LOGINPukul 6 sore, pintu kamar Anjani diketuk. Ia setengah berlari menuju pintu. Di depan pintu, Anna sudah berdiri dengan senyum lebarnya.
"Anjani, kita akan makan malam sebentar lagi. Bersiaplah, semoga kamu tidak terlalu lelah," ucap Anna.
"Oh, tentu tidak, Mom. Aku sudah mandi dan Andra sedang tidur. Aku akan segera turun dan membantu menyiapkan makan malam," jawab Anjani.
"Tidak usah. Olivia sudah kembali lagi. Ia sudah membantuku. Kamu jaga Andra saja. Nanti kuberi tahu jika sudah siap," sahut Anna lembut. "Oh, Alex dan Erik akan datang untuk makan malam bersama," imbuhnya
"Baik, Mom." Anjani tak mau berdebat dengannya. Ia pun menutup pintu dan kembali ke kamarnya begitu Anna membalikkan tubuhnya.
Anjani melihat Dirandra yang tertidur begitu lelap. Ah, malaikat kecilku, kau pasti lelah sekali. Ia membelai anaknya dan membenahi posisi selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mengucir rambutnya dan segera keluar dari kamar untuk membantu Anna dan Olivia menyiapkan makan malam.
"Apa yang bisa kubantu, Mom?" tanya Anjani sambil berjalan mendekati dapur.
"Ah, sudah kubilang tidak perlu, kamu pasti masih lelah," ujar Anna sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya, seolah-olah marah pada Anjani karena tidak menuruti ucapannya untuk beristirahat dan menemani anaknya.
Olivia yang sedang menaruh daging iga di piring besar tertawa. "Mom, kamu seperti tidak ingat Anjani yang tidak bisa diam deh," godanya. Tawa Anna pun berderai.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
"Aku saja yang membuka pintu," ucap Jay yang sedang merapihkan piring di meja makan.
"Biar aku saja, Jay." Anjani menawarkan diri untuk membuka pintu begitu melihat Jay masih memegang setumpuk piring. Ia pun bergegas menuju pintu depan.
Begitu Anjani membuka pintu, ia melihat seorang pria berbadan tinggi dan tegap dengan rambut bergelombang coklat tua keemasan yang tersisir dengan rapih. Mata birunya tetap terlihat jelas meski ia menggunakan kacamata berbingkai tebal.
"Halo, Anjani," ujar pria tersebut sambil tersenyum lebar. Ia menatap lekat Anjani di hadapannya. Perempuan ini jauh terlihat lebih matang dari gadis yang ditemuinya lima belas tahun silam. Namun, tubuh kecil, hidung pipih, mata besar, dan kulit sawo matang - yang memberi kesan eksotis, khas perempuan Austronesia tetap tak berubah.
"Erik?" Anjani berkata lirih sambil mengerutkan dahi. Ia ragu karena pria di hadapannya berpenampilan agak berbeda dengan sosok yang diingatnya. Erik berusia 3 tahun lebih tua darinya. Saat ia tinggal di rumah keluarga Lind, Erik sedang berkuliah di California, sehingga mereka hanya bertemu saat liburan Thanksgiving, natal, dan tahun baru. Anjani tidak lupa sifatnya yang humoris dan ramah. Namun, penampilan laki-laki ini sudah jauh berbeda, lebih apik dan maskulin.
"Wah, kamu masih mengenaliku, apa kabarmu?" Erik membungkukkan badannya untuk memeluk perempuan mungil di hadapannya. Anjani terpaksa berjinjit agar dapat membalas pelukan Erik. Meski kikuk, ia menyadari bahwa memeluk orang yang pernah dikenal walau berbeda jenis kelamin adalah hal biasa bagi orang di Amerika.
Anjani menghirup aroma yang menguar dari tubuh Erik, perpaduan daun birch, akar nilam, dan nuansa kayu. Hmm... wanginya menyegarkan, batinnya sambil memejamkan mata.
"Baik, bagaimana denganmu?" jawab Anjani sambil melonggarkan pelukannya. "Yuk, masuk."
"Kabarku baik sekali. Aku senang kamu datang kembali ke sini," sahut Erik sambil melangkah masuk.
"Oh, kau rupanya," ucap Anna begitu melihat anak laki-lakinya. "Masih ingat kan dengan Anjani?" lanjutnya.
"Tentu, Mom, namun sepertinya Anjani yang melupakanku," goda Erik sambil tersenyum jahil dan mengerling ke arah Anjani.
Ah ya, aku ingat senyum jenaka itu. Anjani menggerunyam. "Soalnya Erik berubah sekali, aku pasti tidak mengenalinya jika bertemu di tempat lain," balasnya cepat sambil memandang Erik.
Erik tergelak sambil berkata, "Terlihat lebih tua ya?"
Sikap Erik masih sama, senang bicara dan menggoda orang-orang di sekelilingnya. Suasana menjadi ceria bila laki-laki itu hadir.
"Wah, sudah berkumpul semua?" tanya Samuel yang baru masuk dari teras belakang bersama dua anak perempuan berusia sekitar 3 tahun berwajah serupa. Mereka adalah anak kembar Olivia dan Jay.
"Belum, Dad, Alex belum datang," jawab Olivia sambil menggapai tangan kedua gadis kecil itu. "Sini kalian harus bertemu dengan Auntie Anjani," ujarnya.
"Halo, Auntie," sapa keduanya serempak, "senang bertemu denganmu."
"Halo, senang bertemu dengan kalian," balas Anjani sambil berlutut di depan mereka berdua. "Tapi aku tidak bisa membedakan, mana Charlotte dan Scarlett."
Kedua anak kembar identik itu terkekeh, tampaknya mereka senang jika ada orang yang tidak dapat membedakan mereka berdua.
"Yang ini Charlotte," ucap Olivia sambil menunjukkan ke anak perempuan yang berbaju biru, "dan ini Scarlett," lanjutnya sambil menunjuk anak yang mengenakan kaos ungu.
"Aku pun sering tidak bisa membedakan, karena mereka sama-sama cantik," sela Erik sambil berupaya membopong kedua keponakannya dan menciumi mereka.
Si kembar menyambut tawaran Erik untuk menggendong mereka sambil menyapa, "Halo, Uncle Erik."
"Mari semua kita mulai makan malam," ajak Anna sambil berjalan ke ruang makan besar.
Ruang makan besar terletak di antara ruang tamu dan dapur, namun menjorok ke arah halaman belakang. Akses masuk ke ruang makan besar dapat melalui ruang tamu dan dapur. Ruang ini dikelilingi oleh pintu kaca dan jendela, sehingga dapat leluasa memandang kebun yang ditumbuhi bunga lily dan magnolia, serta kolam renang. Ruang makan ini hanya diisi ketika seluruh keluarga besar Lind berkumpul untuk makan bersama. Sehari-hari, Samuel dan Anna hanya makan di meja makan kecil yang terletak di area dapur.
Samuel duduk di sisi ujung kanan meja makan yang terbuat dari kayu oak berseberangan dengan posisi istrinya. Olivia duduk di sebelah kanan ayahnya. Jay duduk di sisi yang sama, dekat dengan Anna. Di antara Olivia dan Jay duduk si kembar. Kursi di sebelah kiri Samuel masih kosong. Tampaknya itu diperuntukkan untuk Alexander. Erik mengambil posisi duduk di sebelah kursi kosong tersebut. Sebelum duduk, ia menarik kursi di kirinya dan mempersilahkan Anjani untuk duduk di situ. Anjani pun duduk, berdekatan dengan Anna.
"Mana Alex, apakah kau sudah memberitahunya?" tanya Samuel kepada istrinya.
"Sudah, tapi kau tahu kan bagaimana Alex," dengus Anna.
Baru saja Anna menyelesaikan kalimatnya, bel rumah berbunyi.
"Ah, itu pasti dia. Biar aku yang membukanya," ujar Jay yang dengan cekatan bangun dari duduknya.
"Untung saja ia cepat datang. Aku sudah lapar sekali," kata Erik sambil meringis memegang perutnya.
"Maaf...." Suara berat terdengar dari arah belakang Anjani. Ia menoleh dan melihat seorang pria berpostur jangkung berjalan ke arah meja makan, Alexander Lind. Ia lebih tinggi dari semua laki-laki di keluarga Lind.
Darah Swedia yang mengalir di keluarga Lind menyumbang postur tubuh yang melebihi rata-rata orang Amerika. Samuel dan Erik memiliki tinggi yang kurang lebih sama, sekitar 190 cm, sedangkan Alexander 195 cm. Olivia dan Jay memiliki tinggi setara sekitar 180 cm. Anna yang berdarah Amerika, sedikit lebih pendek dari mereka, sekitar 175 cm. Anjani dengan tubuh hanya 157 cm merasa dirinya seperti kurcaci di ruangan itu.
"Ok, semua sudah berkumpul. Sebelum kita mulai makan, aku mengucapkan selamat datang kembali kepada Anjani dan anaknya. Kami adalah keluargamu, sama seperti dulu. Kami akan membantumu untuk memulai hidup di St. Pete." Suara serak Samuel memulai percakapan.
Samuel Lind memiliki garis muka yang sangat keras, bak pejuang Viking. Sekilas wajahnya tampak dingin dan tidak terlalu ramah. Ia sangat tegas dalam bersikap, seringkali ucapannya tidak dapat dibantah oleh anggota keluarga lainnya. Namun sebenarnya, ia mempunyai hati yang lembut, serta penuh kasih sayang. Itu juga yang menjadi salah satu kunci sukses LuNet, kepemimpinannya yang tegas, namun penuh empati.
Semua orang di meja itu menatap Anjani dan tersenyum, kecuali Alexander yang tetap menatap ke meja di depannya.
"Terima kasih, Daddy dan semuanya. Aku merasa bersyukur memiliki kalian semua dan senang bisa berada di sini kembali," balas Anjani terharu.
"Baiklah, mari kita mulai makan malam sebelum dingin," ajak Anna.
"Semua halal, Anjani, jadi kamu harus makan yang banyak," tambah Olivia sambil tersenyum. Meski beragama Kristen, namun keluarga Lind sangat memahami apa yang tidak diperbolehkan dalam agama Islam yang dianut Anjani.
Anjani mengangguk sambil menjawab, "Wah, tentu saja, Liv."
Mereka pun mulai menyantap makanan sambil berbincang-bincang. Pembicaraan seputar perubahan yang telah terjadi di St. Pete, atau tentang si kembar dan Dirandra. Keluarga Lind cukup berempati dengan tidak menanyakan mengenai permasalahan Anjani.
Sambil menikmati makanan penutup, Erik bertanya kepada Anjani, "Jadi, kapan kamu mulai bekerja?"
"Mu-mungkin ...." Anjani mencoba menghitung berapa lama dia perlu waktu.
"Anjani perlu istirahat dulu, dia pasti jet lag. Biarkan dia menyesuaikan diri kembali dengan keadaan di sini," potong Anna.
"Berapa lama kamu butuh istirahat?" tanya Alexander dengan nada tegas. Sejak datang, baru kali ini ia bertanya kepada Anjani, tanpa menoleh - tetap memandang lurus ke makanannya. "Aku perlu tahu, karena kamu akan bekerja di bawahku," sambungnya.
Apa? Aku akan bekerja di bawah Alex? Bukankah dia adalah CPTO, sedangkan aku tidak punya pengalaman apapun di bidang itu? Seingatku, sebelumnya diinformasikan akan bekerja sebagai Staf di bagian Sumber Daya Manusia. Bagaimana jika nanti mengecewakan mereka? Anjani gelisah.
Samuel menangkap bahasa tubuh Anjani yang menggambarkan kebingungan, ia menjelaskan, "Maaf, aku lupa menginformasikan bahwa ada perubahan terkait penempatanmu. Semula engkau akan ditempatkan di SDM, sesuai dengan yang tercantum di curriculum vitae-mu. Akan tetapi, sekretaris Alex mendadak sakit dan tampaknya membutuhkan waktu pemulihan cukup lama, sehingga solusi cepatnya adalah memindahkanmu ke sana. Semoga kamu tidak keberatan."
Anjani mengangguk. "Tentu tidak, Dad," jawabnya cepat. Ia tidak mungkin menolak. Keluarga Lind sudah begitu baik menolongnya, tak mungkin ia merengek minta pekerjaan yang dimaunya saja.
"Jadi, berapa lama?" tanya Alexander tidak sabar. Nada suaranya jauh dari ramah.
"Jangan terlalu cepat lah, Alex. Tidak semua orang gila kerja sepertimu," sahut Olivia sambil menyeringai.
"Berilah waktu sekitar seminggu, Alex," rayu Anna.
"Apa? Lama sekali. Pekerjaan tidak bisa menunggu selama itu, Mom!" protes Alexander. Ia sebenarnya tidak menyukai rencana ini. Ayahnya menerima Anjani bekerja di LuNet, itu bukan urusannya. Meski pada dasarnya ia tidak suka dengan metode penerimaan karyawan yang tidak profesional, ia tidak mau berdebat dengan ayahnya. Namun, karena tiba-tiba diputuskan Anjani menjadi sekretarisnya tanpa menanyakan persetujuannya, itu sangat membuatnya kesal.
"Bagaimana aku mengatur pekerjaanku jika tidak ada sekretaris. Jadwalku sudah kacau beberapa minggu ini!" Alex menggerutu.
"Ya sudah. Engkau pakai saja sekretarisku, dan Anjani untukku," seloroh Erik sambil mengedipkan mata ke arah Anjani.
Anjani tersipu mendengar canda Erik. Dalam hati, ia berharap Alexander menyetujui pertukaran itu. Ia merasa lebih nyaman bersama Erik dibanding Alex. Sejak kedatangannya belum terlihat senyum bertengger di wajah Alex, dan itu membuat Anjani merasa sedikit takut.
"Ah, aku tidak suka dengan sekretarismu yang terlalu banyak bergosip itu." Alexander menolak ketus.
"Ba-bagaimana jika lusa, hari Selasa?" Anjani nekat memberi usul. Ia tidak ingin memulai hubungan kerja dengan konflik. "Besok aku terlebih dahulu mencari day care untuk menitipkan anakku."
"Oh, kamu tidak perlu repot mencari day care, Anjani. Untuk sementara, kamu tinggal di sini dulu, dan Andra biar aku yang jaga," kata Anna sambil memegang punggung tangan Anjani.
"Berikan dia waktu tiga hari, Alex!" perintah Samuel dengan nada tegas. Semua tahu makna nada itu adalah tidak ada tawar menawar.
Alexander menarik napas panjang. Ia tidak setuju dengan usul ayahnya. Menurutnya satu hari sudah cukup untuk menyesuaikan diri dan beristirahat. Namun, ia malas mengadu urat leher.
"Baiklah, tiga hari. Kamis, ya. Tidak lebih dari itu!" tegas Alexander.
"Baik, Alex," jawab Anjani cepat. Ah, aku harus profesional. Tidak boleh terkesan memanfaatkan hubungan keluarga dalam bekerja. Batinnya menyakinkan diri.
"Anjani, saat ini kamu tinggal di sini. Jangan mencari apartemen dulu. Beradaptasilah. Take your time. Pikirkan anakmu," pinta Anna. "Nanti jika kamu sudah merasa nyaman, barulah mencari apartemen dekat kantor."
"Aku ... aku ...." Anjani tergagap. Ia merasa sungkan dengan kebaikan yang begitu besar dari keluarga Lind.
"Tidak usah merasa rikuh," tandas Samuel seperti memahami isi hati Anjani. "Kami adalah keluargamu, ingat itu." Samuel tersenyum menenangkan.
Anjani menganggukkan kepalanya sambil berkata lirih, "Terima kasih."
Ia menghela napas. Ia merasa bersyukur atas segala bantuan yang diberikan oleh keluarga Lind, tapi di waktu yang bersamaan menyadari bahwa tampaknya bekerja sebagai sekretaris Alexander bukan hal mudah. Namun, tak ada pilihan lain. Ia pun tak mau dianggap tidak tahu diri. Bismillah, semoga Kau lancarkan ya, Allah, doanya dalam hati menguatkan diri.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja