LOGINJam 4 sore hari itu, akhirnya terdengar kembali klakson mobil Arya memberi kode agar pintu garasi dibuka. Anjani terseok ke luar membuka pagar. Andai mbok Nah belum pulang, ia akan meminta asistennya itu saja untuk membuka pagar. ARTnya tersebut memang tidak menginap, hanya datang pagi dan pulang sore hari. Ia merasa tak punya energi bahkan untuk membuka pagar setelah kejadian pagi tadi.
"Tidak usah digembok pagarnya, sebentar lagi ibu akan datang." Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Arya sambil menutup pintu mobilnya, tanpa memandang Anjani.
Ibu akan datang? Ibumu atau ibuku? Dalam rangka apa? Kok, tidak ada yang menghubungiku? Bertubi pertanyaan di kepala Anjani, namun hanya anggukan kepala yang dapat dilakukannya.
Baru saja Anjani hendak menutup pintu rumah, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ia pun melongok ke jalan. Sebuah city car berwarna putih berhenti persis di depan pagar rumahnya.
Oh, mobil Devi, berarti ibu mertuaku yang datang. Wah, tumben banget Devi mau antar ibu. Anjani membatin. Devi, adik perempuan Arya yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan ternama adalah sosok yang punya kesibukan selangit, sehingga sangat jarang mau berpergian saat akhir pekan, apalagi berkunjung ke rumah kakak tertuanya.
Baru saja hendak menyambut kedatangan mertua dan adik iparnya, ia melihat sebuah mobil SUV hitam milik Aditya, kakak satu-satunya Anjani, berhenti persis di belakang mobil putih Devi.
Loh, mas Adit ke sini juga? Kok, tidak ngabarin ya? Anjani masih terkaget-kaget. Ia pun bertambah kaget melihat Ira, istri Adit tergopoh-gopoh ke luar dari mobil, membuka pintu bagasi dan mengeluarkan kursi roda.
Hah, ibu juga ikut? Anjani makin tak bisa menyembunyikan kebingungannya. Ibu kandungnya yang sudah sulit untuk berjalan datang ke rumahnya. Padahal, seminggu lalu saat ia menengoknya di rumah Aditya, ibunya tampak tergolek lemah di tempat tidur karena penyakit diabetes dan hipertensi yang dideritanya, meski masih bisa berbincang panjang lebar dengannya.
Ada apa sih ini? Apakah ini karena kehamilanku? Apakah Arya bikin kejutan? Apakah ia pura-pura bersikap dingin hari ini hanya untuk kemudian memberikan kejutan ini? Tapi, mengapa perasaanku tidak enak, ya? Kepala Anjani dipenuhi dengan berjuta tanda tanya.
Anjani menepis pikiran buruk yang sempat terlintas di benaknya itu. Ia segera menghampiri ibu mertuanya, mencium tangannya dan mempersilakan masuk ke rumah. Ia pun bergegas berjalan ke arah mobil Aditya. Sambil membantu Ira mengangkat ibunya ke kursi roda, ia berbisik kepada Ira, "Ada apa, Mbak, kok ibu diajak ke sini?"
"Tidak tahu, An, tadi mas Adit tiba-tiba mengajak ke sini," sahut Ira sambil mengangkat bahunya.
Semua pun berkumpul di ruang tamu mungil Anjani. Bu Raharjo - ibu Arya - dan Devi duduk di sofa panjang berwarna biru yang menempel di dinding. Aditya dan Ira menempati arm chair yang membelakangi jendela ruang tamu, sedangkan Bu Prastowo - ibu Anjani - tetap di kursi rodanya di samping kursi yang diduduki Ira. Anjani mendudukkan dirinya di pouf berseberangan dengan kakaknya. Ia mengamati wajah mereka satu persatu, semua nampak penasaran mengapa mereka diminta ke sini, begitu pula dengan dirinya. Apa yang akan dibicarakan oleh Arya? tanyanya dalam hati. Ia yakin tak ada satu pun yang tahu agenda suaminya.
Anjani bisa memahami mengapa semua mengiyakan permintaan mendadak Arya untuk datang, meski tidak tahu apa alasannya. Di mata kedua keluarga ini, Arya adalah sosok yang sangat disegani. Di keluarga Arya, sebagai anak pertama, suaminya itu adalah pengganti almarhum ayahnya. Sebagai anak lelaki satu-satunya dengan tiga orang adik perempuan, dominansi Arya di keluarganya sangat kuat. Di keluarga Anjani sendiri, Arya mendapat tempat di hati mereka. Dengan pekerjaan suaminya sebagai dokter - profesi yang sangat diagungkan di Indonesia, keluarga Anjani pun merasa nama baik keluarga turut meningkat.
Arya berdeham memasuki ruang tamu, ia duduk di sofa bersebelahan dengan ibunya dan berkata, "Terima kasih sudah mau datang walaupun saya meminta secara mendadak." Ia berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya. Berulang kali ia menelan ludah berusaha membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.
Anjani mengernyitkan dahi. Kalimatnya terdengar sangat formal, tidak seperti biasanya saat mereka bertemu dengan keluarga. Setelah insiden tadi pagi dan perilakunya saat ini, Arya tampak bukan sosok yang dikenalnya selama ini.
"Ada hal penting yang harus saya sampaikan," lanjut Arya. Ia menghela nafas panjang, rahangnya mengeras. Air mukanya menunjukkan ketegangan. Ia meyakinkan dirinya untuk terus menyusun kata, menuntaskan permasalahan ini.
Di saat yang bersamaan, Anjani pun menghela nafas. Baginya, terlalu banyak misteri hari ini. Apa yang mau Arya sampaikan?
"Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah kenyataan pahit yang harus saya terima dengan lapang dada." Arya menundukkan kepalanya. Semua menyimak dengan seksama, menunggu kelanjutan kalimat Arya dengan jantung berdebar.
"Saya ... saya ...," ucap Arya lirih, "Saya mengetahui bahwa Anjani, memiliki hubungan asmara dengan seorang pria lain."
Tubuh Anjani menegang. Ia terperanjat, napasnya tersekat. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. Apa? Aku selingkuh? Dengan siapa?
"Saya merasa gagal menjadi suami baginya, mungkin karena saya tidak bisa memberikannya keturunan. Saya sudah mencoba menerima istri saya apapun yang dia lakukan," ujar Arya dengan intonasi yang semakin menurun.
Fitnah macam ini? Apa maksud Arya? Mengapa ia menyebarkan kebohongan ini di depan keluarganya? Ingin rasanya Anjani berteriak, namun ia hanya sanggup ternganga. Anjani yang submisif tak pernah berani mengeluarkan kata-kata pembelaan meski dirinya terinjak.
“Selama ini saya berusaha tetap menerima Anjani, berharap ia akan tobat dan kembali ke jalan yang benar. Namun, pagi ini, saya diberitahu bahwa ia hamil dan saya bukanlah ayah dari janin itu. Saya merasa tidak sanggup lagi menahan aib ini. Saya telah gagal menjadi imam,” tutur Arya pelan.
Semua yang mendengarkan perkataan Arya terbelalak, termasuk Anjani. Arya menghela napas, yang disusul oleh berbagai reaksi yang menyeruak bersamaan dari seluruh orang di ruangan itu.
"Anjani ... Kau ...!" Aditya memekik keras, ia tidak dapat meneruskan kalimatnya. Kedua tangannya mengepal, pandangannya tajam ke arah Anjani.
"Astagfirullahaladzim ... ya Allah ... Arya ..." Bu Raharjo histeris. Ia memeluk Arya dari samping, menjatuhkan kepalanya di pundak anaknya. Ia tidak bisa membayangkan hancurnya perasaan putra kesayangannya ini.
"Sungguh laknat perbuatanmu, Anjani," kutuk Bu Raharjo sambil mengencangkan pelukannya pada Arya. Ingin rasanya ia menukar diri dengan anaknya, membiarkan dirinya saja yang berkeping-keping.
Devi memandang Anjani dengan penuh kebencian. "Tidak tahu malu!" serunya sambil membelalakkan mata.
Ira memegang tangan Bu Prastowo sambil menatapnya, khawatir akan reaksi dari ibu mertuanya yang sedang sakit itu atas berita mengejutkan ini. Wanita tua itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya mulutnya yang tampak komat-kamit melafazkan nama Allah sambil terisak, air matanya meluncur membasahi pipinya.
Anjani terkulai. Ia tidak percaya dengan drama yang sedang terjadi di depan matanya. Drama dengan dirinya sebagai tokoh antagonis, yang skrip skenarionya tak pernah sampai padanya.
Arya merangkul ibunya, berusaha menenangkan ibunya dan berkata, "Saya sengaja menyampaikan ini, meski saya tahu ini berat bagi kita semua. Namun, ini adalah kenyataan yang harus kita sama-sama hadapi. Ibu, Mas Adit, Mbak Ira, Devi, semua dulu menyaksikan perkawinan kami. Sekarang, kalian juga yang menyaksikan bahwa saya akan menceraikan Anjani. Saya ingin kalian semua menjadi yang pertama tahu dari saya, bukan dari omongan orang lain."
Dada Anjani sesak, beribu panah bagai menusuk jantungnya. Pandangannya memudar.
Ya Allah, bangunkan aku dari tidur ini. Mimpi apa ini? Setelah tadi pagi ia begitu khawatir kehamilannya adalah mimpi belaka, sore ini ia sungguh berharap kejadian ini benar-benar mimpi.
Arya menurunkan tangan ibunya yang melingkar di lehernya dengan lembut, beranjak dari duduknya dan menghampiri Bu Prastowo. Ia bersimpuh di hadapannya, sambil berkata lirih," "Maafkan saya tidak dapat menjaga Anjani, Bu. Ibu akan tetap menjadi ibu bagi saya, meski kami bercerai." Arya mencium tangannya yang hanya dijawab dengan anggukan lemah. Wanita itu masih belum pulih dari kekagetannya.
Arya beringsut mendekati Aditya dan menyalaminya. "Maafkan saya, Mas." Aditya memeluk Arya. Ia tak sanggup menahan malu atas perbuatan adiknya. Apa kurang adik iparnya ini, dokter terkemuka, tampan, dan juga perilakunya sangat santun. Entah setan mana yang merasuki Anjani, makinya dalam hati.
"Kamu memang perempuan tidak tahu diuntung. Beribu wanita ingin ada di posisimu, tahu?" pekik Devi, "Kamu selingkuh dengan siapa, Anjani? Apa ada laki-laki yang lebih baik dari mas Arya? Tidak ada!" Devi membombardir Anjani. Nafasnya menderu. Ia nampak tidak terima perlakuan Anjani terhadap kakak laki-laki yang ia kagumi itu. Ia tahu betul bagaimana perjuangan kakaknya mendapatkan hati Anjani yang digandrungi begitu banyak pria di kampusnya dulu, dan betapa girangnya ia saat cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia tidak bisa membayangkan betapa hati Arya pasti porak-poranda saat ini.
"Sudahlah, Dev. Tidak usah kamu tau siapa dia. Ini kesalahan mas yang tidak bisa menjaga istri." Arya menghampiri adiknya dan mengusap pundak adik bungsunya itu, mencoba menenangkan adiknya yang sangat ekspresif dalam bersikap.
Anjani menelan ludah. Itu juga pertanyaan yang sama darinya. Dengan siapakah aku selingkuh? Rasanya tidak ada seorang pria pun yang dekat denganku. Semua hanya teman kantor, tidak lebih.
Anjani bersumpah dalam hati bahwa tidak ada satu pria pun yang mendekatinya, apalagi tidur dengannya. Meski tahu bahwa ia memiliki paras yang tergolong menawan, namun tidak pernah terlintas di benaknya untuk menggoda laki-laki mana pun, apalagi membiarkan laki-laki lain meniduri dan menghamilinya. Namun, mengapa Arya begitu yakin bahwa ia berkhianat, bahkan menyatakan dengan lantang bahwa kehamilannya adalah buah perbuatan maksiat.
Apakah aku sehina itu di matamu, Arya? Sampai kau tega menuduhku berzina dengan pria lain? Sayangnya rentetan pertanyaan itu tak pernah terlontar dari mulut Anjani, otot-otot laringnya seperti tak berdaya untuk menggetarkan pita suaranya.
"Baiklah, sudah mau magrib. Saya tidak mau membuat suasana menjadi lebih keruh lagi. Mohon maaf sekali lagi buat semuanya. Saya harap silaturahmi keluarga ini tetap terjalin, meski saya dan Anjani bercerai." Arya mencoba menutup pembahasan sore itu. Suara bariton dan sikapnya yang legowo, mengokohkan Arya sebagai tokoh protagonis di drama sore itu.
Anjani memberanikan diri menatap Arya, mencoba menemukan kebenaran di sana. Namun, laki-laki itu tak pernah mau melihatnya. Ia menyadari kalau suaminya itu paham betul kelemahan dirinya yang submisif. Anjani sadar, selain dirinya tak mampu memberikan penjelasan, ia pun tak diberi ruang untuk mengutarakan pembelaan. Semua sudah tersulut dan dirinya merasa makin tersudut.
"Kami pamit." Aditya memecah kebisuan yang sejenak terjadi. Ia berdiri, memberi kode kepada istrinya untuk mendorong kursi roda ibunya.
"I-ibu ...,"Anjani lirih tergugu. Hanya itu kata yang sanggup ia keluarkan. Ia memaksa dirinya untuk bangkit dengan segenap tenaga yang tersisa. Ia ingin memeluk ibunya. Namun, Aditya menghalanginya.
"Sudah, jangan bikin ibu tambah sedih, cukup sudah!" hardik Aditya. "Kamu mempermalukan keluarga kita. Betapa kecewanya almarhum bapak jika tahu ini."
Mendengar kakaknya menyebut almarhum ayahnya, Anjani tersentak. Ia pun menghentikan upayanya. Tidak pernah dirinya melihat kakaknya semarah itu padanya. Ia mencondongkan kepalanya mencoba mencari ibunya di belakang badan besar Aditya dan hanya sempat melihat tatapan sendu dari ibunya, yang lalu memalingkan wajahnya dari Anjani.
Anjani tak pernah menyangka bahwa itu adalah tatapan terakhir dari ibunya untuknya.
Setelah kejadian yang memalukan hari Senin kemarin, Anjani lebih waspada agar tidak melakukan hal bodoh lain. Minggu ini, ia akan genap sebulan bekerja di LuNet, tekanan yang luar biasa bagi Anjani. Ini adalah batas waktu baginya untuk menunjukkan kepada Erik bahwa ia dapat mengatasi sikap buruk Alexander.Pukul 9 lewat 5 menit, Alexander masih belum menunjukkan batang hidungnya. Hal yang belum pernah terjadi selama Anjani bekerja sebagai sekretarisnya. Ia mencoba menghubungi, namun tidak tersambung. 10 menit lagi akan ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Alexander. Hingga 9.10, tidak ada tanda-tanda pria bermata cekung itu sudah berada di kantor."Mary, Alex belum datang dan aku tidak bisa menghubungi ponsel atau pun telepon rumahnya, sedangkan 5 menit lagi ada rapat penting. Apakah ini pernah terjadi sebelumnya?" Anjani tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya."Tuhanku, ada apa ya? Alex cukup disiplin, ia tidak mungkin melupakan janji." M
Anjani memulai Senin ini dengan pergulatan emosi. Ia tidak mau dirinya berakhir seperti Minji atau sederet perempuan lain yang patah hati karena salah mengartikan seluruh perhatian dan perlakuan Erik. Sadar betul bahwa ia jauh lebih rapuh dibanding orang lain. Namun, tak dipungkiri jika kata-kata manis yang terlontar dari mulut pria dengan senyum indah itu sepanjang akhir pekan Thanksgiving kemarin membuatnya begitu berbunga. Erik membuatnya merasa berarti. Pagi itu, seperti biasa, Erik datang dengan segelas caff&eg
Hari Minggu di penghujung pekan Thanksgiving, beberapa sahabat keluarga Lind berkumpul untuk jamuan makan siang. Lucia Martinez-Castillo hadir bersama kedua orang tuanya, Antonio dan Elena; Gabby dan Kevin Washington beserta anaknya Emma; keluarga Turki Hasan, Zehra, dan Ömer; serta Mary dan suaminya - Daniel Jones.Para pemimpin puncak LuNet juga datang di acara itu, Jack Miller – COO LuNet yang juga merupakan sahabat Samuel sejak kuliah bersama istrinya Olga Snigir dan anak perempuannya Donna Miller; CHRO Miranda Halstead dan suaminya, Aaron; serta CFO Stephen Peterson dengan istrinya, Paula. Sahabat Anna di Orbit Foundation turut hadir di jamuan tersebut, pasangan Brian Wang dan Victoria Liu; serta pasangan African American Douglas dan Hattie Palmer. Seluruh keluarga Lind, kecuali Alexander – yang beralasan terkena flu, telah menemani para tamunya.Anjani sebenarnya kurang nyaman berada di antara keramaian, meski ia telah meng
Hari Thanksgiving tiba. Tradisi pada hari bersyukur ini adalah makan malam bersama keluarga dan sahabat. Menu yang disajikan berupa ayam kalkun dengan saus kranberi, kentang puree, jagung rebus, dan pai labu.Sejak sore, Anna dibantu oleh Olivia dan Anjani telah sibuk di dapur menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Erik juga telah berada di rumah itu. Ia dan Jay menemani anak-anak bermain di ruang tamu.
Rasanya Senin Anjani belum pernah secerah ini. Selain karena akhir pekan kemarin yang menyenangkan, long weekend akan hadir pekan ini. Ini adalah pekan Thanksgiving. Hari Thanksgiving pada hari Kamis dan esoknya Black Friday. Ia tersenyum lebar saat memasuki ruang Anförare, menyapa Mary dan Matt yang sudah ada di ruangan itu. Menyaksikan Anjani masuk ke ruangan dengan senyum selebar itu, Matt terpancing untuk berulah usil. Anjani pun sudah bersiap begitu melihat ekspresi jahil pr
Hari Minggu pagi ini langit St. Pete terlihat begitu memesona, jingga dan lembayung semburat berpadu seolah menghalau lara. November di St. Pete memang istimewa, musim gugur yang sejuk dengan hembusan angin yang tidak menusuk. Memasuki minggu keempatnya di St. Pete, Anjani berencana untuk menyurvei beberapa apartemen. Ia sungkan berlama-lama tinggal di kediaman keluarga Lind karena itu bukan kebiasaan keluarga Amerika, meski Anna memintanya untuk menetap lebih lama. Erik menawarkan diri menemaninya hari ini, dan itu membuat Anja