Share

BAB 20

Author: Venus Jingga
last update publish date: 2020-09-23 15:48:51

Sekitar jam empat pagi, mereka berlima sudah bangun dan sekarang mereka sedang makan yang tadi telah disiapkan oleh Ataya dan Lani. Selesai makan, mereka siap-siap untuk summit attack pagi ini. Biasanya dari pos lima sampai simpang Apuy-Palutungan butuh waktu sekitar satu sampai satu setengah jam. Disana mereka istirahat sebentar seperti minum dan makan makanan ringan yang tersisa. Selepas rehat sejenak, mereka lanjut berjalan menuju pos enam (Goa Walet).

Sampai di pos enam mereka singgah sebentar sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Ataya mengeluarkan handphone-nya lalu memotret Bunga Edelweiss.

“Lo tahu Bunga Edelweiss ini melambangkan apa?” tanya Raha yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.

“Apa?” Ataya masih sibuk memotret.

“Bunga ini melambangkan keabadian cinta, ketulusan, dan pengorbanan,” jelas Raha.

“Kenapa disebut abadi?”

Raha memegang bunga itu lalu berkata, “Karena bunga ini bisa tumbuh selama sepuluh tahun. Bunga Edelweiss memilki hormon yang bisa mencegah kerontokan kelopak bunga.”

“Oh....”

Arki, Ega, dan Lani menghampiri mereka berdua. “Yuk jalan lagi,” ucap Ega.

Mereka berlima lanjut jalan menuju puncak. Jalur yang terjal dan berat menjadi rintangan yang harus mereka lewati untuk menuju puncak tertinggi di Jawa Barat ini. Pada saat melewati jalur itu, Ataya terjatuh.

Raha membantu Ataya berdiri. “Sini. Kan udah gue bilang pegangan sama gue, ngerti.”

Ataya hanya mengangguk, sedangkan yang lain sudah berada di depan. Ataya berpegangan kepada Raha. Berkali-kali Ataya terpeleset, tapi utungnya Raha menahannya. Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sampai di puncak Gunung Ciremai.

Ataya tak bisa berkata-kata ketika ia akhirnya sampai di puncak gunung tertinggi ini. Begitu juga Arki, Raha, Ega, dan Lani yang memandang takjub samudra awannya Jawa Barat yang membentang luas. Dikejauhan terlihat Gunung Slamet yang berada di Jawa Tengah walau terlihat sangat kecil. Terlihat juga Gunung Cikuray yang berada di Garut.

Semua rasa lelah yang mereka rasakan seakan sirna digantikan dengan perasaan bahagia. Hamparan awan dan cahaya matahari yang mengintip malu-malu menambah keindahan alam ini. Keistimewaan dari Gunung Ciremai ini yaitu, ada dua kawah yang warnanya kadang hijau kebiru-biruan.

Sang mentari perlahan naik, ia mulai menampakan sinarnya yang indah. Mereka berlima mengambil handphone-nya masing-masing. Mereka mengabadikan momen ini dengan memotret matahari terbit yang sekarang sedang mereka lihat.

Lani yang berada di sampig Ataya mengajak Ataya untuk berfoto bersamanya. Mereka berfoto berdua dibantu oleh Arki yang memotretnya. Di setiap foto tadi, Ataya hanya tersenyum tidak ada pose lain dari dirinya, sedangkan Lani, ia memakai berbagai macam pose.

Raha menghampiri Ataya. “Gue boleh foto sama lo?”

“Buat apa?” tanya Ataya.

“Buat kenang-kenangan aja.”

Ataya berpikir sejenak. “Oke.”

Mereka berdua berfoto bersama dengan dibantu oleh Ega.

“Udah?” tanya Ataya kepada Ega. Ega mengangguk lalu memberikan kembali handphone Raha.

“Eh, kita foto bareng, yuk,” ajak Arki. Ia meminta pendaki lain untuk memfoto mereka bersama.

Ega segera gabung dengan Raha dan Ataya yang tadi diam saja. Ia berada di samping Raha. Lani di samping Ataya, dan Arki berada di samping Lani. Semuanya tersenyum bahagia. Ega sengaja terus mendesak Raha agar ia bisa masuk ke dalam frame fotonya karena jarak antara Ataya dan Raha sedikit berjauhan.

“Geser dikit, Ha. Gue nanti gak masuk di fotonya,” kata Ega. Raha menuruti perkataan Ega. Ia menggeser tubuhnya menjadi dekat dengan Ataya.

Ataya yang menyadari Raha mendekat, ia menggigit bibir bawahnya. Gugup. Jatungnya bertalu-talu.

“satu... dua...tiga.” Suara kamera terdengar dan Ataya langsung menjauhkan dirinya dari Raha. Jantungnya bereaksi berlebihan ketika ia berada di dekat Raha.

“Udah mulai panas, nih. Turun sekarang yuk,” ajak Arki. Mereka berempat mengangguk dan mulai turun dari puncak.

Perlu kehati-hatian ketika mereka berjalan turun. Ketika mereka berjalan turun banyak pendaki yang sedang berjuang untuk sampai puncak. Mereka akhirnya tiba di pos lima. Istirahat sebentar lalu membongkar tenda yang mereka gunakan tadi malam lalu beres-beres. Selesai beres-beres mereka lanjut turun sampai kemudian tiba di basecamp. Waktu untuk turun sekitar dua sampai dua setengah jam karena jalannya yang turun.

Setelah sampai di basecamp mereka duduk-duduk sebentar, sedangkan Arki ia tengah menelepon seseorang.

“Masih dimana katanya?” tanya Ega setelah Arki duduk di sampingnya.

“Lagi di jalan, sebentar lagi juga sampai,” jawab Arki.

Ataya dan yang lainnya meluruskan kakinya. Mereka mengobrol sampai mobil yang mereka sewa datang menjemput mereka.

“Itu mobilnya.” Ega menunjuk mobil yang baru saja tiba.

Mereka berlima berjalan menghampiri mobil itu lalu memasukkan tas-tasnya ke dalam bagasi dan satu-persatu mulai menaiki mobil itu. Setelah naik ke mobil, Ataya memutuskan untuk tidur karena semalam ia hanya tidur sebentar. Jantungnya lagi-lagi tidak karuan setelah Raha bilang kata-kata itu.

Di mobil tidak ada yang berbicara sedikit pun, sepertinya mereka terlalu lelah untuk berbicara saat ini. Tak terasa mobil masuk ke pekarangan rumah Ataya. Ataya yang tertidur pulas dibangunkan oleh Lani ketika mereka akan turun. Ataya mengerang lalu membuka matanya. Setelah cukup sadar akhirnya ia turun dari mobil dan ikut membantu menurunkan tas yang ada di bagasi.

Setelah semua barang dikeluarkan mobil itu pun pergi. Raha dan Ega langsung pulang menggunakan motornya yang kemarin disimpan di rumah Ataya, sedangkan Lani, ia diantar oleh Arki menggunakan motor juga. Ataya masuk ke dalam rumah setelah mereka berempat pergi. Ia disambut oleh ibunya yang sedang duduk di ruang tamu menunggu Arki dan Ataya. Ataya melepaskan carrier-nya lalu duduk di sofa merebahkan dirinya.

“Mandi dulu sana, Dek,” ucap ibunya. Ataya duduk lalu pergi menuju kamarnya untuk mengambil baju dan anduk, setelah itu ia pergi kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, Ataya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar daripada tadi. Ia menjemur anduknya dan bertemu dengan Arki yang baru saja datang dari rumahnya Lani.

“Baru mandi, Dek.”

“Iya.”

Setelah basa basi dengan Ataya, Arki segera masuk ke dalam disusul oleh Ataya. Ataya masuk ke kamarnya dengan membawa tas carrier-nya. Ia berniat untuk mengeluarkan semua barang-barang yang ada di tas itu. Ataya duduk di atas karpet lalu mulai membedah tasnya. Baju dan celana yang kotor ia pisahkan lalu tenda, sleeping bag, dan matras ia jadikan satu agar ia mudah untuk mengembalikannya kepada Arki.

Sibuk mengeluarkan barag-barangnya, rasa kantuk mulai menyerang Ataya. sudah beberapa kali ia menguap dan akhirnya memutuskan untuk berhrnti dulu lalu tidur di kasurnya. Ketika kepalanya menyetuh bantal, Ataya langsung menutup matanya dan butuh waktu lama hembusan napas yang teratur terdengar. Hari ini, Ataya tertidur dengan nyenyak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Let's Watch the Stars Forever   EKSTRA PART

    Kepada seseorang yang jauh disanaJalan kita yang telah terpisah iniAkan terus berlanjutBagaiana kabarmu?Masih sulit untuk mencintai diri sendiri?

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 25

    Bangun kesiangan adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan ketika pagi ini ada kelas pagi yang diisi oleh dosen killer. Ataya buru-buru mengganti bajunya, menyisir, lalu menyemprotkan parfum ke seluruh badannya agar tidak ada bau tak sedap yang muncul karena pagi ini, ia sama sekali tidak mandi pagi.Ataya segera memakai sepatunya lalu mengunci pintu dan berlari ke kampus. Untungnya, kost-annya lumayan dekat dengan kampus, jadi hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kampus ditambah tiga menit untuk sampai kelas.Ataya sampai di kelas dengan napas ngo

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 24

    Ataya meletakkan tasnya di ruang tamu. Ia pergi ke dapur dan menemukan Arki yang sedang sarapan disana. “Ibu udah berangkat, A?” Ataya ikut duduk di kursi meja makan.“Udah tadi. Kamu udah pamitan kan sama ibu?”Ataya menyendok nasi goreng sangku ke dalam piringnya. “Udah, tadi pas subuh.”“Kirain belum.”

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 23

    Ataya bersiap-siap. Ia memakai kaus berwarna merah muda, celana kulot berwarna biru pudar dan cardigan lengan panjang berwarna hitam. Ia memakaisling bag-nya lalu menguncir rambutnya seperti biasa. Hari ini cuaca sangat panas, jadi ia memutuskan tidak menggerai rambutnya. Setelah selesai siap-siap, Ataya keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar ibunya. Sebelum masuk ia mengetuk terlebih dulu dan setelah suara ibu mempersilakannya masuk ia membuka pintu dan segera masuk ke kamar.“Mau kemana, sih, Bu, memangnya?” tanya Ataya sambil duduk di atas kasur ibunya.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 22

    Pagi menjelang siang, Raha mondar-mandir di kamar Ega sambil tangannya ia sedekapkan seraya berpikir. Haruskah ia pergi menemui Ataya atau tidak sama sekali. Jika ia tidak pergi maka ia tidak bisa menyatakan perasaannya sekali lagi, sedangkan jika ia pergi, ia takut Ataya tidak mau menemuinya.Seseorang membuka pintu kamar, Ega masuk ke kamar. Ia heran melihat Raha yang sedang mondar-madir tidak karuan.“Lo lagi apa, sih?” tanya Ega sambil duduk di atas kasur.

  • Let's Watch the Stars Forever   BAB 21

    Sudah beberapa hari Raha tidak bertemu dengan Ataya sejak terakhir kali mereka bertemu pada saat mendaki gunung, padahal ia cukup sering bermain di rumah Ataya bersama Arki dan Ega, tapi Ataya tidak pernah keluar sedikit pun. Seharusnya, sehari setelah muncak Raha sudah pulang, tetapi karena ada satu dan lain hal, maka ia memundurkan kepulangannya. Raha sudah memberitahu orang tuanya bahwa ia akan pulang dua hari lagi.Sekarang ia sedang mengobrol dengan Arki di teras rumah. Hanya berdua. Tidak ada Ega karena dia ada urusan lain.“Ki, gue mau nanya sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status