공유

Part 3

작가: Re Siregar
last update 게시일: 2020-10-27 19:15:30

"Tuan, saya minta tolong jangan buat saya bingung. Saya sudah bilang akan bertanggung jawab atas kesalahan saya." Mohon Amora, pria yang berdiri di kepala ranjang menaikkan sudut bibir. Melangkah mendekati Amora yang basah kuyub.


"Kau memang harus bertanggung jawab untuk itu." Ia mengambil tangan Amora meletakkan gelas wine disana. Jemari panjangnya mengambil dagu membuat gadis itu menatapnya. 


Amora gemetar, bukan dingin karena basah tetapi, tatapan pria itu sangat menakutkan. 


Amora melihat kabut hasrat di mata pria tinggi, jakun naik turun di leher jenjang. Tatapan pria itu fokus pada bibir kecil Amora. Membuat gadis itu semakin menggigil.


"Tu-tuan sa-saya mohon lepaskan saya." Mohon Amora.


"Bibir ini kenapa begitu mungil," Tristan mendesis, tubuhnya berdesir. Ia membelai bibir itu dengan induk jarinya.


"Kau sangat manis," Jemari panjang menyusuri leher. Memberi sensasi membakar pada pemiliknya. Berjalan ke lengan yang terbungkus jaket basah.


Amora gemetar, wine dalam gelas bertumpahan. Pria jangkung mengambil gelas dari tangan Amora lalu mendekatkan ke bibir mungil itu.


"Minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu sebelum tubuhku membakarmu dalam bara surga dunia." Desisnya parau. Menunduk melihat raut pucat Amora.


Amora meminumnya, rasa hangat menjalar di tubuhnya. Refleks menjulurkan lidah runcing, ini pertama kali Amora merasakan wine. Pria jangkung mendesah, lidah itu tampak sangat menggoda untuk dihisap. 


"Tuan maafkan saya." Lirih Amora, mengembalikan gelas wine ke tangan Tristan.


"Sialan, dia pikir aku pelayan apa." Batin Tristan melihat gelas di tangannya. Pria itu akhirnya berjalan meletakkan gelas di atas nakas samping ranjang. 


"Berikan 20juta, baru kau bisa bebas."Tangan nakal mulai menurunkan resleting jaket Amora. 


"Tu-tuan berikan saya waktu saya akan usahakan." suara tak yakin, menjadikan Tristan mencemoh. 


"Kau bisa membayarnya dengan cara lain," mengangkat dagu Amora, bibir mungil  gemetar.


"Apa maksud, Tuan?"


"Tubuhmu." Bisiknya parau,"Kau bisa membayarnya dengan tubuhmu." Lanjutnya, sembari membelai wajah pucat Amora.


"Jangan macam-macam, Tuan." Tangan Amora refleks mencengkram kerah jaketnya.  Menghalagi pandangan pria itu dari tubuhnya.


"Kau punya dua puluh juta? Aku tidak keberatan jika ada, tetapi aku yakin kau tidak memiliki itu. Maka opsi untuk menyelesaikan masalah ini hanya satu cara," 


Tristan mencondongkan tubuhnya, melihat lekat wajah Amora. Sejak gadis ini masuk ke dalam mobilnya, ia sudah mabuk dengan aroma lotus yang di keluarkan tubuh mungil ini. 


"Tubuhmu." ucapnya datar tapi terdengar tegas.


Amora menelan ludah, tatapan pria itu sangat menakutkan, berselimut hasrat lantas Amora menggelengkan kepala, menolak.


Tiba-tiba ponsel Amora berdering dari saku jaketnya. Ia buru-buru mengambilnya, Jesika menelpon. 


"Su-suamiku menelpon, Tuan." ucap Amora berhong.


Tristan memaki dalam hati. 


Apa-apaan ini? Dia seorang istri? Tristan merasa sial. Ia mengepal tangan erat menjauh dari gadis itu.


"Apa?" Bisik Amora.

"Kau sudah dimana? Huriyah menangis. Aku sudah buatkan susu tapi aku nggak tahu memberinya." Kata Jesika dari kotrakan. Amora mendesah lelah, temannya ini sangat tidak bisa di andalkan.


Amora mematikan ponsel, bayi disana membutuhkannya. Ia harus menyelesaikan masalahnya pada pria sombong ini. Maka ia memutar otaknya, demi Huriyah. 


Huriyah? Ia melebarkan mata, mengingat bayi itu.


"Kau sudah putuskan?" Trista bertanya dengan suara ketus, Amora terperanjat kaget. Tristan tidak perduli sekalipun perempuan ini seorang istri.


"Aku baru melahirkan, masih nipas jika kau ingin tubuhku kau bisa menikmatinya."  Entah dari mana ia mendapatkan ide bodoh itu. Pria di hadapannya membelalak tidak percaya. Kembali merasa sial. 


"Yang benar saja? Sialan!" Mengumpat dalam hati, ia teramat kecewa.


"Bayiku menangis di rumah, ingin asi." Katanya, gugup.


"Orang yang baru melahirkan biasanya dadanya membesar. Tapi, wanita ini tidak." Pikir Tristan dalam hati, memperhatikan dada datar Amora.


Amora menyadari tatapan itu, segera ia menaikkan resleting jaketnya. 


"Aduh, aduh perihnya ...," Amora pura-pura kesakitan di bagian dadanya. 


Tristan menaikkan kedua alisnya, bingung.


"Kenapa?" 


"Mungkin karena kepenuhan asi." Gumam Amora, ia melihat raut Tristan kesal. Tatapan pria itu sangat tajam padanya.


"Jangan membohongiku!" Hardiknya, menekan dagu Amora kuat.


"A-aku tidak bohong, Tuan." Amora menekan ponselnya, memperlihatkan layar ponsel pada pria itu.


Amora melihat tatapan tajam pria itu memudar setelah melihat bayi dalam layar. 


Dagunya di lepaskan dengan kesal hingga Amora terhuyung. 


"Shit!"  Sangat kecewa, ia berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu. menyugar rambut kesal. 


Wanita ini sangat menggoda. Aroma tubuhnya seperti bunga lotus membangkitkan hasrat dalam tubuhnya.


Awalnya Tristan hanya ingin mengertak tetapi ketika mencium aroma tubuh perempuan ini dalam mobil,  membuat pikirannya jadi licik. Di tambah bibir mungil perempuan ini, sangat menggemaskan. 


Jika saja Amora tidak mengaku dirinya dalam keadaan nipas, pria ini akan mengambil keuntungan darinya. Sekalipun ia istri orang.


Pria jangkung menekan langkah menghampiri, merampas ponsel dari tangan Amora. Ia menekan nomornya di layar lalu menekan tanda panggil.


"Dengarkan baik-baik, waktumu hanya tiga hari. Kau harus membawa 20juta untuk perbaikan mobilku. Kalau tidak, aku akan menghancurkanmu atau bayi menyedihkan ini."


Amora menelan ludahnya, hatinya sakit mendengar putri kecilnya di hina. Ia mengangguk cepat. Sekarang yang terpenting baginya lolos dari pria ini. 


"Jangan pikir melarikan diri, mulai sekarang kau ada dalam pengawasanku." Tegas Tristan.


"Keluar!" Usirnya kemudian.


"Terima kasih Wine nya, Tuan." ucap Amora, Tristan kesal mendengarnya perempuan itu seolah mengejeknya. 


Tristan mendelik, Amora berlari cepat meninggalkan ruangan itu sebelum Tristan berhati iblis menahannya lagi.


Tristan menendang udara kesal, ia menyesal membatalkan makan malam dengan Rena hanya karena wanita yang sedang Nipas itu.


Gabriel melihat Amora mengatur nafas di depan pintu kamar Tristan. Amora berdecih, memalingkan wajah dari pria dingin yang duduk santai di sofa sembari melihat kearahnya.


Amora berjalan menuju pintu keluar,  membuka pintu lalu keluar dan tidak lupa membanting pintu keras.


Gabriel tersenyum begitu mendengar pintu menutup. Ia penasaran kenapa Tuan nya itu mengumpat saat berduaan dalam kamar bersama perempuan itu.


"Mungkin tubuhnya tidak cukup menggoda." Gumam Gabriel dalam hati, ia menyilangkan kaki dengan santai.


Tristan keluar dari kamar, rautnya sangat suram. Menghampiri Gabriel yang bersantai di sofa.


"Apa kata Rena?" Tanya Tristan, mendaratkan bokong di sofa tunggal.


"Tidak masalah," Kata Gabriel. Bibirnya berkedut menahan tawa. 


"Kau sedang meledekku?" Tristan tahu arti senyuman itu.


"Aku nggak tahu apa yang membuatmu, membawanya ke sini. Seleramu tiba-tiba berubah." Kata Gabriel, mereka  akrab jika hanya berdua dan di tempat-tempat tertentu. 


Gabriel adalah anak dari pengasuh Tristan, mereka sudah saling kenal sejak kecil hingga dewasa. Gabriel yang menemani Tristan membesarkan perusahaan yang di rintis mendiang ayah Tristan hingga sukses seperti sekarang.


Gabriel tahu, Tristan tidak pernah berhubungan dengan gadis kalangan rendah. Selama ini, Tristan hanya di kelilingi wanita-wanita berkelas. Bahkan Tristan terkadang muak, karena sebagian dari mereka sengaja datang dan naik keranjangnya. Tapi gadis tadi .... memirkan itu membuat Gabriel terkekeh geli.


"Kau tidak mencium aroma tubuhnya?" Tanya Tristan, ia merasa sangat sial. Tidak bisa menikmati perempuan itu.


Gabriel mengakuinya, dialah yang mencium aroma itu terlebih dahulu. Bunga lotus bunga kesukaan mendiang Ibu Tristan dan kesukaan Tristan juga.


"Dia nipas."


Gabriel membeliak mendengar ucapan Tristan kemudian ia terbahak. Ia yakin itu alasan Tristan mengumpat.


"Diam sialan!" 

"Kau melihatnya?" 

"Dia mengaku sendiri."

"Dan kau percaya?"


"Awalnya tidak, dadanya bahkan datar. Tapi ia menunjukkan photo seorang bayi di layar ponselnya." Tristan merentangkan ke dua lengan seperti sayap di sofanya.


"Lalu bagaimana dengan mobilmu?" Tanya Gabriel dibarengi dengan kekehan ringan.


"Apa uangku tidak cukup untuk memperbaiki itu?" Tanya Tristan kesal, dia sangat kaya. Tristan tidak berharap sama sekali uang perempuan tadi. Ia menahan gadis itu hanya karena tubuhnya saja.


"Maksudku, pertanggung jawaban wanita itu."


"Aku membuat hidupnya kesulitan. 20juta? Dari mana dia dapat." Tristan tersenyum puas. Ia bangun dari duduknya meninggalkan Gabriel di ruang tamu.

Tbc

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status