Konstelasi Emosi (Indonesia)

Konstelasi Emosi (Indonesia)

last updateTerakhir Diperbarui : 2020-11-05
Oleh:  Kaia KarnikaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
0 Peringkat. 0 Ulasan-ulasan
20Bab
76Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sinopsis

Ketika cerita cinta yang didamba penuh dengan derita. Kala kata yang terlontar memorak-porandakan rasa. Apakah harus kembali menata cinta atau menawan rasa? Perjalanan cinta Anjani Prastowo yang penuh dengan liku memaksanya harus menyeberangi benua untuk membuang pilu. Di sebuah kota tenang antara Teluk Meksiko dan Tampa Bay yang biru, ia berlabuh merajut lembaran baru. Aneka emosi silih berseteru mewarnai pertemuannya dengan pria bermata biru. Depresi yang pernah melanda dan sifat submisif yang memaku membuat hidupnya senantiasa abu-abu. Akankah ia menemukan cinta yang begitu dirindu atau hanya akan mengulang kisah sendu? *** Note: This story is dedicated to my friend - ****** - who is struggling to heal her wound and find the love of her life.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Selamat Tinggal, Yogya

Anjani menatap ke luar jendela pesawat yang ditumpanginya. Ia seolah ditarik menjauh dari kehidupan di bawah sana seiring dengan mengecilnya bangunan di luar jendela pesawat. Berbagai rasa berkecamuk dalam hati Anjani yang tak bisa diungkap dengan kosa kata rasa yang ada. Ada sembilu yang menggores pilu, namun ada pula secercah asa yang merebak di dada.

Selamat tinggal, Yogya. Kota berjuta nostalgia, yang entah kapan lagi akan kusapa, pamit Anjani kepada kota di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang penuh dengan romansa, namun sekaligus membuatnya nelangsa.

Air mata Anjani menggenang dan bulir-bulirnya pun mengalir menjauhi kelopak matanya. Ini harus jadi yang terakhir, takkan ada lagi air mata untuk Yogya. Ia berjanji dalam hati sambil menyekanya dengan punggung tangan.

Anjani pun mengalihkan pandangan ke layar inflight entertainment di hadapannya, kemudian memilih sebuah film secara acak. Pilihan jatuh pada film kartun. Paling tidak film ini tidak akan membuatku menangis, dalihnya. Namun, film yang ditontonnya lambat laun memudar berganti dengan lelakon kehidupannya. Matanya menatap layar, namun pikirannya menerawang menelusuri kejadian yang begitu dalam terpatri di memorinya. Kejadian yang terjadi dua tahun silam, di waktu yang sama – penghujung Oktober.

Pagi itu, dua tahun yang lalu, Anjani bangun dari tidur dan segera mengambil test pack yang telah disiapkan semalam. Ada harap di hatinya, namun tak berani berangan. Enam tahun pernikahan dengan Arya - yang tak kunjung dikaruniai buah hati, membuatnya tak mau berharap banyak, khawatir kembali merasakan sendu yang tak menentu.

Setelah melakukan semua instruksi yang tertera di kemasan alat penguji kehamilan, Anjani langsung meletakkannya di atas wastafel. Ia memutuskan untuk tidak menunggu hasilnya, karena hanya akan membuat dadanya berdebar tidak terkendali. Ia segera mengambil air wudu, memilih menunggu dalam sujudnya, menyerahkan keputusan pada Sang Penguasa. Selesai sholat subuh, ia kembali ke kamar mandi untuk melihat hasil tes kehamilannya.

Anjani mengerjapkan mata begitu melihat dua garis di test pack yang menandakan bahwa dirinya positif hamil. Dua buah garis yang sangat dinanti. Ia mengucek mata, mencubit tangan, mengibas-ibaskan strip test pack berulang kali, khawatir ini adalah fatamorgana. Namun, hasilnya tidak berubah, tetap dua garis.

Aku hamil, Alhamdulillah ya Allah, Kau mendengar doaku. Anjani memanjatkan syukur dalam hati.

Anjani segera berlari ke kamar tidur, meraih ponsel untuk menelpon Arya, yang sejak kemarin terpaksa harus berjaga di rumah sakit karena salah satu pasiennya hendak melahirkan. Arya, suaminya, adalah seorang dokter kandungan yang cukup terkenal akan keahlian dan dedikasinya, sehingga tidak mengherankan ia memiliki begitu banyak pasien.

Senyum lebar terus menghiasi wajah manis Anjani saat ia berusaha menghubungi suaminya. Ia membayangkan betapa suaminya akan sangat bahagia mendengar berita yang begitu lama mereka nantikan.

Tut....tut....tut, nada sambung di ponselnya tak kunjung berganti suara Arya di ujung sana.

Hmmm, mungkin ia masih sibuk menangani pasiennya, atau mungkin ada pasien yang cito, Anjani berusaha menghibur diri.

Jari jemari Anjani pun mulai mengetik pesan melalui WhatsApp, namun ia mengurungkan niatnya. Ia merasa kurang pas jika berita bahagia ini disampaikan lewat tulisan. Ia pun membatalkan niatnya mengirim pesan.

***

Jam 10 pagi, akhirnya terdengar klakson mobil Arya di depan garasi rumah.

"Mbok Nah, tolong bukakan pagar buat bapak, ya," pinta Anjani kepada asisten rumah tangganya. Ia sendiri segera menyiapkan teh sereh hangat, minuman yang harus selalu tersaji buat Arya setiap pulang praktek.

"Ya, bu," sahut Mbok Nah sambil berlari kecil menuju garasi.

Tak lama, langkah Arya pun terdengar memasuki rumah. Ia terlihat lelah, masih dengan balutan jas putih di tubuhnya. Di mata Anjani, suaminya terlihat tampan menggunakan jas dokter tersebut, meski rambut ikalnya berantakan dan matanya yang kuyu menandakan dirinya terlalu banyak terjaga.

"Mas, ini teh serehnya, diminum dulu," ucap Anjani dengan riang.

"Ya, nanti, capek," jawab Arya pendek sambil membuka pintu kamar tidur.

Anjani pun meletakkan cangkir teh di meja makan. Ia duduk menunggu suaminya keluar dari kamar. Setiap pulang dari rumah sakit, Arya memang selalu langsung membasuh tubuh sebelum melanjutkan aktivitas lain di rumah.

20 menit berlalu. Uap hangat yang semula menempel di cangkir teh pun mulai menghilang. Anjani mulai gelisah.

Beberapa bulan terakhir ini, Anjani merasakan perbedaan sikap Arya. Suaminya itu tidak sehangat dulu, tidak lagi mengajaknya berbincang. Bahkan, sekedar menanyakan bagaimana hari-hari Anjani, tidak pernah lagi dilakukan oleh Arya. Padahal dengan kesibukan mereka berdua, ia sangat rindu bercengkrama bersama barang sejenak.

Di satu sisi, Anjani mensyukuri padatnya aktivitas Arya, karena hal tersebut menandakan kesuksesannya sebagai seorang dokter kandungan yang handal. Ia sering kali baru selesai praktek larut malam, dan pagi buta sudah bergegas melaksanakan tugas. Tak jarang terpaksa bermalam di rumah sakit, apabila ada pasiennya yang harus melahirkan dini hari. Meski baru dua tahun menjadi dokter spesialis kandungan, namun jumlah pasien suaminya tergolong lebih banyak dibanding dokter spesialis lain seangkatannya, bahkan yang lebih senior darinya. Selain terkenal handal, Arya juga tergolong tampan. Beberapa teman Anjani sering memperingatkan untuk hati-hati menjaga suaminya, seorang dokter tampan yang pasiennya semua wanita. Ia hanya menjawab dengan senyuman setiap mendapat nasihat tersebut karena sangat yakin akan kesetiaan suaminya.

Kesuksesan Arya tidak lepas dari peranan Anjani. Mereka menikah di saat Arya baru mulai mengambil kuliah spesialisnya. Kuliah spesialis kedokteran sangat menyita energi, waktu, dan tentunya dana. Dengan padatnya waktu kuliah, sangat tidak mungkin bagi Arya untuk praktek. Anjani pun mengambil alih peran sebagai pencari nafkah sejak awal perkawinan. Ia tidak hanya membiayai semua perkuliahan suaminya, namun juga menanggung biaya hidup ibunda Arya yang menjanda.

Walau berstatus sebagai seorang manajer di sebuah bank terkemuka, tapi penghasilan Anjani tetap tidak mencukupi pengeluaran mereka, sehingga waktu istirahatnya harus direlakan untuk membuat kue sebagai usaha sampingan. Tak pelak, lelah selalu melanda Anjani. Ini juga yang menjadi penyebab ia sulit hamil. Meski demikian, ia menjalani dengan ikhlas. Semua hanya demi Arya meraih gelar dokter spesialis kandungan, yang berarti juga demi masa depan mereka. Ia merasa akhirnya jerih payahnya terbayar sudah dengan kesuksesan suaminya saat ini.

Akan tetapi, di sisi lain, Anjani merasa ada sesuatu yang hilang. Bukan kehadiran Arya secara fisik yang memang selama kuliah spesialis pun sudah jarang ia temukan, tetapi kehadiran secara psikologis. Dulu, meski didera kesibukan yang luar biasa saat menjadi residen, Arya tetap menunjukkan kepeduliannya. Suaminya itu tidak pernah luput menanyakan keadaannya. Namun, bulan-bulan belakangan ini, Arya tampak tidak berselera bicara dengannya walau berada dalam satu ruang.

Mungkin Arya lelah, burnout, atau merasakan kehambaran karena kami belum memiliki anak. Anjani berusaha menghibur diri dengan berpikir positif dan memaklumi sikap suaminya. Berbagai alasan coba dibangun dalam benaknya, namun tidak pernah sekali pun ia berani bertanya langsung. Anjani adalah seorang wanita yang submisif, ia sering kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya dalam kata-kata secara lugas. Ia terlalu takut menyakiti perasaan orang lain.

Anjani pun memutuskan untuk menyusul Arya ke kamar tidur mereka. Ternyata, suaminya sedang berbaring sambil memeluk guling. Matanya menatap langit-langit kamar.

"Capek, Mas?" tanya Anjani lirih sambil menutup pintu kamar. Sejenak ia berharap berita bahagia yang akan disampaikan bisa mengembalikan kehangatan Arya yang dulu.

"Ya," jawab Arya singkat setelah menghela napas. Ia seperti malas bicara.

"Aku buat nasi uduk kesukaanmu," – Anjani memijat lembut kaki Arya – "makan dulu yuk."

"Masih kenyang," sahut Arya tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit kamar.

Anjani duduk di samping Arya, ia putuskan untuk segera menyampaikan berita kehamilannya.

"Aku... aku hamil, Mas." Anjani merundukkan tubuhnya, berupaya memeluk Arya.

"Apa?" seru Arya. Ia beringsut dari tidurnya, tangannya menyangga badannya berupaya untuk duduk, dan menghindar dari pelukan Anjani.

Arya lantas beranjak dari tempat tidur. Tanpa sepatah kata, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur dan bergegas ke luar kamar.

Anjani bergeming. Ia terkesiap dengan reaksi Arya.

Ia tak tahu harus berbuat apa. Mengapa suamiku bersikap seperti itu?  Apa yang harus kulakukan? Anjani bertanya-tanya dalam hati.

Tak lama, pintu kembali terbuka. Terdengar nafas berat Arya.

"Aku harus ke rumah sakit sekarang, cito." Nada suara Arya terdengar ketus. Ia berjalan mengambil baju dan celana panjangnya di lemari, tanpa memandang ke arah Anjani.

"Mas...mmm, kamu tidak capek?" Hanya itu kalimat yang sanggup Anjani keluarkan. Ia memandang punggung Arya. Ia tahu suaminya berbohong, namun tak kuasa menyangsikannya.

Arya tidak menjawab. Ia sibuk mengganti bajunya dan kemudian ke luar kamar lagi, meninggalkan Anjani yang masih termangu.

Anjani berusaha mencerna reaksi Arya. Ia terheran-heran mengapa suaminya bersikap seperti itu, yang jelas itu tidak sesuai dengan harapannya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
20 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status