Share

Part 12

Author: Re Siregar
last update publish date: 2020-11-12 16:36:06

Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti. 

"Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.

Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda. 

"Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan. 

 Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana.

"Nona, Rena silahkan masuk." 

Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan  Tristan.

Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa.

"Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu.

"Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.

Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berharap pria itu keluar dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. 

Tristan mengerti tatapan itu, ia memberi kode lewat tatapannya pada Gabriel. Pria jangkung mengundurkan diri keluar dari ruangan itu.

"Oh iya Tuan Tristan."

"Panggil saja Tristan," Rena tersenyum. 

"Terima kasih atas hadiah yang kamu kirim malam itu." Ucap Rena. 

Tristan menaikkan kedua alisnya tebalnya. Ia hampir lupa, makan malamnya batal karena gadis gang itu. 

"Maafkan saya karena membatalkan makan malam itu." Tristan menipiskan bibir, "bagaimana hadiahnya, kau menyukainya?" 

"Tentu saja," Rena segaja mengangkat tangan, menunjukkan jam tangan yang diberikan Tristan padanya.

Tristan memperhatikan itu, lalu tatapannya beralih pada anting yang dikenakan Rena. Kecil dan berkilau. 

"Ada sesuatu yang aneh padaku?" Tanya Rena, saat melihat tatapan Tristan fokus padanya.

"Oh, tidak, tidak. Seperti biasa, kau terlihat sempurna."

"Tristan,"

"Yah." 

"Ini drama terakhirku," ujar Rena.

Tristan tersenyum, ia pernah melamar gadis ini pada Liliana. 

"Kenapa?" 

"Aku bersedia menjadi istrimu." Tristan menelan ludah kuat, ia termagu mendengar ucapan Rena. Gadis itu cukup berani. 

"Rena, kau sudah tentangku bukan?" Tanya Tristan. Ia tak ingin gadis ini kecewa padanya.

"Yah," Rena terkekeh, tentang seperti apa maksud pria ini. Bahwa dia suka bermain perempuan? Atau tentang kesuksesan pria ini. 

"Seorang pebinis terkenal, muda, dan konglomerat? Siapa yang tidak kenal, kamu?" Ujar Rena.

"Dunia gelapku, aku seorang pecandu wanita." Tristan meyilangkan kakinya.

"Tentu setelah kita menikah, kau akan berubah bukan?" 

"Yah, tetapi itu tergantung pasanganku." Rena mengernyit, melihat Tristan.

"Aku ingin istriku siap melayaniku 24 jam. Tanpa mengeluh. Mmm Rena, saat kau siap datanglah kembali. Aku mencari istri yang patuh." 

Rena terkekeh, mendengar ucapan Tristan.

Pria ini bercanda? Dia seorang selebritis. Namanya di kenal di seluruh indonesia. Patuh dan melayani 24 jam. Dia pikir dirinya Tirani. 

"Aku akan pikirkan, Tristan. Aku tidak menyangka kalau syarat menjadi iatrimu tidak mudah ya." Ucap Rena dibarengi kekehan ringan.

Tristan ikut terkekeh, ia ingin istri seperti ibunya. Hangat dan bersikap lembut. Menyerahkan seluruh hidupnya pada suami dan putranya.

"Aku memiliki segalanya, Rena. Jika bersedia menikah denganku. Kau tidak akan kekurangan. Itu janjiku untuk siapapun calon istriku." Kata Tristan.

.....

Setelah Rena keluar dari ruangan Tristan, Gabriel mengantarnya keluar gedung perusahaan Tristan. 

"Terima kasih." Ucap Rena pada Gabriel. Pria itu menganggukkan kepala dan segera berbalik meninggalkan Rena masuk ke dalam mobilnya.

Rena melepas kaca matanya dan meletakkan asal di jok penumpang.

Ia tersenyum sinis. Namanya terkenal dan pria itu malah ingin menenggelamkan namanya menjadi tiada setelah menikah dengannya. Hah! Yang benar saja. 

"Aku ingin menikah denganmu juga untuk mengangkat namaku. Jadi istri yang patuh, Hah!" Gerutu Rena di dalam mobilnya.

"Langsung ke rumah." Perintahnya pada supirnya.

"Baik, Nona."

......

Mobil di depan mension telah menunggu Amora. Gadia itu berdecak sebal saat Gabriel memintanya pulang ke Apartemen. 

"Tuan, izinkan aku menginap semalam saja." Amora berlari kecil mengikuti langkah Gabriel dari belakang.

"Ini perintah tuan Tristan." Kata Gabriel terus melangkah keluar rumah besar itu.

"Mora ...." Jesika berlari dari anak tangga menghentikan langkah Amora.

"Ck, sepuluh detik." Ucap Tristan saat Amora meminta waktu untuk bicara dengan Jesika.

"Semangat." Ucap Jesika, mengancungkan kepala tangan di udara.

Amora kesal, melihat temannya itu. 

"Teman kurang ajar." 

"Waktu habis." 

"Yah tuan listrik. Saya belum mengatakan apapun." Kesal Amora pada Gabriel. 

Gabriel segera menarik tangan Amora menuju pintu keluar.

"Mora, semangat. Semoga berhasil." Amora mengutuk dalam hati temannya itu. Semangat untuk apa? Dia sudah pasti jadi santapan serigala buas.

Gabriel menutup pintu begitu Amora masuk dan ia duduk di jok penumpang di depan. 

"Apartemen, Tuan Tristan." Katanya. 

"Baik tuan." 

Amora melipat tangan di dada, bibirnya mencebik. Memikirkan bertemu dengan Tristan kepalanya jadi pusing. 

Amora menyandarkan dirinya pada Jok sembari menatap keluar jendela mobil. 

Mobil keluar dari halaman rumah besar itu. 

"Tuan,"sapa Amora pada Gabriel.

"Dilarang bicara."

"Yakk, jahit saja mulutmu." Sungut Amora, ia segera memalingkan wajah. 

.....

Setibanya di Apartemen, Tristan sudah menanti di ruang tamu. Sibuk dengan ponselnya.

"Kau sudah puas bermain-main dengan putrimu." Tanya Tristan tanpa melihat Amora.

"Mmm," 

"Hei lotus, mmm itu apa?" Tristan meletakkan ponselnya, kesal mendengar jawaban Amora.

"Belum tuan," Amora berdiri jauh darinya.

"Kemarilah," Tristan mengulurkan tangannya.

Amora membawa langkahnya mendekat dan langsung di tarik Tristan menuju pangkuannya.

"Menurutmu, apa gadis ini pantas untukku?" Tristan menunjukkan foto Rena.

Amora berdecih dalam hati. Sama sekali tidak pantas.

"Anda serasi sekali, Tuan. Kalian sangat pantas. Kau fans sama dia?" Tristan kesal mendengarnya. Ia mencubit hidung Amora. 

"Dia calon istriku." 

"Dia idolaku, Tuan." Amora tergelak, ia tak menyangka menjadi simpanan calon suami artis itu. 

"Dia memang terkenal." 

"Benar, apa anda tidak takut kalau calon istri anda tahu keberadaan saya?"

"Takut? Kenapa aku harus takut?" Tristan meletakkan ponselnya. 

"Aku memiliki prinsip, setelah menikah nanti. Hanya istriku yang memilikiku." ujar Tristan.

Amora mengangguk, "tuan, apa aku bisa turun?" Tanya Amora ia tak nyaman duduk di pangku pria itu.

"Kenapa?"

Amora langsung menggeleng, sejak duduk sedari tadi ia sudah merasakan hal yang aneh di pangkuan pria itu.

"Lotus,"

"Iya, Tuan."

"Menurutmu aku pria seperti apa?" Tanya Amora. Entah kenapa pria itu butuh penilain mengenai dirinya.

"Tuan aaa..."

"Yang jujur." 

Amora menelan ludah kuat-kuat. 

"Tuan seorang bajingan."

"Apa?" Tristan menaikkan kedua alisnya. Ia terbahak.

"Tuan iblis."

"Terus?"

"Angkuh."

"Terus?"

"Anda pria rendahan!" Teriak Amora. 

Tristan terdiam,  saat semua orang menganggapnya pria terhormat tetapi gadis gang sialan ini justru menganggapnya rendahan.

"Maaf." Lirih Amora. 

Tristan tersenyum, ia mengacak-acak poni Amora. 

"Kau sudah makan?" Amora merinding mendengarnya. Pria ini tak marah sama sekali saat semua hal buruk mengenai pria ini di ucapkan Amora.

Amora menggeleng pelan. 

"Buatkan makan malam. Semua bahan ada di kulkas. Pelayan sudah mengisinya. Aku ingin kau memasak mulai malam ini untukku." 

"Ada syaratnya, tuan."

"Ini perintah"

"Bayiku bolehkah pindah kesini?" 

"Tidak boleh." Amora berdecak, ia menyingkir dari pangkuan Tristan membawa langkahnya menunju dapur.

Tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status