Share

Sunday Lunch

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-10-12 15:39:26

Hari Minggu ini terasa lebih cerah bagi Anjani. Berjalan di sepanjang pantai, berbincang di bibir dermaga, menikmati es krim gelato terenak yang pernah dimakannya, dan mengunjungi galeri seni adalah aktivitas Sabtu bersama Erik dan Dirandra yang sangat mengesankan. Bocah cilik itu pun cukup berempati dengan ibunya, ia tidak banyak merengek dan tampak menikmati perjalannya.

Anjani tidak memungkiri bahwa bersama Erik merupakan momen indah yang menjadi suplemen bagi mood-nya. Sikap Erik yang humoris dan hangat mampu membuat hatinya bergetar. Hati yang selama ini terpasung sepi. Ada rasa terus ingin bersama, namun juga ada rasa takut akan berseminya renjana.

Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta pada Erik! Anjani mengultimatum dirinya. Erik haruslah menjadi kakak baginya, tidak boleh lebih dari itu. Belum lagi masalah perbedaan keyakinan, hanya akan menjadikan masalah kian rumit.

Semua perhatiannya adalah kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Pelukan dan belaian adalah hal biasa bagi orang-orang Amerika ini. Get over yourself, Anjani! Jangan gede rasa! Anjani terus memberondong dirinya dengan berbagai peringatan untuk tidak mengartikan perhatian Erik secara berlebihan.

"Ma ... ma ... ma," celoteh Dirandra membuyarkan lamunan Anjani.

"Eh, halo Andra, anak ibu udah bangun ya," sapa Anjani. Ia mengangkat Dirandra dari keranjang bayi, mengganti popok, dan kemudian merapihkan bajunya. Dipeluk dan dicium buah hati kesayangannya, pelita dalam kegelapannya.

"Yuk, kita main di luar." Ia menggendong Dirandra dan ke luar dari kamar.

Jam menunjukkan pukul 11 siang. Anjani mendengar suara yang cukup riuh di lantai bawah saat ia menuruni tangga. Sewaktu sarapan, Anna tidak bercerita akan ada tamu yang datang siang ini. Rumah keluarga Lind memang sering dikunjungi relasi saat akhir pekan. Selain sering menjamu kolega, kediaman mereka juga acap kali menjadi tempat berkumpul Orbit Foundation, sebuah lembaga kemanusiaan yang dimotori oleh Anna dan beberapa sahabatnya. Lembaga ini banyak melakukan kegiatan sosial di seluruh wilayah negara bagian Florida.

Ah, apakah ada Erik lagi hari ini? Kuharap ia menyempatkan diri datang hari ini. Duh, kenapa aku tidak bisa sebentar saja tidak memikirkan dia sih! Ingat, Anjani...jangan berpikir yang tidak-tidak! Cerocosnya dalam hati.

"Anjani, sini aku perkenalkan dengan teman-temanku!" seru Olivia yang muncul tiba-tiba dari ruang makan mengagetkannya. Ia menarik tangan Anjani dan membawanya ke teras belakang. Di sana berkumpul tiga wanita yang sedang bercanda ria. Mereka tampak sedang menyiapkan makanan dari tungku barbeque di tepi kolam renang.

"Teman-teman, perkenalkan ini Anjani dan anaknya, Andra," ujar Olivia. Ia memperkenalkan Anjani pada temannya satu per satu.

Gabrielle Washington, disapa Gabby, seorang wanita African-American yang berprofesi sebagai seorang psikiater. Wajah bulatnya terlihat sangat bersahabat, dengan bibir tebal yang menawan, dan mata yang indah. Rambut curly hitam sebahunya dikucir, sehingga ia terlihat segar. Gabby dan suaminya, Kevin, adalah teman semasa kuliah Olvia dan Jay di salah satu kampus kedokteran ternama di New York. Mereka berempat bersahabat karib sejak kuliah hingga saat ini. Suami Gabby adalah seorang dokter bedah di rumah sakit terbesar di St.Pete. Siang itu, ia membawa serta anaknya, Emma, yang sepantar dengan si kembar Charlotte dan Scarlett. Ketiga anak itu asik bermain di kolam renang.

Lucia Martinez-Castillo, perempuan hispanik berdarah Colombia dengan aksen paisa yang mengingatkan Anjani pada aktris telenovela. Tubuhnya sintal dan berlekuk indah. Rambut panjang coklat tua tergerai, bola mata coklat, bibir berbentuk cupid, dan kulit mulus berwarna tan membuat Lucia benar-benar terlihat sangat seksi. Karakter ekstrovernya membuat suasana sangat cair. Ia paling banyak bicara dan sering membuat teman-temannya tertawa. Lucia bekerja sebagai desainer interior. Ibu Lucia, Elena Castillo de Martinez adalah sahabat Anna yang juga terlibat secara aktif dalam Orbit Foundation. Ayahnya, Antonio Martinez-Zapata merupakan pengusaha properti sukses di Florida.

Perempuan ketiga adalah sosok yang paling kalem, Zehra Osman, seorang wanita muslim keturunan Turki. Zehra berparas cantik khas wanita timur tengah, dengan hidung mancung aquiline, mata besar coklat tua, bibir bervolume sempurna laksana model iklan lipstik, dan rambut hitam yang sebagian ditutupi selembar kain pashmina. Ia menikah dengan Hasan Demir, pria Turki berkewarganegaraan Amerika yang merupakan sahabat Jay sejak kecil. Hasan Demir adalah pengajar bidang biomedis pada Universitas Negeri di St. Petersburg. Hasan dan Zehra memiliki seorang putra berusia 2 tahun, bernama Ömer yang saat itu tertidur pulas di dalam stroller.

Mengenal ketiga wanita itu, Anjani merasa minder, mereka berpenampilan menarik dengan tubuh tinggi semampai. Dengan tubuh hanya 157 cm dan berat 45 kg, ia merasa seperti anak kecil yang terhimpit di antara perempuan matang dan menawan. Namun sikap bersahabat yang ditunjukkan ketiga wanita tersebut membuat dirinya cepat menampik rasa rendah dirinya. Ia merasa diterima karena ketulusan dan kehangatan mereka.

Jam 12 kurang 10 menit semua makanan sudah siap, Anjani segera menyiapkan peralatan makan. Anna dan Elena yang sejak tadi berbincang di ruang tamu ikut bergabung bersama mereka. Elena sangat serupa dengan Lucia, ia terlihat jauh lebih muda dari usianya. Banyak yang mengira mereka adalah kakak beradik, bukan ibu dan anak.

Mereka menikmati makan siang di meja kayu panjang berdekatan dengan kolam renang. Area kolam renang di halaman belakang kediaman keluarga Lind ini sangatlah luas dan menjadi tempat favorit untuk berkumpul. Ada beberapa sun lounge, pojok barbeque, dan meja makan kayu panjang berkanopi yang dikelilingi oleh rumput hijau, pohon-pohon besar yang teduh, dan bunga warna-warni. Sungguh sebuah tempat yang nyaman untuk bercengkerama.

"Wah, ini benar-benar cara menikmati hari Minggu yang indah, bersama para wanita cantik yang jago masak," puji Elena sambil menikmati sosis panggangnya.

"Ya, betul, jika pria-pria itu bersenang-senang dengan bermain golf, kita cukup duduk berbincang dan makan," imbuh Anna.

Para pria dimaksud Anna adalah Samuel, Jay, Kevin, Hasan, dan Antonio, yang sejak pagi bersama-sama bermain golf. Mereka memiliki kegiatan rutin bersama setiap dua minggu sekali, yaitu main golf atau berlayar dengan yacht milik Antonio untuk memancing di Teluk Tampa. Kadang-kadang Erik bergabung bersama mereka. Hanya Alexander yang tidak menyukai kegiatan semacam itu. Selama para suami asik bermain golf atau memancing, istri mereka memilih untuk bercengkerama di rumah keluarga Lind yang asri.

Mereka pun menikmati makan siang sambil bersenda gurau. Anjani menemukan kehangatan lain di situ. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah, bahkan berbeda ras, namun keakraban mereka melebihi hubungan persaudaraan yang pernah dilihatnya.

"Anjani, bagaimana kalau dua minggu lagi, kita makan siang menu Indonesia," cetus Lucia. "Namun jangan pedas ya. Kami orang Colombia, sangat tidak suka makanan pedas, sedangkan kudengar makananmu banyak yang pedas."

"Dasar tukang makan, ada-ada saja maumu," gerutu Elena pada anaknya. "Jangan kamu kabulkan jika merepotkan, Anjani."

"Hahaha ... tentu tidak merepotkan, Elena. Bahkan dengan senang hati," jawab Anjani sambil tertawa. "Aku akan membuatkan yang tidak pedas sama sekali."

"Beberapa hari lalu, ia membuatkan kami nasi goreng yang enak sekali," celetuk Olivia. "Pokoknya kalian tidak akan kecewa deh dengan masakan Anjani."

"Tinggal kamu sebutkan saja butuh bahan apa, Anjani," ujar Gabby, "mungkin ada bahan khusus. Nanti aku bisa bantu carikan."

"Ya, ada beberapa pasar khusus Asia di daerah Ponce de Leon. Pasti kamu akan senang berbelanja di sana," jelas Zehra.

Anjani tersenyum merekah. Duh, senang sekali bersama mereka. Andai Erik juga bisa berada di sini, maka lengkap hariku. Ups...kenapa aku memikirkannya lagi sih. Omelnya dalam hati.

Saat para wanita itu sedang menyantap makanan utama, tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Anjani.

"Ah, sudah kuduga ada pesta makan siang yang nikmat!" seru pria pemilik suara itu.

Erik! Hati Anjani nyaris melompat kegirangan mendengar suara itu. Ia tidak dapat menyembunyikan wajah sumringahnya melihat pria bermuka ramah dan bergaya jenaka itu muncul.

"Hey, ini khusus wanita, loh," canda Gabby.

Erik memasang muka kaget mendengar jawaban itu. Ia lalu menunjuk ke arah Dirandra dan Ömer. Wajahnya seolah protes mengapa kedua lelaki kecil itu diperbolehkan bergabung. Tawa pun berderai di meja makan.

"Apa kabarmu, sayang?" tanya Lucia dengan gaya manjanya. Ia bangkit dari duduknya dan mencium pipi Erik. "Sudah lama aku tak melihatmu."

Erik memeluknya seraya menjawab, "Tidak pernah sebaik ini, Lucia. Bagaimana denganmu?"

"Baik juga, terima kasih," balas Lucia. "Kamu terlihat makin tampan, loh," godanya sambil tertawa.

"Kamu juga makin seksi," ujar Erik sambil mengedipkan matanya.

Erik kemudian menghampiri dan memeluk semua wanita yang hadir, termasuk Anjani.

Saat memeluk Anjani, ia berbisik, "Kamu terlihat makin cerah setiap hari." Bisikan yang serta merta membuat wajah Anjani berona. Ia tidak sanggup mengeluarkan komentar apa pun saking girangnya.

"Mengapa kamu tidak ikut main golf?" tanya Olivia sambil menyodorkan piring berisi daging bakar untuk kakaknya.

"Aku sedang malas berpanas-panasan bersama para pria berkeringat. Lebih baik makan enak bersama wanita-wanita cantik di sini," jawab Erik sambil tertawa. Semua pun tergelak. Mereka sudah sangat mengenal sikap Erik yang kocak.

Saat Erik mengatakan "wanita cantik", matanya melirik ke Anjani. Tampaknya tidak ada yang menyadari hal tersebut, selain Anjani yang langsung tertunduk malu dan Anna. Naluri keibuannya sejak tadi mengatakan ada yang tidak biasa dengan anak laki-laki keduanya ini. Erik memang lebih sering mengunjunginya dibanding Alexander. Namun, datang ke rumah ibunya di hari Sabtu dan Minggu berturut-turut tanpa diminta bukanlah kebiasaan Erik. Kerlingan mata Erik kepada Anjani dan Anjani yang tertunduk malu barusan menjawab pertanyaannya. Sepertinya ada sesuatu antara mereka berdua. Anna tersenyum. Ia berharap sesuatu yang indah bersemi. Ia sungguh menyukai Anjani.

Setelah selesai makan, Anjani membereskan perangkat makan. Dirandra sedang bermain bersama Ömer ditemani oleh Zehra. Olivia disibukkan oleh tiga gadis kecil yang tidak mau berhenti berenang. Saat mengambil piring kotor yang masih tersisa di meja makan beranda, Anjani melihat Lucia sedang merokok bersama Erik di pojok halaman, agak jauh dari posisi kolam. Ia kaget, selama ini belum pernah dilihatnya Erik merokok. Mereka berdua nampak akrab dan tertawa saat berbincang. Lucia beberapa kali memukul-mukul mesra Erik sambil terbahak. Ada rasa cemburu yang menyergap hatinya.

Lihat, Anjani! Erik sepertinya memberikan perhatian dengan semua wanita, tidak hanya dirimu. Jadi jangan berpikir bahwa ia lebih menyukaimu dibanding wanita lain. Bahkan bisa jadi ia ke sini untuk menemui Lucia yang jauh lebih menarik dibandingmu. Jangan sampai kau terluka karena salah mengartikan sikap baiknya! Anjani sibuk memperingatkan dirinya.

"Hey, kok bengong?" tegur Zehra yang tiba-tiba ada di sebelahnya. "Berat, ya? Sini kubantu." Perempuan itu langsung mengambil beberapa piring di tangan Anjani.

Anjani gelagapan. Dia khawatir orang lain melihatnya sedang memperhatikan Erik.

"Oh ... oh, terima kasih, Zehra." Ia menurut saja saat Zehra mengambil beberapa piring dari tangannya.

Mereka pun berjalan ke dapur. Di sana telah ada Gabby yang mulai membuang sisa kotoran dari piring.

"Letakkan saja di sini, terima kasih, Zehra," ucap Anjani. Zehra tersenyum.

"Terima kasih, dear," ujar Gabby. Anjani pun bergabung bersama Gabby memasukkan piring dan gelas kotor ke dalam dishwasher.

"Apakah kamu sudah merasa nyaman di St. Pete, Anjani?" tanya Gabby tersenyum.

"Sangat," jawab Anjani sambil mengangguk.

"Ah, syukurlah jika begitu. Memulai hidup baru di negara dengan budaya berbeda, bukan hal yang mudah. Meski dulu kamu pernah di sini, tetapi keadaannya berbeda," tutur Gabby.

"Ya, betul sekali, Gabby. Kondisiku dulu dan sekarang juga berbeda. Sekarang lebih ada beban karena aku harus menghidupi diriku dan anakku," ungkap Anjani.

"Aku sering menangani imigran yang mengalami kesulitan beradaptasi," jelas Gabby. "Banyak dari mereka merasa frustrasi ketika kenyataan berbeda dengan impian, saat American dream terasa begitu mustahil diraih."

"Oh ya, lalu apa yang terjadi pada mereka?" Anjani penasaran. Dia dengan sejarah depresinya tentu akan lebih mudah mengalami hal macam itu, sehingga banyak hal yang harus diantisipasi.

"Macam-macam. Selama mereka tidak ragu meminta bantuan dan memiliki support system yang kuat, hal tersebut biasanya dapat diatasi," papar Gabby tersenyum.

Samar-samar dari arah belakang Anjani terdengar suara cekikikan Lucia dan Erik. Dari ujung matanya, Anjani melihat mereka masuk dari beranda belakang menuju ruang tamu.

Ah, mereka benar-benar mesra. Rasanya saat bersamaku Erik tidak seceria itu. Tampaknya justru Erik lebih menyukai Lucia dibandingku. Ia lebih sibuk berbincang dengan Lucia, tak mengajakku mengobrol kali ini. Mungkin aku yang salah mengartikan kebaikannya selama ini. Kenapa aku gede rasa, sih? Anjani tak kuasa menahan kecemburuan sekaligus kekecewaannya. Keriangan yang sempat dirasakan saat melihat kedatangan Erik siang itu berangsur sirna beralih pada kesenduan. Ia kembali ke suasana hati yang telah begitu lekat berada dalam kisah hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status