Share

Part 8

Aвтор: Re Siregar
last update publish date: 2020-11-03 14:58:21

"Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik." 

Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.

Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya.

"Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send. 

Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik. 

"Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.

Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena.

"Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi. 

Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini karena hati.

Tetapi Rena berulang kali mendengar gosip mengenai Tristan yang selalu membaringkan wanita di ranjangnya.

Tristan bahkan tidur bersama wanita yang menjadi saingan Rena di dunia hiburan. Ia benci itu, karena media sempat menyorotinya hingga nama wanita itu bertambah populer.

Ping ! 

Ponselnya berbunyi, pesan masuk. Rena segera mengambilnya dari meja rias.

"Gabriel hanya kacung, lalu bagaimana bisa ia bebas membawa kucing manis saat perjalanan bisni? Aku sudah lama menyukaimu, mari kita kembali seperti dulu, Rena."

Rena tersenyum sinis, ia mematikan ponselnya. Pria itu, jika kembali reputasinya akan hancur. 

"Tidak, aku tidak menyukaimu lagi." Batinya sembari mengepal erat ponselnya.

Hotel 

Gabriel menurunkan Amora dari gendongannya di depan pintu kamar Tristan, lalu mengetuknya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. 

"Masuklah," kata Gabriel, di dalam Tristan sudah menunggu.

"Kau?" Tanya Amora, saat melihat Gabriel bergerak meninggalkannya.

"Aku ada di sebelah." Gabriel menunjuk kamar tepat di sebelah kamar Tristan.

Amora berdecak. Lagi, ia harus berdua bersama pria neraka itu.

"Kau tidak masuk?!" Suara Tristan terdengar, seperti perintah.

Amora membawa langkahnya ke tengah ruangan. Tristan segera menutup pintu dan melihat kaki telanjang Amora.

"Memalukan." Sungut Tristan, melangkah cepat melewati Amora dan duduk di sofa.

"Kau yang memalukan." Batin Amora, ia mengagumi interior hotel ini. Sangat berkelas. Ruang tamu terpisah dengan ruang tidur. Ada mini bar juga.

Tristan memperhatikan Amora yang tidak berhenti menjelajahi tempat ini dengan tatapan kagum. Pria itu tersenyum mengejek. 

"Gadis ini pasti baru pertama kali masuk hotel." Membatin dengan nada mengejek.

"Kemarilah," Tristan membuka kancing kemejanya. 

Amora spontan berdiri diam di tempatnya.

"Kau tidak dengar?" Tanya Tristan, ia sudah melepas kemejanya dan melempar pada sofa lain.

"Kenapa, Tuan melepas pakaian?" Tanya Amora polos.

"Karena aku ingin bersenang-senang, Lotus." Tristan mengulurkan tangannya.

Amora menggeleng, mengabaikan tangan Tristan. 

"Baiklah, apa yang akan terjadi jika bayi itu tidak di perbolehkan minum susu." 

Tristan mengambil ponsel dari meja sofa ....

"Yakk, kenapa selalu mengancamku menggunakan bayiku."

Tristan menempelkan ponsel di telinga. 

"Pria tua!" Amora berlari kecil, merampas ponsel dari Tristan. Sekelebat pria itu menarik Amora ke dalam pangkuannya.

"Aouh." Pekik Amora, bokongnya mendarat di paha keras Tristan. Tatapan mereka bersiborok, enam detik sampai Amora menyadari terlalu lama menatap pria ini.

Degup  jantung Tristan memacu, ia tidak tahu sebabnya. 

"Apa masih sakit?" Tanya Tristan, melihat pergelangan tangan Amora yang ia remas di dalam pesawat.

Amora mengangguk, memalingkan wajahnya.

Tristan mengambil dagu, membuat gadis itu menatapnya. 

"Lotus, aku menginginkanmu," Tristan berbisik satu inci di bibir Amora.

"Aku mohon, Tuan." Amora berusaha menarik dirinya agar menjauh dari bibir Tristan

"Mohon untuk apa?" Jemari panjang berjalan di leher putih Amora.

"Jangan menyentuhku, ini masih sakit."

"Yang sakit kan tanganmu, bukan itumu. Lotus."

"Keduanya, tuan. Anda meremukkan tubuhku." Kata Amora

"Aku tidak percaya denganmu, kau seekor rubah. Penipu." Tristan meraba tungkai mulus Amora, naik turun membuat sesuatu dari bawah tubuhnya terbangun.

Amora merasakan itu, ia tidak nyaman duduk di pangkuan Tristan.

"Dan tuan seorang monster. Anda menculik dan melecehkan saya. Lagipula saya tidak pernah menipu Tuan." Lirih Amora, tubuhnya menggigil merasakan sentuhan Tristan di pahanya. Tangan itu mulai masuk dari bawah gaun.

"Nipas." Tristan mengingatkan Amora.

"Jika anda di posisi saya, apa yang akan anda lakukan saat terjebak begitu. Seseorang menginginkan hal memalukan dari Anda. Apa Tuan hanya diam dan menerimanya?" Tangan besar berhenti meraba lebih dalam.

"Kau merusak mobilku, Lotus. Kau lupakan itu?" 

"Itu hanya alasan, Tuan," Kedua netra Amora basah, Ia tidak menyangka akan menjadi jalang seseorang secara terpaksa. 

Tristan melihat tatapan nanar Amora. Ia berdecak kesal.

"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu hari ini. Tetapi ada syaratnya." Ucap Tristan.

"Apa?"

"Cium aku."

"Eh?"

Tristan menatap bibir Amora yang kecil menggemaskan. Terutama saat mencebik.

"Cium aku, Mora."

"T-tuan tidak berbohong, kan?" 

"Tergantung bagaimana caramu menciumku."

"Apa maksud, Tuan?" Kerutan di dahi Amora menebal, ia bingung.

"Jika ciumanmu membuatku menginginkanmu. Maka aku akan melepasmu hari ini."

"Bagaimana kalau tidak bisa?"

"Maka berusalah, sebelum aku menidurimu, lotus." Tristan mendesis.

Pria itu memejamkan mata, tangannya melingkar di pinggang Amora. Menunggu gadis menciumnya.

Amora menelan ludah, melihat bibir Tristan. Ia tak pandai berciuman, ciuman pertama dan malam pertama sudah di rengut paksa Tristan. 

Ia mendekat, Tristan sudah menunggu dan merasakan kedekatan Amora padanya. 

Cup

Amora mendaratkan kecupan ringan dan segera menarik bibirnya menjauh. 

Tristan membuka matanya, kedua alis pria itu bertautan. 

"Apa yang kau lakukan?"

"Menciummu, Tuan."lirihnya

"Tapi aku tidak merasakan apapun." 

"Bibirku sudah menyentuh bibirmu. Masa tidak terasa."

"Hei ... yang itu kau sebut ciuman?" Tristan segera menggendong Amora ke ruang tidur. Melempar gadis itu ke ranjang.

"Tuan, anda sudah berjanji." Amora berlari ke sudut ranjang.

"Tapi kau gagal, gadis manis." Tristan menarik tangan Amora lalu menindihnya dari atas. 

"Aku akan mengajarimu bagaimana caranya berciuman." Ucapnya, lalu mendaratkan ciuman di bibir Amora. Gadis itu memalingkan wajahnya. 

"Mora ...." Menggeram, bibirnya merugi mencium sudutnya saja.

"Kau sudah janji, Tuan." Ucapan itu terdengar seperti desahan. 

"Kau menginginkan lebih." Kata Tristan, lalu melumat begitu dalam bibir Amora.

"Ini bukan ciuman," 

"Lalu?"

"Sangat brutal, kenapa tidak seperti di drama." Tristan menghentikan bibirnya menjelajah di bibir Amora.

Ia tergelak mendengar ucapan gadis ini. Sangat bodoh, jadi dia ingin ciuman manis seperti di drama. 

"Kenapa tuan tertawa?" Tanya Amora.

"Dasar bodoh, " Ucap Tristan. Ia menyingkir dari tubuh Amora lalu tertawa jenaka menuju kamar mandi.

"Dia menciumku seolah ingin membunuh. Dasar pria bajingan." Amora merapikan gaun nya. Lalu menarik selimut menutup kakinya. 

"Apa yang salah, kenapa dia tertawa?Cih, aku bilang begitu supaya dia tidak menyakitiku. Sekalipun aku jalang bagimu kau harus memperlakukan dengan baik.  Kau menyiksaku, sialan!" Gerutu Amora, mencebik sembari melipat dua tangan di dada.

Tbc ...

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status