidak mudah dipengaruhi sikap Alex. Jangan penuhi hasratnya. Kita lihat satu bulan ini. Kalau dalam satu bulan ini kamu tidak kuat, aku terpaksa harus meminta Halstead melakukannya.” Erik mengultimatum. Ada nada tegas di kalimatnya, ia tidak main-main.
Anjani tersenyum kecut.
“Ini semua demimu.” Erik menggenggam tangan Anjani. “Aku tidak mau kamu menderita karenanya. Kamu ke sini untuk menghilangkan penderitaan lamamu, tidak mencari derita baru, bukan begitu?”
Anjani mengangguk lemah.
“Bayangkan saja wajahku ini setiap kali dia memakimu, okay?” gurau Erik sambil memasang Duchenne smile-nya. Anjani tertawa geli membayangkan dirinya melakukan saran itu.
“Nah, akhirnya … aku melihatmu tertawa.” Erik merengkuh kepala Anjani, lalu mendekapnya. Ia merasakan magnet Anjani begitu kuat menariknya.
Anjani terkesiap, ia tak menyangka Erik akan memeluknya. Ia ingin berontak, namun juga tak mau menolak. Tak disangkalnya bahwa ia sangat menikmati pelukan itu.
Erik melonggarkan pelukannya. Ia memandang wajah Anjani seraya meletakkan kedua tangan di pipi berona di hadapannya. Ia meremas lembut pipi Anjani sambil tersenyum jahil.
“Jangan sedih lagi ya,” hibur Erik. “Sekarang aku akan menyiapkan makan malam untukmu.”
“Jangan repot, aku saja yang memasak,” tawar Anjani.
“Kalau begitu kita masak bersama,” ajak Erik. Ia beranjak dari duduknya dan mengajak Anjani ke dapur.
Erik memutuskan untuk membuat tender salsa beef, makanan meksiko sederhana terbuat dari nasi coklat, daging sapi yang dimasak menggunakan slow-cooker dan saus salsa. Anjani menyukai rasanya dan mengakui kehebatan Erik dalam memasak.
Mereka menghabiskan waktu makan malam dengan senda gurau. Cerita dan lelucon Erik mampu menghipnotis Anjani untuk melupakan segala insiden hari ini. Anjani sungguh menikmati momen itu. Seketika, hari Senin tidak seburuk yang ia pikirkan.
Menjelang jam 8 malam, Erik mengantarkan Anjani pulang. Mobil Erik memasuki halaman rumah keluarga Lind bersamaan dengan mobil Anna. Dirandra tertidur pulas di child car seat. Erik membantu membopong anak itu dan mengantarnya ke kamar.
“Terima kasih banyak, Erik,” ucap Anjani saat Erik berpamitan.
“Sama-sama, aku senang menghabiskan waktu bersamamu.” Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Anjani, “Mimpi indah.”
Anjani tersenyum, lalu menutup pintu kamarnya. Ia terduduk lunglai di balik pintu. Hari yang sungguh menguras emosi.
Erik menuruni tangga setelah mengantarkan Anjani dan Dirandra ke kamarnya. Di bawah, ibunya sudah menunggu di ruang tamu.
“Terima kasih, Mom,” ucap Erik sambil memeluk ibunya, “Aku menghargai bantuanmu sore ini.”
“Apapun untukmu, sayang,” balas Anna. Dikecupnya pipi anaknya. “Apa yang terjadi?”
“Dia tidak rinci menceritakan padaku, namun tampaknya Alex bersikap keras padanya.”
“Ah … Alex. Aku bingung bagaimana menasihatinya. Ia tidak mempan dengan nasihat siapapun,” gerutu Anna. Ia sangat paham sikap keras anak sulungnya.
“Apakah kamu menyukainya?” selidik Anna.
Erik hanya tersenyum penuh arti. Ia mengecup pipi ibunya dan berpamitan.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja