Share

Air Mata Perpisahan

Penulis: Kaia Karnika
last update Tanggal publikasi: 2020-10-12 15:00:30

Hentakan roda pesawat yang menyentuh landasan membuyarkan putaran memori di kepala Anjani.

"Alhamdulillah, lancar dan selamat landing di Jakarta. Transit pertamamu, An. Masih ada dua kali transit lagi, semoga semua lancar," ucap Fida yang duduk kursi sebelah Anjani.

Fida adalah seorang dokter spesialis kedokteran jiwa atau Psikiater. Pertemuan mereka terjadi saat Anjani yang dalam kondisi hamil 5 bulan mengalami depresi, sehingga dirujuk oleh dokter kandungannya. Hubungan pun bereskalasi, tidak sebatas dokter dan pasien, namun sebagai sahabat.

Fida yang khawatir dengan keselamatan Anjani dan janin yang dikandungnya, memberikan perhatian lebih. Dari anamnesis yang dilakukannya, ia mengetahui bahwa Anjani bukan sekedar merasa sendiri, namun memang benar-benar sendiri. Ia dicampakkan oleh suami, dimusuhi keluarga, dan dijauhi teman-temannya. Sungguh penderitaan yang sangat berat, apalagi bagi seorang wanita hamil yang selama ini begitu mendamba kehadiran buah hati. 

Rumor bahwa Anjani hamil dengan pria selingkuhannya pun merebak, tidak hanya di kalangan keluarga, namun hingga ke kantor tempatnya bekerja. Ia akhirnya mengajukan pengunduran diri karena merasa reputasinya hancur dan tak kuasa menghadapi tatapan sinis para pencinta gosip di kantornya. Walaupun ia tahu bahwa semua adalah fitnah, namun dirinya merasa terlalu lemah. Ia pun nyaris menyerah. Untunglah, dokter kandungannya sangat jeli melihat kondisi Anjani. Ia segera merujuk ke Fida untuk dilakukan pemeriksaan kejiwaan.

Fida mengerahkan yang terbaik yang mampu dilakukannya. Depresi yang dialami Anjani dapat ditangani dengan baik. Anjani yang sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya dapat bertahan hingga akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki lucu dan sehat yang diberi nama Dirandra.

"Wah, Andra anteng banget sama Mbak Falisha ya?" tanya Anjani kepada anaknya yang duduk tenang di pangkuan Falisha, anak gadis Fida.

"Andra kan anak pinter, Ibu." Falisha mewakili Dirandra sambil mencium lembut kepala Dirandra. Anak laki-laki berumur 16 bulan itu tersenyum senang setiap Falisha menciumnya.

"Falisha juga puas-puasin nyiumin Andra nih, pasti nanti kangen ama baunya deh," goda Fida kepada anaknya. Falisha memeluk Dirandra erat seakan tak ingin melepaskannya.

Anjani, Fida, dan Falisha terdiam. Mereka semua berupaya keras menahan agar air mata perpisahan tak jatuh berurai. Belum saatnya bertangis-tangisan, karena mereka harus bergegas ke terminal internasional mengantarkan Anjani dan Dirandra berpindah ke pesawat lain.

***

"Maafkan kami, Anjani. Aku dan Falisha hanya bisa mengantarmu sampai Jakarta," ujar Fida. “Aku …”

Belum selesai Fida dengan kalimatnya, Anjani memotong, "Mbak jangan ngomong gitu. Mbak dan Falisha sudah antar sampai Jakarta saja, aku sudah senang banget." Ia menggenggam erat tangan Fida. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku dan Andra kalau selama ini mbak sekeluarga tidak menolong kami," lanjutnya lirih.

"Anjani, apapun yang nanti akan terjadi, ingatlah satu hal bahwa kamu berharga dan berarti bagi banyak orang. Kamu punya Dirandra yang sangat membutuhkanmu. Kamu juga punya kami. Nanti di sana, kamu punya keluarga Lind yang juga sangat mencintaimu." Fida mengencangkan genggaman tangannya.

Anjani mengangguk sambil menunduk. Ia teringat betapa dulu ia merasa hidupnya tiada berarti di dunia ini setelah semua orang berpaling darinya, hingga bertemu dengan dokter Fida. Wanita ini membantunya keluar dari depresi yang dideritanya, bahkan mengajak tinggal di rumahnya agar setiap hari Fida dapat memantau kondisinya yang menderita depresi.

"Coba lihat bagaimana kehadiranmu dan Andra mengubah keluarga kami juga. Falisha menjadi lebih dewasa semenjak mengenal Andra." Fida berkata sambil menoleh ke arah Falisha yang menggendong Dirandra. Anjani pun ikut memandang Falisha dan Dirandra. Mereka berdua seperti kakak beradik. Dirandra selalu melonjak kegirangan setiap gadis itu pulang ke rumah. Falisha pun lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah selepas kuliah.

"Ya, Mbak. Aku akan selalu mengingat itu," janji Anjani.

"Ada Allah juga yang selalu bersamamu," tambah Fida.

Anjani menatap Fida. Ah, Dokter Fida, engkau adalah malaikat yang dikirim Allah untuk menguatkanku. Fida tidak hanya memberikan perawatan secara medis, namun juga secara rohani. Wanita ini terus memberikan siraman spiritual yang menguatkan Anjani menapaki kembali kehidupan, tanpa sekalipun menghakiminya.

"Ya, Mbak. Semua yang kulalui adalah cobaan yang sudah ditakar oleh Allah. Insya Allah aku akan selalu meyakini itu, bahwa Allah tidak mungkin memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya." Anjani memeluk Fida. "Sekali lagi, terima kasih banyak, Mbak."

"Sama-sama, Anjani," balas Fida pelan sambil mengusap air matanya yang tak terbendung lagi.

"Falisha, sudah saatnya Andra masuk nih, nanti ketinggalan pesawat," ujar Fida kepada putrinya.

"Yaaahh, Andra." Falisha mengerutkan mulutnya. "Kita pisah dulu ya. Kapan-kapan kita main lagi ya, Andra sayang." Suara gadis itu serak menahan tangis. Rasanya ia tidak ingin melepas Dirandra pergi. Kehadiran bocah kecil ini tak disangka membuat hidupnya lebih berwarna. Ia pun menciumi kepala dan pipi Andra yang berona merah, kemudian dengan perlahan menyerahkannya kepada Anjani.

Anjani pun memeluk Falisha. "Terima kasih ya, Fal, kamu baik sekali kepada kami selama ini. Jaga dirimu baik-baik ya," ucapnya lembut.

Falisha membalas pelukan Anjani. "Ya, Tante Anjani. Tante juga jaga diri baik-baik ya. Jaga Andra juga. Nanti pokoknya Falisha mau nabung biar bisa jenguk kallian." Falisha menjawab sambil terisak.

Anjani pun memeluk Fida. Tangisnya tak tertahankan, begitu juga dengan Fida. Mereka menangis sesenggukan. Rasanya mereka tak ingin berpisah, namun semua memahami bahwa ini yang terbaik bagi Anjani dan Dirandra.

"Jaga dirimu dan Andra baik-baik, An."

"Ya, Mbak. Mbak juga," balas Anjani nyaris tak terdengar, terkalahkan oleh isaknya.

"Kabari kami jika kamu sudah sampai ya." Fida melepaskan pelukannya pada Anjani dan beralih mencium lembut kepala Dirandra. "Andra yang baik ya, anteng di pesawat ya, anak sholeh." Aroma minyak telon di kepala Dirandra terasa begitu menyejukkan hati Fida. Ah, bau yang akan kurindu, Fida membatin.

"Ya, Mbak. Insya Allah akan kukabari setiap aku transit. Kami masuk dulu ya, Mbak.... Falisha," pamit Anjani. Matanya penuh dengan genangan air mata.

Anjani membalikkan badannya. Dadanya terasa sesak. Namun, ia harus terus melangkah.

Setelah berjalan beberapa langkah, ia membalikkan badan, melambaikan tangan ke arah Fida dan Falisha yang sedang berangkulan sambil menyapu air mata. Dadanya seperti dipalu godam, tangisnya tak dapat dipendam. Sungguh perpisahan ini sangat berat baginya.

Aku harus kuat. Aku harus yakin bahwa jalan ini adalah yang terbaik bagiku dan Andra dari Allah. Bismillah. Anjani menguatkan hati, melanjutkan langkah menuju bilik imigrasi.

Anjani memutuskan bahwa ia harus pergi dari Indonesia. Pergi jauh. Memulai hidup baru. Bertahan di Indonesia, apalagi di Yogyakarta, tempat semua kisah sedih itu bermula, hanya akan membuat lukanya makin menganga.

Setelah perceraiannya dengan Arya, semua orang mencibirnya. Label wanita murahan disematkan pada Anjani. Aditya melarangnya menjenguk ibunya yang terkena stroke setelah kejadian sore itu. Ketika, ibunya wafat, kakaknya mengharamkan Anjani melihat jasad sang bunda. Tidak ada satu pun keluarganya yang mencoba membelanya atau bahkan menanyakan cerita versinya. Ia dianggap sebagai penyebab kematian ibunya dan mencoreng nama baik keluarga besar Prastowo yang selama ini dihormati di daerahnya.

Fitnah Arya begitu kejam. Dalam sekejap meluluhlantakan semua yang dimilikinya, kehidupan, karir, keluarga, dan juga cintanya. Tak ada yang tersisa. Arya merenggut dan mencabik semuanya.

Tidak berhenti sampai situ, Arya memaksa Anjani menggugurkan kandungannya karena merasa itu adalah aib. Arya tidak mau menerima penjelasan Anjani bahwa ia tidak selingkuh dan itu adalah darah dagingnya sendiri.

Anjani tidak mengerti mengapa Arya melakukan semua itu. Tidak ada konfrontasi, apalagi konfirmasi. Baru setelah Dirandra lahir, perlahan tabir itu terkuak. Kebenaran memang selalu menemukan sendiri jalannya.

Ternyata, Arya lah yang sesungguhnya memiliki hubungan asmara dengan perempuan lain, Vidi, yang merupakan salah satu pasien Arya. Berawal dari hubungan antara dokter dan pasien, hubungan mereka semakin mendalam dan perempuan itu pun hamil. Keluarga Vidi adalah salah satu keluarga yang memiliki pengaruh cukup kuat di daerahnya. Mengetahui bahwa Arya yang menghamili anaknya, ayah Vidi menuntut untuk menikahi Vidi dan meninggalkan istrinya. Jika tidak dituruti, ia mengancam untuk menghancurkan kehidupan Arya.

Arya tidak punya pilihan lain selain menuruti kehendak keluarga Vidi, taruhannya terlalu besar. Semua yang ia bangun akan hancur berkeping-keping. Namun, untuk mengakui kekhilafannya kepada Anjani atau keluarganya pun setali tiga uang. Nama baiknya akan runtuh, bahkan ia dapat dinilai melanggar etika profesi.

Dalam kondisi dilematis itu, Arya memilih skenario lain. Memfitnah Anjani adalah jalan keluarnya. Dengan sandiwara itu, Arya akan dianggap sebagai korban dan mendapat simpati. Perhatian sekaligus cacian akan ditujukan kepada Anjani, sehingga akhirnya semua akan memaklumi jika ia mencari wanita lain sebagai pengganti.

Sandiwara itu nyaris sempurna, andai tidak ada Dirandra. Kehadiran bayi itu dianggap ancaman bagi Arya. Apabila semua tahu bahwa anak itu sesungguhnya adalah darah dagingnya, jika Anjani nekat melakukan uji DNA untuk membuktikannya, maka seluruh babak drama dusta yang disusunnya dengan susah payah akan terbongkar. Arya pun mengancam Anjani untuk menjauh dari hidupnya bila tidak ingin hal buruk terjadi pada Dirandra. Anjani yang sudah kehilangan kehidupannya, tak sanggup lagi membayangkan kehilangan hidup barunya bersama Dirandra. Ia pun memilih hengkang, membiarkan masa lalunya lekang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Broken Arm

    Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   First Strike

    Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Women in His Life

    Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Thanksgiving Incident

    Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   The Fran's Caramels

    Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr

  • Konstelasi Emosi (Indonesia)   Lovely Day at The Dalí

    Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status