LOGINKepada seseorang yang jauh disana
Jalan kita yang telah terpisah ini
Akan terus berlanjut
Bagaiana kabarmu?
Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Mulailah jujur pada dirimu
Rasa takut, kecewa, marah, dan sedih adalah hal wajar bagi setiap raga
Percaya pada dirimu
Pada suatu pertemuan
Saat konjungsi bulan dan venus terlihat
Berharap waktu berhenti detik itu
Jika hati selalu memilih
Maka takdir selalu menentukan
Pada suatu perpisahan
Sebelum mengucapkan selamat tinggal
Aku akan melepas tanganmu
Jika waktu sebecanda itu
Mari kita mulai dari awal lagi
Harapku
~ Aldebaran
Hari ini, Raha libur kuliah. Ia menghabiskan waktunya seharian di rumah. Raha duduk di kursi meja belajarnya. Seperti biasa, ia akan menulis di blognya atau hanya coretan-coretan yang ia simpan di notes laptopnya. Raha sedang mengetik sesuatu di notes-nya. Ia terlihat sedang berpikir keras. Sesekali ia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sambil berpikir. Beberapa menit kemudian, Raha merasa sangat haus. Ia memutuskan keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur untuk membuat minuman.
Di laptopnya ia menuliskan sesuatu yang berisi.
Aku selalu berpikir, apa sekarang baik-baik saja?
Atau, semua yang terjadi dulu itu hanya anganku saja?
Mencintai sosok yang sangat dingin, bukankah melelahkan?
Tapi, aku tidak pernah berpikir bahwa itu melelahkan.
Membiarkan dia pergi dan terbang tinggi
Mempercayai bahwa aku telah melepaskannya.
Tapi, takdir selalu mempermainkan seseorang ‘kan?
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua