Share

I Hate Monday

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-11-05 21:20:06

Rasanya waktu akhir pekan kemarin belum cukup bagi Anjani untuk mengisi ulang dayanya. Senin ini, ia merasa masih lelah, namun harus siap menghadapi berbagai masalah. Setengah mati ia berusaha agar tidak terlihat kuyu.

Pukul 8.30, ia sudah berada di mejanya. Seluruh jadwal Alexander hari ini telah dihafalnya, beserta orang-orang yang akan terlibat di pertemuan bersama Alex. Tidak lama berselang, masuklah Kate Fisher, sekretaris Chief Finance Officer yang mejanya berdampingan dengan Anjani.

"Pagi, Anjani, apa kabarmu?" sapa Kate dengan ceria. Kate Fisher adalah seorang perempuan Amerika berambut pirang berbadan langsing dengan polesan riasan matte pada wajahnya. Gayanya luwes dan spontan. Ia banyak bicara dengan suara yang agak serak.

"Pagi, Kate. Kabar baik. Bagaimana denganmu?" balas Anjani. Ia senang melihat Kate yang cantik, bergaya lucu, namun tidak dibuat-buat. Anjani merasa di antara 6 sekretaris di ruang Anförare, ia yang paling culun dan kaku.

"Sangat baik, akhir pekanku sungguh menyenangkan," jawab Kate. "Semoga akhir pekanmu juga menyenangkan, An. Kamu berpergian ke mana saja kemarin?"

"Aku hanya berjalan pagi ke The Pier bersama anakku Sabtu pagi dan seharian di rumah saja pada hari Minggu," ujar Anjani cepat. Entah mengapa ia tidak suka mengingat kejadian akhir pekan kemarin. Ia tidak mau membahas itu.

"Wah, menyenangkan sekali," sahut Kate. "Oh, sebelum Alex datang, sebaiknya kamu mengecek ruangannya. Ia suka marah kalau ada sedikit debu di mejanya, padahal kan akhir pekan tidak ada petugas kebersihan yang datang."

"Okay, terima kasih atas sarannya, Kate," ucap Anjani. Wah, untung Kate memberitahukanku, jika tidak Alex bisa marah. Ia lalu bergegas masuk ke ruangan Alexander.

Ruangan kerja Alexander berukuran sama dengan ruangan chief lainnya, sekitar 40m2 bergaya modern elegan. Terdapat meja kerja yang berhadapan dengan pintu. Di sisi kirinya terdapat satu set sofa berwarna kelabu. Satu set meja rapat dengan delapan kursi berada dekat pintu masuk. Tidak ada barang atau aksesoris yang bersifat personal di ruangan itu, selain dua pasang jas bergantung di valet stand. Berbeda dengan ruangan Erik yang memasang foto bersama tim di departemennya dan beberapa landmark souvenirs dari beberapa negara yang pernah dikunjunginya. Ruangan itu terasa lebih dingin dibanding suhu yang sesungguhnya.

Anjani melirik jam tangannya, jam 8.40, Alexander biasa datang sekitar jam 9. Masih ada waktu 10 menit untuk membersihkan debu di mejanya yang sekilas tampak tidak berdebu. Ia sedikit menggeser kursi kerja Alexander agar leluasa berdiri dan mengangkat beberapa dokumen untuk membersihkan bagian meja yang tertutupi.

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, Anjani mengangkat kepalanya, dan muncul sosok Alexander. Rambut lurusnya yang berwarna coklat keemasan disisir ke belakang. Tulang pipi tinggi dan dahi agak menonjol mengesankan mata yang dalam serta cekung. Bibirnya yang tipis jarang melukiskan senyuman, sehingga impresi misterius begitu lekat pada dirinya.

"Sedang apa kamu di situ?" tanyanya ketus.

"A-aku ... aku sedang membersihkan mejamu," jawab Anjani takut-takut.

"Siapa yang menyuruh?" tanya Alex lagi sambil berjalan menghampirinya.

Anjani hanya bisa berdiri kaku dengan memeluk erat dokumen yang tadi sedang diangkatnya. Ia bingung harus menjawab apa, khawatir jika menyebut nama Kate, maka akan membuat temannya itu terseret masalah. Namun, jika ia bilang bahwa itu inisiatifnya, maka sama saja dengan berbohong. Akhirnya yang dapat dilakukannya hanyalah diam.

"Aku tanya, siapa yang menyuruhmu membersihkan mejaku? Apa kamu mendengarku?" Nada suara Alex pelan namun sangat menusuk telinga Anjani. Anjani bergeming.

Alexander menarik kursinya yang berada di belakang Anjani. Anjani tersadar bahwa posisinya menghalangi Alex untuk duduk, ia menggeser ke samping beberapa langkah, masih tetap mendekap dokumen. Ia masih sibuk mencari jabawan tepat untuk pertanyaan yang sebenarnya sederhana.

Alexander membungkukkan badannya untuk duduk. Saat itulah posisi wajahnya sejajar dengan Anjani yang berdiri mematung. Alex menatapnya dingin. Mata cekung birunya seolah ingin menikam jantung. Anjani sungguh merasa takut melihat tatapan Alex yang seperti akan mengulitinya. Aroma rempah dan musk menguar dari tubuh Alex, sebenarnya berefek menenangkan, namun tidak bagi Anjani saat itu.

"Aku masih menunggu jawabanmu," ucap Alexander datar sambil mendaratkan pantatnya di kursi kerjanya.

"Ti-tidak ada yang menyuruh." Ia memilih berbohong.

"Oh ya?" tanya Alexander sinis. Ia menghadap ke meja dan menyampingi Anjani. Ia melihat gerakan mengangguk Anjani dari sudut matanya.

"Kalau bukan karena orangtuaku, kamu pasti sudah kupecat!" geram Alexander.

Anjani terperanjat, mukanya mendadak pucat. Ya Tuhan, ia tahu aku berbohong?

"Kamu adalah karyawan terburuk dalam sejarah LuNet, kamu tahu itu? Hanya perkara kecil saja, kamu berbohong, apalagi untuk hal besar?" cerca Alex, suaranya datar namun sangat menampar.

"Kamu pikir dengan kamu bilang melakukan ini tanpa suruhan orang lain adalah untuk menunjukkan kepadaku kalau kamu adalah orang yang penuh inisiatif? Jika kamu pikir begitu, maka itu salah besar. Orang sepertimu tidak bisa menjilatku!" Alex melanjutkan caciannya.

Ingin rasanya Anjani menjelaskan bahwa maksudnya tidak seperti yang dipikirkan Alexander. Tujuannya hanya agar Kate terhindar dari masalah, ia tidak memiliki maksud lain. Akan tetapi, seperti biasa, sulit baginya untuk memperjuangkan haknya sendiri. Meski sudah merancang kalimat, namun selalu diurungkan niat. Kalimat pembelaan tidak pernah terlontar dari mulutnya. Anjani mengutuk sifat submisifnya itu. Ia sungguh benci pada dirinya sendiri. Kali ini, ia tidak sanggup menahan air matanya. Bukan karena ia benci sikap Alex, tapi lebih karena ia membenci dirinya sendiri.

"Apa jadwalku pagi ini?" tanya Alexander tanpa menghiraukan Anjani yang terisak.

"Ra-rapat bersama seluruh chief dan EVP, pagi jam 9.15 di ruang rapat utama," jawab Anjani bergetar menahan isaknya. Ia takut membuat kesalahan lain. "Setelah itu dengan Mr. Howard, EVP Programming Acquisition dan timnya jam 1 siang di ruang rapat 1 dilanjutkan pemantauan uji modul di lapangan."

Alexander hanya mengangguk dan menggerakkan tangannya menyuruh Anjani keluar dari ruangan.

Anjani setengah berlari ke luar dari ruangan Alexander. Ia ingin segera ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Saking buru-burunya, ia tidak berhati-hati saat menarik pintu dan menabrak seorang wanita berambut pirang yang di saat bersamaan sedang mendorong pintu hendak bertemu dengan Alexander. Wanita tersebut menjerit karena dua gelas kopi panas yang dibawanya tumpah dan mengenai bajunya. Baju Anjani pun tak luput dari cipratan kopi panas.

"Tuhanku, apakah kamu tidak bisa hati-hati?" seru wanita itu dengan marah. Ia adalah Lynnette Page, wanita kaukasian yang membuat kaum hawa lain iri. Lynnette memiliki tubuh indah laksana model Victoria Secret, wajah cantik, otak cemerlang, dan orangtua kaya raya. Ia menjabat sebagai Senior Manager Branding and Digital Communication yang berada di bawah Erik. Rumor yang beredar ada hubungan spesial antara Lynnette dengan Alexander.

"Ma-maafkan aku," ucap Anjani lirih. Ia sangat khawatir melihat ruffled-sleeve blouse putih Lynnette yang penuh noda kopi. Ia sama sekali tidak peduli ke dirinya sendiri yang sebenarnya terkena tumpahan lebih banyak.

Mary segera menghampiri mereka dan membantu menyingkirkan gelas kopi. Kate segera menghubungi petugas kebersihan untuk mengepel tumpahan kopi di lantai.

"Apakah kamu tidak apa-apa, Lynnette?" tanya Alexander yang sudah berdiri di belakang Anjani.

"Agak sakit karena panas kopinya," jawab Lynnette sambil bersungut-sungut. "Aku khawatir kulitku melepuh. Sepertinya aku harus memeriksakan diriku." Lynnette beranjak pergi.

Tuhan, mengapa aku sial sekali pagi ini. Baju Lynnette pasti bermerk, mana mungkin aku sanggup jika harus menggantinya. Belum lagi kalau kulitnya melepuh. I hate Monday. Anjani meratap dalam hati.

"Kamu sungguh keterlaluan, Anjani!" maki Alexander. "Mary, sampaikan kepada Halstead untuk memecat wanita bodoh ini. Aku sungguh tidak tahan dengannya."

Semua sekretaris yang berada di ruang Anförare menahan nafas tak berani bergerak, hanya saling melirik. Mereka sangat iba pada Anjani.

"Tenangkan dirimu, Alex," rayu Mary. "Ini adalah ketidaksengajaan yang bisa terjadi pada siapa saja."

"Baru tiga hari di sini, ulahnya sudah banyak sekali. Dia benar-benar merusak mood," gerutu Alexander. Ia masuk ke ruangan dan membanting pintunya.

Anjani tidak dapat menahan tangisnya kali ini. Sungguh tidak ada orang sebodoh dan sesial dirinya di dunia ini.

"Anjani, kamu tenang saja, Alex hanya emosional, nanti juga mereda," hibur Kate sambil memegang tangan Anjani yang gemetar.

Matt bergegas menghampiri. "Anjani, kamu harus mengecek dirimu juga apakah terluka atau tidak," sarannya.

"Aku punya baju ganti yang mungkin cocok untukmu, An," ujar Minji, sekretaris Chief Operating Officer. Minji Carter gadis berdarah campuran Korea Amerika dengan tubuh yang sedikit lebih tinggi daripada Anjani. "Yuk, kita ke kamar mandi untuk mengganti bajumu."

"Ya, ide bagus, Minji," sahut Gwen Robinson, sekretaris Chief Human Resources Officer. "Nanti aku akan menjelaskan kepada Ms. Halstead kejadian ini, kamu tidak perlu khawatir." Ia mengelus bahu Anjani, berusaha menenangkannya.

Anjani sangat terharu dengan perhatian teman-temannya. Ia menatap mereka dan mengucapkan terima kasih.

"Itulah gunanya teman, An," ujar Matt sambil tersenyum lebar. "Kami semua di sini saling mendukung."

Mary merangkul Anjani sambil menghibur, "Ganti bajulah, setelah itu kembali ke meja ini. Tegakkan kepalamu, tunjukkan bahwa kamu profesional. Okay, dear?" Mary mengecup kepala Anjani. Ia sungguh merasa Alexander bertindak agak keterlaluan terhadap wanita kecil ini. Naluri keibuannya tergerak untuk melindungi Anjani. Ia harus melakukan sesuatu sebelum Alexander bertindak di luar batas.

Meski masih masygul, tetapi Anjani merasakan sebuah kehangatan menjalar di dadanya. Ia menyadari masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik kepadanya, dan itu adalah anugerah terbesar yang sangat disyukurinya saat ini.

Saat Anjani bersama Minji berjalan menuju kamar kecil yang terletak di seberang lift, pintu lift terbuka dan Erik ke luar dari situ. Ia melihat baju Anjani yang kotor dan mukanya yang pucat.

"Hey, ada apa, An?" sapanya khawatir. Ia menduga ada sesuatu yang tidak beres.

Anjani terkejut melihat Erik. Ada rasa ingin berlari dan menumpahkan semua isi hatinya pada pria itu, namun juga ada rasa takut kecewa karena salah mengartikan maksud dari perhatian Erik. Ia takut jatuh cinta dan yang lebih lebih menakutkan, patah hati. Ia bimbang, tidak berani lagi menghadapi gejolak emosi lain. Pagi ini sudah terlalu berat bagi hatinya.

"Oh, tidak apa-apa," jawabnya datar sambil menarik tangan Minji. Ia membuang muka, tak berani menatap mata biru Erik.

Erik merasa bingung dengan sikap Anjani. Ada yang berbeda darinya sejak Minggu siang kemarin. Setelah makan siang, Anjani nampak lebih diam dan mimik mukanya terlihat makin sendu. Andaikan jadwal rapat pagi ini tidak menumpuk, pasti ia memilih untuk menenangkan Anjani. Ia pun bergegas masuk ke ruang Anförare dan melihat para sekretaris sedang berkumpul di meja Mary.

"Hey, ada kejadian apa barusan?" tanya Erik penasaran.

Semua terkesiap mendengar suara Erik.

"Oh, tadi ada sedikit insiden saja, bos," sahut Matt. "Lynnete bertabrakan dengan Anjani dan kopi yang dibawanya tumpah mengotori baju mereka." Matt berusaha mengatakan dengan nada datar, ia tidak menceritakan perihal perilaku keras Alexander terhadap Anjani. Ia tahu betul karakter Erik yang dapat bereaksi tidak terduga jika ada hal menyangkut kakaknya itu.

"Mari, bos, jadwalmu padat hari ini," ajak Matt agar Erik tidak banyak bertanya tentang kejadian itu.

Erik manut, meski merasa ada yang janggal. Jika hanya masalah kopi tumpah, mengapa keempat sekretaris ini sampai berkumpul di meja Mary dengan muka serius. Ia tahu bahwa para sekretaris ini senang bergosip, tapi rasanya kali ini ada yang berbeda. Sayangnya, ia tidak punya waktu untuk menanyakan banyak hal, walaupun hati kecilnya mengatakan ada yang tidak beres dan ini terkait dengan Anjani dan Alexander.

Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan singkat ke ponsel Anjani, Sore nanti pulanglah bersamaku.

Anjani kembali ke meja kerja dengan baju pinjaman dari Minji yang sedikit kebesaran baginya. Ia melihat terdapat pesan masuk di ponselnya. Segera dibukanya, khawatir pesan dari Alexander.

Hatinya membuncah tatkala melihat isi pesan yang ternyata dari Erik memintanya untuk pulang bersama sore nanti. Ia sungguh kalut. Di satu sisi, ia ingin menerima tawaran itu, menumpahkan uneg-uneg akibat kejadian pagi ini dan menikmati senyuman Erik yang menenangkan. Namun di sisi lain, ia takut menumbuhkan cinta, rasa yang kemungkinan besar akan bertepuk sebelah tangan dan memicu lara.

Teringat pembicaraannya dengan Minji di kamar kecil saat berganti baju.

"Nampaknya Erik perhatian sekali denganmu, An," gurau Minji sambil melipat baju Anjani yang kotor.

"Ah, tidak," sahut Anjani cepat, "dia baik kepada siapapun, bukan?"

Minji terbahak dan kembali menggoda," Itu buktinya mukamu memerah." Ia menyolek pipi Anjani.

Anjani hanya tersipu sambil memandangi wajahnya di kaca wastafel.

"Hati-hati saja, Erik itu player. Banyak wanita yang jatuh hati, tapi juga tidak sedikit yang patah hati," lanjut Minji. "Aku tidak mau melihatmu sedih nantinya."

Ah, betul kan, tidak heran kemarin dia begitu mesra dengan Lucia. Aku saja yang gede rasa baru dikasih perhatian sedikit olehnya. Padahal ternyata dia melakukannya kepada wanita lain juga. Aku harus jaga jarak sepertinya, tidak boleh kesengsem. Anjani menguatkan dirinya.

Namun, pesan singkat dari Erik barusan sukses membuat Anjani galau. Duchenne smile Erik menari-nari di wajahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status