MasukJam menunjukkan pukul 11.30, ketika Alexander masuk ke ruangan Anförare. Sejak memasuki Anförare hingga ke ruangannya, matanya tidak lepas memandangi Anjani dengan tajam. Bagi Anjani, tatapan itu terasa langsung menghujam jantung, membuatnya tidak dapat bernafas. Ia hanya berani menundukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Samuel dan Jack Miller, COO LuNet memasuki Anförare sambil berbincang.
Oh, rapat board sudah selesai, sebentar lagi pasti semua chief akan ke sini. Duh, aku tidak berani melihat Erik. Aku tidak tahu harus bilang apa jika dia menanyakan jawabanku atas ajakannya. Aku harus menghindar. Anjani panik mencari cara untuk sembunyi dari Erik.
Lamat-lamat ia melihat bayangan Erik mendekati pintu Anförare yang terbuat dari kaca sandblast bersama Miranda Halstead, CHRO LuNet. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke kolong mejanya, pura-pura mencari sesuatu. Badannya yang kecil memudahkannya untuk bersembunyi sejenak di situ. Ia dengan seksama mendengarkan langkah dan mengkalkulasi waktu yang diperlukan bagi mereka masuk ke ruangan masing-masing. Anjani memperkirakan mereka akan membutuhkan sekitar 2 menit. Ia memutuskan berjongkok sedikit lebih lama di situ, memastikan Erik benar-benar sudah masuk ke ruangannya. Ia memeluk lututnya sambil memejamkan mata agar dapat lebih fokus mendengar langkah.
“Eheem…” Suara berdeham seorang pria terdengar begitu dekat dengan telinga Anjani.
Anjani kaget bukan kepalang. Ia langsung berdiri, lupa bahwa sedang berada di kolong meja. Tak ayal lagi, kepalanya pun membentur meja.
“Auuchh…” jeritnya tertahan sambil mengusap kepalanya. Ia meringis kesakitan.
“Auuchh…” ucap pria itu bersamaan.
Anjani mendongak, Erik sedang melongok ke arahnya sambil ikut meringis, seperti turut merasakan sakitnya. Ia kemudian menghampiri Anjani dan turut mengusap kepalanya.
“Pasti sakit sekali,” ujar Erik iba. Anjani menggeleng, ia merasakan kehangatan dari tangan Erik menjalar dari kepala hingga sekujur tubuhnya.
“Apa yang kamu lakukan di bawah situ?” tanya Erik.
“A-aku … aku.” Anjani terbata-bata, ia belum menyiapkan alasan. Ia berusaha berdiri meski sedikit pusing.
Erik tersenyum, baginya tingkah Anjani yang kikuk nampak polos dan lucu.
“Nanti sore kuantar kamu pulang.” Erik tampak tidak membutuhkan persetujuan Anjani.
Anjani bergeming, tidak menemukan alasan menolak.
“Lain kali hati-hati ya.” Erik mengusap-usap kembali kepala Anjani. “Aku sebenarnya ingin makan siang denganmu, tapi aku harus segera pergi ke calon klien sekarang. Jadi sampai nanti sore.” Erik membalikkan badan, kemudian berjalan ke ruangannya.
Anjani mengangguk, tak berani menatap Erik. Gemuruh di dadanya begitu riuh. Ia hanya mampu terkulai lemas begitu Erik membalikkan badannya.
Dari mejanya, ia melihat Matt tersenyum jahil di seberang sambil mengusap kepala berpura-pura kesakitan.
Anjani cemberut sambil menahan tawa melihat tingkah Matt. Ia terhenyak menyadari sudah hampir jam makan siang dan harus segera menanyakan rencana makan siang Alexander.
Ia mengetuk pintu ruangan Alexander yang terbuat dari kayu mahogani dengan variasi kaca sandblast di bagian tengah yang memanjang dari atas ke bawah.
Setelah mendapat persetujuan, ia pun masuk ke ruangan. Alexander hanya memandangnya tidak berkata apapun, membuat perut Anjani mendadak terasa diremas.
“M-Mr. Lind, apakah anda akan makan di sini atau di luar kantor?” tanya Anjani pelan.
Alexander tidak menjawab. Ia menatap Anjani dari ujung kaki hingga rambut. Sungguh ia tidak habis pikir apa yang membuat ayahnya menerima perempuan ini tanpa melalui proses seleksi apapun. Hanya karena iba, maka semua standar dan prosedur diabaikan. Dari penampilannya, perempuan ini jauh dari modis, tidak mencerminkan profesinya sebagai sekretaris. Pakaian standar, wajah hanya dipoles seadanya. Bahkan petugas kebersihan pun sepertinya lebih berhias dibanding dirinya. Kompetensi pun jauh dari yang diharapkan. Hal yang membuat dirinya lebih kesal ketika tadi ia menyampaikan pada ayahnya dan Halstead tentang ketidakbecusan Anjani, mereka berdua malah membela perempuan ini dan menyuruhnya untuk lebih memberi waktu belajar.
Anjani salah tingkah. Alexander tidak menjawab hanya menatapnya. Telapak tangannya mulai terasa membeku.
“M-Mr. Lind?” ulangnya.
Alexander mengangkat ujung mulutnya, seolah tersenyum, namun tepatnya ia menyeringai. Rasa dingin menjalar hingga ke lengan dan kaki Anjani. Sungguh ekspresi yang sangat menakutkan, bak vampir yang ingin menghisap mangsanya.
“Tidak enak, kan, kalau pertanyaanmu tidak dijawab,” sindir Alexander.
Anjani tercengang, tak menyangka Alex membalas sikapnya tadi pagi. Ia mengumpulkan seluruh kekuatan, menyebut nama Tuhannya, memberanikan diri mengeluarkan suara.
“Ma-mafkan sikapku tadi pagi,” pinta Anjani mengiba, suaranya sangat lirih sehingga terdengar seperti tikus mencicit. “A-aku … aku….”
“Tidak usah kamu teruskan daripada menangis nanti,” potong Alexander sarkas.
Anjani ciut. Ia menarik-narik ujung blus pinjamannya. Ia tunduk dan terdiam.
Alexander ikut diam sambil terus mengamati perempuan di hadapannya itu. Ia sengaja mempermainkan Anjani, menikmati ketakutannya. Jika ayahnya memang begitu teguh pendirian untuk tidak menyingkirkan sekretaris bodoh ini, maka ia yang akan membuatnya menyerah. Ia berani bertaruh paling lama satu bulan, perempuan ini akan mundur.
Alexander mengalihkan pandangan ke laptop di hadapannya, mengabaikan Anjani yang masih mematung.
Duh, apa yang harus kulakukan? Ia belum menjawab mau makan di mana. Kalau aku tanyakan lagi, dia pasti tidak menjawab, tapi jika aku keluar ruangan, dia pasti marah. Anjani sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya. Semua tampak serba salah.
Tidak lama pintu dibuka, aroma sandalwood berpadu dengan bunga lily menyeruak, Lynnette Page masuk ke ruangan dengan balutan little black dress dan ikat pinggang kulit kecil yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Ia telah berganti baju setelah insiden kopi pagi tadi. Pointed toe high heels yang terpasang di kaki indahnya dan rambut pirang yang digerai makin membuatnya terlihat seksi, namun tetap tidak menanggalkan kesan profesional.
“Hai, Alex, apakah kita jadi makan siang bersama?” sapanya manja sambil berjalan mendekati meja Alexander.
“Tentu, sebentar lagi,” jawab Alex sambil tetap menatap laptopnya.
Ya Allah, untung dia masuk, kalau tidak apa jadinya aku berdiri terus di sini, Anjani membatin.
“Oh, kamu yang tadi menabrakku, kan?” tanyanya pada Anjani.
“Maafkan aku, Ms. Page, aku tidak sengaja,” jawab Anjani pelan.
“It’s okay,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Lynnette mengamati Anjani dari atas hingga bawah, sudut bibir pouty-nya mengencang dan terangkat ke arah kanan. Perempuan ini kuno sekali, mengapa sampai bisa menempati posisi sekretaris di sini? cibirnya dalam hati.
“A-apakah aku boleh keluar ruangan, Mr. Lind?” tanya Anjani memberanikan diri.
Alexander menatapnya tajam. Ia sungguh menikmati teror yang dihadirkannya untuk perempuan ini.
Sunyi sejenak.
“Alex…,” ucap Lynnette memecah kesunyian. Ia tiba-tiba merasa iba pada Anjani yang pucat pasi. “Ayolah, aku lapar.”
Alexander memicingkan mata sejenak sambil menarik nafas, menggerakkan kepalanya dengan pelan ke arah Lynnette, kemudian mengangguk. Ia seperti tidak suka kenikmatannya meneror Anjani terganggu.
Ekspresi itu bak hembusan angin musim dingin yang merasuk hingga tulang bagi Anjani, namun laksana energi yang menggairahkan bagi Lynnette. Ia menyukainya, tergila-gila bahkan. Air muka dingin Alexander yang justru membuatnya penasaran untuk menaklukkan pria itu.
Alexander kemudian menutup laptop, beranjak dari kursinya, dan berjalan ke arah pintu. Tidak berkata sepatah kata pun pada Anjani.
Anjani menahan nafasnya hingga Alexander ke luar dari ruangan. Setelah pria itu menutup pintu, barulah ia mengembuskan nafas dan tubuhnya terasa lemas. Ia berjalan ke luar dengan gontai. I really hate Monday, gerutunya dalam hati.
Mary melihat Anjani yang seperti tak bertenaga. Ia merasa sangat kasihan pada perempuan ini. Ia bisa menduga apa yang barusan terjadi di dalam ruangan itu, pastilah omelan dari mulut Alexander. Badannya yang kecil, tampak tidak sanggup menahan tekanan dari atasannya.
“Anjani, kita makan dulu, yuk,” ajak Mary lembut.
“Aku tidak lapar, Mary,” dalih Anjani, ia hanya tidak berselera.
“Jangan, nanti kamu sakit. Tidak akan lama, kita makan di kafetaria bawah.” Nada suara Mary lembut, tapi tegas. Ia langsung menggandeng tangan Anjani berjalan ke luar ruangan.
Kafetaria yang dimaksud Mary adalah sebuah area makan berada di lantai dasar. Ruangan itu bergaya kontemporer didominasi warna coklat dan hijau, sangat meneduhkan sesuai untuk beristirahat sejenak di sela aktivitas kerja. Anjani memilih menu shrimp spring rolls dengan saus kacang yang menurutnya tidak terlalu berat. Ia benar-benar kehilangan nafsu makan setelah semua insiden setengah hari ini.
Mary memilih posisi duduk di pojok yang terdiri dari meja kecil dan kursi dua buah. Ia terbelalak melihat porsi makan Anjani, yang baginya lebih cocok sebagai makanan pembuka. Mary sendiri memilih burger charcoal ukuran besar dengan daging panggang, bawang bombay dilapisi balsamik, blue cheese, dan saos kari wortel.
“Pantas saja badanmu kecil, An, makanmu hanya segitu,” goda Mary.
“Ini saja pasti sudah mengenyangkan, kok,” bela Anjani sambil tersenyum simpul. Ia melihat ke makanan Mary dan membayangkan kerepotan memasukkan burger sebesar itu ke mulutnya.
“Kamu pasti lelah ya menghadapi hari ini,” ujar Mary yang dijawab dengan anggukan lemah Anjani.
“Well, Alexander memang bukan karakter yang mudah dipahami. Aku saja yang kenal sejak dia masih ingusan, masih sulit menerka kemauannya. Alex adalah Samuel muda, bisa kukatakan banyak kesamaan sifat antara mereka berdua. Dulu juga aku sempat kesal menghadapi Samuel,” cerocos Mary.
“Oh ya? Apa yang ia lakukan kepadamu?” tanya Anjani.
“Memberikan target kerja yang tidak masuk akal, menuntut terlalu banyak.” Mata Mary menatap langit-langit, berusaha mengingat apa yang Samuel pernah lakukan kepadanya. “Aku ingat, pernah bertekad untuk mengundurkan diri, namun akhirnya urung kulakukan.”
“Apa yang membuatmu tidak jadi mundur?”
“Pertama tentu materi. Meskipun dulu LuNet baru berdiri, namun kompensasi yang diberikan cukup tinggi dibanding perusahaan lain. Aku butuh uang dan mencari pekerjaan tidaklah mudah,” jelas Mary sambil menggigit burgernya.
“Selain itu, aku berpikir jika aku mundur hanya karena ulahnya, maka aku adalah pengecut. Aku lari dari masalah yang sangat mungkin kutemukan lagi di pekerjaan lain. Jadi kupilih untuk menghadapinya,” imbuhnya.
“Kamu hebat, Mary, kamu tangguh,” puji Anjani. “Aku tidak akan punya keberanian macam itu.”
“Itu tidak sepenuhnya benar. Aku pun dulu berpikir sama sepertimu sekarang,” sanggah Mary. “Aku juga berpikir tidak akan sanggup menghadapi kerasnya Samuel.”
“Lalu?” tanya Anjani penasaran.
“Ada seorang rekanku yang menyemangatiku, namanya Theresa Morgan. Dia sudah pensiun sekarang. Ia berulang kali menguatkanku, mengingatkanku pada apa yang kudapat jika bertahan.”
“Memangnya apa yang didapat jika bertahan, selain materi, Mary?” Anjani bingung. Aku hanya mendapat cacian setiap hari, batinnya kesal.
“Harga diri dan kepercayaan diri!” tegas Mary. Ia tersenyum lebar.
Muka Anjani menyiratkan kebingungan. Ia merasa harga dirinya justru hancur berkeping-keping ketika dicaci.
“Harga diri dan kepercayaan diri itu sesungguhnya didapat karena ada keyakinan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah,” jelas Mary lembut sambil memandang Anjani dalam-dalam. Perempuan di depannya ini memiliki kecantikan yang tersembunyi di balik kesenduannya.
Anjani mengerutkan dahi, ia belum bisa memahami makna perkataan Mary. Baginya, cacian Alexander adalah penjatuhan kepercayaan diri, bukan peningkatan harga diri.
“Begini, Anjani. Dalam bekerja, kita tentu ingin keahlian kita bertambah, bukan? Aku pun begitu, ingin semakin trampil sebagai sekretaris. Nah, Samuel sebenarnya berperan untuk mewujudkan itu, meski dengan cara yang tidak kuinginkan. Oleh sebab itu, aku berusaha menghadapi Samuel, memahaminya, mengikuti standar yang ia minta, karena itu adalah cara untuk meningkatkan kompetensiku.”
“Meski dengan cara yang menyakitkan?” tanya Anjani sambil menyipitkan matanya.
“Ya, pelaut menjadi hebat karena selalu menghadapi laut yang berombak, bukan?” balas Mary. “Lambat laun, kusadari aku menjadi lebih baik dalam bekerja. Standar tinggi Samuel membuatku lebih mumpuni. Aku menjadi lebih percaya diri akan kemampuanku. Sikap galak Samuel pun menjadi hal biasa bagiku.”
Anjani menyimak berusaha memaknai ucapan Mary.
“Aku juga menjadi bangga pada diriku sendiri karena mampu mengatasi masalah, bukan lari dari masalah. Di situlah harga diriku meningkat,” tambah Mary.
“Tapi, Mary … kamu adalah sosok yang gigih dan kuat, sedangkan aku …,” sahut Anjani pesimis. Ia tidak mampu meneruskan kalimatnya karena rasa rendah diri yang memuncak.
Mary memandangi mata lebar Anjani yang terlihat sayu. Ia meraih tangan Anjani, menggenggam jemarinya seolah memberikan dukungan bahwa perempuan itu mampu mengatasi masalahnya.
“Lihatlah bagaimana kamu mengatasi masalahmu kemarin, kamu bisa melewatinya, berarti kamu kuat. Yakinlah, Tuhan memberikan kita masalah karena ia tahu bahwa kita sanggup,” hibur Mary. Anjani terperanjat, perkataan Mary itu sama dengan yang selalu dokter Fida katakan padanya, bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan masalah di luar batas kemampuan hambaNya. Mengapa aku selalu melupakan hal itu? tanya Anjani dalam hati.
“Lagipula, kalau kamu mampu mengatasi Alex, maka kamu akan mampu menaklukan semua masalah dalam hidupmu,” ujar Mary sambil tersenyum lebar. “Setiap aku menghadapi masalah, aku berkata pada diriku bahwa aku telah sanggup menghadapi Samuel yang menyebalkan, maka masalah ini tidak sebanding dengannya … hahaha.” Ia tergelak. Anjani pun turut terkekeh.
“Yuk, habiskan makanmu, kita harus segera kembali,” ajak Mary. “Oh, dan jangan lupa, kami semua para sekretaris di Anförare selalu mendukungmu.”
“Terima kasih, Mary,” ucap Anjani tersenyum. Kata-kata Mary menenangkan hatinya, membangkitkan keyakinan untuk menegakkan kepala. Terngiang perkataan Gabby kemarin tentang pentingnya dukungan dari orang-orang sekitar untuk mengatasi masalah adaptasi. Anjani merasa bersyukur bahwa ia dikelilingi orang-orang yang peduli padanya.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja