Compartilhar

Part 2

Autor: Re Siregar
last update Data de publicação: 2020-10-24 23:32:02

"Kau tidak punya rencana mengantar bayi ini ke kantor polisi?" Tanya Jesika pada Amora yang sedang memberi bayi menyusu lewat botol."


"Mereka pasti kirim ke panti juga, kan?" 


"Ya emang, cuman lebih baik gitu loh dari pada kau yang merawatnya." Jesika duduk di samping Amora.


"Dia sumbing, Jes. Pasti asuhan juga banyak yang nggak care." 


"Lagian orang tua macam apa sih tega buang bayinya sendiri." 


"Dia sumbing, Jes." Ulang Amora, supaya Jesika paham. Kenapa bayi itu di buang.


"Sekalipun Mora, kan bisa di operasi." Sewot Jesika.

"Entahlah, dunia makin tua. Orang-orang sudah tidak takut dosa."  Amora menyengir melihat Jesika yang masih kesal.

"Menurut aku sih, mendingan kirim bayi ini ke panti asuhan atau ke kantor polisi. Kau masih muda jangan membebani dirimu, terlebih bayi ini ...." Jesika mengantungkan ucapannya, ia tidak tega mengatakan cacat.

"Aku mau merawatnya." Kata Amora menatap hangat bayi dalam pangkuannya.

"Terserah kamu deh, aku nggak bisa bantu jagain dia. Aku takut lihat bayi yang masih kecil begini." Kata Jesika, "mungkin aku bantu beli susu atau popoknya aja." Tambah Jesika.

"Makasih Jes, itu juga bagian dari merawat loh. Malah dana yang lebih di butuhkan saat ini. Susu mahal." ucap Amora dibarengin kekehan ringan. Jesika berdecih, melihat temannya yang berhati malaikat itu.

Setelah menyusu, bayi dalam pangkuan Amora akhirnya tertidur. Amora menarik botol susu dari mulut gadis kecil. Membersihkan mulut dengan tisu. Ia terenyuh ketika melihat bibir belah bayi itu. 


"Tumbulah dengan baik dan sehat, aku akan merawatmu." Bisik Amora, ia mencium kepala bayi lembut lalu meletakkan di tempat tidur.

"Siapa namanya?" Tanya Jesika, sembari memainkan ponselnya. 


"Entalah, aku belum kepikiran." Amora merapikan botol susu.

"Sania, nama itu bagus." Usul Jesika. Amora tampak berpikir. Ia ingat sebuah nama di pikirannya.


"Huriyah,"  Jesika menaikkan ke dua alisnya mendengar nama yang di sebutkan Amora.

"Ada artinya?"

"Bidadari surga." 

Jesika menahan senyum, Amora melemparnya dengan tutup botol susu. Ia tahu maksud senyuman itu. 

Bidadari?


Artinya wanita cantik, tetapi bayi ini ....

Well, Amora tetap yakin memberi nama itu. 

"Huriyah, itu namanya." Kata Amora Yakin.

"Oke, kau ibunya." Jesika mengendikkan kedua bahu. Ia melirik sang bayi, setiap melihat bibir pecah itu membuatnya bergidik ngeri.

***

Restoran di daerah Sudirman.

Selain menu terbaik, Restoran ini juga  memiliki ruang privasi untuk pelanggan VVIP. 


Sebenarnya yang menjamu Tristan adalah Liliana,  tetapi pria kaya itu menentukan tempat terbaik dan membayarnya di muka.


Liliana dan Rena sudah hadir sejak satu jam lalu. Liliana tidak ingin terlambat sedikitpun, makan malam ini sangat penting bagiya. Demi masa depan sang putri.


Rena mengembuskan napas pelan. Ia melirik arloji mahal yang melingkar indah di tangan. Jam tangan pemberian Tristan di sebagai hadiah kerja sama saat Rena menjadi Brand Ambassador perusahaanya.


"Mama sudah menelponnya?" Tanya Rena, ia mulai tak sabar.

"Sudah, kata sekretarisnya mereka dalam perjalanan." Jawab Liliana sembari melihat waktu dalam ponselnya. 


"Aku nggak suka orangnya," lirih Rena, jujur.


"Wanita mana yang tidak menyukai Tristan. Semua gadis berlari padanya bahkan mengumpankan tubuh hanya sekedar tidur dengannya. Kau malah menghindarinya. Pria itu punya segalanya, saat ia tahu kau mengambil peran di drama barumu Tristan menyumbangkan dana yang besar secara cuma-cuma. Dia menyukaimu." Kata Liliana panjang lebar. 


Rena menghela napas, selama ini yang dipikirkan Ibunya hanya uang. 


Sementara di tempat lain, Amora berdecak sebal, hujan turun menghalangi langkahnya pulang. Sudah tiga kali Jesika menelpon, mengabari kalau Huriyah sudah di antar pengasuh ke kontrakan. 


Jesika tidak berani menyentuh Huriyah, ia hanya menatap itupun sesekali.  Mau tidak mau, Amora harus hujan-hujanan. Ia mengenakan Hoodie jaketnya kemudian berlari meninggalkan minimarket tempat kerjanya. 


Saat Amora hendak menyebrang, sebuah mobil di jalanan remang nyaris menabraknya. 


"Lihat jalanmu Nona." Teriak pemilik mobil mengacungkan jari tengah padanya lewat jendela mobilnya. 


"Sialan!" umpat Amora mengambil batu lalu melempar mobil dan ternyata malah mengenai mobil lain yang sedang melaju tepat di belakang mobil yang nyaris menabraknya.


"Mampus aku." Rutuk Amora.


Mobil yang terkena lempar berhenti, seorang pria ke luar menggunakan payung lalu melangkah lebar membukakan pintu untuk penumpangnya.


Amora bisa melihat meski jalanan remang. Pria yang keluar dari bangku penumpang mengenakan kemeja putih dan sebuah dasi melingkar di lehernya. Tinggi kedua orang itu hampir sama. 


Mereka terlihat memeriksa keadaan mobil yang terkena lemparan. Seketika pria yang di payungi mencari keberadaan Amora lewat tatapannya.


"Pak ... maaf saya tidak sengaja." ujar Amora dengan rasa menyesal. Ia menggigil di bawah hujan. Jaket tidak lagi menghagatkan tubuh karena sudah ikutan basah.


"Tidak sengaja?"Suara barito milik pria itu terdengar seksi. Amora tidak bisa melihat jelas seperti apa rupa dari pria itu. Matanya di halangi hujan, juga pria ini terlalu tinggi menjulang untuknya yang berukuran mungil.


"Kau tidak tahu tindakanmu ini? Sangat berbahaya juga merugikan." Tegasnya.

"Ma-maafkan saya, pak." Suara Amora bergetar, sembari menahan dingin.


"Panggil Tuan!" Hardiknya. Mendengar perkataan sombong pria itu membangkitkan tanduk di kepala Amora. 

"Yakk, wah ..., Tuan? Hahaha aku bukan kacungmu sialan." Balas Amora tak kalah geram. 


Pria itu tergelak, gelak tawa menyebalkan. 


"Aku butuh dia." Katanya, lalu masuk ke dalam mobil.


Pria yang memayunginya, berjalan ke arah Amora. 


"K-kau mau apa?" Tanya Amora gugup, bibirnya gemetar karena kedinginan. Suaranya hilang, tidak selantang tadi.


"Ikut baik-baik atau di paksa?" Suara itu sama dinginnya dengan pria di dalam mobil.


"Apa maksudmu ikut?" Amora berontak, kedua tangannya sudah di kunci dalam gemggaman pria itu.

"Lepaskan aku. Aku janji akan bertanggung jawab." Amora di tarik paksa lalu mendorongnya masuk ke dalam.


"Jangan mempersulit keadaan, Nona. Kau patuh saja." Kata supir lalu menutup pintu. Patuh bagaimana? Ia di culik bagaimana bisa patuh. 

"Lepasin aku, tolong, tolong ...!!" Teriak Amora, memukul-mukul jendela mobil.


"Diam!" Suara bentakan dari belakang, menghentikan Amora berteriak.


Ia menolehkan kepala pada pemilik suara. Amora melihat jelas wajah pria itu. Berhidung mancung dengan tulang langsing. Kedua alis tercetak tebal.  Bibir sedikit hitam dipastikan pria ini perokok aktif. Kedua lengannya berotot sebanding dengan Tubuh tingginya. Satu yang ada di pikiran Amora. TAMPAN.


Ia tidak suka melihat tatapan Amora padanya, sangat memuja. 


"T-tuan, saya minta maaf. Saya akan bertanggung jawab, tetapi ...."


"Jauhkan tatapanmu!" Katanya dengan tegas memotong ucapan Amora yang terbata-bata.  Pria pria jangkung menelan ludah, melihat bibir Amora yang basah hujan. 


Amora tersentak, ia kembali melihat ke depan. Mengusap tangan berulang-ulang lalu menempelkan ke wajah.


"Apartemen." Ucap pria di belakang memberi perintah, begitu sang supir duduk di bangkunya.


"Bagaimana dengan janji makan malam, Tuan?"


"Jadwalkan kembali."


"Baik Tuan." Ia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.


Pria di samping Amora tidak jauh berbeda dengan pria tepat dibelakannya. Sama-sama berwajah angkuh.


Amora kebingungan, ia memutar pikiran untuk bisa bebas dari ke dua pria ini.


 "T-tuan, saya janji akan membayar kerugian yang saya sebabkan. Tolong sebut harganya, sa-saya akan bayar tapi tolong turunkan saya." Kata Amora, bergerak menoleh kebelakang. 


Pria di sampingnya merasa terganggu saat berbicara lewat ponselnya. Ia mengakhiri panggilan, lalu berdecak melihat Amora.


"Aku mohon Tuan," Mohonnya kembali.


"Gabriel."


Amora mengernyit, ia bicara panjang lebar tetapi pria ini malah menyebut nama Gabriel. Apa maksudnya?


"Mobil ini keluaran terbaru dari Inggris, baretan yang di sebabkan lemparan, Nona. Jika diperbaiki akan memakan biaya 20juta."

"Apa?!"  Amora terkejut mendengarnya, ia tertawa tidak percaya. Suaranya yang gemetar mendadak hilang. 


20juta? Ia hanya karyawan mini market. Gaji sebulan kadang juga tidak cukup untuknya. Sekarang ia mendadak berhutang dengan nominal fantastik.

"Aku tidak punya uang sebanyak itu," Amora kembali menoleh pada Pria di belakang. 

"Tuan, anda orang kaya. Uang segitu pasti kecil. Tolong maafkan kesalahan saya, Tuan." Mohon Amora, pria itu menulikan telinganya. Rautnya kesal, acara makan malam dengan orang yang ia sukai batal. Mood nya hancur seketika karena gadis ini. 


Mobil melaju menuju Apartemen mewah yang ada di pusat kota. Setibanya di lobby Gabriel keluar dan membukakan pintu untuk Tuannya. 


"Keluar, Nona." Amora tersentak kaget ketika pintu di sampingnya terbuka. Ragu-ragu Amora menurunkan kaki dan langsung di tarik Gabriel, kelamaan.

"Bawa dia ke kamarku." Perintah pria tinggi, kemudian melangkah lebar masuk menuju lift ekseskutif. Sementara Amora mengikuti sang supir menggunakan Lift lainnya.

"Kamar? Ngapain?" Pikir Amora dalam hati, ketakutan. "Pak, kenapa saya di bawa kesini? Sa-saya sudah bilang akan bertanggung jawab." 


"Ini salahmu, kau memakinya." Amora mengutuk dirinya, kebiasaan buruknya jadi mala petaka.


"Itu spontan, aku tidak sengaja melakukannya." Amora menyesalinya.


Pintu lift terbuka, Gabriel menarik tangan Amora keluar dari lift dan membawanya berjalan di lorong Apartemen. Membuka pintu dengan kartu aksesnya.


Gabriel menarik tangan Amora berjalan melewati ruang tamu menuju kamar. Ia mengetuk daun pintu suara deheman dari dalam terdengar. 


Gabriel membuka pintu, mendorong Amora masuk ke dalam dan menutup pintu kembali.


Amora gemetar, disana berdiri seorang pria menunggu, sembari mengoyang-goyangkan wine dalam gelasnya. Memandang Amora dengan tatapan picik. 

Tbc ...

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 12

    Gabriel mengetuk pintu ruangan Tristan. Pria di dalam menyahuti."Tuan, Nona Rena ada di ruang tamu. Apa anda membuat janji?" Tanya Gabriel dari ambang pintu.Tristan meletakkan ponsel yang ia mainin. Mendengar nama Rena entah kenapa tidak membuatnya menjadi berbeda."Baiklah, suru dia masuk." Kata Tristan.Gabriel menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah ruang tamu. Rena duduk menunggu disana."Nona, Rena silahkan masuk."Rena melepas kaca mata hitam yang membingkai matanya. Ia mengikuti langkah Gabriel masuk ke ruangan Tristan.Tristan menyambut, ia mempersilahkan Rena duduk di sofa."Apa kabar Nona, Rena. Saya suka peranmu di drama barumu." Tristan duduk di sofa, setelah Rena mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu."Terima kasih, Tuan Tristan. Saya dalam keadaan baik." Rena berucap ramah.Rena melihat Gabriel yang sedang berdiri di belakang Tristan. Ia berhar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 11

    Waktu seolah berhenti, jalanan terasa makin panjang membuat Amora mengantuk di atas punggung Tristan. Ia sudah berusaha menahannya, namun mata itu semakin kurang aja minta menutup.Tristan tersenyum saat merasakan Amora menelungkupkan wajahnya pada punggungnya."Kau tidur?" Tanya Tristan, dan tidak ada jawaban."Ck, dia menyusahkan saja." Tristan terus melangkan, ia sedikit membungkuk supaya Amora merasa nyaman.Setibanya di hotel, Gabriel masih menunggu di lobby hotel. Ia benar-benar mencemaskan Tuan nya."Tuan," Gabriel mendekat begitu melihat Tristan. Ia ingin membantu."Berikan padaku, Tuan.""Aku saja, tidak masalah." Mereka berdua berjalan ke arah lift. Beberapa pasang mata pekerja hotel melihat ke arah mereka dan tentu merasa iri terhadapa gadis yang ada di punggung pria jangkung itu.Gabriel menekan lift dan mempersil

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 10

    "Apa? Aku salah apa, Tuan?" Amora menunduk tak berani melihat Tristan yang menatapnya tajam dengan rahang mengetat.Tristan menagkup sisi wajah Amora, membuat gadis itu menatapnya. Menekan rahang Amora kuat."Kau tahu siapa pemilikmu?" Tristan menembus jantung Amora lewat tatapannya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Ia belum pernah melihat Tristan semarah itu, bahkan saat pertama kali Amora menamparnya.Kemarahan Tristan kali ini sangat berbeda, menakutkan.Amora berusaha mengangguk, tetapi karena rahang nya di tekan kuat tangan Tristan, membuatnya kepayahan untuk mengangguk. Amora akhirnya mengibaskan bulu matan nya. Sebagai jawabannya."Ingat statusmu, kau dilarang menatap pria lain. Terutama perhatian." Tristan melepas kasar tangannya dari wajah Amora.Tristan meninggalkan Amora berdiri di ruang tamu menuju kamar mandi, Amora menahan air matanya yang ingin tumpah."Aku b

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 9

    Setelah selesai menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah perusahan ternama di negara itu. Tristan didampingi Gabriel keluar dari perusahaan tersebut dengan wajah semringah.Mereka tidak sia-sia terbang ke negara singa ini untuk mendapatkan kesempatan menjalin kerja sama dengan perusahaan desain Jam tangan terkenal di negara ini."Malam ini aku bisa tidur nyenyak." Tristan menyandarkan punggungnya pada kursi Limosin yang membawa mereka ke gedung tinggi itu."Kau mau cari club malam?" Tanya Tristan pada Gabriel. Hal yang biasa mereka lakukan jika bepergian. Tristan selalu mencicipi wanita di setiap negara yang mereka kunjungi."Apa gadis itu tidak memuaskanmu?"Tanya Gabriel dibarengi kekehan ringan."Aku memikirmanmu, sialan." Tristan menyilangkan kakinya, memalingkan wajah."Aku tidak tertarik ke Club malam ini."Sementara Amora, di dalam kamar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 8

    "Kau masih ingin bersamanya? Pria ini bahkan memilihara kucing manis untuk menyenangkan hatinya. Percayalah dia bukan pria baik."Rena membaca pesan sekaligus melihat photo yang di kirimkan seseorang padanya. Photo Tristan dan Gabriel menggendong seorang perempuan.Rena tersenyum kecut, apa maksud pesan ini. Ia tidak mengerti, lantas Rena membalasnya."Apa kau mengenal Tristan? Yang aku lihat dalam photo ini, Gabriel lah yang bersama kucing manis." Send.Rena menatap dirinya dalam cermin, ia tampak cantik."Sebenarnya dia menyukai aku nggak sih?" Tanya Rena pada dirinya sendiri.Liliana berulang kali mengatakan kalau Tristan menyukai Rena."Benarkah karena belum ada status di antara kami?" Tanya Rena lagi.Jauh hari, ia sudah lama terpikat pria ini. Jika Liliana mengiginkan hartanya berbeda dengannya, ia menyukai pria ini kar

  • Ceo Angkuh dan Gadis Aroma Lotus   Part 7

    "Mora ...." Tristan kembali berbisik di telinga Amora. Membuat tangan gadis itu melayang keras pada rahang Tristan, sengaja.Siapa yang meminta pria itu berbisik di telinganya. Meninggalkan hawa panas di kulit telinga, hingga pemiliknya merasa sensasi geli.Plak!Amora segera bangun dari baringannya dan melihat Tristan mengetatkan rahang dengan tatapan tajam padanya."Maaf, Tuan aku tidak sengaja." Lirih Amora segera menunjukkan raut memelas. Meski sesungguhnya, ia benar-benar segaja menampar pria itu."Kau!"Tristan meremas pergelangan tangan Amora kuat."Tuan, kau menyakiti tanganku. Aku sudah bilang tidak sengaja. Anda mengejutkanku dan tanganku refleks menampar, Anda." Amora berusaha melepas tangan Tristan dari pergelangan tangannya."Beraninya kau menamparku!" Tangan lain Tristan, mengambil kedua sisi wajah Amora dan menekan keras rahang itu."Sekali lagi, tanganmu ini bera

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status