Share

First Day at Work

Author: Kaia Karnika
last update publish date: 2020-10-12 15:27:57

Ini adalah hari pertama Anjani bekerja, ia tidak ingin terlambat dan membuat masalah dengan Alexander. Setelah sholat subuh, ia menyiapkan seluruh keperluan Dirandra agar tidak merepotkan Anna sepeninggalannya. Selanjutnya ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga Lind.

Jam 7 pagi, Anna keluar dari kamar dan menuju dapur. Bau kopi dan roti bakar tercium dari dapur.

Ah, pasti Anjani sudah menyiapkan sarapan. Sungguh anak yang rajin, gerunyam Anna. Ia tersenyum sambil menghirup aroma kopi yang menggugah semangat.

"Wah, kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan sarapan untuk kami setiap pagi, Anjani. Kamu kan harus bersiap ke kantor," ujar Anna sambil membelai lembut punggung Anjani yang sedang menata meja makan.

"Ah, tidak, Mom. Ini sama sekali tidak repot. Aku senang melakukannya," jawab Anjani sambil tersenyum lebar.

"Kamu akan berangkat bersama Samuel hari ini. Jika sudah waktunya kamu pulang, namun ia belum selesai dengan pekerjaannya, kamu akan pulang bersama sopir. Jangan menunggu, kadang ia harus pulang larut," pesan Anna.

"Baik, Mom. Aku naik bis saja jika pulang," sahut Anjani. "Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan Andra, semoga ia tidak merepotkanmu," lanjutnya.

"Tidak usah khawatir, Charlotte dan Scarlett saja bisa kutangani. Nanti juga ada Benita yang datang membantuku." Anna menenangkan Anjani. Ia tahu betul Anjani pasti merasa segan, namun hal ini sama sekali tidak memberatkannya.

"Terima kasih, Mom," ujar Anjani. "Semoga Andra berperilaku baik."

"Tentu, iya anak yang menyenangkan," balas Anna tersenyum.

"Aku ijin ke kamar untuk bersiap-siap dan memandikan Andra dulu ya, Mom," pamit Anjani, yang dijawab dengan anggukan oleh Anna.

Jam 8, Anjani keluar dari kamar sambil menggendong Dirandra yang sudah segar. Ia turun ke lantai 1 dan melihat Samuel sedang menyantap sarapan di meja makan bersama Anna. Samuel terlihat sudah mengenakan pakaian kerja.

"Wah, Andra sudah cakep, nih," sambut Anna sambil beranjak dari duduknya dan meraih Dirandra. Anjani bersyukur anaknya bukanlah anak yang sulit didekati oleh orang baru.

"Betapa menyenangkan ketika ada anak kecil di rumah ini lagi," ucap Samuel sambil mengelus kepala Dirandra.

"Ya, suasana menjadi ramai dan bau khas anak-anak menyeruak di mana-mana," timpal Anna seraya mendudukkan Dirandra di kursi makan anak. "Saatnya sarapan, bos kecil."

Anjani menyiapkan sarapan untuk Dirandra saat bel berbunyi.

"Biar aku buka, itu mungkin Benita," ujar Samuel. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruang tamu.

Tak lama seorang wanita Latin berusia sekitar 45 tahun bertubuh apel sudah berada di dapur. Rambut coklat tuanya digulung dan senyum lebar terpampang di wajah ramahnya. Benita Diaz adalah asisten rumah tangga keluarga Lind, seorang imigran dari Cuba. Ia telah bekerja di situ selama 5 tahun. Setiap hari ia datang pada pukul 8 pagi dan pulang jam 5 sore.

"Selamat pagi!" sapa Benita ceria. "Apa kabar?"

"Pagi, kabar baik, Benita. Ini Anjani yang tempo hari kuceritakan," jawab Anna. "Benita...Anjani...Anjani...Benita." Ia memperkenalkan mereka berdua.

Anjani berjabat tangan dengan Benita.

"Senang bertemu denganmu, Anjani. Anna selalu berbunga-bunga setiap kali menceritakan tentang rencana kedatanganmu," sahut Benita.

"Senang bertemu denganmu juga, Benita," balas Anjani. "Ini anakku Andra." Ia memegang bahu Dirandra yang sedang menyendokkan sarapan bubur ke mulutnya. Dalam hati Anjani bersyukur telah membiasakan anaknya sarapan sendiri sejak di Indonesia, meski masih belepotan. Kebiasaan ini sejalan dengan pola asuh orang tua di Amerika yang mengajarkan kemandirian kepada anak-anaknya sedini mungkin.

Benita menundukkan badannya di samping Dirandra sambil berkata dengan nada yang dibuat seperti suara anak kecil, "Tuhanku, anak ini tampan sekali. Senang bertemu denganmu, sobat kecil. Kita akan bersenang-senang sepanjang hari, yeeaaayyy," Ia menggenggam lengan anak itu dengan gemas.

Tawa pun berderai.

Tak lama terdengar suara langkah Samuel menuruni tangga. Ia telah membawa tas kerjanya.

"Okay, saatnya berangkat, Anjani," ajak Samuel. "Aku pergi dulu, hon," pamitnya kepada Anna.

Anna merapihkan dasi maroon suaminya, yang kemudian dibalas oleh Samuel dengan kecupan di bibirnya.

Anjani tersenyum melihatnya, sejak dulu ia sungguh kagum dengan keharmonisan antara Samuel dan Anna. Ia kemudian mendaratkan ciuman kepada Dirandra. Ah, ini kali pertama Andra kutinggal lama, semoga tidak rewel, harapnya dalam hati.

"Aku pergi dulu, Mom, Benita," pamit Anjani.

"Semoga harimu menyenangkan, Anjani," sahut Benita.

"Ya, semoga kamu menyukai pekerjaanmu," ujar Anna.

"Terima kasih." Anjani tersenyum lebar sambil setengah berlari untuk mengimbangi langkah panjang Samuel.

***

Di dalam Chrysler 300 hitam milik Samuel, Anjani mengamati pemandangan sepanjang jalan Beach Drive NE menuju pusat kota. Pohon palem mencuar di sepanjang jalan. Rumah, resto, dan kondominium mewarnai area tersebut.

"Wah, meski ada perubahan, namun banyak hal yang masih kuingat dari kota ini, Dad," ujar Anjani.

"Ya, St. Pete berkembang dengan luar biasa. Pembangunan di mana-mana, tidak hanya terfokus di pusat kota. Lapangan pekerjaan meningkat dan tingkat kemiskinan menurun," papar Samuel. "St. Pete berkembang namun terkendali, sehingga masih dapat kita nikmati. Prospek bisnis sangat baik ke depannya di sini."

"Wow, senang mendengarnya," sahut Anjani.

"Kuharap kamu betah tinggal di kota cantik ini, Anjani," ucap James. James Jackson adalah pengemudi keluarga Lind selama sepuluh tahun terakhir. Ia seorang African American berusia 50 tahun, berperangai ramah dan humoris.

"Kuharap begitu, James," jawab Anjani tersenyum. Ia titipkan asa dalam kalimatnya.

Mobil hitam itu berbelok dari Beach Drive NE ke 7th Ave NE, dan kemudian beralih ke 4th St N.

"Nah, itu LuNet di depan sana," tunjuk James. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah gedung kaca bergaya modern 10 lantai di jalan 1st Ave S bertuliskan Luminous Building.

Ini adalah kali pertama Anjani mengunjungi Luminous Building. Sewaktu tinggal bersama keluarga Lind lima belas tahun silam, ia belum pernah sekali pun mendatangi kantor Samuel.

"Mari, Anjani, kita sudah tiba," ajak Samuel begitu James menghentikan mobilnya di depan pintu lobby Luminous Building. "Terima kasih, James."

"Semoga harimu menyenangkan, Sam," ujar James. "Kamu senang, aku pun senang." Ia tergelak.

"Kamu juga, jangan terlalu banyak menggoda wanita ya," canda Samuel. Interaksi antara Samuel dengan James lebih terlihat seperti teman, bukan seperti majikan dan sopir. Keluarga Lind memang memperlakukan orang-orang yang bekerja dengan mereka secara sejajar.

"Kau juga, Anjani, semoga hari pertamamu mengesankan," ucap James.

"Ah, terima kasih, James. Kamu juga," balas Anjani.

Anjani dan Samuel memasuki lobby gedung yang didisain dengan apik oleh arsitek ternama Amerika, Gensler. Lobby tersebut didominasi oleh warna coklat dan orange, terkesan hangat sekaligus menggugah antusiasme. Samuel memasuki salah satu lift diikuti oleh Anjani, dan memencet tombol 3. Di dalam lift, ia menyapa orang-orang yang ditemuinya, kadang hanya dengan anggukan dan senyum tipis. Wibawa Samuel sangat terlihat dari caranya berjalan dan berbicara yang sangat khas. Ia berusaha menghargai semua orang yang ditemui, tidak dibuat-buat, juga tidak berlebihan, sehingga terlihat begitu bersahaja.

Mereka sampai di lantai 3. Sayap kiri adalah ruang untuk para pemimpin puncak LuNet, sedangkan sayap kanan terdiri dari beberapa ruang rapat eksekutif. Samuel berjalan ke sayap kiri yang bertuliskan Anförare, berarti pemimpin dalam Bahasa Swedia.

Area Anförare terdiri dari 6 ruangan berderet berbentuk huruf U, dengan meja sekretaris di depan tiap ruangan yang didisain dengan sangat elegan. Di tiap sisi, kiri-tengah-kanan, terdapat dua ruangan. Dua ruangan di sebelah kiri adalah ruang Chief Finance Officer (CFO) yang bersebelahan dengan ruang Chief Product & Technology Officer (CPTO). Posisi di tengah adalah ruangan Chief Executive Officer  (CEO) dan Chief Operating Officer (COO). Di sisi kanan, berseberangan dengan ruangan CFO dan CPTO terdapat ruang Chief Marketing Officer  (CMO) yang berdampingan dengan ruang Chief Human Resources Officer (CHRO).

"Pagi, Mary," sapa Samuel pada seorang wanita African American bertubuh gemuk dan memakai turban. Ia adalah Mary Jones, sekretaris Samuel. Bekerja di LuNet sejak perusahaan itu didirikan membuatnya sudah seperti anggota keluarga Lind. Anjani pernah bertemu sekali dengannya saat Mary bersama suaminya makan malam di rumah kediaman Lind lima belas tahun silam.

"Pagi, Sam," jawab Mary sambil bangkit dari duduknya. Meski berbadan besar, namun ia cukup gesit.

"Kamu masih ingat dengan Anjani, Mary?" Samuel merangkul pundak Anjani.

"Lihat dirimu, Anjani. Aku hampir tidak mengenalimu. Senang bertemu denganmu kembali!" seru Mary sambil memeluk Anjani.

"Halo, Mary. Senang bertemu denganmu lagi. Kamu tidak terlihat lebih tua sejak pertemuan terakhir kita," puji Anjani seraya membalas pelukan Mary. Badan kecilnya nyaris terangkat.

"Tolong kamu bantu urus semua keperluan Anjani, Mary," pinta Samuel.

"Baik, Sam," jawab Mary. "Oh jangan lupa 15 menit lagi ada rapat dengan Jack," tambahnya yang dibalas anggukan oleh Samuel.

"Kutinggal kamu dengan Mary ya, Anjani," ujar Samuel. "Selamat bergabung." Ia tersenyum sambil mendorong pintu ruangan kerjanya.

"Terima kasih, Dad," balas Anjani.

"Anjani, ini welcoming kit-mu." Mary menyodorkan sebuah kotak berwarna orange hitam bertuliskan "Welcome Aboard" dan logo Luminous Network.

Anjani membukanya dan menemukan kartu identitas karyawan, kartu nama, tablet berukuran 8 inch, usb, alat tulis, tumbler bertuliskan namanya, dan pouch kulit elegan. Semua perangkat tersebut dilengkapi dengan logo LuNet. Selain itu terdapat juga sebuah kartu kecil bertuliskan "Enjoy your new chapter with us"  yang ditandatangani oleh seluruh jajaran chief LuNet.

Wow, sungguh impresif. Anjani berdecak kagum dengan cara manajemen LuNet menyambut karyawan baru. Hal sederhana yang membuatnya merasa dihargai sebagai bagian dari perusahaan.

"Informasi mengenai peraturan perusahaan, data umum karyawan, hingga semua jadwal terkini Alex sudah ada di tablet itu," jelas Mary. "Nanti Billy dari bagian Sumber Daya Manusia akan ke sini untuk memindai jarimu sebagai akses masuk berbagai ruangan," tambahnya. Ia tersenyum melihat Anjani yang masih terpana dengan cara manajemen membuat karyawan baru terkesan.

"Oh...baik...baik, Mary, maaf," ucap Anjani tersipu menyadari kalau Mary memerhatikannya sikapnya yang bak anak kecil mendapat mainan baru.

"Pagi semuanya!" Sapa seorang pria yang memasuki ruang Anförare. "Ehm ... coba liat ada siapa ini," goda Erik sambil tersenyum lebar. Ia mengenakan setelan jas dan celana panjang berwana biru tua, kemeja biru laut dan dasi biru tua dengan motif klasik garis biru muda. Tas kulit klasik Frye Logan messenger diselempangkan di badan tegapnya, senada dengan sepatu oxford-nya yang berwarna cognac. Penampilannya yang terlihat profesional dan stylish memperkuat karakter easy going dan jenaka pada Erik.

Ia berjalan ke meja Anjani dengan segelas americano di tangannya.  Bau kopi menyeruak disertai aroma perpaduan daun birch, akar nilam, dan nuansa kayu dari tubuh Erik.

"Oh ... hai, Erik," balas Anjani turut mengembangkan senyumnya.

"Mary, kamu jangan terlalu galak kepada Anjani ya," kelakar Erik sambil merangkul Mary.

"Hey, aku hanya galak pada anak nakal seperti kamu saja," balas Mary sambil mencubit Erik dan terbahak. "Kamu yang justru harus kuperingati, jangan mengganggu Anjani."

"Ow ... sakit sekali, Mary," gerutu Erik sambil mengusap-usap lengan bekas cubitan Mary yang sama sekali tidak terasa sakit.

Anjani tergelak melihat polah kedua orang tersebut. Hubungan antara Mary dan Erik layaknya ibu dan anak. Ia merasakan kehangatan menghinggapi hatinya menyaksikan berbagai interaksi akrab pagi ini. Semoga ini adalah permulaan yang baik, harap Anjani.

Erik lalu mendekatkan mukanya ke telinga Anjani. "Semoga harimu menyenangkan, nanti kita makan siang bersama jika kamu sempat. Mudah-mudahan Alex tidak terlalu membebani hari pertamamu," bisiknya lirih. Ia menghirup wangi vanilla dari tubuh Anjani. Bukan parfum mahal, tapi tidak norak. Wanita ini sungguh sederhana, batin Erik.

Ia menatap wajah Anjani yang dipoles make up tipis. Tidak terlalu banyak kosmetik yang menghiasi, hanya bedak, goresan pensil alis samar-samar untuk mempertebal alisnya yang sudah laksana semut beriring, dan lipstik warna nude. Natural, tidak seperti kebanyakan karyawan wanita seusianya di kantor itu.

Anjani terkesiap, tak menyangka posisi Erik akan sebegitu dekat dengan wajahnya hingga aroma parfum Erik terasa menempel di hidung. Ia berona begitu menyadari Erik memandang lekat. Dadanya sejenak berdesir yang dengan cepat ia usir. Jangan konyol, Anjani!  makinya dalam hati.

Erik tersenyum melihat Anjani yang tersipu. Ia tahu betul bagaimana mengambil hati seorang wanita.

"Tuh, lihat, baru hari pertama dia bekerja saja, kamu sudah berulah, kan!" seru Mary sambil berkacak pinggang.

Erik membalasnya dengan mendaratkan kecupan di pipi Mary sambil tersenyum lebar. Mary tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ok, aku ke ruangan dulu, sampai nanti, Anjani," pamit Erik sambil mengedipkan mata ke arah Anjani dan menebarkan senyum khas yang tak pernah lepas dari wajahnya. Senyum yang melekat di relung memori Anjani dan mampu menggetarkan jiwanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status