Share

part 4

Author: Re Siregar
last update publish date: 2020-10-28 22:36:28
"Kau dari mana saja?" Tanya Jesika kesal saat membukakan pintu untuk Amora.

"Maaf Jes, aku terkena sial." Buru-buru Amora melepas jaket basah dan berjalan cepat ke kamar mandi. Kontrakan mereka hanya tiga petak. Ruang tamu tempat tidur dan dapur.

"Sial kenapa?" Tanya Jesika. Bayi sudah tidur setelah Jesika memberanikan diri memberi bayi itu menyusu.

"Aku hampir ketabrak mobil." Sahut Amora dari dalam kamar mandi.

"Trus kau tidak apa-apa, kan?"

"Tidak apa-apa sih, cuman dari sekarang hidup aku bakalan di penuhi masalah. Oh iya,  Huriyah tidur? Dia nyusu, kan?" Tanya Amora dari dalam kamar mandi.

"Iya sudah tidur, aku memberinya susu." Kata Jesika dari tempatnya. Ia kembali ke ruang tamu bermain ponsel.

Tristan berdiri di bawah Shower dengan air deras menyiram tubuh telanjangnya. Sejak bertemu Amora kepalanya jadi pusing. Hasratnya tidak lepas, sesuatu di antara dua pahanya berdiri tegap. Lotus perempuan itu seolah tertinggal dan melekat pada dirinya. 

"Shit! Aku sudah gila." Kesalnya, memukul dinding kamar mandi. Tristan belum pernah segila ini masalah perempuan. Ia selalu mendapatkan wanita manapun yang ia mau tetapi gadis beraroma  bunga lotus itu telah berhasil membuatnya pikirannya tidak waras. 

Ia mematikan shower, berjalan ke wastafel. Melihat dirinya disana. Dia butuh penghangat malam ini, terlalu malas jika harus bermain sendiri dalam kamar mandi.

Tristan keluar kamar mandi setelah melilitkan handuk di pinggul. Ia mengambil ponsel dari meja lalu menekan nomor Bodyguard nya.

"Kau tahu alamat rumahnya?" Tanya Tristan, begitu Amora keluar dari kamarnya Tristan segera memberi perintah untuk mengikuti Amora diam-diam.

"Sudah, tuan. Ia tinggal di rumah sewaan berukuran kecil." 

"Kirimkan lokasinya pada Gabriel."  Perintah Tristan lalu mematikan ponselnya. Ia tersenyum licik, perempuan itu sudah lancang membuat juniornya tegang sejak tadi. Sebagai balasannya ia harus mengusik hidup perempuan sampai puas.

***

Liliana tampak kegirangan saat menerima hadiah yang di kirimkan Tristan pada mereka sebagai perminta maafan karena sudah membaltakan makan malam. Tas inpor dari brand ternama untuk Liliana juga Rena.

"Rena ..., lihatlah bagaimana baiknya Tristan pada kita. Ia bahkan memberikan kita hadiah mewah begini." Liliana mencoba tas yang di berikan Tristan. Rena hanya memperhatikan sekilas, lalu kembali membaca majalah di tangannya. 

"Mama, bisa membayangkan kalau kau menikah dengan Tristan semua  yang kau inginkan akan terpenuhi hanya dengan menjentikkan jari." ujar Liliana, berdecak kagum. 

"Kau sangat beruntung di sukai pria itu." tambahnya, sembari memeluk tas miliknya. 

"Kau tidak menyukai tas ini?" Tanya Liliana ketika melihat Rena seolah tidak peduli bahkan tidak menyentuh tas super mahal pemberian Tristan.

"Tidak, ambil aja untukmu." balasnya tanpa melihat Ibunya. Lilian berdecak kesal. Ia meletakkan pelan tas di atas meja sofa. 

"Andai saja kau tidak hamil, mungkin kau sudah menikah dengannya. Dia mendekatimu dan kau pura-pura jual mahal, payah." sungut Liliana.

Saat Rena hamil enam bulan Tristan pernah mengutarakan isi hatinya pada Liliana akan meminang Rena. Tetapi Liliana beralasan, Rena harus menyelesaikan drama yang masih ia bintangin. Liliana sangat kesal, karena Rena saat itu sedang mengandung kalau tidak ia akan menerimanya dengan cepat.

Rena kesal mendengarnya, ia meletakkan majalah lalu bangun dari duduknya kemudian meninggalkan Liliana di ruang tamu.

"Kau yang untung jika menikah dengannya." gumam Liliana, kembali mengambil tas dan memeluknya seperti bayi.

Sementara di tempat lain, Amora tersentak kaget melihat tiga pria tegap menghampirinya. Salah satu dari mereka Amora mengenalnya. Pria itu adalah Gabriel, sekretaris Tristan.
Amora menelan ludahnya kuat-kuat, ia meletakkan barang-barang yang akan ia susun di rak belanjaan. Bertemu pria itu artinya kesialan akan menimpanya. 

"Siang, pak." sapa Amora, pria tinggi berkisaran 185cm menatapnya datar. Di tangan Gabriel ada selembar kertas tentang Amora yang ia dapat dari atasan Amora di minimarket itu. 

"Nama Amora, usia dua puluh tahun dan status belum menikah." Amora membeliak saat mendengar nama dan usianya di bacakan oleh Gabriel. "Anda di pecat kerja terhitung dari menit ini." ucap Gabriel dengan tegas.

"Apa maksud, anda?" Tanya Amora dengan raut bingung. 

"Silahkan ikut dengan kami, Nona." 

"Yakk, apa maksudmu di pecat? Kau bukan atasanku dan kenapa juga aku harus ikut kalian." Gertak Amora kesal, ia memasang jurus kuda-kuda untuk melindungi dirinya.

Gabriel tersenyum, melihat tingkah Amora.

"Bawa dia," Gabriel memberi perintah pada pengawalnya, dua pria tegap menghampiri Amora. 

"Jangan mendekat!" Amora mengacungkan tinju. Dua pria tegap dengan wajah dingin menangkap tangan Amora dan mengunci pergerakan Amora.

"Lepasin! Yakk, Sialan kau belum menjelaskan kenapa aku di pecat." Teriak Amora, dua pria tegap membawa paksa Amora keluar dari Mini market.

Di depan mini market, mobil Tristan terparkir, pria itu tersenyum sinis padanya dari jendela mobil.

Dasar sialan! Amora mengumpat dalam hati, ia terus berjalan di tarik dua pria tegap, lalu ia didorong masuk ke dalam mobil Tristan.

"Ini penculikan namanya."Teriak Amora.  Tristan terkekeh mendengar perkataan Amora. 

"Jalan!" Perintah Tristan pada supirnya. Mobil melaju meninggalkan parkiran Minimarket.

"Tuan, kita sudah sepakat mengenai biaya kerusakan mobil Tuan. Saya berusaha mencari uang untuk membayarnya." kata Amora, melihat Tristan yang tampak santai menggulung lengan kemejanya.

"Kau menipuku." ucapnya datar.

"Menipu apanya? Aku tidak kabur, aku bilang akan bertanggung jawab." Teriak Amora, suaranya memenuhi ruangan mobil.

"Diam! Beraninya kau berteriak padaku!" Tangan Tristan mengambil rahang Amora, menekan hingga bibir mungil Amora moyong.

Amora gemetar melihat tatapan tajam pria itu, Tristan melonggarkan tangan di rahang Amora, lalu ibu jarinya membelai bibir Amora. Pria itu mencondongkan tubuhnya kemudian berujar di belakang telinga Amora. 

"Lotusku, kau sangat manis."Bisiknya, lalu menarik dirinya kembali, duduk tegap melihat ke dapan. Amora membisu di tampatnya.

Setelah tiba di Apartemen, Amora di gendong paksa oleh ajudan Tristan dan membawanya ke Apartemen Tristan melalui lift privat.

"Lepasin, lepasin, lepasin ....!!!" Amora memukul -mukul pundak Bodyguard yang menggedongnya. Gabriel dan Tristan yang tururt di dalam ruang lift mengabaikan teriakan Amora. 

Ding

pintu Lift terbuka, Gabriel segera keluar memimpin jalan dan membukakan pintu untuk Tristan. Tristan masuk, dan di ikuti Bodyguad .

"Bawa dia ke kamar." Perinta Tristan, sembari melonggarkan dasi di lehernya. Gabriel membuka kamar dan Bodyguard melempar Amora ke atas ranjang.

"Tolong lepaskan aku, pak." ucap Amora, ia langsung melompat dari ranjang, namun Gabriel langsung menutup pintu.

"Kalian pergilah dan jangan lupa tempatkan bayi itu di tempat aman." kata Tristan pada Gabriel. 

"Baik Tuan." ucap Gabriel, lalu ia dan Bodyguard meninggalkan Apartemen Tristan.

Tristan membuka pintu pelan, ia melihat Amora duduk di lantai sembari menangis memeluk diri sendiri. Tristan tersenyum sinis, ia menghampiri sembari melepas kancing kemejanya.

Ia membungkuk, menyamakan diri pada Amora. 

"Seharusnya ini muda, Lotus. Aku tidak akan memperlakukanmu buruk andai kau patuh dan tidak menipuku." ujar, tristan. Tangannya mengambil dagu Amora, membuat gadis itu mengangkat kepalanya melihat Tristan dengan mata basah nya.

"Aku mohon lepaskan aku, aku tidak berniat menipu anda."Mohon Amora.

"Sudah terlambat, bunga lotusku. Aku terlalu menginginkanmu." Tristan meraup tubuh Amora dan membawanya ke atas ranjang. Ia
melempar gadis itu ke atas ranjang.

Tristan membungkuk di atasnya. Kancing kemejanya sudah terlepas semuanya, hingga dadanya berbulu halus terlihat oleh Amora.

Amora gemetar di bawah tubuh pria itu, ia memalingkan wajahnya untuk menghidari tatapan dalam dari Tristan.

"Aku akan membuktikan kalau kau masih perawan, gadis manis." ucap Tristan dengan parau, satu tangannya menyangah tubuhnya sementara tangan lain menekan dagu Amora supaya tetap  melihatnya. Jakun pria  naik turun, mencium bau bunga lotus dari gadis ini. Ia menjadi mabuk, darahnya mendesir hebat. 

"Tu-tuan, aku memiliki seorang putri bagaimana aku masih perawan." ujar Amora gugup. Tristan menarik kedua sudut bibirnya. Gadis ini masih saja berbohong, setelah Tristan melakukan penyelidikan semua tentang gadis ini. Dan hasilnya, ia telah di tipu dengan mengatakan kalau dirinya sedang Nipas.

"Tidak masalah bagiku kau masih perawan atau tidak, aku hanya ingin mencicipimu untuk menghilangkan rasa penasaranku. Bagaimana rasanya bercinta dengan gadis kalangan biasa sepertimu." ucap Tristan dengan senyum nakal.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status