LOGINWarning!!! Ada beberapa adegan Vulgar. Sinopsis: Dia menemukan seorang bayi cacat, sumbing. Dirawat sepenuh hati, tidak disangka bayi itu putri seorang selebritis terkenal di tanah air. Cerita On going
View MoreHujan turun deras bersamaan dengan gemuruh guntur bersahutan malam itu. Membuat penghuni bumi enggan keluar dari tempat nyamannya. Tetapi, ada satu gadis berlari-lari di bawah derasnya hujan. Amora namanya, ia barus saja pulang dari tempatnya bekerja.
Amora berlari menuju bawah jembatan untuk berlindung. Ia menggunakan kantong plastik pelindung kepala supaya tidak terkena hujan. Gadis ini paling malas jika harus keramas di malam hari.
"Oek ... Oek .... Oek ..." Samar samar ia mendengar suara bayi menangis.
Amora memperhatikan sekelilingnya, sepi. Menjadikan Amora merinding. Hujan semakin deras, suara petir sangat menakutkan.
Amora memeluk diri, guna mendapatkan rasa hangat untuk dirinya sendiri. Suara tangisan bayi itu semakin getir.
"Tuhan lindungi aku." gumam Amora dalam hati. Ia sengaja menulikan telinga pada suara itu, bahkan menganggap suara itu berasal dari dunia lain.
"Oek ...., Oek ....." Amora makin gelisah, ia seorang penakut tetapi suara tangisan itu mengalahkan rasa takutnya, ia penasaran dan memutuskan menghampiri asal suara. Amora melangkah pelan menuju pilar jembatan.
Suara bayi semakin kencang, menyayat hati. Di balik pilar jembatan raksasa ada sebuah kardus. Suara bayi berasal dari sana.
"Astaga." Gumamnya, ia membuka pelan kardus dan seketika membuatya histeris.
"Aahhhh ...." Amora menampar dirinya sendiri menghentikan teriakannya tidak disangka Bayi dalam kardus terdiam.
"Ini bukan bayi setan, kan?" Gumam Amora bertanya pada diri sendiri. Menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegub tak karuan.
Amora ragu mengambil bayi dalam kardus, ia bergidik ngeri lalu melangkah meninggalkan tempat itu.
"Ah yang benar saja." Sesalnya, bayi itu masih saja menangis mengubah rasa ragu Amora menjadi simpati.
Gadis pemilik tubuh mungil ini, memberanikan diri mengangkat kardus bayi ke pinggir jalan. Jalanan sepi dari pengendara, Amora berdiri di trotoar dalam minimnya penerangan jalan.
Malam semakin larut, suhu udara semakin dingin, menusuk ke dalam persendian tubuh. Amora menggigil sementara bayi masih menangis.
"Kemana aku membawamu?" Pikir Amora bingung.
"Jangan menangis kecil, kau pasti kedinginan ya? Orang tuamu bagaimana sih. Gila kali, masa tega buang anak sendiri." Gerutu Amora. Menepuk-nepuk bawah kardus berharap bayi terdiam.
"Kau pasti kedinginan,"
Amora meletakkan kardus pelan di trotoar, melepas jaket yang menjadi penghangat tubuhnya di malam dingin itu. Ia mengeluarkan bayi dalam kardus untuk melilitkan jaket miliknya.
"Astaga .... Tuhan." Amora sangat terkejut melihat bayi itu. Bayi dalam bedongan ternyata cacat, sumbing.
"Malang sekali nasipmu, pasti ini alasannya kau di buang." Ucapnya, sedih.
Amora menggigit bibir dalamnya, Ia mengutuk orang tua bayi dalam hati. Begitu tega membuang darah dagingnya sendiri.
Amora mendekap bayi itu sembari menunggu hujan reda. Bayi terdiam setelah merasakan hangat.
Amora sengaja membebaskan tangan bayi dari bedongannya, supaya bayi menghisap jemarinya dan idenya berhasil. Bayi melakukan seperti yang ia pikirkan.
***
Rena Arcana selebritis yang terkenal dengan kehebatan akting di dunia hiburan. Semua gosip di televisi membahas dirinya, yang berhasil membuat setiap drama yang ia bintangin mendapatkan ranting bagus.
Dalam drama yang ia bintangin saat ini. Gadis berusia 24 tahun ini berperan jadi gadis polos. Banyak yang memuji lakonnya lewat drama terbarunya padahal baru tayang dua episode.
Ia tampak lelah, syuting dibubarkan setelah sutradara menegurnya. Dalam satu minggu ini Rena kurang konsentrasi memerankan perannya, Satu adegan dilakukan berulang-ulang.
"Urus artismu, Nyonya. Syuting hari ini kacau." Gerutu Sutradara pada Liliana.
Liliana meminta maaf, sebagai manager Rena.
"Kau kenapa sih, Rena? Mama sudah mendapat teguran dari sutradara, lawan mainmu dan juga penulis skrip. Konsentrasi dong." Omel Liliana di dalam mobil saat perjalanan pulang.
Rena berdecak, ibunya tidak memahaminya juga. Melihat rautnya di kaca spion mobil, cantik tanpa cela, seketika ia tidak bangga dengan kecantikannya. Rena menarik sudut bibir, menertawakan dirinya yang berhati setan.
"Berhenti." ucap Rena pada supirnya tepat di bawah jembatan. Mobil yang secara tiba-tiba mengerem, membuat Liliana yang tidak mengenakan sabuk pengaman terhuyung ke depan.
"Tomo. Kalau ngerem lakukan dengan benar." Bentak Liliana.
"Maaf nyonya."
Liliana mendengus, ia melempar bantal yang ada di pangkuannya pada Tomo.
Tatapan Rena beralih pada pilar jembatan. Lama menatap pilar besar itu. Hari ini tepat seminggu ia membuang bayinya di tempat itu.
Liliana menarik napas kasar, melihat putrinya.
"Rena, cukup. Ayo kita pulang." ucap Liliana, ia tidak suka melihat putrinya seolah menyesali keputusannya seminggu lalu.
"Apa dia masih hidup?" Gumam Rena bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari pilar itu.
"Tidak ada kabar mengenai itu di televisi. Ini yang terbaik, karirmu berada di puncak. Mama tidak ingin gosip membuatmu hancur seketika. Lagipula bayi itu ...."
Liliana menghela napas berat. Ia tidak habis pikir kenapa putrinya yang jelita melahirkan seorang bayi cacat.
"Mama sangat takut melihatnya. Kau bahkan pingsan saat melihat bayimu sendiri." Tambah Liliana.
Mendengar hamil saja, Liliana sudah sangat kesal, ia memukuli putrinya karena tidak bisa menjaga diri. Mabuk dan tidur dengan mantan supirnya.
Liliana berusaha keras membuat putrinya jadi selebritis terkenal. Mengemis pada sutradara supaya memberi peran utama pada Rena juga ia lakukan. Bahkan ketika Rena hanya menjadi piguran, Liliana kadang mengumpankan tubuhnya demi membesarkan nama putrinya di panggung hiburan.
Usahannya tidak sia-sia, Rena terkenal di usia muda. Banyak mendapatkan penghargaan juga pujian-pujian dari para fans.
Lalu sekarang saat karirnya di puncak, ia melahirkan bayi yang sangat menyedihkan. Liliana tidak ingin Rena hancur hanya karena bayi itu.
Selama ini Liliana menutupi kehamilan Rena dengan kain pengencang perut. Melilit ketat hingga putrinya tersiksa.
Bayi itu memilih lahir meski sudah berulang kali di gugurkan. Rena terlambat menyadari dirinya hamil. Sering kali merasa lelah, mual dan pusing. Ia pikir karena aktivitasnya berlebihan.
Lima bulan cukup berbahaya untuk di aborsi hingga ia memilih melahirkan dan sialnya bayi yang ia kandung ternyata cacat. Ia tidak dapat menerimanya lalu memutuskan membuang bayi itu di malam hari saat hujan turun.
Ibunya sebagai pemberi ide, dan Tomo supir baru mereka meletakkan bayi di balik pilar jembatan.
Tomo dan Bidan yang membantu Rena melahirkan telah di sumpah untuk tetap diam. Liliana menutup mulut mereka dengan uang yang banyak.
Rena mengembuskan napas pelan, menarik tatapannya dari pilar dan menatap kosong ke depan. Ia telah membunuh nuraninya.
"Jalan." Perintah Liliana, mobil melaju meninggalkan tempat itu.
"Rena, kau harus melupakan pernah melahirkan. Tristan tidak boleh mengetahui tentang ini. Mama sangat berharap kau bisa menikah dengannya." ucap Liliana dengan tegas. Rena tidak merespon.
***
Tristan 32 Tahun, seorang CEO dan presiden direktur PT Tristan melindo Internasional. Perusahan yang bergerak dalam bisnis agen jam tangan super mewah di Indonesia.
Ia menjadi konglomerat di usia muda, memiliki zet pribadi, mobil mewah asal ratu elisabet juga beberapa hunian super mewah.
Pria mapan, tampan bergelimang harta sudah lama di incar oleh Liliana menjadi menantunya. Rena pernah beberapa kali jadi Ambassador perusahaan Tristan.
Tristan turun dari Zet pribadi miliknya, mereka baru saja tiba di tanah air. Tiga pria tegap berpakaian kembar menyambut sang Tuan begitu turun dari pesawat.
Di belakang Tristan, seorang pria mengikuti sembil membacakan agenda untuk Tristan. Dia Gabriel pria yang tak kalah tampan dari Tristan.
"Jam tujuh malam, acara makan malam dengan Nyonya Liliana."
Dari semua agenda yang di bacakan Gabriel, hanya itu yang menarik perhatiannya.
Makan malam dengan Liliana?
Artinya bertemu dengan Rena, perempuan cantik yang membuatnya jatuh cinta seketika lewat drama yang di bintangi Rena.
"Putrinya juga ikut?" Tanya Tristan, sembari melangkah meninggalkan landasan pesawat.
"Tentu saja tuan, inti dari pertemuan ini memang Nona Rena," jawab Gabriel mengikuti langkah Tristan, ia mematikan tab di tangannya. Agenda sudah selesai di bacakan.
"Pesankan bunga untuknya, booking Restoran ternama juga siapkan hadiah untuknya." Perintah Tristan,
"Baik, Tuan."
Tristan memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. Melangkah di ikuti sekretaris tampan dan dua pengawal membuatnya jadi sorotan di dalam bandara. Ia tampak seperti pria-pria tampan yang ada di dalam drama.
Mobil hitam keluaran terbaru dari negara ratu elisabet sudah menunggu di pintu keluar bandara.
Supir membukakan pintu untuknya, Tristan melepaskan kaca mata hitam yang membingkai matanya lalu masuk dan melempar asa kaca mata itu di bangku sampingnya.
Meletakkan kedua tangan sebagai bantalan kepala, memejam sembari membayangkan Rena dalam pikirannya.
Mobil melaju, Gabriel yang duduk di samping supir melirik Tristan dari kaca spion. Ia mencemoh, melihat sang Tuan yang tampak berseri-seri.
Tbc
Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar
Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil
"Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b
Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar