Share

BAB 25

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:51:31

Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.

Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.

Ataya sampai di kelas dengan napas ngos-ngosan dan rambut yang sedikit berantakan. Ia menumpukan tangannya di kedua lututnya. Mengatur kembali napasnya, Ataya menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju bangku yang masih kosong. Beruntungnya, dosen belum datang ketika ia sampai. Ataya bernapas lega.

Satu jam empat puluh menit semua mahasiswa keluar dari kelas tersebut begitu juga dengan Ataya yang berada di tengah-tengah mereka. Ataya melihat jam yang ada di tangannya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum kelas selanjutnya dimulai. Ataya memutuskan untuk sarapan terlebih dulu di kantin fakultas sebelah karena sekarang cacing-cacing di perutnya meminta untuk diisi.

Jam-jam segini kantin akan ramai oleh para mahasiswa. Ataya mencari tempat duduk yang masih kosong. Ia berjalan sampai ke ujung, tapi tidak ada satupun kursi yang kosong. Semuanya penuh. Suara dering handphone-nya berbunyi. Ataya segera mengangkatnya.

“Halo,” ucap Ataya.

“Lo dimana, Ay?”

“Di kantin fakultas sebelah.”

“Gue juga lagi disitu.”

“Dimana?”

“Gue duduk di kursi barisan ketiga dari depan.”

“Oke. gue kesitu ya.”

Sambungan terputus. Ataya memasukkan kembali handphone-nya ke dalam totebag, lalu ia berjalan mencari seseorang yang tadi meneleponnya. Beberapa menit kemudian, Ataya menemukan orang itu. ia sedang memakan makanannya dan kursi di depannya kosong. Ataya bergegas jalan menuju kursi itu sebelum orang lain menempatinya.

“Gas,” sapa Ataya seraya duduk di depannya.

Bagas mendongak. “Hm. Udah beli makan lo?”

“Belum. Gue titip tas gue bentar ya, gue mau beli makan.” Ataya beranjak dari duduknya.

“Oke.”

Ataya melihat-lihat menu yang ada di kantin dan pilihannya jatuh kepada nasi bakar. Ia ikut mengantre untu membeli nasi bakar itu. Cukup lama Ataya mengantre, akhirnya giliran dirinya yang memesan. Ia memesan satu porsi nasi bakar ayam. Ia menunggu makanannya disiapkan. Tak membutuhkan waktu lama pesanannya sudah jadi, tak lupa ia juga menambahkan kecap di atasnya lalu membayar pesanannya.

Ataya segera kembali ke tempat duduknya lalu duduk. Dilihatnya Bagas yang sudah selesai makan sedang memainkan handphone-nya. Ataya segera memakan makanannya karena perutnya sudah menjerit-jerit sejak tadi. ia memakannya dengan lahap sampai Bagas yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau makan itu pelan-pelan, Ay,” kata Bagas.

“Ini udah pelan, Gas.”

“Lo pulang kuliah ada acara?”

“Ada. Gue mau konsultasi sama psikiater gue.”

Setelah liburan kemarin, Ataya memutuskan untuk pergi ke psikiater. Awalnya ia diantar oleh Bagas, tetapi sekarang sudah tidak lagi karena Ataya melarangnya. Ataya memutuskan ke psikiater karena dirinya menyadari ada yang salah dengan dirinya dan ia ingin bisa mencintai dirinya sendiri.

“Oh. Mau gue anter?” tawar Bagas.

“Nggak usah, Gas.”

“Kenapa?”

“Karena gue gak mau ngerepotin lo.”

“Gue gak ngerasa lo ngerepotin.”

Akhirnya Ataya menyerah. “Ya udah lo anterin gue tapi cuma sampai depan ruangan terus habis itu lo pulang, oke?”

“Kok gitu?”

Ataya mengedikkan bahunya. “Pulang setelahnya atau nggak sama sekali?”

“Oke.”

Ataya menghabiskan makanannya dengan cepat karena sebentar lagi kelas selanjutnya akan dimulai. “Gue pergi ya, ada kelas lagi.”

“Nanti gue telepon lo,” ucap Bagas.

Ataya hanya mengacungkan jempolnya sambil berjan menjauhi Bagas. Ia buru-buru masuk kelas sebelum dosen datang. Hari ini, di jadwalnya hanya ada dua matkul atau dua kelas saja, makanya setelah kelas ini berakhir, Ataya akan langsung pergi ke psikiaternya.

Empat puluh lima menit kemudian kelas berakhir. Ataya segera keluar dan menelepon Bagas.

“Gas, lo dimana?”

“Di halte.”

“Oke, gue kesana.”

Ataya bergegas pergi meninggalkan kelas itu menuju halte fakultasnya. Tak jauh sebenarnya jarak antara kelasnya tadi dengan halte. Ia hanya butuh lima menit untuk sampai di halte. Bagas sudah duduk di motornya sedang menunggu Ataya. Ataya menepuk pundak Bagas lalu segera naik ke atas motor. Mereka pergi meninggalkan kampus.

“Lo gak ada kelas lagi?” tanya Ataya.

“Gak ada. Hari ini cuma ada kelas pagi aja.”

“Oh.”

Mereka akhirnya sampai. Bagas mengantarkan Ataya sampai ke depan ruangan. Ketika Ataya akan masuk, Bagas masih berdiri diam disana lalu Ataya pun berkata, “Pulang, Gas.”

Bagas mengangguk patuh lalu pergi meninggalkan tempait itu. Setelah melihat Bagas pergi, Ataya masuk ke dalam ruang psikiaternya. Psikiater itu menyambut Ataya ramah dan mempersilakannya duduk.

“Bagaimana harimu?” tanya psikiater.

“Baik.”

“Apa ada hal yang ingin kamu ceritakan? Oh, kamu sudah mengisi soal yang saya berikan minggu lalu kan?

“Sudah saya isi, ini.” Ataya menyodorkan beberapa kertas kepada Sang Psikiater. “Dulu waktu saya masih SMA, saya mempunyai teman dekat. Kami berdua sangat dekat sekali sampai suatu hari, dia melakukan kesalahan yang membuat saya tidak ingin lagi berteman dengannya.”

“Apakah selama itu dia baik padamu?”

“Ya dia baik sekali.” Ataya menjeda ucapannya, “dan ketika saya tidak suka terhadap sesuatu maka saya akan langsung pergi meninggalkannya.”

“Hmm. Menurut saya, kamu selalu berpikir secara hitam putih.”

“Apa itu berpikir hitam putih?”

“Berpikir dengan cara membedakan bahwa ini adalah baik dan itu adalah buruk. Padahal dalam dunia ini segala sesuatu itu terlalu abu-abu, tidak bisa dikotak-kotakkan sepeti itu. Saya sarankan kamu mengurangi berpikir seperti itu.”

“Uhm, baik. Akan saya lakukan.

“Apa ada lagi cerita lain?”

“Ada. Selagi saya liburan di kampung halaman, saya dekat dengan seorang laki-laki, tapi saya selalu membuat dirinya menjauh dari sisi saya dan kadang saya juga ingin dia berada di dekat saya. Bukankah itu sangat labil?”

“Saya pikir, itu adalah ambivalen. Ambivalen adalah perasaan yang saling bertentangan, contohnya seperti yang kamu alami itu.

“Apa itu berbahaya?”

“Ambivalen biasanya diderita oleh orang depresi, tapi apakah ini berbahaya atau tidak, saya belum dapat memastikan, ini tergantung orangnya.” Psikiater melihat kertas yang telah diisi oleh Ataya. “Kenapa kamu datang ke psikiater?”

“Karena saya ingin lebih bisa mencintai diri saya sendiri—kira-kira apa penyakit saya?”

“Dari yang saya lihat di kertas yang sudah kamu isi dan beberapa cerita yang telah kamu ceritakan. Saya menyimpulkan kamu mengidap distimia.”

“Apa itu distimia?”

“Distimia yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan gejala depresi berkepanjangan minimal dua tahun. Distimia ini bisa disebabkan oleh faktor lingkungan dan juga psikologis.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status