Home / All / Konstelasi Emosi (Indonesia) / That Duchenne Smile

Share

That Duchenne Smile

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-10-12 15:36:08

Pekan ini melelahkan sekali bagi Anjani, meski baru bekerja dua hari di LuNet. Ia seperti menaiki rollercoaster emosi. Senang, takut, gembira, sedih, cemas, semua dengan cepat bersubstitusi. Saat bersama Alexander adalah detik-detik menegangkan, selebihnya bersama yang lain adalah momen menyenangkan, terutama berbincang dengan Erik. Ini adalah kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi Anjani, apalagi dengan mood disorder yang pernah dialaminya. Ia sangat rentan dengan kondisi yang menyedot emosi.

Rasanya hari Sabtu dan Minggu ini, Anjani hanya ingin bermalas-malasan di rumah bersama Dirandra. Ia merasa tidak punya energi untuk melakukan apapun. Akan tetapi, ia menyadari tidak mungkin hanya berdiam diri di kamar karena ia menumpang hidup di rumah keluarga Lind. Ia pun memaksa diri untuk bangkit dan ke luar dari kamarnya.

Jam dinding yang terpasang di dinding persis depan tangga menunjukkan jam 7 pagi ketika ia turun. Saat memasuki dapur, ia menghirup aroma kopi yang menyegarkan. Loh, apakah Mommy sudah bangun? Waduh, aku kesiangan. Ia merasa tidak enak.

"Pagi, Anjani. Baru bangun?" sapa pemilik suara bariton yang tak asing lagi di telinganya. Ia sudah duduk di stool  meja bar dapur.

"Pa-pagi, Erik. Kamu kok di sini?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kekagetannya.

"Hehehe ... tidak boleh, kah?" Erik balas bertanya sambil mengeluarkan senyum khasnya. Ia mengenakan kaos polo dan celana bermuda, serta sepatu kets. Tanpa kacamata dan gel rambut. Penampilannya terkesan sedikit messy, namun sporty.

"Tentu boleh, ini kan rumah orangtuamu," sahut Anjani tersenyum. Ia berjalan ke mesin pembuat kopi yang berada persis di hadapan Erik.

"Aku mau mengajakmu dan Andra berolahraga di North Shore Park," ungkap Erik sambil mengangkat gelas kopinya. "Semoga kamu bersedia, supaya lebih fit dan tahan banting saat bekerja," selorohnya.

Meski Anjani begitu ingin bermalas-malasan di rumah, namun ia tidak dapat menolak ajakan Erik. Lagipula berolahraga sambil menikmati angin laut memang sangat baik bagi Dirandra.

"Okay, tapi Andra belum bangun, dan aku belum membuatkan sarapan untuk Mommy dan Daddy." Anjani dengan cekatan menyiapkan kopi dan membuat sandwich.

"Wah, kamu sangat memanjakan mereka. Mereka pasti akan menahanmu selama mungkin di rumah ini," gurau Erik. "Buatkan aku sarapan juga, please," pintanya sambil memasang muka memohon. Anjani yang sedang menyiapkan sarapan di hadapan Erik tertawa melihat ekspresinya.

Saat yang bersamaan, Anna turun dari tangga. Ia terkejut melihat anak laki-lakinya sudah berada di rumah.

"Hei, tumben kamu ke sini pagi-pagi?" tanya Anna.

"Aku rindu padamu, Mom," jawab Erik sekenanya.

Anna memeluk anaknya dan berkata, "Meski kutahu itu bohong, tapi aku senang mendengarnya." Ia kemudian duduk di stool sebelah Erik.

Erik tertawa mendengar jawaban ibunya. Begitu pula Anjani.

"Aku mengajak Anjani dan anaknya ke North Shore Park, angin laut pagi bagus buat anak-anak dan juga karyawan baru yang mulai agak stres," sindir Erik.

Anjani hanya bisa mesem mendengarnya. Erik memang senang sekali bergurau, namun ia merasa nyaman dengan candanya tersebut. Dirinya yang cenderung menyikapi segala sesuatu dengan serius menjadi lebih rileks setiap mendengar guyonan terlontar dari mulut Erik.

"Oh, apakah Alex terlalu keras padamu, Anjani?" Anna terlihat khawatir. Ia sangat sering mendengar cerita betapa banyak karyawan yang diperlakukan terlalu keras oleh anak sulungnya itu. Ia tidak mau itu terjadi pada Anjani, apalagi dengan permasalahan yang baru saja dialaminya.

"Ah, tidak, Mom," sanggah Anjani. "Hanya saja pekerjaan ini benar-benar baru bagiku, jadi aku perlu beradaptasi saja." Ia menyodorkan kopi untuk Anna.

"Syukurlah." Anna terdengar mengembus nafas lega. Ia menghirup kopinya.

"Wah, Mom, sepertinya Anjani memanjakan dirimu setiap pagi ya," ucap Erik sambil melihat ke arah Anjani.

"Hahaha, kamu ingin ya?" goda Anna. "Anjani sangat jago memasak loh, tempo hari ia membuatkan kami nasi goreng Indonesia, lezat sekali. Benita saja sampai menambah porsinya."

"Aaah, kamu masakin buatku juga dong," rayu Erik. "Aku belum pernah mencoba makanan Indonesia."

"Boleh, kamu mau dimasakin apa?" tantang Anjani sambil memberikan sandwich untuk Anna dan Erik.

"Apa saja, yang penting enak," sahut Erik. Ia menyuapkan sandwichnya.

Mereka bertiga menikmati sarapan sambil bersenda gurau. Anjani sangat menikmati keakraban suasana tersebut. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Rasa bahagia bercampur rindu, sekelebat muncul wajah ibunya yang sangat dirindu.

***

Erik memarkir Dodge Durango putihnya di area parkir dekat North Shore Park. Ia menurunkan kereta bayi dan Anjani menaruh Dirandra di dalamnya. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang berdekatan dengan bibir pantai. Beberapa yacht bergerak elegan di perairan teluk Tampa. Angin semilir mengipasi daun palem yang berdiri anggun. Pekikan burung pelikan yang hilir mudik terdengar seperti simfoni pagi yang menambah keindahan pantai.

Sekitar setengah jam mereka berjalan menyusuri pinggir pantai dari North Shore Park ke Vinoy Park hingga The Pier sambil berbicara mengenai berbagai hal seputar St. Pete. Anjani melongok ke kereta bayi dan menemukan Dirandra yang tertidur pulas. Nampaknya hembusan angin laut meninabobokannya. Erik mengajak Anjani ke bibir dermaga. Di hadapan mereka terdapat beberapa tonggak yang dipancang ke dalam laut. Tiap tonggak menjadi tempat burung pelikan bertengger.

Erik membeli beberapa ikan di penjual makanan pelikan dan melemparkannya ke arah burung-burung itu. Pelikan-pelikan itu pun dengan rakus menghabisinya. Ia tertawa geli melihat polah pelikan-pelikan tersebut. Rambut gelombangnya berantakan ditiup angin laut, namun messy-looked itu justru membuatnya terlihat lebih memesona.

Anjani menatap Erik. Ada getaran aneh di dada yang sudah sangat lama tak pernah hinggap di hatinya. Ah, ia sosok yang menyenangkan dan penuh perhatian. Rasanya nyaman setiap berada di dekatnya. Ya ampun, apa aku jatuh cinta? Tidak...tidak...aku tidak boleh berpikir jauh. Ia adalah anggota keluarga Lind, ia kakak bagiku.

Erik melangkah mendekati Anjani dan mengajaknya duduk di bangku kayu yang tersedia di sepanjang bibir dermaga.

"Aku tahu bukanlah hal yang mudah bekerja bersama Alexander. Kamu tidak perlu malu mengakuinya. Seluruh orang di LuNet tahu itu," ujar Erik.

Anjani tidak menduga Erik akan berbicara mengenai Alexander. Selama ini pembicaraan mereka tidak pernah menyinggung urusan pekerjaannya secara serius.

"Seperti apapun sikap Alex kepadamu, ingatlah ada aku yang selalu mendukungmu." Erik mengelus rambut bergelombang Anjani yang tertiup angin dengan lembut. "Kamu bebas menumpahkan isi hatimu padaku."

Anjani menghela nafas. Ia makin merasakan getar aneh itu saat Erik menyentuh rambutnya. Setengah mati ia berusaha mengatur rasa yang bergejolak.

"Terima kasih, Erik, kamu baik sekali," ucap Anjani. Hanya itu kalimat yang dapat meluncur dari mulutnya.

"Itulah gunanya keluarga, Anjani," jawab Erik sambil menyunggingkan senyum khasnya, Duchenne smile. Mata birunya menyipit, sudut mulut dan pipinya terangkat membentuk kerutan di dekat mata, dan deretan gigi putih terpampang jelas. Ekspresi wajah khas Erik yang  membuat para wanita berdebar, termasuk Anjani. 

Tuh, dengar ya, Anjani, keluarga. Aku dan dia adalah keluarga. Atur hatimu! Anjani memarahi dirinya.

"Coba kamu lihat pelikan-pelikan itu, Anjani," ujar Erik sambil menunjuk ke kawanan pelikan di depan mereka. "Pelikan hidup berkelompok. Mereka selalu terbang dalam kawanan dengan formasi tertentu. Ada saatnya mereka sendirian bertengger di tonggak itu. Namun, sebagian besar waktu mereka akan selalu bersama koloninya," jelas Erik.

Anjani memperhatikan burung pelikan kemudian mengalihkan pandangannya ke Erik, dahinya mengernyit, mencoba mencari makna dari kalimat Erik.

"Hahaha ... aku tidak pantas ya bicara penuh filosofi seperti itu," gelak Erik.

"Tidak ... tidak begitu," kekeh Anjani. "Aku hanya takut salah mengartikannya. Justru aku yang terlalu bodoh untuk mampu memahaminya dengan baik."

"Kamu itu ... selalu merendahkan dirimu." Erik mengacak-acak rambut Anjani dengan lembut. "Manusia adalah mahluk sosial, kita butuh orang lain. Kita memiliki keluarga, baik itu sedarah maupun tidak. Jadi, bisa saja suatu saat kamu butuh waktu sendiri. Namun, harus ingat bahwa kamu senantiasa membutuhkan orang lain dan selalu ada orang-orang di sekelilingmu yang sayang serta peduli denganmu. Begituuu."

Anjani tersenyum kecut, matanya sendu, kelopaknya terkulai. Tiba-tiba pikirannya melambung betapa ia pernah merasakan tidak punya siapa pun di dunia ini sejak Arya melontarkan fitnah keji. Rasa tidak berharga begitu berkecamuk pada dirinya. Pengkhianatan dan perisakan yang membuat dirinya limbung.

"Eh, kok jadi sedih, sih," ujar Erik lirih. "Apakah kata-kataku menyinggungmu? Maafkan aku jika begitu."

"Oh tidak ... tidak, Erik. Justru kata-katamu sangatlah benar," sanggah Anjani sambil menggoyangkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangan ke seekor pelikan yang bertengger di sebuah tonggak persis di hadapannya. Pelikan yang menyendiri itu mengingatkan pada kesendiriannya dulu.

"Apakah Olivia tidak menceritakan masalahku kepadamu?" tanya Anjani sambil melirik ke arah Erik.

"Tidak," jawab Erik. "Ia sangat menghargai privasimu. Aku hanya diberi tahu oleh Mommy, bahwa kamu bercerai dan akan memulai hidup baru di sini. Itu saja."

"Aku pernah hampir bunuh diri karena merasa hidupku begitu hampa dan tak bermakna. Semua orang memusuhi, mencemooh, tidak ada yang ingin melihatku. Bahkan kakakku sendiri begitu jijik padaku. Padahal, aku merasa tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan kepadaku." Suaranya lirih, terasa ada sayatan kecil di hatinya.

Erik memandangi wanita di sampingnya. Wajah sendu itu menyiratkan luka yang masih menganga. Ia membiarkan Anjani mencurahkan seluruh laranya.

"Aku sempat menyangka diriku memiliki kepribadian ganda, karena mantan suamiku membeberkan hal-hal yang aku tidak ingat pernah melakukannya," lanjut Anjani pelan. Suaranya mulai bergetar. "Semua itu sungguh merenggut hidupku ketika akhirnya ibu meninggal karena kesalahan yang tak pernah kulakukan." Matanya mulai terasa panas. Ia mengerjapkan mata agar airnya tak jatuh menetes. "Padahal, jika ia berkata terus terang ingin menceraikanku, aku juga tidak mungkin menghalanginya. Ia tidak perlu memfitnah dan membuat keluargaku merana."

"Aku turut prihatin," gumam Erik. Ia sungguh iba pada wanita mungil ini, derita yang ditanggungnya begitu berat. Tak mengherankan aura gloomy sangat kuat pada dirinya. Ia terlihat begitu rapuh.

"Aku benar-benar sendiri, bahkan di tengah keramaian aku merasa sepi, seperti burung itu," lanjut Anjani sambil menunjuk pelikan yang bertengger sendirian di tonggak dan menundukkan kepala hingga paruh panjangnya menyentuh tubuh.

"Kamu tahu, Erik, aku baru memeriksakan kandunganku saat hamil lima bulan. Sebelumnya aku merasa tidak memiliki daya untuk melakukannya. Jangankan memikirkan kehamilan - yang sebenarnya sangat kunanti, diriku saja tidak terurus," ungkap Anjani, matanya nanar. Ia mengatur nafas lalu melanjutkan narasinya.

"Sewaktu aku mengunjungi dokter kandungan, aku melihat sepasang suami istri yang begitu gembira ketika mengetahui istrinya hamil setelah sepuluh tahun menanti, mereka langsung menghubungi keluarga mengabari berita bahagia itu. Ada lagi pasangan lain yang datang bersama orangtuanya, mereka begitu cemas karena kehamilan yang bermasalah." Anjani terdiam sejenak, ia menyelipkan rambutnya yang tertiup angin di belakang telinga. Ia seperti mengumpulkan tenaga untuk meneruskan kisahnya.

"Aku begitu iri pada wanita-wanita itu, betapa mereka memiliki banyak orang yang menemani dalam suka dan duka. Sementara aku ... tidak ada yang peduli padaku dan anakku, bahkan ayahnya sendiri tidak mau mengakuinya." Anjani terisak, ia tak dapat lagi menahan air matanya. Janji untuk tidak lagi ada air mata mengenang masa lalu tak mampu ditepatinya.

Anjani tercengang ketika menyadari betapa dengan mudah menceritakan masalahnya kepada Erik, suatu hal yang jarang ia lakukan kepada orang lain. Sifatnya yang cenderung introvert, ditambah dengan terpaan masalah yang dihadapi membuatnya makin menutup diri. Ia hanya menceritakan masalahnya pada dr. Fida dan Olivia. Namun, entah magnet apa yang ada pada diri Erik, membuat dirinya begitu lancar menceritakan kepahitan hidup yang berusaha ia balut dengan rapat.

Erik tak mampu menahan simpatinya. Ia menarik dan mendekap Anjani dalam pelukannya.

"Mulai sekarang, ada kami bersamamu." Ia mengecup kepala Anjani. Erik memejamkan mata saat mencium wangi rambut Anjani. Wangi bergamot yang menguar dari rambut Anjani terasa begitu menyejukkan. Aroma wanita ini terasa begitu alami, bukan semprotan produk berkelas namun mampu meninggalkan jejak yang membekas. Ada semacam dorongan heroik dari dirinya yang begitu besar untuk melindungi wanita mungil ini. Tanpa disadari, ia mempererat dekapan dan mengelus lembut rambut Anjani berulang kali.

Di waktu yang bersamaan, Anjani pun memejamkan mata kala Erik mengecup kepalanya. Meski berkeringat, parfum beraroma daun birch, akar nilam, dan nuansa kayu itu tetap mendominasi bau tubuh Erik. Ia menghirup dalam-dalam aroma itu. Rasa tenang menjalar saat berada dalam pelukan pria ini. Hormon oksitosinnya meningkat, rasa hangat menjalar di sekujur tubuh, kecemasannya mereda. Pelukan Erik berefek setara dengan antidepresan yang pernah dikonsumsinya. Ia sungguh menikmati pelukan itu, meski tahu bahwa tidak boleh menyusup lebih jauh, namun ia tidak kuasa menahan gejolak rasa yang hadir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status