Share

Part 9

Author: Re Siregar
last update publish date: 2020-11-05 21:47:51

Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah. 

Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini.

"Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi  Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu. 

"Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi.

"Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan.

"Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah.

"Aku tidak tertarik ke Club malam ini."

Sementara Amora, di dalam kamar hotel. Ia berendam di dalam  bathup penuh busa. Rambutnya di gulung ke atas. Kepalanya disandarkan pada pinggir bak mandi. Memejamkan mata, menikmati aroma dari sabun ini.

Amora memikirkan kejadian beruntun yang terjadi dalam hidupnya sekejab. Dari menjadi Ibu dadakan lalu hidupnya di sulitkan pria angkuh yang seenak hati mengklaim dirinya milik pria itu. 

Menikmati kemewahan yang bahkan  dalam mimpi pun ia tak pernah pikirkan. Naik Zet pribadi, Limosin mewah, kamar hotel mewah dan sekarang menikmati busa di dalam bathup. 

Apa ini sebuah keberuntungan? Atau benar -benar jalan menuju neraka.

Tentu saja, neraka.

Setelah pria itu bosan dengannya. Amora tidak lebih dari sampah. 

Ya, ya, sebelum itu terjadi, apa salahnya aku nikmati. Begitu pikir Amora. 

Ia meregangkan kakinya, menikmati wangi sabun dan kelembutan busa dalam bathup.

Ia merasakan seperti ada bayangan di atas matanya. Nafas hangat menerka kulit wajahnya. Segera ia membuka mata dan ....

"Ahhhh ...." 

Plak! Plak!

Dua kali tangan itu menampar brutal rahang seseorang yang membuatnya terkejut. 

Rahang siapa lagi kalau bukan rahang pemilik kamar ini.

Tristan memejam, menetralkan emosinya. Ia sadar bukan salah gadis ini jika menamparnya. Dirinyalah yang iseng masuk tanpa suara.

"Tuan! Kau menakutiku." Gertak Amora segera bergerak ke ujung bathup sembari menutup dadanya yang telanjang.

Tristan mengembuskan nafas panjang, menggigit bibir bawahnya melihat Amora seperti seekor angsa putih dalam bathup.

"Cepatlah, temanin aku makan." Tristan berdiri, ia menelan ludah melihat kemolekan Amora. Tapi pria itu sudah berjanji tidak akan menyentuhnya malam ini.

Tristan melangkah ke arah wastafel, membersihkan wajahnya yang terkena busa sabun Amora. 

"Gadis ini tanganya terbuat dari apa sih? Sampai merah begini." Tristan menyentuh bekas tanparan Amora. 

Tristan melihat Amora masih menenggelamkan  tubuhnya dalam bathup.

"Lotus, kau tidak dengar?" 

"Tuan keluar terlebih dulu."

"Kau mengusirku?" Menautkan kedua alis.

"Bukan, tapi aku malu kalau tuan terus berdiri disana dan melihatiku." Lirihnya.

Tristan tersenyum nakal, ia menghampiri Amora kembali.

"T-tuan mau apa?"

Tristan duduk di pinggir bathup, mengambil tangan Amora lalu membelainya dengan jemari panjangnya.

"Setiap inci di tubuhmu, aku sudah melihat dan nikmati, lotus. Kenapa masih merasa  malu." Jemari itu berhenti di leher jenjang. Ia menelan ludahnya. Leher bersih sangat menggoda untuk dinikmati. 

"Tetap saja a-aku malu, Tuan." Amora menggigit bibir bawahnya, merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya. 

Tristan menunduk menggigit bahu putih Amora. 

"T-tuan ..." Ucap Amora dengan suara tertahan.

"Mau kubantu?" Bisik Tristan di daun telinga Amora. 

"Tidak perlu, Tuan." 

"Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran dan menahanmu di sini."

Amora lebih baik memamerkan tubuhnya ketimbang harus melayani pria ini. 

Pria ini saat bercinta seperti iblis, menghancurkan dan menyiksa. 

Amora langsung berdiri dari bathup. Tubuhnya yang mungil keluar dari Bak, langsung menuju Shower.

Tristan menggelengkan kepalanya, ingin sekali memasuki gadis itu dari belakang. 

 "Sialan kenapa aku membuat kesepakatan untuk tidak menyentuhnya." Tristan membatin, ia merasa rugi.

Seorang gadis molek di hadapannya, sanggat menggiurkan untuk di bawa kedalam surga dunia. Sementara karena janji itu ia harus menahan gelisah lantaran Mr. P dalam celananya mulai berontak.

Tristan memutuskan keluar dan menunggu Amora di ruang tamu. Ia sudah terbiasa dengan janji. Sekali di ucapkan makan ia harus bertanggung jawab seutuhnya. 

Lima belas menit Amora keluar ruangan, ia sudah rapi. Polesan seadanya dan menggunakan kemeja putih dipadukan dengan celana jeans. Ujung kemeja di masukkan ke dalam, sementara kancing atasnya sengaja terbuka.

Dia madu, sangat manis. Gadis ini ternyata seorang putri istana. 

Tristan senang melihat penampilan Amora, tidak berlebihan tetapi sangat indah di pandangannnya.

"Kau sudah siap?" 

"Mmm," 

"Kemarilah," Tristan mengulurkan tangan pada Amora. Gadis itu belum terbiasa menggunakan sepatu bertumit tinggi. Maka jalannya agak melambat.

"Kau tidak aman mengenakan sepatumu?"

"Belum terbiasa, Tuan."

"Kau harus membiasakan diri. Kau sangat pendek." Ejek Tristan. 

Ia membantu Amora berjalan, dengan menggenggam tangan gadis itu. Amora melihat tangan kecilnya tenggelam dalam telapak tangan Tristan.  Mereka menggunakan lift privasi menuju restoran dalam hotel itu.

Sebelumnya Gabriel sudah melakukan  reservasi untuk pasangan itu. Gabriel bahkan tersenyum saat memesan tempat, tuannya seolah mengajak calon istri berkencan.

"Ada apa dengan Tuan Tristan?" Begitu dalam pikirannya. 

Gadis Gang itu? Apa yang istimewa dengannya? Apa karena aroma lotus gadis itu? Haha Tristan bisa saja membeli parfum beraroma yang sama dengan gadis itu. 

Setibanya di tempat yang sudah di sediakan, pelayan menghampiri dan menanyakan pesanan mereka. 

Tristan menulis menu yang ia inginkan, sementara Amora hanya diam dan mengabaikan buku menu. Ia biasa makan di warung tegal dekat tempat kerjanya. Tinggal unjuk lalu di nikmati. 

"Pesananmu?" Tanya Tristan.

"Sa-samakan saja Tuan." 

"Kau yakin?" Amora langsung mengangguk. 

Persetan enak atau tidak, ia jengah membaca tulisan yang membuat lidahnya keseleo.

Tristanpun memesan makanan yang sama dengannya. Ia memberikan menu makanan pada pelayan.

"Tuan, boleh aku nelpon Jesika?" Tanya Amora sembari menunggu pesanan mereka.

"Tidak boleh." Sahut Tristan sembari memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Ada dari Rena, Tristan melebarkan matanya melihat pesan selebritis itu. 

[Kau punya waktu luang?] 

Dari sejak lama nomor ponselku ada sama gadis ini dan baru kali ini mengirim pesan padaku.

Tristan mengetik balasannya.

[Kapanpun kau mau, singgahlah di kantorku ]Balasnya.

"Aku ingin tahu keadaan bayiku, Tuan. Aku ingin lihat wajahnya." ucap Amora. 

"Besok pagi kita sudah pulang, kau bisa melihatnya."

"Apa kami bisa kembali ke kontrakan?"

"Jangan berharap, lagipula apa kau masih berniat balik ke gang itu setelah menikmati kemewahan yang aku berikan?" Nada mengejek.

"Setidaknya aku bahagia disana." Ketus Amora.

Tristan tersenyum kecut, lalu mencondongkan tubuhnya dan berujar.

"Sebelum aku puas bermain-main denganmu, kau tidak boleh kemana-mana." desisnya.

Pesanan makanan mereka tiba. Amora membelalak saat melihat makanan yang di sajikan di atas meja.

"Makanlah, dari caramu melihat makanan ini. Sepertinya kau belum pernah makan makanan seperti ini." Mengejek membuat selera maka Amora yang sudah membuncah redup seketika.

"Menyebalkan!" Gumam Amora, namun, tidak menolah. Amora langsung mencicipi bumbu yang berlumur pada daging setebal 10 icn. 

"Kalau di warung padang, ini namanya rendang." Gumam Amora, ia terkikik sendiri. "Hanya penampilannya saja yang beda. Sapi, sapi juga kan?" Tanya Amora, membuat pria di hadapannya kesal.

Amora ingat sesuatu, ia melihat ponsel Tristan di atas meja. Ia ingin mengabadikan momen makan di restoran ini.

"Apa aku bisa mengambil gambarnya?" Tanya Amora.

"Memalukan. "

"Berikan ponselmu, Tuan. Besok saat  sudah lepas darimu biar ada  alasan untuk memakimu karena sudah membuatku menjadi seorang sampah."

Deg! 

Mendengar ucapan itu, Tristan melihat gadis yang sudah sibuk dengan ponselnya. Ia benar-benar seperti tertampar. 

Hanya dia yang mengatakan seperti itu padanya.

Hanya gadis ini, selainnya mereka menikmatinya.

Amora mengambil gambar makanan. Kemudian gadis ini mengambil gambarnya sendiri, Tristan memalingkan wajah saat menyadari wajahnya ikut dalam kamera.

"Cukup, lotus. Bikin malu aja, dasar udik." Tristan segera mengambil ponsel dari tangan Amora dan meletakkan di meja.

"Biarin aja. Blleee" Amora  meleletkan lidah pada pria dewasa itu.

"Mora, makan."Perintah Tristan.

Amora menusuk daging pakai garpu. Sementara tangan satu mencoba memotong kecil. Ia tidak berbakat melakukan itu. Buang waktu, kenapa tidak langsung dipotong kecil saat memasaknya.

Restoran ini, bikin susah makan orang kampung saja.

Amora menelan ludah saat melihat Tristan makan dengan mulut diam, duduknya tegap ia seperti pria bangsawan. Sementara dirinya kepayahan memotong daging dalam piring.

Suara alat makannya berdenting, beradu pada piring mengusik ketenangan Tristan yang sedang menikmati makan malamnya.

"Ck, dasar gadis kampung." Rahang pria itu mengetat, ia menjauhkan piringnya lalu mengambil piring Amora dalam waktu sekejab daging itu berubah menjadi irisan tipis dan kecil. Lalu memberinya pada Amora dan kembali menikmati makanannya.

Amora tersenyum kecil melihat pria sombong itu lalu menikmati makan malamnya.

......

Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar dan melewati kamar Gabriel. 

Amora mengingat pria itu, kemudian berjalan mundur membuat kedua alis pria yang sedang membuka pintu kamar mereka bertautan. 

Amora berhenti tepat di depan pintu kamar Gabriel. Ia mengetuk pintu, tidak lama kemudian Gabriel membukanya.

"Nona," Gabriel bingung melihat gadis kecil ini berada di depan pintu kamarnya.

"Anda tidak bersama, Tuan?" Tanya Gabriel.

Amora menunjuk Tristan lewat tatapannya, pria disana berdiri setelah membuka pintu kamarnya.

Menengadah ke atas dan kedua tangan berada di saku celana. 

Ia bingung kenapa gadis itu mengetuk pintu Sekretarisnya.

Gabriel segera keluar kamar, ia pikir ada masalah.

"Tuan, apa terjadi sesuatu?" Tristan menghela nafas panjang.

"Tidak, masuklah." Ucap Tristan, membuat Gabriel kebingungan.

"Kenapa mengetuk pintu, Nona?"

"Kau sudah makan?"Amora menjawab dengan pertanyaan. Suaranya lembut di telinga.

Mendengar itu Tristan memijat pangkal hidungnya.

"Perhatian sekali. Gadis ini sangat menjengkelkan. Apa dia tertarik dengan Gabriel?" Tristan membatin.

"Oh sudah, Nona." Gabriel menjawab sembari melihat Tuan nya.

"Apa aku boleh masuk ke ....?"  Belum selesai ucapannya sekelebat tangan menarik tangannya dan membawa masuk ke dalam kamar.

"Sakit Tuan!" Pekik Amora saat tangannya di lepas kasar Tristan.

"Kau!"

Tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status