LOGINJam menunjukkan pukul 9 tepat saat Alexander membuka pintu ruang Anförare. Berbeda dengan Erik yang langsung menyapa semua orang di ruang itu, Alexander sama sekali tidak mengeluarkan suara. Kepalanya kaku condong ke depan, dengan tulang pipi menonjol dan mata biru menatap tajam, ia terlihat seperti siaga dengan apa yang akan dihadapinya. Tidak ada senyum tersungging saat bertemu dengan orang lain. Ia hanya menganggukkan kepala kepada Mary, menoleh sedikit ke arah Anjani saat melewatinya, dan langsung membuka pintu ruangan.
Anjani bergidik. Dulu, ia memang tidak terlalu merasa nyaman dengan sikap Alexander, namun masih dapat mengabaikannya. Akan tetapi, sikapnya sekarang jauh lebih dingin dan lebih parah lagi karena saat ini pria itu adalah atasannya. Keceriaan yang barusan ia rasakan saat bertemu Erik mendadak sirna melihat perilaku Alexander.
Mary langsung memegang lembut pundak Anjani. Ia menyadari kalau perempuan ini pasti merasa takut berhadapan dengan Alexander seperti halnya kebanyakan orang di perusahaan ini.
"Tenang saja, Anjani. Yuk, kita masuk menemuinya," ajak Mary. "Bawa tabletmu."
"Ba-baik, Mary," balas Anjani tergagap. Ia sungguh takut, namun tak mungkin menghindar.
Mary mengetuk pintu dan membukanya begitu mendengar persetujuan dari dalam ruangan.
"Alex, seperti yang sudah diinfokan, Anjani sekarang sekretarismu. Aku sudah memperbarui semua jadwalmu, sehingga ia dapat mengaksesnya," terang Mary. "Apakah ada perubahan rencana dari yang sudah terjadwal?"
"Ok, terima kasih, Mary. Rasanya tidak ada perubahan. Kalaupun mendadak ada rencana lain aku akan memberitahukan kepada dia," jawab Alexander sambil menunjuk Anjani. "Kalau dia tidak paham, tolong ajari."
Anjani merasa kecut hati bercampur ciut, nada suara Alexander seperti menyangsikan kemampuannya. Sejak tadi, Alex tidak mau melihatnya, apalagi menyebut nama. Ia seperti berusaha mengabaikannya. Namun, Anjani berusaha berkepala dingin.
"Tentu, Alex. Aku yakin Anjani adalah seseorang yang cepat belajar," ujar Mary. Ia menyadari sikap sinis Alexander yang bisa jadi berpengaruh terhadap Anjani. "Ok, kalau begitu, kami kembali ke meja kami dulu." Mary menarik lembut tangan Anjani mengajaknya ke luar.
Saat Mary dan Anjani melangkah mendekati pintu, Alex berseru, "Tunggu, kamu tetap di sini!" Ia menunjuk Anjani dengan telunjuknya lalu menggerakkan jarinya ke arah depan meja, menginstruksikan Anjani untuk menghadapnya kembali.
Anjani berjalan ke arah Alexander dengan takut-takut. Mary ke luar dan menutup pintu.
"Duduk!" perintah Alex. Anjani menarik arm chair di hadapannya. Mendadak tangannya terasa dingin.
"Aku hanya ingin mengingatkan, kalau aku tidak peduli dengan hubunganmu dengan keluargaku. Justru itu akan memberatkan, bukan meringankan. Kalau kamu tidak becus bekerja, aku tidak akan memberikan kelonggaran sedikit pun. Aku bahkan menuntutmu bekerja melebihi standar, supaya tidak ada orang yang berpikir ini adalah soal nepotisme. Kamu harus paham itu!" tegas Alex.
"Ba-baik, Alex," jawabnya tergagap. Sungguh Anjani tidak dapat menahan kecemasannya yang membuncah.
"Oh, di sini, kamu harus memanggilku Mr. Lind, bukan Alex!" perintah Alex.
"Baik, Mr. Lind," sahut Anjani pelan.
"Dan ... aku tidak suka drama. Jangan banyak bergosip dengan para sekretaris di luar sana atau karyawan lain. Kamu harus selalu siap setiap aku membutuhkanmu." Suara bass Alex membuat perkataannya seperti ancaman halus.
"Ya-ya, Mr. Lind. Te-tetapi, apakah saya boleh ijin untuk melakukan ibadah sekitar pukul 2 siang?" tanya Anjani ragu-ragu. "Saat jam istirahat belum masuk waktu ibadah siang saya," terangnya.
"Aku tidak peduli, yang penting kamu harus ada ketika aku butuh dirimu." Muka Alexander nampak tidak terlalu menyukai permintaan Anjani, namun ia tidak mau dinilai diskriminatif.
"Apa jadwalku sekarang?" tanyanya.
"Se-sebentar, saya cek dulu," jawab Anjani sambil membuka tabletnya.
"Lain kali, kamu harus hafal semua jadwalku. Aku tidak punya waktu menunggumu membuka catatan!" hardiknya. "Pekerjaanmu sebagai sekretaris adalah mengatur jadwalku, apa itu saja tidak bisa kamu lakukan? Lalu apa yang bisa kamu lakukan?" cerca Alex bertubi-tubi.
Tekanan dari Alexander membuat Anjani makin panik, ia yang masih belum terampil membuka aplikasi jadwal kerja, seperti buntu. Ia berusaha menenangkan diri, namun tidak cukup berhasil.
"Ayo, cepat lah!" bentak Alex.
"I-iya." Suara Anjani bergetar tanpa bisa ia kendalikan.
"Ya, ampun, begini saja kamu sudah mau menangis? Kamu pikir kamu dibayar untuk bersenang-senang?" Nada suara Alexander makin meninggi.
"Maafkan aku," pinta Anjani lirih. "Aku baru mencoba aplikasi ini."
"Aaaah, kalau saja bukan karena Daddy, aku tidak akan mau menerima sekretaris cengeng macam dirimu!" maki Alexander sinis.
Anjani berusaha mengatur nafasnya agar dapat berpikir dan mengerjakan permintaan Alexander. Akhirnya, ia dapat membuka aplikasi jadwal tersebut.
"Ini jadwalmu, Al ... Mr. Lind. Pagi ini dirimu bersama Mr. Webber dan Ms. Taylor akan bertemu dengan Target Corp. untuk membahas permasalahan network mereka. Setelah itu..."
"Kamu tahu siapa Webber dan Taylor?" sela Alexander.
"Di-dia ..." Anjani mencari dimana informasi data pegawai. Duh, di mana aplikasi tentang data pegawai yang sempat ditunjukkan Mary tadi ya? Mengapa aku sebodoh ini? Ia ikut memaki dirinya sendiri.
"Aduh, kamu benar-benar payah!" sembur Alexander. "Aku akan pergi dengan mereka hingga siang nanti. Ketika aku pulang, aku tidak mau melihat dirimu sebodoh ini lagi!"
"Ba-baik, Mr. Lind," jawab Anjani lemas. Ia bertekad tidak akan mengulang ketololan yang sama.
"Sudah sana ke luar!" Alexander mendengus dan menggerakkan tangannya mengusir Anjani.
Anjani beringsut pergi tanpa bersuara.
Sungguh aku bodoh sekali, bekerja tanpa persiapan. Ia terus mengutuki ketidaksiapannya hari ini. Ia mendorong pintu sambil berusaha menegarkan mimiknya agar tidak terlihat oleh para sekretaris lain. Meja para sekretaris hanya berjarak sekitar 4 meter satu dengan lainnya dan tidak ada partisi yang membatasi, sehingga mereka dengan mudah dapat saling mengamati.
Meski sudah mencoba untuk tidak masygul, namun Mary dapat menangkap ekspresi sedih dari raut Anjani. Pasti Alex menekan anak ini, tebaknya dalam hati.
Alexander Lind memang terkenal berperilaku tegas dan kurang ramah. Ia memiliki standar kerja yang tinggi dan tidak segan memarahi orang yang menurutnya tidak memenuhi ekspetasinya. Serupa sebenarnya dengan karakter Samuel Lind. Akan tetapi, Samuel dapat mengimbangi dengan empati, selain juga karena faktor kematangan, sehingga ia menjadi disegani.
Mary mendekat ke meja Anjani. Ia mengelus bahunya.
"Tenangkan dirimu, Anjani. Memang sikap Alex seperti itu, tidak hanya kepada dirimu saja, kok," hibur Mary. Anjani mengangguk. Sebenarnya ia lebih kesal pada ketidaksiapannya dibanding sikap Alex.
Mary menambahkan, "Lihat lah ini sebagai caranya untuk melatihmu menjadi sekretaris handal, okay?"
"Ya, Mary. Aku harus banyak belajar dengan cepat," jawab Anjani. "Aku tidak apa-apa kok. Aku bisa memahami Alex."
"Ok, bagus jika begitu. Jika kamu membutuhkanku, jangan sungkan memintaku," ujar Mary lembut. Anjani mengangguk sambil tersenyum. Ah, sangat bersyukur ada Mary yang mendukungku.
***
Menjelang jam makan siang, telepon di meja Anjani berdering.
"Ruangan Alexander Lind, saya Anjani, ada yang bisa dibantu?" sambut Anjani begitu mengangkat teleponnya.
"Wah, kamu sudah seperti sekretaris yang bekerja di sini puluhan tahun. Sudah lancar sekali," puji suara pria di seberang sana. Anjani tidak asing lagi dengan suara riang itu.
"Hehehe, terima kasih, Erik," sahut Anjani.
"Nah, paling tidak sekarang kamu tersenyum kan, dari tadi nampaknya mukamu merana sekali," goda Erik.
"Ah, siapa bilang, aku tidak merana, kok," sanggah Anjani sambil tertawa kecil.
"Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Supaya kamu makin ceria, aku akan mentraktirmu makan siang," ajak Erik. "10 menit lagi kita jalan ya."
Anjani bimbang. Sifat submisifnya membuat ia acap kali sulit menolak tawaran orang lain, tetapi murka Alexander menari-nari di kepalanya.
"Terima kasih, Erik, aku sangat menghargai tawaranmu," jawab Anjani. "Tapi aku tidak berani ke mana-mana, khawatir Alex tiba-tiba kembali. Lagi pula aku harus menghafal nama dan jabatan banyak orang."
"Anjani, Alex pergi bersama Taylor -anak buahku, mereka pergi ke daerah Tampa. Kemungkinan baru kembali sekitar jam 3 sore nanti," jelas Erik. "Otakmu butuh refreshing setelah bekerja keras, ayolah..." rayunya dengan lembut.
"A-aku ..." Anjani rambang, tidak berani menolak Erik, tapi juga takut pada Alex.
"Ya sudah begini saja," potong Erik, "kita akan makan di ruanganku. Jadi tidak akan menghabiskan waktu lama. Setuju?"
Anjani tak kuasa membantah. Ia pun menyetujui tawaran Erik.
"Ok, Matt akan memberitahumu jika makanan sudah siap ya. Sampai nanti," pungkas Erik.
Sekitar lima belas menit kemudian, Matthew Lewis, sekretaris Erik menghampiri Anjani. Matthew adalah pria kaukasian yang bergaya sedikit feminin, ramah dan supel.
"Halo, kamu pasti Anjani, kita belum berkenalan, aku Matt," sapa Matthew. "Dari tadi kulihat kamu sangat serius, jadi aku tidak berani mengganggumu."
"Oh, hai, Matt. Senang berkenalan denganmu," sambut Anjani. "Iya, aku minta maaf belum sempat berkeliling untuk berkenalan dengan kalian karena banyak yang harus kupelajari."
"Tidak masalah," jawab Matt tersenyum. "Kami semua tahu bagaimana seorang Alex Lind, kami bisa memahami posisimu." Ia berusaha menunjukkan empatinya terhadap Anjani.
"Oh, Alex baik, kok," bela Anjani. Ia tidak mau turut membuat nama Alexander memburuk. "Aku yang masih baru dan belum banyak tahu."
"Ah, kamu baik sekali, Anjani," puji Matt. "Semoga kamu betah ya bekerja di sini."
"Aku berharap demikian juga, Matt," balas Anjani tersenyum.
"Erik memintamu ke ruangannya sekarang, makan siang sudah siap," ujar Matt.
"Oh, baik, terima kasih, Matt," jawab Anjani. "Aku segera ke sana. Kubereskan sebentar mejaku."
"Ok, aku kembali ke Erik dulu ya," pamit Matt sambil berjalan ke arah ruangan Erik yang berada persis di seberang ruangan Alexander.
Anjani menutup aplikasi yang sedang dipelajarinya dan lantas merapihkan meja. Ia baru menyadari bahwa para sekretaris di ruangan Anförare sudah tidak di tempat, mereka pergi untuk makan siang. Ia berjalan menuju ruangan Erik dan mengetuk pintu yang sudah terbuka. Ia melihat Erik masih di meja kerjanya sedang berbincang dengan Matt yang berdiri di sampingnya.
"Oh, masuklah, Anjani." Erik mempersilakan. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah meja panjang yang biasanya digunakan untuk rapat di ruangannya. "Mari kita makan, Matt sudah memilihkan makan siang yang enak bagi kita."
Anjani menuruti ajakan Erik, mendekat ke meja rapat. Di meja tersebut sudah tersedia dua set makan siang yang nampak asing bagi Anjani.
"Ini makanan mediterania, tepatnya Yunani, namanya Chicken Gyro Platter," jelas Matt, "Erik sudah wanti-wanti kepadaku untuk mencarikan makanan halal bagimu, sehingga ini yang bisa kutemukan sejauh ini. Yang menjual ini restaurant Turki, jadi kuharap ini bisa sesuai. "
"Wah, terima kasih banyak, Matt, kamu baik sekali," sanjung Anjani.
"Hey, kamu tidak berterima kasih kepadaku? Aku yang menyuruhnya loh," rajuk Erik.
"Hahaha, kamu iri ya, bos?" goda Matt. Erik tergelak. "Sama-sama, Anjani. Semoga kamu menyukainya. Aku makan dulu ya."
"Oh, kamu tidak makan bersama kami di sini?" tanya Anjani.
"Tidak boleh sama bos," canda Matt, "dan aku pun tidak mau jadi pengganggu ... hahaha." Matt terbahak sambil berjalan ke luar ruangan. "Selamat makan," ucapnya genit sambil menutup pintu.
"Yuk, makan," ajak Erik. "Nanti dingin jadi kurang enak."
"Terima kasih," sahut Anjani.
Anjani mulai menyentuh makanannya. Chicken Gyro Platter terdiri dari ayam panggang yang disajikan dengan nasi pilaf, salad, roti pita, dan saus tzatziki. Belum pernah ia mencoba menu ini. Ayamnya terasa begitu gurih dan empuk. Nasi pilaf adalah nasi pera terbuat dari beras basmathi yang ditumis menggunakan rempah-rempah dan lemak daging, sehingga menghasilkan aroma yang merangsang saliva. Kombinasi yoghurt dan mentimun pada saus tzatziki menambah kekayaan rasa yang makin menggugah selera.
Hmm ... lezat sekali. Rasanya aku bisa menghabiskan seluruh porsi dengan cepat, batin Anjani. Ia terlalu sibuk menerka rasa dan menikmati makanannya, sehingga tidak menyadari bahwa sedari tadi Erik terus memandanginya.
Di mata Erik, wanita di hadapannya ini nampak berbeda dibanding gadis yang ditemuinya lima belas tahun silam. Ia hanya dapat mengingat Anjani sebagai anak pemalu dan sederhana, gadis Asia culun yang sama sekali tidak meninggalkan memori mengesankan di kepalanya. Namun, Anjani yang sekarang jauh lebih menarik, seperti memiliki magnet untuk didekati dan diselami, tapi juga ada tameng yang dipasang rapat. Ada kesenduan yang berbaur dengan kelembutan, kecemasan yang lebur dalam kepasrahan, sekaligus keanggunan yang berpadu dengan kesederhanaan.
Anjani mendongakkan kepala, ia tertegun melihat Erik yang menatapnya sambil menopangkan tangan kanannya di dagu dan tersenyum samar. Erik sama sekali belum menyentuh makanannya. Mata mereka beradu dan membuat Anjani salah tingkah. Ia tersipu dan segera menundukkan pandangannya.
"Kok, berhenti makannya?" tanya Erik jahil. Ia menurunkan tangan dan mencondongkan badan ke depan. Ia mulai mengambil garpu dan pisau kemudian memilah makanannya.
"So-soalnya aku ternyata makan sendiri," jawab Anjani sekenanya. Ia lebih sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar setelah beradu pandang tadi.
"Ini aku temani, yuk, lanjutkan," ajak Erik sambil tersenyum. Di dalam hati ia memuji dirinya yang mudah membuat wanita berona hanya dengan sedikit tebar pesona.
Anjani mengulum senyum dan hatinya. Ia merasakan sebuah getaran yang tak mampu ia tahan, namun tahu betul kalau itu tak boleh dibiarkan.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja