LOGINWaktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.
Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya.
"Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban.
"Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.
Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya.
"Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu.
"Berikan padaku, Tuan."
"Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.
Gabriel menekan lift dan mempersilahkan Tristan masuk.
"Gabriel, apa yang terjadi padaku?" Tanya Tristan saat lift membawa mereka naik ke atas.
"Apa maksud, Tuan." Gabriel bertanya bingung.
"Aku harus ke rumah sakit." Gumam Tristan
"Apa anda sakit?"
"Ya,"
"Seperti apa? Katakan Tuan, bagian tubuh mana yang sakit. Saya akan telpon dokter Humaira untuk menjadwalkan pemeriksaan begitu tiba di Jakarta."
Ding.
lift terbuka, Gabriel segera mendahului Tristan. Ia langsung berjongkok tepat di hadapan pria itu.
"Berikan padaku gadis itu, Tuan. Biar saya yang menggendongnya."
"Ck, jangan menghalangi jalanku, bodoh." Tristan melewati Gabriel.
"Tapi, Tuan. Anda sedang sakit."
"Yang sakit itu bukan tubuhku tetapi," Tristan menghela panjang, melegakan dadanya yang sesak. Tristan menoleh pada Gabriel.
"Jantungku berdebar sejak tadi. Jadwalkan pada Humaira. Aku akan periksa besok."
"Sialan!" Gabriel yang sempat cemas akhirnya mengumpat.
"Ada apa?" Tristan menatap asistennya yang mengumpat padanya.
"Kau yakin jantungmu bermasalah?"
"Deg, deg, deg. Begitu suaranya dan sangat kencang. Menurutmu apa itu tidak salah. Bagaimana kalau meledak nanti." Ucap Tristan.
"Semoga saja meledak." Gabriel mendahului Tristan dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Yakk, kau tidak sopan. Saya majikanmu gila." Seru Tristan, melihat Gabriel menghilang di balik pintu.
"Ada apa dengannya? Benar-benar menjengkelkan." Tristan melanjutkan langkahnya, membungkuk kecil. Tangannya satu menscan kartu pada gagang pintu sementara tangan lain, menopang tubuh Amora di punggung.
Tristan masuk, meletakkan pelan Amora di atas ranjang. Duduk di tepian sembari memperhatikan gadis itu terlelap.
Tristan merapikan helain rambut yang menutupi wajah Amora. Ia tersenyum, merasa lucu pada dirinya sendiri.
"Aku bahkan berlari mencarinya. Gadis sialan ini membuatku seperti orang gila. Kenapa aku melakukan itu. Ini sangat aneh." Tristan menekan dadanya yang berdegup kencang
"Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdentak kencang begini?"
Tristan mengembuskan nafas kuat sembari berjalan mengambil tisu basah yang ada di atas meja kecil di ruangan itu. Ia kemudian mendekati Amora di ujung kaki ranjang. Melihat kaki gadis itu yang sudah menghitam akibat tidak mengenakan sepatu saat berjalan di jalanan.
Tristan perlahan menyapukan tisu, pemilik kaki merasa geli. Amora menendangkan kakinya pelan tanpa membuka matanya.
Tristan kembali membersihkan telapak kaki itu, Amora terjaga.
"Tuan, apa yang anda lakukan?" Amora menarik diri dan langsung duduk.
"Bersihkan kakimu. Jangan kotorin sprei nya." Ucap Tristan kembali dengan sikap wajah angkuhnya.
Amora melihat telapa kakinya, hitam.
"Maaf," lirihnya. Turun dari ranjang dan berjalan jinjit ke kamar mandi.
Tristan keluar kamar, ia duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya dari saku. Melihat foto-foto Rena lewat Instagram. Tidak ada senyum di bibirnya seperti biasa saat ia melihat artis terkenal itu.
"Aku menyukai artis ini, aku yakin itu." Tristan bermonolog sendiri, menyakinkan diri agar tidak salah paham dengan degup jantungnya sesaat lalu.
.....
Jakarta, Indonesia.
"Kau akan bertemu dengan Tristan?" Tanya Liliana pada putri nya.
"Mmm," jawab Rena, wajahnya sedang di pasang masker.
Liliana tersenyum, ia bahagia putrinya akhirnya membuka hati pada pria itu.
"Pertemuan seperti apa, sayang?" Menarik kursi duduk di samping tempat tidur perawatan Rena.
Tubuh dan rambutnya di bungkus handuk, seorang perawat sedang mengurut kepalanya.
"Pertemuan biasa, tidak ada yang spesial. Seharusnya dia mengajak bertemu di tempat spesial? Tetapi malah menyuruhku mampir di kantornya." Rena mengeluh.
"Hei sayang, tidak masalah. Yang penting kalian bertemu dulu. Berikan wajah baikmu padanya dan bersikaplah manis. Satu lagi, pria yang disampingnya. Jangan menyingungnya. Dia seperti saudara baginya." ujar Liliana memperigatkan putrinya mengenai Gabriel.
Gabriel selalu ada di belakang Tristan. Tetapi saat ada yang merendahkan Gabriel karena dia anak seorang pengasuh. Tristan tak segan-segan menghancurkan orang -orang yang meremehkan Gabriel.
Bagi Tristan Gabriel sudah dianggap seperti saudara. Mereka tumbuh bersama-sama di atap yang sama meskipun dengan status yang berbeda.
"Kenapa? Apa Tristan akan menghancurkan karirku jika aku menyinggungnya. Seperti yang ia lakukan pada Steci saat itu?" Tanya Rena, ia meragukan gosip itu.
Steci, kesal pada Gabriel karena menghalagi langkahnya bertemu dengan Tristan. Maka gadis itu menampar Gabriel dan melontarkan kata-kata makian padanya.Tristan mendengarnya. Ia tetap memberi wajah hangat pada Steci tetapi setelah itu, karir Steci hancur. Skandalnya dengan sutradara menyebar luas ke publik.
Steci sudah berulang kali meminta maaf, namun Tristan mengatakan kalau makian yang ia lontarkan pada Gabriel tidak dapat ditarik lagi.
"Hanya berjaga -jaga saja. Kau harus baik pada pria itu sebelum mendapatkan Tristan seutuhnya." Kata Liliana.
Rena tersenyum sinis. Ia mulai tertarik lebih nekat untuk mendapatkan Tristan.
....
Amora tampak bahagia, ia menggendong Huriyah. Sore hari mereka tiba di Jakarta dan mendapatkan izin dari Tristan menemui bayi kecil itu.
"Kau dari singapore?" Tanya Jesica saat mendengar cerita Amora.
"Mmm,"
"Sungguh, kamu enak sekali sudah ke luar negari." Jesika merasa iri pada temannya itu.
Amora menghela nafas berat. Ia meletakkan Huriyah di boks nya. Berkacak pinggang di hadapan Jesika.
"Kau tidak tahu apa yang kulewati, Jesika. Hidupku sudah hancur."
"Kenapa? Dia bahkan memanjakannmu." Jesika mencebik, matanya melihat pada benda yang melingkar di leher Amora. Kalung tipis berliontin berlian. Sangat cantik di leher putih Amora.
Amora menyentuhnya. Ia berdecak, ia sungkan menceritakan kalau dirinya tak lagi perawan pada Jesika. Semua yang diberikan Tristan tidak sebanding dengan apa yang dicuri pria itu darinya. Harga dirinya sudah hancur.
Amora menggelengkan kepala, ia menatap temannya itu dengan sedih.
"Dia menyukaimu hingga menculikmu dan menculik kami juga."
"Memangnya kau diculik?" Tanya Amora memutar bola mata jengah.
"Yakk, dia menculikku juga. Tak satupun diantara mereka yang mau menggendong putrimu." Ujar Jesika kesal.
"Oh baiklah, baiklah, jangan marah." Amora mencubit-cubit dagu Jesika.
"Cih, dasar kau ini. Tapi Mora," Jesika mendekat dan berbisik di telinga Amora.
"Aku betah disini." Kemudian dia tekikih membuat Amora mendengus.
"Saat aku dilempar kau juga akan terlempar. Mengerti."
"Maka karena itu, aku ingin nikmati segalanya."
"Menyebalkan." Ketus Amora
"Penjanga gerbang itu sangat tampan." Amora menaikkan kedua alis tebalnya mendengar perkataan Jesika.
"Seleramu kenapa rendah. Bukankah kau mencintai Suho?" Tanya Amora.
"Di dunia halu, bodoh."
Amora tergelak, "Tapi, pria itu juga mirip Suho." Kata Jesika.
"Aku nggak yakin, matamu pasti katarakak."
"Kau tidak percaya?"
"Tidak!"
Keduanya tergelak hingga membangunkan Huriyah. Amora segera mengambilnya lagi dan menimangnya.
Tbc
Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar
Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil
"Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b
Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar
"Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar
"Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera