LOGINAtaya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakai sling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.
“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
“Ke rumah Om Agung, kan besok kamu mau berangkat ke Bogor, jadi kamu pamitan dulu sama mereka nanti, habis itu kita pergi makan ke Rumah Makan Heroy,” ujar ibu yang masih memoleskan bedaknya.
“Oh, oke, kalau gitu aku tunggu di luar ya, Bu,” ucap Ataya. Ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar ibu.
“Ibu udah siap, Dek?” tanya Arki yang sedang duduk di ruang TV.
“Belum, masih make up-an dulu.” Ataya berjalan menghampiri Arki lalu duduk di sampingnya.
“Oh.”
“Kamu gak ngucapin hati-hati gitu ke Raha? Dia kan temen kamu.”
“Memangnya kemana dia?”
“Loh, kamu gak tahu?”
Ataya menggeleng.
“Dia kan pulang ke Jogja hari ini.”
“Oh.”
“Oh?”
“Iya, nanti aku chat dia.”
“Yuk,” ajak ibu yang baru saja keluar dari kamar. Ibu memberikan kunci mobil kepada Arki.
Sejak kedua orang tuanya bercerai, ibu memutuskan untuk bekerja. Ia bekerja di pabrik tekstil di bagian marketing. Dengan usaha dan doanya, ibu akhirnya bisa menyekolahkan Arki dan Ataya serta membeli motor dan mobil.
Arki mengeluarkan mobil dari garasi. Setelah mobil sudah keluar, Ibu dan Ataya masuk ke dalam mobil dengan Ibu yang berada di depan dan Ataya yang duduk di tengah. Arki melajukan mobilnya menuju rumah Om Agung.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Om Agung. Arki memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ibu dan Ataya lebih dulu masuk ke dalam rumah, sedangkan Arki ia menyusul.
“Eh, udah pada datang,” sambut Tante Sarah yang merupakan istrinya Om Agung. “Silakan duduk dulu. Mau minum apa?”
“Apa aja boleh, Sar,” jawab Ibu Ataya.
Mereka duduk di kursi panjang yang berada di ruang tamu. Arki menyusul masuk dan langsung duduk di kursi sebelah Ataya. Tiba-tiba Om Agung datang menyambutnya, mungkin ia sudah diberitahu oleh Tante Sarah bahwa Sinta, kakaknya sudah tiba.
“Baru dateng, Teh?” tanya Om Agung kepada ibu.
“Iya, baru aja. Wildan kemana, Gung?”
“Tadi main sama temen-temennya,” jawab Om Agung. “Eh, kata Ibu kamu, kamu berangkat besok ya.”
“Iya, Om,” jawab Ataya.
“Gak kerasa ya cepat banget kamu liburan disini.”
“Iya.” Ataya tersenyum kecil.
“Kalau kamu, Arki, masih lama disini?” tanya Om Agung.
“Sekitar dua minggu lagi aku berangkat ke Semarang, Om,” jawab Arki.
Tante Sarah datang dengan membawa nampan yang berisi teh hangat untuk Ibu, Arki, dan Ataya. ia meletakkan cangkir itu satu persatu ke atas meja. Selesai meletakkan minuman, ia duduk di sebelah Om Agung dengan masih membawa nampan dan bergabung dalam obrolan.
Ibu, Om Agung, dan tante Sarah mengobrol mulai dari keluarga, bisnis, dan yang lainnya. Arki da Ataya hanya diam mendengarkan atau sesekali mereka menyaut jika nama mereka masuk dalam pembicaraan.
Sudah satu jam mereka mengobrol, tapi belum ada tanda-tanda mereka mengakhiri. Mereka sepertinya terlalu asyik mengobrol, bercerita satu sama lain. Ataya menoel ibunya sampai ibunya menoleh ke arahnya.
“Lapar,” ucap Ataya tanpa suara kepada ibu. Ibu hanya mengangguk lalu kembali menatap sepasang suami istri itu.
“Gak kerasa ya kita ngobrol udah satu jam,” ucap Ibu.
“Iya, gak kerasa,” jawab Tante Sarah.
“Kalau gitu kita pamit dulu ya.”
“Eh, kok langsung pulang, sih. Makan disini aja, yuk,” ajak Tante Sarah.
“Eh, nggak, nanti malah ngerepotin. Kalau gitu kita pamit ya,” pamit ibu kepada Om Agung dan Tante Sarah.
“Ya udah, hati-hati ya pulangnya,” kata Om Agung.
Ibu menganggukkan kepalanya lalu bersalaman dengan sepasang suami istri itu begitu juga dengan Arki dan Ataya yang juga salam kepada mereka berdua. Mereka berjalan keluar dari rumah diikuti oleh sang tuan rumah. Mereka masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan rumah Om Agung.
“Jadi ke Heroy, Bu?” tanya Arki.
“Iya, kita makan siang disana aja sekalian beli makan untuk makan malam nanti,” jawab ibu.
“Oke.” Arki melajukan mobilnya menuju ke daerah Jatiwangi dimana tempat rumah makan yang akan mereka tuju berada.
Dari rumah Om Agung menuju Rumah Makan Heroy membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit. Akhirnya mereka tiba di Heroy. Ibu, Arki, dan Ataya turun dari mobil setelah mobil terparkir dengan sempurna.
Mereka masuk ke dalam lalu langsung mengambil piring dan diisi oleh nasi serta lauk pauknya. Di rumah makan ini, pelanggan mengambil sendiri makanan yang mereka mau. Mereka bertiga sudah mengambil makan lalu berjalan ke belakang. Disana ada kursi dan meja yang berjejer serta di bawahnya merupakan kolam ikan. Mereka memilih tempat di sisi kiri barisan kedua dari depan. Mereka sangat menikmati makanannya karena terasa sangat enak. Sambalnya juga benar-benar juara.
Mereka makan tanpa bersuara sama sekali hanya ada suara gemericik air di bawah dan para pelanggan lain yang sedang mengobrol. Makanan Arki lebih dulu habis, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah wastafel. Ia mencuci tangan dan mengelapnya di kain lap yang sudah disediakan.
Setelah Arki duduk, Ataya kemudian berdiri dan pergi menuju wastafel untuk cuci tangan lalu kembali lagi duduk di kursi. Tinggal ibu yang belum selesai makan. Arki mengeluarkan handphone-nya lalu iseng memotret Ataya yang sedang menatap ke bawah melihat ikan-ikan yang berkumpul.
Ataya yang sadar bahwa kakaknya sedang memotret dirinya, ia melotot kepada kakaknya yang hanya dibalas dengan cengiran tak bersalah. Lima menit kemudian, ibu sudah selesai makan dan cuci tangan. Mereka bangun lalu berjalan menuju kasir. Arki dan Ataya memilih untuk menunggu di luar, sedangkan ibu di dalam untuk membayar makanan mereka.
Tak lama kemudian, ibu keluar membawa sebuah tas kresek berwarna hitam yang isinya makanan untuk makan malam nanti. Mereka segera masuk ke dalam mobil karena di luar senakin panas.
“Langsung pulang, Bu?” tanya Arki ketika mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.
“Iya, langsung pulang aja. Ataya kan belum beres-beres sama sekali,” ucap ibu.
Arki mulai melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sepeti biasa tak ada yang bersuara di dalam mobil hanya ada suara radio yang menemani mereka.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua