LOGINSetelah 34 jam penerbangan dengan dua kali transit yang melelahkan, akhirnya Anjani dan Dirandra sampai di Tampa International Airport, Florida, Amerika Serikat. Ini adalah kali kedua ia menjejakkan kaki di sini. Bandara Tampa terlihat jauh lebih modern dibanding lima belas tahun silam.
Sewaktu SMA, Anjani pernah tinggal selama satu tahun di kota St. Petersburg, Florida, mengikuti program pertukaran pelajar. St. Petersburg atau biasa disebut St. Pete, adalah kota di pantai Teluk Tampa. Kota ini dikenal dengan cuacanya yang menyenangkan, sehingga dijuluki Sunshine City.
Hal pertama yang dilakukannya setelah keluar dari imigrasi adalah menginformasikan kedatangannya kepada Fida dan Olivia. Ia tidak ingin Fida cemas menunggu kabar, meski saat ini mungkin dokter itu sedang tertidur lelap. Ia tak mau meresahkan orang yang membantunya keluar dari nestapa.
Anjani melangkah ke luar dari pintu terminal kedatangan sambil menggeret dua koper besarnya. Dirandra bergelayut tenang di dalam kain gendongan. Ah, Minggu yang cerah, semoga kehidupanku membaik di sini. Ya Allah, semoga Engkau meridhoi langkahku ini. Doanya dalam hati.
Sekonyong-konyong, seorang wanita berambut copper langsung menabrak dan memeluknya erat. Ia adalah Olivia Lind, anak bungsu Keluarga Lind, salah satu host parent-nya dulu di St. Pete.
"Anjani, aku rindu sekali. Senang bisa bertemu kembali denganmu!" seru Olivia Lind.
Tatkala Anjani tinggal bersama keluarga Lind, Olivia adalah sahabat kecilnya. Umur mereka terpaut 3 tahun, namun mereka membagi seluruh cerita layaknya sebaya.
"Liv, kamu cantik sekali. Aku hampir tak mengenalimu," puji Anjani.
Mata biru Olivia berbinar. "Ah, kamu pun terlihat lebih memesona," balas Olivia.
"Hey, ini pasti Di ... ah, sulit sekali namanya, Anjani." Olivia mencium kepala Dirandra.
"Panggil saja Andra, lebih mudah bukan?" Anjani tersenyum melihat Dirandra yang baru bangun dari tidur tampak senang kepalanya diciumi oleh Olivia.
"Ah, ya, lebih mudah. Oh, ini Jay, suamiku." Olivia memegang tangan seorang pria kaukasia berbadan tinggi dan tegap di sebelahnya. Jay bermata hijau dengan rambut side-part coklat tua.
"Anjani ... Jay ... Jay ... Anjani." Olivia mempersilahkan Anjani dan Jay berkenalan.
"Halo, senang bertemu denganmu. Selamat datang kembali di Florida," sambut Jay sambil mengulurkan tangannya. Ia tersenyum ramah.
"Terima kasih. Senang bertemu denganmu juga, Jay," balas Anjani.
"Mari kubantu membawakan koper-kopermu." Jay dengan cekatan menarik koper-koper Anjani tanpa menunggu persetujuan Anjani.
"Wah, terima kasih. Semoga tidak terlalu berat untukmu," sahut Anjani.
"Ah, tentu tidak untuk Jay," -Olivia menggandeng tangan Anjani- "mari segera ke mobil. Mommy dan Daddy sudah menunggumu di rumah," ujarnya.
***
Setelah 25 menit menempuh perjalanan dari bandara, mereka pun akhirnya sampai di kediaman keluarga Lind yang terletak di daerah pemukiman elit Beach Drive Northeast. Lokasinya tidak jauh dari pantai dan sekitar 8 menit berkendara ke pusat kota St. Petersburg. Rumah tersebut bergaya Italianate-Craftsman dengan dominasi warna tangle wood dan putih, memberi kesan damai dan tentram. Bangunan itu memanjang ke samping dikelilingi dengan halaman yang hijau dan teduh. Tempat kesukaan Anjani adalah halaman belakang yang luas dilengkapi dengan kolam renang dan area barbeque. Dulu, ia sering menikmati senja di sana bersama Olivia sambil bercerita tentang hari-hari mereka.
Sewaktu mengikuti pertukaran pelajar, Anjani seharusnya tinggal bersama 3 host parent. Keluarga Lind adalah host parent pertama. Host parent kedua mendadak tidak dapat menampung karena mengalami musibah, sehingga Anjani pun harus tetap tinggal di rumah keluarga Lind. Anjani sama sekali tidak keberatan saat itu karena ia sangat betah bersama mereka. Host parent ketiga, keluarga Jones, juga sangat baik padanya. Namun, saat ini keluarga Jones menetap di Oklahoma.
"Anjaniiii ...." Seorang wanita berambut pendek berwarna pirang dengan tubuh yang agak gempal ke luar dari rumah menuju mobil yang baru saja parkir di halaman rumah. Ia berlari ke arah Anjani sambil membuka tangan siap memeluknya. Ia adalah Anna Lind. Seorang wanita Amerika dengan muka yang tak pernah lepas dari senyum.
"Mommy!" teriak Anjani kegirangan. Ia merentangkan tangannya menyambut Anna. Mereka berpelukan melepas rindu.
"Tuhanku, sudah berapa lama kita tak berjumpa. Kamu makin terlihat menawan." Anna memuji Anjani sambil menyibakkan rambut Anjani. "Dan ... ini pasti jagoan kecil kita, boleh kugendong?" pintanya sambil meraih Dirandra.
"Tentu, Mom. Silakan," ujar Anjani sambil menyerahkan Dirandra ke pelukan Anna.
"Ayo masuk, Daddy sudah menantimu." Anna memajukan dagunya ke arah ke pintu masuk besar, menunjukkan keberadaan Samuel, suaminya. Di depan pintu yang ditunjuk oleh Anna, berdiri Samuel Lind, seorang pria berdarah Swedia dengan postur tinggi besar. Ia masih terlihat sangat gagah di usianya yang mendekati 70.
"Halo, Dad." Anjani mengulurkan tangannya. Samuel menjabat tangan Anjani lalu menarik ke pelukannya. Badan mungil Anjani sampai terangkat saking eratnya pelukan Samuel.
"Apa kabar, Anjani?" tanya Samuel dengan suara seraknya sambil melepas pelukan.
"Tidak pernah sebaik ini. Kamu tampak sangat bugar, Dad." Anjani mengelus lembut lengan Samuel.
"Well, Anna tidak pernah berhenti memaksaku berolahraga," jawab Samuel sambil tersenyum dan mengerling ke arah istrinya. "Ayo, kamu dan anakmu pasti lelah," sambungnya sambil mendorong pintu dan mempersilahkan Anjani masuk.
Anjani menarik nafas begitu memasuki rumah kediaman keluarga Lind. Aroma lemongrass berpadu dengan chamomile menyeruak. Hmmm, wangi rumah ini masih sama seperti lima belas tahun yang lalu, gumamnya dalam hati. Berjuta kenangan indah di rumah itu membangkitkan senyum di wajahnya.
"Aku sudah menyiapkan minuman lemonade kesukaanmu, Anjani," ujar Anna.
"Mom, kamu masih ingat minuman favoritku?" Anjani tersenyum lebar.
"Tentu, mana mungkin kulupa, duduklah di sini." Anna menarik lembut tangan Anjani untuk duduk di ruang tamu mereka yang sangat luas. Ruang tersebut semakin terasa lapang karena adanya jendela besar di kedua sisinya, sehingga cahaya matahari bebas menyinarinya. Anjani duduk di sofa berwarna putih menghadap jendela, memandang teras bagian belakang yang merupakan tempat kegemarannya.
"Rumah ini tetap indah seperti dulu, bahkan lebih indah dari yang kuingat, Mom," ucap Anjani kagum sambil matanya memandang sekeliling ruangan. Interior rumah bergaya transisional itu begitu memukau dan terawat apik.
"Terima kasih. Namun, rumah ini terasa sepi karena hanya tinggal aku dan Samuel di sini," sahut Anna.
"Hanya ramai jika anak-anak Olivia datang bermain ke sini," tambah Samuel.
"Aku senang sekali kamu bersedia ke sini, Anjani," ujar Anna sambil menyodorkan lemonade untuk Anjani. Ia kemudian duduk memangku Dirandra. Di mata Anna dan Samuel, Anjani adalah sosok dengan kepribadian yang menyenangkan, sehingga mereka memersuasinya untuk tinggal di St. Pete agar terhindar dari ancaman Arya.
"Semoga aku dan Andra tidak merepotkan kalian," ucap Anjani sambil meminum lemonade buatan Anna yang terasa begitu menyegarkan kerongkongannya.
"Tentu tidak," jawab Samuel cepat. Anna turut menggangguk.
"Jangan pikirkan hal semacam itu!" tegas Anna. "Kamu adalah bagian dari keluarga ini."
"Koper-kopermu sudah ada di kamarmu, Anjani," -Olivia duduk di sebelah kanan Anjani- "Mommy menyiapkan bekas kamar Alex untukmu di lantai 2, agar cukup bagi kalian berdua," lanjut Olivia.
"Apakah itu tidak apa-apa, Mom?" tanya Anjani kepada Anna.
Alexander Lind adalah anak tertua keluarga Lind. Keluarga Lind memiliki tiga orang anak, Alexander, Erik, dan Olivia. Anjani tidak terlalu dekat dengan Alex dan Erik karena dulu jarang berinteraksi. Kala itu, Alex bekerja di New York dan Erik berkuliah di California. Mereka hanya pulang ke rumah saat libur panjang.
Anjani hanya ingat bahwa Alex memiliki tatapan yang sangat tajam dan tidak banyak bicara, bahkan terkesan kurang ramah. Berbeda dengan Erik yang riang dan jenaka. Hal itulah yang membuatnya sungkan menempati kamar Alex.
"It's okay, dear. Kamar Alex yang paling besar dan tidak pernah dipakai lagi. Jadi daripada terbengkalai, maka lebih baik kalian berdua tempati," terang Anna sambil mengelus tangan Anjani. Ia memahami kekhawatiran Anjani, karena dulu mereka jarang bertemu dan tidak terlalu akrab.
"Kamar itu sudah dipasangi alat monitor, sehingga kamu aman meninggalkan anakmu di kamar itu. Kamu akan bisa memantau kondisinya, meski kamu berada di bawah sini," jelas Jay yang telah duduk di sebelah istrinya.
"Ya ampun, kalian sungguh baik sekali, terima kasih," ucap Anjani terharu yang disambut senyum oleh anggota keluarga Lind di ruangan itu.
Mereka pun berbincang melepas rindu. Penat tak lagi dirasakan oleh Anjani. Ia begitu bahagia berada di tengah-tengah keluarga Lind. Ia seperti menemukan kehangatan keluarga yang hilang.
Keputusan Anjani kembali ke keluarga Lind datang saat ia didera kecemasan yang membuncah. Ia sangat takut jika Arya nekat melakukan hal buruk kepada Dirandra, jika mereka berdua tidak menyingkir dari Yogyakarta. Fitnah keji yang dilakukan Arya kepadanya sudah cukup menjadi bukti bahwa mantan suaminya itu berani melakukan hal-hal kejam.
Anjani kalut. Ia merasa harus pergi jauh, bahkan keluar dari Indonesia. Di tengah kegelisahannya, ia teringat akan keluarga Lind. Meski sudah jarang berkontak dengan mereka, namun tidak sulit baginya untuk kembali terhubung dengan Olivia. Mereka pun menawarkan pertolongan. Bagi mereka, Anjani sudah dianggap sebagai anak sendiri. Duka Anjani adalah lara keluarga Lind.
Samuel Lind memberikan pekerjaan bagi Anjani di perusahaannya. Ia adalah seorang CEO di Luminous Network atau disingkat LuNet yang didirikannya 30 tahun silam. Luminous Network merupakan perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, penyedia layanan video multisaluran terbesar kesepuluh dan penyedia internet kabel terbesar ketujuh – berdasarkan cakupan, di Amerika Serikat. LuNet juga memiliki dan mengoperasikan dua saluran berita lokal 24 jam terdepan di negara bagian Florida, yakni Florida News 123 melayani wilayah Orlando, dan Bay Great News melayani wilayah Tampa Bay.
Oleh karena bisnisnya yang berkembang pesat, Samuel pun menarik anak-anaknya, Alexander dan Erik untuk membantunya mengelola perusahaan. Alex yang memiliki latar belakang ilmu komputer diberi tugas sebagai Chief Product and Technology Officer (CPTO), sedangkan Erik menjabat sebagai Chief Marketing Officer (CMO) karena pendidikannya di bidang pemasaran. Sebelum menjadikan anak-anaknya pemimpin puncak di perusahaannya, Samuel mewajibkan mereka untuk bekerja dulu di perusahaan lain. Hal ini dilakukan agar mereka belajar bekerja dari bawah, memahami dan tidak besar kepala. Sementara, Olivia dan suaminya, Jay Smith, yang sama-sama berprofesi sebagai dokter gigi tidak ikut berkecimpung di situ. Mereka berdua memiliki klinik kesehatan The Smiths Dental Center yang cukup terkenal di St. Petersburg.
Anjani begitu bersyukur dengan bantuan yang ia dapatkan saat menghadapi cobaan berat ini. Kala depresi dulu, ada keluarga dokter Fida yang merangkulnya. Sekarang, ada keluarga Lind yang membantunya keluar dari kenestapaan. Sungguh, Tuhan tidak memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Anjani membatin. Ia merasa siap menghadapi dunia barunya.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja