Masuk"Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.
Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat.
"Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.
Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.
Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya.
"Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.
Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah.
"Aku bukan milikmu."lirihnya, air matanya tak tertahan lagi, akhirnya lolos begitu saja. Ia menekan langkah membuka pintu, meninggalkan kamar hotel.
Amora menekan tombol lift, bergegas masuk lalu menekan tujuannya. Ia menyeka air mata di sudut mata indahnya.
"Beraninya dia mengatur hidupku." Membatin.
Dia sudah membayar nya dengan harga sangat mahal kerusakan mobil yang ia sebabkan.
Harga dirinya dan masa depannya tidak sebanding dengan harga mobil pria sialan itu.
Amora keluar dari lift dan melangkah meninggalkan hotel.
Menyusuri jalan dimalam hari, tanpa tujuan. Seorang diri di negara asing. Amora menangis tanpa suara, hanya ada derai air mata di wajah sendunya.
Entah sudah sejauh mana ia melangkah membuat kakinya terasa lelah, beruntung tak jauh darinya ada halte bus. Ia membawa langkahnya kesana, duduk diantara penumpang Bus.
Amora melepas sepatunya. "Dasar sial, pria sialan itu membuatku kesusahan." Sungut Amora dalam hati. Ia melepas sepatunya yang bertumit tinggi.
....
Tristan menelepon Gabriel. Setelah pria itu keluar dari kamar mandi, ia tak menemukan Amora di dalam kamar. Tristan sudah mencari di balkon kamarnya tetapi gadis itu juga tidak ada sana.
"Halo, Tuan." Sapa Gabriel.
"Apa gadis itu ada di tempatmu?"Tristan menggaruk tengkuknya, ia merasa malu menanyakan hal itu pada Gabriel.
"Tidak, Tuan." Jawab Gabriel, ia mengernyit. Tristan baru saja menarik paksa Amora jelas di depan matanya.
"Ah sial!" Umpat Tristan.
Tristan mematikan ponselnya, ia segera keluar kamar untuk mencari Amora.
"Tuan,"
Saat bersamaan Gabriel juga turut keluar, saar Tristan mengumpat ia tahu ada masalah.
"Gadis itu tidak ada di kamar, aku rasa dia belum jauh. Cari sampai ketemu." Ucap Tristan sembari melangkah lebar melewati Gabriel.
"Baik, Tuan." Gabriel menutup pintu kamarnya, lalu mengikuti langkah Tristan.
Di pintu hotel mereka berpisah, Tristan ke arah kiri dan Gabriel ke kanan.
"Menyusahkan!" Tristan menggeram, ia menyusuri jalan, sembari mengedarkan tatapannya ke segala arah.
Tristan berlari saat melihat penumpang mengantri masuk kedalam bus. Ia melihat satu persatu orang itu.
Tristan berulang kali minta maaf, ketika membuat orang -orang disana tidak nyaman.
Bus melaju, meninggalkan halte. Tristan yakin Amora tidak ada di dalam Bus itu. Amora tidak punya uang atau kartu menaiki Bus itu. Tentu saja kalau gadis itu masih memiliki kewarasan. Ia tidak akan mempermalukan dirinya, menumpang.
"Astaga, gadis bodoh. Kemana dia?" Tristan melanjutkan langkahnya mencari Amora.
Sementara Amora, ia telah meninggalkan halte sepuluh menit yang lalu melanjutkan langkahnya.
Berjalan terus menenteng high heels di tangan.
Gabriel merasakan getar dalam saku celananya, ia merogoh dan melihat Tristan menelponnya.
"Kau menemukannya?" Tanya Tristan, sembari mengedarkan tatapannya ke segala arah.
"Belum, Tuan."
"Cari sampai ketemu." Tristan mematikan ponselnya.
Gabriel melihat minimarket lalu memasukinya. Mencari Amora di dalam sana.
Begitu juga dengan Tristan, ia memasuki beberapa ruko yang masih buka dimalam hari.
Semakin jauh pria itu melangkah, semakin besar rasa cemasnya.
Amora seorang diri, dan tanpa pengenal. Ini bukan Indonesia, bagaimana kalau sesuatu bahaya terjadi padanya. Trista mulai panik, ia terus mencari Amora di setiap toko yang masih buka.
Dari toko roti, komesmetik, minimarket, dan terakhir ia melihat Amora berdiri di depan sebuah klinik.
Tristan mengatur nafasnya, jantungnya berdegup setelah berjalan jauh. Ia menelpon Gabriel.
"Tuan, saya belum menemukannya."
"Kembalilah ke hotel. Aku sudah bersamanya." Kata Tristan lalu mematikan ponselnya. Ia menatap gadis yang tak jauh darinya seperti memandangi sesuatu di dalam klinik itu
Tristan mengerutkan dahi, penasaran apa yang membuat Amora begitu serius menatap kedalam lantas ia mendekati.
"Apa yang kau lihat disana?" Tanya Tristan mengejutkan Amora.
"Tuan?" Amora gugup, ia gemetar saat melihat Tristan berdiri di sampingnya.
Cepat sekali pria ini menemukannya.
Tristan melihat apa yang mencuri perhatian Amora dalam klinik itu.
Sebuah iklan yang ditayangkan berulang-ulang dalam layar televisi mengenai operasi bibir sumbing.
Mari membantu mereka tersenyum. Begitu isinya.
Tristan tersenyum kecil, seketika rasa kesalnya lenyap begitu saja. Kemudian ia menarik Amora menuju pelukannya.
"Tuan, maafkan aku." ucap Amora, dengan suara takut-takut.
"Kau ingin pergi dariku? Bagaimana kalau aku meninggalkanmu di negara ini? Kau tidak akan pernah bisa menemui bayimu lagi." ucap Tristan.
"Aku merindukannya, Tuan. Apa aku boleh menemuinya?"
"Selama kau patuh, aku akan memberimu akses menemuinya." Ucap Tristan.
"Terima kasih, aku akan mencoba patuh." Balas Amora dari dekapan Tristan.
"Dimana kau menemukannya?"
"Siapa?" Amora mendongak.
"Yang kita bahas sekarang siapa?"
"Bayiku? Di kolong jembatan. Dia seorang diri, kedinginan di malam hari saat." ucap Amora, ia kembali mengingat masa itu. Kedua mata nya menjadi nanar karena basah air mata.
"Dia dibuang karena sumbing, tuan." Gumam Amora.
"Dan kau menjadi sok pahlawan mengasuhnya. Seharusnya, kau mengantarnya ke kantor polisi, tidak perlu membebani dirimu."
"Aku ingin merawatnya."
Tristan melihat kaki telanjang Amora. Tanpa alas, pria itu melebarkan matanya. Gadis ini tidak kesakitan berjalan sejauh itu tanpa sepatu.
"Aku merindukannya." Lirihnya lagi.
Tristan melepas pelukannya, ia menumpukkan satu lutut pada lantai. Amora mengernyit bingung. Apa yang Tristan lakukan berlutut di bawah.
"Naiklah kita pulang." Katanya, menepuk punggungnya.
"Aku punya kaki," tolak Amora.
"Naik atau aku menyeretmu." Ancam Tristan.
Amora patuh, naik ke punggung Tristan dan melingkarkan kedua tangan di leher pria itu. Sepatu yang ada di tangan Amora kini tepat i bawah dagu nya. Ia risih.
Tristan berdiri, lalu menarik kedua kaki Amora supaya melingkari pinggangnya.
"Buang sepatu nya," kata Tristan.
"Tapi, tuan."
"Buang saja, aku akan menggatinya dengan sepatu yang nyaman kau pakai."
Amora melepaskan sepatu dari tangannya.
"Buang sampah sembarangan." Gumam Amora, karena begitu saja meninggalkan sepatu itu di halaman klinik.
"Kau tahu harga sampah itu?"
"Aku tidak mau tahu,"
"Lalu kau mau apa?"
"Apa maksudnya?"
"Katamu kau tidak mau 'tahu', kau mau tempe."
"Tuan, tidak lucu." Amora memukul pelan bahu Tristan, candaan yang garing dari pria itu membuatnya tersenyum tipis.
Mereka menyusuri jalanan di malam hari. Amora berada dalam gendongannya, hal yang tidak pernah Tristan bayangkan sebelumnya. Ia menggendong gadis gang ini.
"Amora," Tristan memecah keheningan setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Iya, tuan."
"Jangan pernah berpikir melarikan diri dariku."
"Apa aku bisa melakukan itu? Tuan bahkan sangat cepat menemukan aku malam ini."
"Karena itu patuhlah, kalau tidak aku akan melukaimu." Tegas Tristan,
"Tuan selalu mengancamku."
"Itu karena kau selalu membangkang."
Tristan terus menggendong Amora menuju hotel.
Tbc
Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar
Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil
"Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b
Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar
"Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar
"Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera