LOGINAmora ke luar dari kamar mandi dengan handuk melilit di dada. Tristan yang sedang sibuk berbicara lewat ponsel memutar tubuh melihat gadis itu dengan tubuh segar.
Tristan menelan ludah, ia mengakhiri perbincangannya di ponsel. Lalu menghampiri Amora yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Jemari panjang, membelai leher Amora yang jenjang. Basah dan bersih, leher gadis ini seperti angsa putih. Jemari menyusuri dari leher turun ke bahu gadis yang membelakanginya.
Amora terkesiap, saat bahunya dikecup. Rasa hangat dari bibir pria ini sangat membuat gelenyar di tubuhnya bergejolak.
"Aku akan keluar, pelayan akan menyiapkanmu." Bisik Tristan, membuat Amora menautkan kedua alisnya bingung.
Tristan keluar ruangan, dan tak lama kemudian dua perempuan masuk membawakan beberapa pakaian, dan alat make up.
"Sore, Nona. Tuan meminta kami membantu, Anda."
Amora berdecih, apa maksud pria ini? Mengirim dua orang untuk melihat tubuhnya yang penuh kissmark ini.
"Aku bisa sendiri." Amora mengambil pakaian yang sudah diletakkan di atas tempat tidur.
Pelayan tidak mau tahu, majikan mereka adalah Tristan bukan gadis ini. Lantas, dua perempuan itu menarik handuk yang melilit di tubuh Amora.
"Yakk ....!" Teriak Amora, menyilangkan dua tangan di dada. Ia lupa bagian bawah juga terpapang. Maka tangannya sebelah menutup bagian intimnya. Wajah Amora pucat pasi.
"Nona, Anda tidak perlu cemas, kami hanya melakukan pekerjaan kami." Kata salah satu dari mereka dan mulai mengenakan celana dalam dan bra.
Amora menahan malu, menutup matanya. Saat satu dari mereka berjongkok memakaikan celana dalam, dan satu lagi memasang bra.
Dua wanita itu, tidak banyak bicara. Raut mereka dingin seperti tuannya. Amora jadi curiga, kalau dua wanita ini bukan manusia tetapi robot, lantas tangannya mencubit pipi salah satu dari mereka.
"Sangat mencurigakan." Gumam Amora.
"Auh ... Nona, maaf kalau ada yang salah." Wanita itu meminta maaf, ia pikir dirinya melukai Amora saat memasang Bra.
"M-maaf, aku hanya ingin memastikan sesuatu."Gugup Amora, menahan malu.
Amora mengenakan gaun bermotif bunga dengan model leher V. Di lehernya di pasangkan liontin kecil bermata biru.
Wajahnya di poles dengan halus, membuat gadis gang ini berubah menjadi cinderella.
Dua puluh menit menyiapkan Amora, dua wanita membawa Amora keluar menghadapkan pada sang Tuan.
Tristan menghentikan gerakannya bekerja di tab pintarnya. Ia melihat Amora berdiri tak jauh dari hadapannya.
Tatapan gadis itu angkuh, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Tristan bahkan menatapnya lama sebelum tersadar ponselnya berdering.
Tristan berdehem, ia melihat ponselnya dan mengangkatnya.
"Gabriel." Sapa Tristan, sembari memberi perintah lewat tangannya supaya dua wanita di samping Amora meninggalkan mereka.
"Tuan, pesawat sudah ready." Gabriel dari kantornya.
"Temui saya di bandara." ucap Tristan, tanpa mengalihkan perhatiannya dari Amora.
Tristan mematikan telpon, bangun dari duduknya dan menilai penampilan Amora.
"Lumayan, lagipula aku hanya butuh kau di ranjang. Aku cuma pengen lihat seperti apa dirimu di dandani." Kata Tristan tanpa mengalihkan tatapannya dari Amora.
Amora tampak cantik dengan segala yang melekat di tubuhnya.
"Kau tidak menyadari tatapanmu itu? Sangat memuja jadi berhenti mengejekku, orang tak waras." Kesal Amora.
Tristan menghampiri Amora, ia menarik tengkuk Amora paksa.
"Sekali lagi aku mendengar bibir ini memakiku, akan aku habisi kau." Ancam Tristan meremas rambut belakang Amora. Gadis itu memekik kesakitan.
"Jangan membangkang." Ia menggeramkan ucapannya, lalu menarik tangan Amora dan membawanya keluar ruangan itu.
"Pelan-pelan, kau menarikku kasar." Amora mengikuti langkah lebar Tristan menuju lift.
"Sepatu sialan tidak berharga ini menyakiti kakiku." Kata Amora, terseok-seok mengikuti langkah Tristan dengan sepatu bertumit tinggi.
"Tuan, tolong berhenti. Pa-pahaku masih sakit." Amora menangis, ia merasakan sakit di bagian pangkal pahanya.
Tristan berhenti, menghela napas berat. Tak satupun wanita mengatakan hal semacam itu padanya saat ia gila-gilaan meniduri wanita di ranjangnya. Ia terenyuh, melihat Amora.
Tapi dia Tristan penguasa yang arogant dan gadis ini tidak pernah patuh padanya. Jika diberi perhatian lebih, ia takut gadis ini akan semakin membangkang lantas Tristan memilih melepaskan tangan Amora dan berjalan lambat.
"Apa sangat sakit? Dia sampai menangis begitu." Tristan bergumam dalam hati, ia mengingat darah gadis itu ada di seprei dan membuatnya iba.
Tristan menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke lobby Apartemen.
Amora berdiri diam di belakang Tristan, mereka saling diam.
"Buat apa aku membawanya kalau tidak bisa dipakai. Dia kesakitan." Batin Tristan, kedua alisnya bertautan. Dia butuh Amora, dimana saja ia mau. Terlebih di dalam pesawat menemani perjalanan membosankan.
"Tidak, tidak, bisa saja gadis ini menipuku. Dia seokor kucing yang berubah jadi seekor rubah." Membatin lagi, sampai lift terbuka.
Tristan keluar dari lift dan diikuti Amora pelan dari belakang. Dua pria sudah menunggu di depan pintu mobilnya. Membukakan pintu untuk Tristan.
Amora naik setelah Tristan. Pria itu lebih memelih mengerjakan pekerjaanya di ponsel. Tristan, sesekali memijit pangkal hidunganya pekerjaan membuatnya lelah.
Ia melihat gadis di samping, bersender pada pintu mobil. Amora ketiduran, Tristan melihatnya lama, make up di wajah Amora meski tipis menjadikannya sedikit lebih dewasa.
Tristan kembali fokus pada ponselnya, ia membiarkan Amora tertidur.
Tetapi pikirannya melayang pada Rena. Gadis itu kembali membintangi drama baru dan sudah tayang. Liliana mengatakan , kalau drama yang di bintangi Rena sebelumnya adalah Drama terakhirnya. Ia akan meminta Rena menikah dengannya.
"Rena tidak tertarik sama sekali denganku?" Tanya Tristan dalam hati, ia melihat dirinya di kaca spion depan mobil. Sangat mempesona juga kaya raya. Tidak ada alasan perempuan menolaknya.
Tak satupun perempuan menolaknya, bahkan sengaja berlari padanya. Rekan bisnisnya juga terkadang menjodohkan putri -putri mereka pada Tristan tetapi artis yang satu ini kenapa seolah tidak menginginkannya.
Bahkan untuk bertemu dengannya saja harus melalui Ibunya. Rena jelas tahu kalau dirinya memiliki hati padanya.
Mobil mereka berhenti di Bandara Soeta, Amora masih tertidur. Hari sudah sore. Pintu mobil terbuka untuk Tristan. Pria jangkung keluar, dan merapikan kemeja putihnya.
"Bagaimana dengannya, Tuan?" Tanya Gabriel, pria itu sudah lebih dulu di Bandara dan menunggu.
Tristan berdecak, ia melihat Gabriel lalu beralih pada Amora.
"Biar aku menggedongnya." ucap Gabriel lagi, melihat Tristan ragu.
"Ya sudah," ucap Tristan, mengijinkan Gebriel menggendong Amora.
Tristan segera meninggalkan tempat itu masuk ke dalam bandara. Gabriel mengikuti sembari mengendong Amora.
Amora terbangung, perlahan membuka mata. Ia melihat Gabriel menggedongnya dengan ringan. Amora tidak tahu harus apa, ia memilih pura-pura tidur.
****
Rena mengembuskan napas kasar di ruang make up. Lawan mainnya yang bernama Sisil selalu membahas tentang Tristan.
Sisil bahkan dengan bangga mengatakan kalau dia sudah menikmati seperti apa gagahnya Tristan di ranjang.
Liliana, menghela napas panjang, perempuan di bilik sebelah mereka sangat memalukan.
"Kau tidak perlu mendengarnya, lagi pula hal biasa jika Tristan tidur dengan banyak wanita. Dia seorang pengusaha sukses muda dan tampan. Nanti saat dia menikah denganmu, ia akan menghentikan kebiasaan buruknya." Kata Liliana membesarkan hati putrinya.
Rena bukan sekali dua kali mendengar gosip itu, sebelumnya ia pernah melihat Tristan keluar kamar hotel dengan artis terkenal sekelas dengannya.
"Tapi dia belum pernah tidur dengan gadis yang sudah melahirkan."
"Rena ...." Geram Liliana, menutup mulut putrinya. Ia memukul pundak putrinya kesal.
"Jaga bicaramu, bodoh. Dinding ini bisa saja mendengarnya." Desis Liliana.
Sementara di pesawat, Amora mengintip dari kaca jendela pesawat. Dunia sudah gelap, tidak ada yang menarik untuk dilihat.
Ia membaringkan tubuhnya kembali tidur. Telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat. Amora memejamkan mata dalam hingga bulu matanya ketekuk.
Seseorang duduk di tepi tempat tidurnya, Amora tahu itu pasti Tristan. Wangi pria itu khas pria bajingan. Nikotin dengan alkohol menyeruak dari tubuhnya.
Tangan Tristan membelai rambut panjang Amora, lalu berbisik di telinga gadis itu.
"Bangun, kau mau mati? Pramugari akan membawakan makananmu."
Amora pengen mencekik pria ini. Kenapa harus berbisik di telinganya. Dia jadi geli dan ingin terkikik. Amora sekuat tenaga menahan. Pria ini pasti, sengaja melakukan itu. Ia berjanji dalam hati, saat ada kesempatan Amora akan mencekiknya hingga tak bernapas.
"Mora ...."
Tbc
Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar
Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil
"Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b
Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar
"Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar
"Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera