Share

Part 7

Penulis: Re Siregar
last update Tanggal publikasi: 2020-11-03 13:16:07

"Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.

Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.

Plak!

Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya.

"Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan  raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu. 

"Kau!"

Tristan meremas pergelangan  tangan Amora kuat. 

"Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya. 

"Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu.

"Sekali lagi, tanganmu ini berani menamparku.  Aku akan meremukkan wajah cantikmu ini. Paham?!" 

Amora mengangguk, Tristan melepas wajah Amora dengan kasar lalu meninggalkan ruang tidur itu.

"Dasar Iblis." Gumam Amora, ia melihat tiga jari tercerak di pergelangan tangannya.

Setibanya di bandara Sigapore, sebuah limosin sudah menunggu di pintu keluar Bandara. Seorang pria bersafari hitam membukakan pintu untuk sang Tamu. 

Amora kesal, langkahnya jadi semakin lambat karena high heels yang ia gunakan. 

Tristan masuk terlebih dahulu lalu Gabriel mengulurkan tangan membantu Amora naik, Amora melogos tetapi karena gaun ketat yang ia kenakan memaksanya menerima uluran tangan Gabriel. 

Gabriel tersenyum kilat, melihat sikap angkuh Amora. Gadis ini tidak mudah untuk di tindas.

Amora melebarkan mata melihat dalam Limosin. Ia seperti berada di ruang tamu sebuah rumah mewah. Jok serupa sofa melingkar. Di tengah ada sebuah meja lipat. 

Lemari pendingin dan sebuah televisi berlayar besar. Amora dengan segala keheranannya tidak berhenti mengagumi. Ia duduk dan menatap kota Songapore dari kaca mobil. 

Amora melepas sepatunya dan mengambil tempat duduk menjauh dari Tristan, sejak insiden penamparan di dalam pesawat, Tristan selalu memberinya wajah tidak baik. Pria ini seolah memusuhinya.

Amora tidak peduli, persetan wajah buruk Tristan. Ia tidak butuh pria itu, justru sebaliknya lantas Amora memilih menikmati duduk nyaman di dalam mobil mewah ini.

Ia teringat Jesika, andai temannya ini juga bisa menikmati apa yang ia nikmati saat ini. 

Amora, ingin mengabadikan pengalamannya menaiki mobil supermewah ini. Meskipun caranya menaiki mobil ini secara terpaksa.

Amora melihat dua pria sedang membicarakan persentase yang akan di bacakan nanti saat di depan kolega bisnis mereka.

"Tuan, aku butuh ponselku." ucap Amora dengan suara takut-takut karena sudah berani menjeda meeting kecil dua pria itu. 

Tristan dan Gabriel menatap Amora dengan tatapan tidak senang. 

"Ponselku, kau menahannya, Tuan." Amora mengingatkan Tristan. Pria itu mendengus, konsentrasinya terganggu oleh gadis ini. 

"Diam di tempatmu." Geram Tristan dengan mata mendelik.

"Apa? Aku cum ...."

"Gadis ini!" Hardik Tristan, ia nyaris mengeluarkan biji matanya menatap Amora. 

Gabriel melipat bibir, menahan senyum.  Baru kali ini seorang Tristan kesusahan mengurus wanitanya.

Wanitanya? Oh tidak, sebelumnya Tristan tidak pernah memiliki sosok wanita yang harus ia pakai berkali-kali.

Tristan tidak pernah mengklaim seseorang miliknya. Ia tidak ingin repot untuk hal ranjang. Tristan tidak ingin terikat oleh wanita manapun sebelumnya, tetapi entah kenapa pria ini menginginkan Amora lebih dari sekali.

Sikap membangkang dan penolakan Amora menjadi alasan Tristan. Bermain-main dengan gadis polos ini sangat menyenangkan baginya.

Amora berdecak, melihat dua pria kembali sibuk dengan pekerjaanya. 

"Aku bosan." Lirihnya, mengetuk-ngetuk jemari di kaca mobil. Ia memejamkan mata dan berpura-pura tidur. Kepalanya sangat licik saat ini, dua pria itu harus terganggu olehnya. 

Amora mendongak dengan mulut terbuka, membuat suara dengkuran. Dimulai dari dengkuran halus hingga keras. 

"Aih, dia benar-benar gadis kampungan." Gerutu Tristan, mengakhiri diskusinya. 

Amora semakin mendengkur kuat, ia membayangkan wajah Tristan saat ini. Mengetatkan rahang dengan mata melebar. 

"Tutup mulutnya, aku benci suara itu." Kata Tristan pada Gabriel. 

"Eh?" Gebriel bingung. Bagaimana caranya menutup mulut gadis ini. Tristan melihat Gabriel yang tampak tak bergerak untuk melakukan perintahnya.

"Bagunkan dia." Perintah Tristan.

"Gabriel, aku tidak suka cara kerjamu saat ini. Kenapa begitu lamban." Ucap Tristan.

Sebelumnya Gabriel tidak pernah menjadi bodoh di hadapannya. Gabriel bahkan tidak sungkan menyakiti orang-orang yang mengusik ketenangan tuannya.

Tunggu! Apa Amora harus di lenyapkan? Gadis ini sudah begitu berani mengusik Tuan nya. Gabriel menjadi bingung menghadapi situasi ini.

Gabriel menghampiri Amora, menepuk pipi gadis itu.

"Hei, hei apa yang kau lakukan?" Tanya Tristan dengan raut tak senang.

"Membangunkan, Tuan."

"Kau menamparnya, sialan!"

Amora menahan diri supaya tidak terbahak, ia menyukai situasi ini. Dua pria itu harus saling baku hantam karenanya.

Gabriel menghela nafas panjang. Ia memustuskan menggelitik Amora. Amora menggeliat, kegelian.

"Singkirkan tanganmu, kau payah." Ketus Tristan, ia tidak menyukai cara Gabriel membangunkan wanitanya.

"Cih, katakan aja kalau kau cemburu, sialan!" Membatin, kembali ke tempat duduknya.

Amora kembali tidur, kali ini ia tak berani mendenkur. Tristan berasal dari neraka. Ia tidak ingin terbakar dengan pria ini. Emosinya melebihi Iblis.

Tristan duduk di samping Amora, mendengar gadis itu terdiam. Ia mengurungkan niat membanguni. Tristan membawa kepala Amora bersandar pada bahunya. 

Melihat itu seseorang dalam mobil itu menjadi panas. Ia ingin memaki teman sekaligu atasannya ini. Sangat menggelikan. Pria itu benar-benar membuatnya mual melihat sikap manis Tristan.

Mobil memasuki hotel mewah, Tristan meremas bahu Amora supaya gadis itu bangun.

Amora membuka mata layaknya orang seperti baru bangun, pur-pura bingung melihat sekitarnya. Aktingnya sangat buruk, Gabriel bisa melihat mata segar gadis ini. Artinya tidak sekejabpun tidur.

"Gadis Gang sialan!" Batin Gabriel, ia menatap tajam Amora. Gadis itu melihatnya dan membalasnya dengan senyum lebar.

Mereka keluar dari mobil, Amora lupa mengenakan sepatunya. Sebelum memyadari kebodohannya, Limosin sudah menjauh.

"Yakk ... sepatuku ...."Teriak Amora, mengejar Limosin. Gabriel dan Tristan menoleh kebelakang dan melihat kaki telanjang Amora.

Memalukan! 

"Urus dia!" Perintah Tristan, raut pria itu memerah. Menahan malu melihat orang-orang, memperhatikan Amora berlari mengejar Limosin. 

"Baik tuan," Gabriel mengumpat dalam hati. Tristan segera menuju lift yang akan membawanya ke kamar hotel yang sudah di pesan sebelumnya.

"Amora!" Panggil Gabriel, menghentikan lari Amora, hampir  keluar pintu masuk hotel area hotel.

"Dia membawa sepatuku ...." Gumam Amora lemah.

"Kau!" Gabriel melebarkan langkahnya, mencengkram bahu Amora kuat.

"Kau sangat memalukan!" Geram Gabriel, dengan tatapan tajam.

Amora menangis kencang, membuat Gabriel malu sekaligus bingung.

"Diam, tuan bisa membelikan segudang sepatu untukmu."

"Kau pikir aku menyukainya?A-aku, ku hanya tidak ingin menerima apapun darinya. Aku akan mengembalikan semua yang aku pakai ini.

"Semua ini milikmu." Gertak Gabriel melihat semua yang melekat di tubuh Amora termasuk berlian kecil yang melingkar di lehernya.

"Aku tidak ingin jadi jalangnya, Tuan." Isak Amora, menyapu air matanya di pipi. 

Gabriel menghela panjang, melihat air mata gadis ini membuatnya turut sedih. 

Ia segera menunduk lalu sekebat menggendong Amora. 

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Amora setelah memekik kaget.

"Tuan Tristan menunggumu."

"Turunin, aku bisa jalan sendiri."

"Aspalnya panas, kakimu bisa terluka nanti." ucap Gabriel.

"Kenapa perhatian."

"Karena kau milik Tuanku."

"Apa kalian dekat?"

"Mmm,"

"Kalau dekat, kenapa memanggilnya Tuan."

"Bukan urusanmu."

"Cih, kau sama sepertinya. Menyebalkan!" 

Amora mengeratkan jalinan jemarinya di belakang leher Gabriel. Ia tak ingin jatuh, Amora membenamkan kepalanya di dada pria itu. Terlalu malu digendong melewati banyak orang hingga menaiki lift.

Tbc

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status