LOGINAtaya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.
“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”
Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”
“Kirain belum.”
“Gak mungkin, lah.” Ataya menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
“Berangkat jam berapa, Dek?”
“Nanti siang, deh kayaknya.”
“Mau Aa anterin?” tanya Arki.
“Ya iyalah, masa aku sendiri kesana. Siapa yang bawa tasku nanti.”
“Oh, jadi Aa harus nganter itu biar bisa bawa barang bawaan kamu, gitu?”
“Hmm.” Ataya sibuk dengan sarapannya.
“Dasar.” Arki berdiri lalu membawa piring bekasnya dan mencucinya sendiri. “Aa ke kamar ya, Dek.”
“Oke,” jawab Ataya sambil mengacungkan jempolnya.
Lima menit kemudian, Ataya selesai sarapan dan langsung mencuci piring yang telah digunakannya tadi. Ia pergi ke kamarnya lalu meraih handphone-nya yang berada di atas kasur sebelah kirinya. Ada dua panggilan tak terjawab. Dua-duanya dari Lani. Ataya menelepon balik Lani.
“Halo.”
“Halo. Kenapa, Lan? Lo tadi telepon gue kan?”
“Lo beneran balik hari ini?”
“Iya, kenapa?”
“Nggak. Padahal masih kangen.”
“Kangen siapa?”
“Kangen lo, lah.”
“Oh.”
Ada suara seseorang yang memanggil Lani di seberang sana.
“Ay, gue tutup ya. Adik gue minta anterin dia ke warung. Btw, hati-hati ya.”
“Oke. Makasih, Lan.”
Ataya mematikan panggilan. Ia menatap langit-langit kamar. Raha tidak memberi pesan padanya sampai saat ini dan Ataya juga tidak mengatakan hati-hati kepada Raha. Ataya berguling-guling di kasurnya. Ia merasa resah, tetapi segera ia tepis perasaan itu lalu bangun dan duduk di pinggiran kasur.
Ia memutuskan unutk keluar dari kamar menuju ruang TV untuk membunuh rasa bosannya. Ataya menekan-nekan tombol yang ada di remote karena tak ada tayangan yang menarik sama sekali hingga ia berhenti di sebuah tayangan yang berisi tentang pengetahuan umum. Seharusya tayangan seperti ini yang banyak ditayangkan di sebagian channel TV bukannya malah sinetron gak jelas yang semakin merajalela dan sangat mempengaruhi psikologi anak, pikir Ataya.
Ataya menikmati dengan seksama. Ia seperti diajak kembali ke pelajaran sains pada saat ia sekolah dulu. Pintu kamar Arki terbuka. Arki jalan menghampiri Ataya dan bergabung bersamanya.
“Ini acara apa, Dek?”
“Gak tahu. Ini kayak tentang sains gitu,” jawab Ataya.
“Oh....”
Mereka berdua mendengarkan penjelasan narator tentang bagaimana gunung bisa meletus. Ataya melihat jam yang ada di dinding. “Udah siang, nih, A.”
Arki mengikuti Ataya melihat jam. “Iya. Ya udah yuk, berangkat sekarang aja.”
Ataya mematikan TV terlebih dahulu lalu berjalan ke ruang tamu untuk mengambil tasnya. Ia juga memeriksa kembali apa saja yang belum dibawa. Ataya masuk ke dalam kamarnya dan mengambil handphone yang tergeletak di atas kasur lalu keluar kamar kembali.
Arki sudah menunggu di depan dengan ia yang sudah duduk di jok motor. Ataya mengunci terlebih dulu rumahnya lalu menyerahkan kunci itu kepada Arki. Ia segera menaiki motor lalu Arki mulai melajukan motornya.
Tidak ada yang bersuara di perjalanan hanya ada suara dari kendaraan yang lain. Hari ini cuaca tida terlalu panas seperti kemarin, jadi Ataya memutuskan untuk menggerai rambutnya.
Tak lama mereka sampai di terminal. Banyak orang yang berlalu lalang disana. Ada yang akan berangkat atau baru saja tiba dan ada banyak warung dan pedagang kaki lima yang buka. Arki meminggirkan motornya tepas di depan sebuah warung. Ataya turun dari motor. Ia mencari mobil yang akan berangkat ke Bogor tapi mobil itu belum terlihat sama sekali.
Arki menanyakan apakah mobil itu sudah datang atau belum kepada pemilik warung yang dijawab bahwa mobil jurusan Bogor belum datang, mungkin sebentar lagi. Ataya duduk di kursi yang disediakan oleh warung sambil menunggu bus itu datang.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya bus itu datang. Ataya yang melihatnya segera berdiri dan menghampiri Arki yang sedang duduk di atas motor.
“A, aku berangkat ya,” ucap Ataya sambil memeluk kakaknya.
“Iya, kamu hati-hati ya. jangan lupa kabarin kalau kamu ada apa-apa atau kamu udah sampai,” kata Arki seraya membalas pelukan Ataya.
Ataya melepas pelukannya lalu Arki mengusap kepalanya pelan. “Yuk.”
Arki mengantar Ataya sampai ia naik ke dalam bus dengan aman. Ketika bus itu melaju pelan, Arki melambai-lambaikan tangannya yang juga dibalas oleh Ataya.
Setelah mobil melaju, Ataya membenarkan posisi duduknya. Tasnya ia simpan di atas pangkuan, takut jika ada seseorang yag berniat untuk mencurinya. Ia duduk di dekat jendela. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela karena ia suka setiap kali matanya memandang pemandangan selama di perjalanan.
Ataya menyenderkan kepalanya. Ia berusaha untuk tidur, tetapi tidak bisa. Tiba-tiba ia teringat suatu hal yaitu, dua hari yang lalu, Raha pernah memberikannya sebuah Mp3. Ataya mencari-cari benda kecil itu di sling bag-nya dan ketemu. Selain mengambil Mp3, ia juga mengambil headset untuk ia pasangkan di Mp3 itu.
Suara musik mengalun perlahan. Ataya sangat menikmati playlist yang dibuat oleh Raha. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pelan sambil memandangi pemandanagan di luar sana. Isi dari playlist itu, ada musik yang ceria, bahagia dan ada juga yang sedih.
Sampai tiba musik yang terdengar membuat hati Ataya mencelos. Musik itu berjudul Let Go from BTS. Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Ataya.
Raha Adhideva
Mungkin, pas lo nerima pesan ini, lo lagi dengerin lagu Let Go. Kalau gue gak salah hitung ya. kedengaran aneh kan kalau gue dengerin juga lagu BTS ini? Tapi, arti dari lagu ini mewakilkan perasaan gue ke lo. Gue pengin nanya kabar lo gimana, tapi gue gak bisa karena gue bukan siapa-siapa lo ‘kan. Kayak di lagu itu, gue akan biarin lo pergi dan terbang sebebas yang lo mau. Gue akan nunggu lo dan ayo kita mulai dari awal lagi. Please, jangan nangis.
Lagu itu mengalun dengan indah menyayat hati Ataya di setiap penggalan liriknya. Ia tahu arti dari lagu itu. Sangat tahu. Ataya menangis membaca pesan yang dikirim oleh Raha ketika ia mendengarkan lagu itu.
Ataya jarang sekali mau dekat dengan laki-laki kecuali Bagas, teman dekatnya. Tapi, entah kenapa ketika Raha masuk ke dalam lingkup pertemanannya, ia masuk dengan mudah dan terlalu dalam melihat diri Ataya. Itu yang Ataya khawatirkan, makannya ia berusaha membuat benteng setinggi dan sekokoh mungkin agar orang lai tidak bisa lebih dalam mengenal dirinya, tetapi sialnnya, Raha masuk dengan mudah.
“Pada akhirnya semua akan ninggalin gue. Dengan paksaan atau tanpa paksaan,” gumam Ataya sambil mengelap air matanya.
Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?
Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo
Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”
Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.
Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.
Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua