LOGINPagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.
Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.
“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
“Gue bingung, Ga.”
“Bingung apalagi?”
“Gue pergi nemuin Ataya atau nggak.”
“Lo maunya kayak gimana?”
“Gue gak tahu.”
“Lo kalau masalah ginian labil banget ya.” Ega gemas melihat tingkah Raha.
“Ya... gue pengin ketemu sama Ataya.”
“Nah itu tahu.”
“Tapi, gue takut.”
“Takut apalagi, sih, Ha?”
“Takut kalau dia gak mau ketemu sama gue.”
“Gak ada yang tahu, lo belum coba sama sekali. Lo juga kalau ngerjain soal fisika yang susah pasti lo coba dulu kan?”
“Iya,” jawab Raha lemah.
“Ya udah sana, lo pergi. Itu kunci motor ada di atas meja belajar. Ambil aja kalau lo mau pakai.”
“Thank’s, Ga.” Raha mengambil kunci motor lalu keluar dari kamar.
Raha berjalan ke luar rumah sambil memutar-mutar kunci motor. Perasaannya terasa campur aduk. Raha menaiki motor lalu melajukannya menuju tempat yang Arki katakan kemarin yaitu Ciboer Pass.
Butuh waktu sekitar satu sampai satu setengah jam untuk sampai disana. Letak Ciboer Pass berada di Desa Bantarujeg, Kecamatan Sindangwangi. Raha melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ia bahkan beberapa kali menyalip truk-truk yang ada di depannya.
Tak lama kemudian Raha sampai di Ciboer Pass, ia memarkirkan motornya di tempat yang telah disediakan. Tidak ada tiket masuk ketika ia memasuki kawasan wisata itu. tempat ini juga menawarkan pemandangan yang indah. Hamparan sawah membentang luas seperti di Ubud, Bali. Suasananya juga mendukung untuk relaksasi pikiran sambil duduk ngopi. Pantas saja Arki dan Ataya main kesini. Ataya mungkin butuh merilekskan pikirannya.
Mata Raha bergerilya untuk menemukan satu orang, ia berjalan sambil matanya terus mencari Ataya. seratus meter dari tempatnya berdiri sekarang, Raha melihat Ataya sedang duduk di sebuah warung bersama dengan Arki. Seketika ia ragu untuk menghampiri Ataya. Akhirnya, ia memutuskan untuk menelepon Arki terlebih dahulu.
Deringan ketiga sambungan terangkat. Dilihatnya Arki menjauh ketika ia menerima panggilan dari Raha.
“Halo,” ucap Arki.
“Gue udah ada disini,” kata Raha sambil terus memandangi mereka berdua.
“Dimana?” Arki celingukan mencari keberadaan Raha.
“Sekitar seratus meter dari warung itu arah jam dua.”
Arki mengikuti arahan Raha dan akhirnya ia dapat melihatnya. Raha melambaikan tangannya menyapa Arki.
“Oke. Gue kasih waktu buat lo ngomong berdua sama Ataya.”
“Oke.”
Sanmbungan terputus. Raha berjalan menghampiri warung itu, sedangkan Arki ia tiba-tiba meninggalkan Ataya duduk sendiri. Empat langkah lagi ia sampai di dekat Ataya.
“Ataya,” panggil Raha pelan. Ia berada selangkah dari Ataya.
Mendengar namanya dipanggil, ia menoleh. Ada raut terkejut dari wajahnya, tapi secepat mungkin raut itu sudah tidak ada lagi. “Kenapa?”
“Gue boleh duduk disini?”
Ataya hanya mengangguk. Raha lalu duduk di samping Ataya, ia memandang lurus ke depan. “Lo ngehindarin gue ya?”
“Nggak. Gue sibuk aja.”
“Sibuk apa?”
Ataya memicingkan matanya. “Lo orangnya selalu pengin tahu ya.”
“Tergantung. Gue selalu peduli sama orang yang gue sayang.”
Ataya menghela napasnya. “Ada apa, Raha?”
“Gue cuma pengin lo tahu kalau gue sayang sama lo. Mungkin menurut lo ini terlalu cepat, tapi lagi-lagi tentang perasaan yang kadang tidak kita mengerti sama sekali. Perasaan itu perlahan-lahan muncul.”
“Gue yakin, lo udah tahu jawaban gue. Sama seperti waktu kita muncak beberapa hari terakhir.”
“Ya, gue tahu. Tapi, gue cuma pengen mempertegas aja kalau gue sayang sama lo.”
Ataya menggeleng. “Gue gak bodoh. Gue cukup mengerti dengan perasaan kayak gitu. Jadi lo gak perlu mempertegasnya, karena gue jadi mikir lo ngomong kayak gini dua kali ke gue itu cuma buat memuaskan ego lo.”
Raha berbalik menatap Ataya. “Bukan itu maksud gue, Ataya. Gue cuma pengin lo tahu kalau masih banyak orang-orang di sekeliling lo yang sayang sama lo.”
“Gue tahu. Makanya gue tetap ada di dunia ini ‘kan.” Ataya balik menatap Raha. “Dunia ini gak adil, Ha. Contohnya, lo suka sama gue, tapi gue gak sama lo. Itu gak adil buat perasaan lo karena lo ngerasa sakit hati, sedangkan gue ngarasa itu adil karena gue gak merasakan apa yang lo rasain.”
Raha menatap lurus tepas di mata Ataya, ia mencari kebenaran dari kata-kata yang dilontarkan Ataya dengan melihat matanya. “Lo denial, Ataya.”
Ataya memutuskan kontak mata diantara mereka. “Gue nggak denial.”
“Lo cuma gak mau hati lo tersakiti. Lo membuat benteng yang tinggi dan kokoh agar orang-orang yang di dekat lo gak tahu apa yang lo rasain. Lo memberi batasan ke setiap orang yang deket sama lo.” Tangan Raha meraih tangan Ataya unuk ia genggam. “Dengan lo ngomong kayak gitu, gue jadi tahu apa yang lo rasain ke gue.”
“Memangnya apa?”
“Sebuah perasaan yang masih belum lo mengerti.”
Raha mengambil sesuatu di saku jaket miliknya lalu memberikannya kepada Ataya.
Ataya melihat benda itu.”Ini apa?”
“Mp3.”
“Kenapa?”
“Buat kenang-kenangan. Disitu ada playlist gue selama liburan disini. Gue harap lo dengerin lagu-lagunya.” Raha merapikan bajunya. “Lo pulang lusa ‘kan? Hati-hati ya. Gue pergi.”
Raha bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Ataya sebelum Ataya menjawab. Raha berjalan cepat menjauh dari Ataya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia berhenti ketika berpapasan dengan Arki.
“Udah beres?” tanya Arki.
“Udah.”
“Lo pulang besok ‘kan?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak. Hati-hati ya lo di jalan. Sori gue gak bisa ngaterin lo besok.”
“Gak apa-apa, santai aja kali. Kalau gitu gue pergi ya,” pamit Raha.
Arki mengangguk mengiyakan. Raha kemudian melanjutkan jalannya ke tempat motornya berada. Ia segera menaiki motornya lalu pergi darisana.
Satu jam kemudian ia sudah sampai di rumah Ega. Ia segera masuk ke dalam kamar lalu merebahkan dirinya di sofa panjang. Ega yang baru saja datang ke kamar lima menit setelah Raha datang bertanya, “Udah?”
“Udah.”
“Kok jawabnya lemes gitu, sih.” Ega terkikik pelan melihat respon Raha. “Patah hati ya.”
Raha hanya mendesis mendengar ucapan Ega.
“Yah, beneran patah hati ini anak.” Ega menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Siapa yang patah hati?”
“Gak tahu gue juga, kayaknya orang yang lagi rebahan di sofa, deh,” ejek Ega.
Raha melemparkan bantal sofa ke mukanya Ega. “Sialan lo.”
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua