Share

Part 5

Author: Re Siregar
last update publish date: 2020-10-29 15:21:32

"Anda sangat rendahan, Tuan." Amora menatap Tristan tajam, ia tidak peduli sekalipun pria itu telah mengungkungnya. 

Tristan menggigit giginya sendiri mendengar ucapan Amora membuatnya meradang. Tristan kehilangan kesabaran, ia meraup bibir Amora, melumat dengan egois. Menghisap kuat seolah memaksa jantung keluar dari dalam tubuh. 

Amora mendorong kuat dada Tristan, ia kekurangan oksigen. Pria itu memakan seluruh mulutnya. Tristan melepas bibirnya, setelah melihat Amora melemah dibawah tubuhnya.

"Bibir ini sangat manis, lotusku." Bisik Tristan, jari panjangnya membelai bibir yang ia renggut paksa. Merah dan membengkak, dirinya terlalu keras menghisapnya tadi.

"Aku mohon, Tuan. Ampuni aku." Lirih Amora, ia merasakan bibirnya kebas, sementara tangan Tristan mulai meraba di bagian dadanya.

Tristan mengabaikan ucapan Amora, pria itu terus melakukan aksinya. Sekuat tenaga Amora mempertahankan pakaiannya agar tetap melekat di tubuhnya, tetapi tenaga pria itu lebih dari segalanya. Iblis seolah memberinya tenaga dan dengan mudahnya menyingkirkan pakaian Amora.

Tristan menelan ludahnya, melihat tubuh Amora tanpa selembar kain. Amora menyilangkan kedua tangan di dada, ia memalingkan wajahnya dari sudut kedua mata gadis itu berurai air mata. 

Amora pasrah, dia benar-benar tidak berdaya. Tristan membelai seluruh tubuhnya dengan jari-jari lentiknya. Tungkai mulus Amora di kecupin naik pada perut, menjilat pusar meninggalkan basah di sana. 

"Payudaramu kecil," Bisik Tristan, meremas kedua gumpalan lemak itu. Memainkan bagian pucuknya. Amora menahan semuanya dalam diam, seluruh tubuhnya telah dijamah pria ini. Amora masih suci, bahkan berciuman pun ia belum pernah. 

Refleks Amora mengangkat pinggangnya ketika Tristan memainkan lidahnya di liang hangat Amora. Tristan tersenyum, merasakan gerakan alami yang diberikan Amora. Pria itu yakin Amora telah terangsang. 

Tristan meraba-raba pucuk payudara Amora, tanpa melepas lidahnya dari kewanitaan Amora. 

Amora menggigit bibirnya, menahan desahan yang ingin keluar. Ia memaki dirinya dalam hati, kenapa tubuhnya merespon jamahan pria ini.

"Panggil Tristan sayang," bisik Tristan sembari naik dan membungkuk di tubuh Amora. 

"Desahkan namaku, jangan tahan. Aku tahu kau menginginkannya." Suara parau dengan pupil membesar memandang Amora.

Amora memalingkan wajah, ia tidak ingin melihat pria itu. Tristan mengambil dagu Amora, ia kembali melumat bibir gadis itu. Tangannya mulai mengarahkan miliknya pada Ms V Amora. 

Amora mencakar kedua lengan Tristan sekuat tenaga ketika Tristan memasuki tubuhnya. 

Tristan tersenyum puas, gadis ini benar-benar suci dan ini yang pertama baginya merasakan keperawanan gadis. Selama ini gadis yang naik ke ranjangnya hanya bekas pakai. Ia bercinta hanya memenuhi keinginan tubuhnya, bukan dasar cinta. Tidak sama sekali.

Tristan menggigit bibir bawahnya, benar-benar menikmati sensasinya. Miliknya benar-benar di jepit milik Amora. 

Ia mulai menarik sedikit lalu menghujamnya kembali. Amora terus mecakar lengan Tristan setiap pria itu menggerakkan tubuhnya.

"Amora ...." Tristan mendesahkan nama Amora. Gadis itu melebarkan mata, pria ini bahkan mengetahui namanya. Sudah sejauh mana pria ini mengetahui tentangnnya.

"Tubuhmu sangat hangat ...." racaunya, mengoyangkan pinggulnya perlahan. Amora semakin kuat mencakar lengan Tristan tetapi pria itu seolah tidak merasakan apapun pada tangannya. 

Selama dalam penyatuan mereka Amora terus melukai pria itu dengan kuku tajamnya. Ia sengaja melakukan itu meskipun rasa sakit yang ia rasakan di awal berganti jadi nikmat.

"Mora, mora ...." Pria itu semakin meracau, semakin dalam menusuk. Amora tidak kuat tubuhnya di hancurkan pria di atasnya. Ia mengangkat sedikit tubuhnya lalu menggigit bahu Tristan. 

"Sial! Kau melukaiku bodoh!" Gertak Tristan menahan sakit di bahunya, ia mendapatkan pelepasanya, segera menyingkir dari atas tubuh Amora memengangi luka di bagian bahunya. 

"Kau lebih melukaiku," lirih Amora, ia berbalik meringkuk.

"Rasanya nikmat bukan sakit. Tubuhmu juga menerimanya dengan baik." Tanpa tahu diri, Tristan mengatakannya. Turun dari ranjang, melempar selimut pada Amora. Ia berjalan ke kamar mandi melihat dirinya di cermin. Mr. P masih mengacung tegap. Sangat gagah setelah mendapatkan belaian dari pasangannya. 

Tristan melihat luka yang di sebabkan gadis itu di bahunya dan cakaran di kedua lengannya. 

"Wah, dia benar-benar cari mati. Dia melukai tubuhku yang berharga." Katanya, membuka lemari yang menempel pada dinding dan mengambil P3K kemudian mengobatinya.

Amora menangis, melihat tubuhnya yang  ternoda sembari mengenakan pakaiannya. Saat ini tubuhnya seperti jalang. Bekas kissmark dimana-mana. 

Ia menyeret langkahnya menuju pintu keluar, membuka pelan.

"Mau kemana?"

Suara Tristan menghentikan langkahnya. Amora berbalik, ia menatap tajam pria itu. Tristan menaikkan kedua alisnya. Gadis ini baru saja diperkosa bukan? Kenapa tidak takut sama sekali padanya. Tristan jadi heran. 

"Kau tidak boleh meninggalkan tempat ini."Tristan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tubuhnya masih basah dan tampak seksi.

"Apa maksudmu, Bajingan? Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Sekarang lepaskan aku." Ucap Amora tampa rasa takut. 

"Tapi aku belum puas, Lotusku." 

"Aku bukan Lotus sialan! Apaan itu? Bunga  rawa-rawa." Tristan terbahak mendengar ucapan Amora. 

Tristan menghampiri Amora yang menatapnya tajam. Amora mundur hingga mentok ke dinding pintu. 

Tristan menunduk sedikit untuk bisa menatap Amora.

"Bunga Lotus meskipun tumbuh di rawa-rawa dalam air hitam, tapi bunganya sangat indah dan wanginya sangat menggoda. Bunga itu bahkan menjadi bunga nasional di beberapa negara. Begitulah aku menganggapmu, Lotus. Kau gadis pertama yang mencuri perhatianku dari gadis kalangan biasa. Sangat sulit menemukanmu."  Belai Tristan di wajah Amora, dengan tatapan berkabut hasrat.

"Aku tidak peduli dengan lotusmu itu. Sekarang lepaskan aku!" Amora menyingkirkan tangan Tristan.

"Tidak akan! Karena mulai sekarang kau milikku." Kata Tristan, menangkup dagu Amora membuat gadis itu menengadah padanya.

"A-apa maksud, Anda?" gumam Amora.

"Jadilah wanitaku." 

Plak! 

Tangan kecil Amora menampar rahang Tristan. Pria itu menatapnya tajam, gadis ini terlalu berani menamparnya. Ia bisa mengabaikan luka gigitan di bahu dan cakaran di lengan tapi tamparan ini, telah merendahkan harga dirinya.

"Aku tidak sudi jadi jalangmu!" Kata Amora dengan tegas. 

Kedua alis Tristan bertautan, ia menggemggam tangan Amora erat. Mata pria itu memerah karena marah, Amora di tarik paksa dan di lemparkan ke atas ranjang.

Amora menyeret dirinya menuju sudut ranjang, nyalinya tidak seberani tadi. Pria ini benar-benar marah, dan sangat berbeda dari kemarahan sebelumnya.

"Beraninya kau menamparku." Tristan naik ke ranjang, menarik kaki Amora hingga gadis itu terlentang.

Amora memberontak, menendang-nendangkan kakinya. 

"Lepaskan, lepas, lepas bajingan." Gertak Amora. 

Tristan langsung mengunci tubuh Amora di bawah tubuhnya. Kedua tangan Amora di belenggu di atas kepala Amora. 

"Patuhlah, kalau tidak kau akan tersiksa. Sebelum aku puas padamu, kau tidak boleh kemana-mana." Bisik Tristan di telinga Amora.

"Tuan, aku punya bayi. Tolong lepaskan aku." Mohon Amora.

Tristan melumat bibir Amora. Bibir kecil Amora selalu menggemaskan baginya. Seperti bibir bayi.

"Bayimu ada di tempat aman." Tristan melepas tangan Amora dan menyingkir dari tubuh Amora, duduk di tepi ranjang.

"Apa maksud, Anda?" Tanya Amora, menarik tubuhnya supaya bersandar.

"Selama kau patuh bayimu akan aman, tetapi kalau kau membangkang bayimu akan menjadi taruhannya." Kata Tristan. 

Gabriel mengatakan padanya, gadis itu menemukan bayi dan merawatnya. Gabriel mengancam Jesika supaya jujur saat Amora berangkat kerja. 

Tristan merasa terharu saat mendengar informasi yang di berikan Gabriel, tetapi tidak membuat keiginan Tristan berubah. Ia sudah menahan diri, bahkan ingin menenggelamkan tubuhnya ke laut karena aroma bunga lotus yang melekat di pikiran Tristan.

"Tuan, bayi itu tolong jangan lukai dia,"

"Tergantung bagaimana sikapmu." Tristan berdiri menatap Amora yang menatapnya nanar.

"Bersiaplah, sore ini kita terbang ke singapore." Katanya.

"Aku tidak mau kemana-mana, Tuan. Tolong aku harus bersama bayiku."

"Dia bersama temanmu, dan pengasuh di tempat aman." Kata Tristan.

"Tidak, tidak, tolong lepaskan kami Tuan. Anda bisa mendapatkan berjuta gadis di luaran sana yang lebih baik dariku." 

"Kau benar, jadi selama aku belum mendapatkan penggantimu, kau lah yang harus melayaniku." Tristan mendesiskan ucapannya. Lalu menarik sudut bibirnya, menatap Amora.

Amora menahan nafas, ia melihat iblis di wajah tampan Tristan. 

"Bisakah aku melihatnya sebentar?" Tanya Amora. 

"Berjanjilah patuh." 

Amora mengangguk, Tristan tersenyum melihatnya.

Tristan mengambil ponselnya dan menghubungi Gabriel.

"Sambungkan pada ponsel pengasuh bayi itu. Lotusku ingin berbicara." ucap Tristan datar. 

Gabriel yang mendengar ingin mengumpat. Pria ini ternyata benar-benar meniduri gadis berasal dari gang kecil itu.

"Baik, Tuan." 

Tristan melempar ponselnya di atas kasur.

"Lima menit." Kata Tristan, ia berjalan ke ruang ganti. 

Amora mengambil ponsel itu dan mendekatkan pada telinganya. 

"Mora, kau ada dimana?" Tanya Jesika.

"Jesika, kau tidak apa-apa? Bagaimana dengan Huriyah." Amora setengah berbisik. Ia berulang kali melihat ke arah pintu ruang ganti.

"Maafkan aku, Mora. Mereka memaksaku jujur. Kami ada di sebuah rumah tapi aku tidak tahu dimana. Soalnya saat di bawah kesini mataku di tutup." Kata Jesika. 

"Kalian aman?"

"Mmm, Huriyah dan aku ada di sebuah rumah besar dan berhalaman luas. Cukup jauh perjalanan dari tempat kita. Mungkin dua jam lebih. Ada pengasuh untuk Huriyah."

"Cukup!" ucap Tristan, mengambil ponsel dari tangan Amora lalu mematikanya.

"Kemana kau membawa mereka?" Tanya Amora, penasaran.

"Bersihkan dirimu, dan bersiaplah kita akan berangkat."

"Jawab pertanyaanku, Sialan." Amora berdiri, melompat pada punggung Tristan. Menjambak rambut pendek Tristan kuat-kuat.

Tristan memutar tubuhnya, berusaha melepaskan Amora. Kaki gadis itu mengikat di pinggangnya sementara kedua tangan Amora mengerat di rambut Tristan.

"Gadis bodoh!"  Tristan menjatuhkan dirinya pada ranjang dan menimpa Amora.

Amora memekik kesakitan, ia berusaha mencakar wajah Tristan.

"Amora!" Tristan berusaha melepaskan diri dari Amora dan segera berdiri. Ia merasaka perih di bagian pipi nya bekas cakaran Amora.

Tristan mengayunkan tangannya menampar Amora. 

"Auh ....!" Pekik Amora. 

Tristan mengepal ke dua tangannya erat. Matanya memerah, penuh emosi melihat Amora di atas ranjang.

"Kau cukup sombong." Geram Tristan.

"Bajingan!" 

"Patuh atau Bayi dan temanmu berbahaya semua tergantung padamu." Tristan meninggalkan Amora di kamar.

Tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status