Share

BAB 21

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:49:22

Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.

Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.

“Ki, gue mau nanya sesuatu,” kata Raha.

“Nanya apaan?”

“Ada apa sama Ataya?” tanya Raha penasaran.

“Lo nanya kayak gitu cuma penasaran aja atau lo beneran peduli?” Arki memicingkan matanya menilai.

“Gue peduli,” jawab Raha mantap.

“Kenapa lo peduli? Lo bukan siapa-siapa Ataya.”

“... karena gue suka sama dia,” aku Raha.

“Sejak kapan?”

“Gue gak tahu sejak kapan gue mulai suka sama dia, tapi perasaan itu terus tumbuh.”

Arki mengangguk paham. “Jadi lo pengin tahu tentang Ataya?”

“Iya.”

“Ini... cukup sulit buat gue cerita sama orang lain apalagi tentang Ataya, kecuali gue udah percaya banget sama orang itu.”

“Lo percaya sama gue kan? Walaupun kita baru aja jadi temen.”

“Ya. Jadi dengerin baik-baik, Ha, kalau lo sampai nyakitin Ataya, walaupun lo temen gue, gue tetap akan ngasih pelajaran buat lo.” Arki memberi peringatan. “Ataya adalah segalanya buat gue.”

“Gue janji.”

“Jangan paksa Ataya untuk ada di sisi lo ketika dia ingin pergi.”

Raha mengangguk.

Arki memandang lurus ke depan, menerawang jauh mengingat kembali potongan-potongan masa kecilnya dan Ataya. “Awalnya kita adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. Semua kasih sayang terlimpah curahkan kepada kita berdua, hingga pada suatu hari orang tua kita memutuskan untuk bercerai. Bapak pergi ke Bandung dengan membawa Ataya yang saat itu masih berusia enam tahun dan gue ikut sama ibu tetap stay disini.

“Ibu benar-benar hebat menutupi tempramen Bapak yang buruk selama kita masih bersama, sampai kita berpisah tempramen Bapak semakin memburuk. Dia selalu melampiaskan kekesalannya kepada Ataya walau Ataya tidak melakukan kesalahan sekecil pun. Dia selalu bilang bahwa hidup Ataya sama sekali gak worth it. Dia juga selalu bilang terus menerus kepada Ataya kalau dia gak boleh bermimpi tinggi karena kita miskin.” Arki menghela napasnya sebetar. Sesak.

“Bapak juga kadang memukul Ataya, tetapi kata-katanya itu seringkali keluar tanpa berpikir panjang hingga sampai sekarang ucapan itu melekat kuat di diri Ataya. Waktu itu, gue sama ibu belum tahu kalau Ataya sering diperlakukan seperti itu sampai kita dapat kabar kalau Ataya kabur dari rumah. Umur tujuh tahun dia kabur dari rumah. Habis dengar kabar itu, kita langsung pergi ke Bandung pagi-pagi banget sampai disana kita langsung mencari Ataya dengan menanyakan ke sekolah, temen-temen sekolahnya, dan temen-temen mainnya selama di rumah.

“Bapak juga ikut nyari. Berhubung gue waktu itu udah cukup besar, gue udah tahu tentang berbagai ekspresi seseorang. Gue liat kalau Bapak merasa bersalah. Hampir seharian kita nyari-nyari Ataya dan akhirnya Ataya ketemu. Dia lagi duduk diam di tangga masjid komplek sebelah. Sendirian. Matanya menatap lurus kosong. Dada gue sakit ketika ngelihat Ataya. Ibu langsung menghampiri Ataya dan memeluknya dan Bapak, dia cuma berdiri di belakang gue dengan mata yang memerah menaha tangis. Gue gak tahu kenpa Bapak ngelakuin itu semua ke Ataya.

“Sejak saat itu Ataya selalu merendahkan dirinya, banyak diam, dan suka memendam keinginannya sendiri.” Arki mengusap pipinya yang basah lalu tersenyum kepada Raha. “Pada nyatanya ucapan lebih berbahaya ‘kan?”

“Ataya pernah bilang kalau ada seseorang yang dia benci. Itu... siapa?” tanya Raha.

“Bapak,” jawab Arki. “Akhirnya, setelah kejadian itu, Ibu bawa pulang Ataya kesini dan sekolah disini.”

Arki menatap ke langit. Semburat jingga sudah nampak lalu Arki berkata, “Gue udah ceritain semuanya. Lo bisa pulang sekarang.”

Arki berdiri dan akan masuk ke dalam, tetapi Raha menahannya. “Sebentar, gue pengin ketemu Ataya.”

Arki menaikkan sebelah alisnya. “Gue udah bilang kalau Ataya gak mau ketemu lo, jangan maksa.”

“Tolong,” mohon Raha.

Arki menghembuskan napasnya lelah. “Besok gue sama Ataya mau main ke Ciboer Pass. Lo bisa dateng. Gue masuk ya, udah sore.”

Raha melepaskan tangannya dari lengan Arki lalu mengangguk. Ia berbalik menuju motornya lalu pergi dari rumah Ataya. Raha melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia terus memikirkan apa yang tadi diceritakan oleh Arki tentang Ataya. Ia tak habis pikir kepada Bapaknya Ataya, kenapa ia melakukan hal itu ke anak sekecil itu.

Raha berhenti di Taman Dirgantara. Ia turun dari motornya lalu berjalan menuju undakan tembok dan mendudukinya. Ia termenung disana. Kembali memikirkan apakah besok ia akan datang atau tidak. Sebuah bola menabrak kakinya, ia mendongak lalu melihat seorang anak kecil yang berlari ke arahnya.

“Kak, punten bolanya,” ucap anak kecil itu.

“Oh, ini.” Arki memberikan bola itu kepada anak kecil tadi yang sudah berlari ketika ia mendapatkan bolanya kembali.

Arki mengerang. “Ah, gue bingung banget.”

“Woy, Raha!” teriak seseorang memanggil. Raha menoleh lalu menyipitkan matanya. Dilihatnya Ega yang sedang berjalan ke arahnya.

“Ngapain lo disini? Sendirian lagi.” Ega duduk di sebelah Raha.

“Lagi nikmatin angin sore aja,” jawab Raha sekenanya.

“Gue gak yakin. Gue lihat lo dari kejauhan lo kayak lagi banyak pikiran. Ada masalah apa, sih?”

“Gak ada apa-apa. Cuma masalah kuliah aja.”

“Yang bener lo. Gue tahu lo gak bakalan kayak gini cuma gara-gara kuliah doang, lo kan pintar.”

Raha terkekeh. “Sayangnya gue gak pintar masalah kayak gini.”

“Masalah apa?”

Raha menghembuskan napasnya. “Ataya.”

“Kenapa sama Ataya?”

“Gue suka sama dia.”

“Terus kenapa masalahnya ada di Ataya?”

“Dia susah banget buat gue nemuin dia.”

“Lo udah nyatain perasaan lo?”

“Udah.”

Ega terkejut mendengar jawaban Raha “Kapan?! Lo kok gak bilang-bilang sama gue.”

“Itu....”

“Itu apa?” Ega gemas sekali dengan jawaban Raha.

“Itu pas kita muncak waktu itu.”

Ega mengangguk-anggukan kepalanya. “Dan dia belum jawab?”

Raha menggeleng lemah.

“Lo kemakan omongan lo sendiri ya.”

“Yah mau gimana lagi.”

See, sesuatu yang gak pasti, gak bisa lo kendaliin.”

“Iya, gue tahu.”

“Gue rasa dia lagi bingung sama perasaannya,” kata Ega. “Dan mungkin dia kaget.”

“Kenapa kaget?”

“Karena setahu gue Ataya gak pernah dekat sama cowok.”

“Tapi waktu itu, temen cowoknya datang kesini.”

Well, itu temen kan.”

Raha mengedikkan bahunya. “Gue gak tahu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status