LOGINSheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
Rok Gaunnya mengembang meski hanya sampai di betis. Gadis itu memang cantik dengan rambut hitam panjang sesikut. Matanya coklat muda dan bercahaya jika terkena cahaya mentari.
"Kemana?" tanya Dina kepo seperti biasanya.
Sheila melirik ke samping, Dina berdiri di pintu kamarnya yang hanya ditutupi gorden tanpa daun pintu. Perempuan itu sudah berkacak pinggang sebelah. Wajahnya juga tak pernah manis seperti biasanya. Mungkin kurang air kapur sirih sehingga terasa sepat.
"Biasa, Mah. Teman Sheila nikah," jawabnya. Ia sudah menyusun jawaban paling terorganisir agar ibunya percaya. Bahkan Sheila sengaja menyimpan sebuah amplop berisi uang lima ribu rupiah di tasnya sebagai bukti.
Dina mengangguk-angguk. "Masih belasan tahun sudah pada nikah. Bukannya nyari duit yang banyak buat balas budi sama orang tua," omelnya.
Tak satu pun kalimat Sheila keluarkan untuk menanggapi itu. Perempuan berusia delapan belas tahun itu lekas keluar rumah sebelum jin penghuni tubuh ibunya keluar lagi.
Dengan angkot hijau jurusan Cicaheum-Cileunyi, Sheila memperjuangkan masa depannya menuju sebuah gedung yang tertera di surat undangan. Lima belas menit hingga ia turun di terminal dan meneruskannya dengan bus. Kota Bandung masih setia dengan gedung-gedung peninggalan masa lalu. Hanya sedikit jumah tower yang menjuntai ke langit.
Syukur, ia masih terciun wangi meski harus berdiri di dalam bus akibat jam sibuk. Kakinya melangkah menuju gedung peninggalan Belanda yang temboknya dicat putih dan memiliki jendela besar. Beberapa orang sudah menyambut bagian masuk gedung, menjaga meja pendaftaran.
"Kak, saya yang ngeDM kemarin. Daftarnya di sini?" tanya Sheila.
Wanita yang menunggui meja itu mengangguk. "Isi formulir dulu, Teh. Bayar pendaftarannya lima puluh ribu di sini saja," jawabnya.
Sheila langsung membayar biaya pendaftaran yang ditukar dengan formulir. Isinya standar dari nama lengkap, usia sampai kriteria calon pasangan. Butuh sepuluh menit hingga formulir itu ia masukan ke dalam kotak berwarna merah muda. Sementara para pria pada kotak biru.
"Sudah, Teh," lapor Sheila pada wanita penunggu meja tamu yang tadi. Ia langsung dipersilakan memasuki gedung.
Ruangannya luas sekali. Gedung ini memiliki empat lampu gantung besar di ballroomnya. Lantainya dialasi karpet merah. Kursi-kursi kondangan tertata rapi. Sheila duduk di barisan para wanita. Banyak wanita-wanita cantik yang datang. Dari wajah mereka sudah terlihat matang dan berumur. Sheila merasa kalah gaya. Make up mereka saja tebalnya sudah seperti buku kalkulus. Ia mulai takut tidak mendapat jatah jodoh di acara ini. Sayang, padahal sudah membayar mahal.
"Teh, nomornya ketinggalan." Wanita yang tadi menyusul Sheila hingga ke dalam dan memberikan nomor peserta. Tak lupa Sheila mengucapkan rasa terimakasihnya.
Acara dimulai dengan sambutan dari ketua panitia. Rupanya acara ini dibuat untuk mempertemukan orang yang siap menikah, tapi belum memiliki pasangan sehingga menurunkan jumlah jomlo sejati Kota Bandung.
"Wah, jomlo di Bandung yang siapa nikah saja sebanyak ini. Rupa-rupa warnanya juga kayak balon," batin Sheila.
Selesai acara, panitia akan memanggil nomor peserta yang daftar sesuai hasil pencocokan mereka. Tak tahu bagaimana caranya, toh kriterianya juga baru Sheila tulis satu jam lalu. Sepertinya mereka hanya main ambil kertas saja biar lebih mudah.
Nomor peserta yang dipanggil satu perempuan dan laki-laki secara bergiliran. Mereka akan dipertemukan di panggung. Yang langsung suka, otomatis akan kencan hari itu juga. Yang tidak cocok harus duduk kembali menunggu pencocokan pasangan putaran dua.
Sudah dua puluh pasangan yang naik dan hanya tiga yang saling menyukai. Sheila jadi gugup sendiri. Mana laki-laki yang datang rata-rata sudah berumur.
"348761," panggil panitia ke atas panggung. Sheila kaget karena itu nomor pesertanya. Ia berjalan menuju panggung. Pria yang akan jadi pasangannya juga sudah dipanggil bersamaan dengannya.
Sheila mematut rambut sebelum naik. Ia lewati satu per satu anak tangga menuju dasar panggung. Saat itulah, Sheila baru fokus melihat pria yang dijodohkan dengannya.
"Oom!" panggil Sheila kaget, karena pria itu ternyata Andre.
Andre tak kalah terkejutnya. Ia sampai terbatuk-batuk melihat Sheila di sana. "Ngapain kamu di sini?" tegur Andre.
Pembawa acaranya sampai bingung melihat mereka saling sapa. "Lha, ternyata peserta yang ini saling kenal," serunya membuat tepukan membahana di seluruh ruangan. Sheila dan Andre jadi malu sendiri. Mereka sampai menunduk.
MC memperlihatkan formulir yang diisi Sheila dan Andre. "Kalian ini paling cocok sampai kriteria pasangannya saja sama," ucap MC sambil melirik ke arah Sheila dan Andre bergantian. "Mau diajak tinggal serumah tanpa orang tua," tambah MC membaca formulir Andre dan Sheila.
Andre terbelalak. Ia melihat ke arah Sheila. Sementara Sheila sendiri memalingkan pandangan.
"Bagaimana, nih. Kriteria sama, kenal juga sudah. Mau lanjut apa gak?" tegur MC.
Sheila melirik ke arah Andre. Ia mengedip-ngedip lalu menggeleng agar Andre menolak perjodohan ini.
Justru Andre malah bingung. Ia ingin lekas keluar dari rumah. Ia juga tahu seberapa menderitanya Sheila tinggal dengan ibunya. Andre melihat ke arah kursi para wanita. Tak ada satu pun yang ia kenal. Ah, dia gak mau kena zonx lagi. Belum karena melihat wajah peserta wanita lain yang sepertinya lebih tua darinya. Andre takut mereka kecewa karena tahu Andre masih terhitung baru menginjak dewasa.
"Aku mau," jawab Andre lantang. Sheila tertegun. Ia menatap Andre sambil mematung. "Aku pilih dia jadi calon istri," tambah Andre.
Lagi-lagi keduanya mendapat tepukan tangan. Sheila yang bingung sekarang. "Bagaimana, Teh? Mau diterima apa, gak?" tanya MC mencoba menyatukan jawaban Andre dan Sheila.
Giliran Sheila yang melihat diantara para lelaki yang datang. Rata-rata mereka sudah berusia. Kalau ia tolak, Sheila harus mengulang lagi. Ia bisa saja mendapat pria yang usianya terpaut sangat jauh.
"Iya, Sheila mau," jawab Sheila sambil menunduk. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Andre juga sama saja. Tak tahu apa yang akan ia lakukan dengan Sheila setelahnya.
Cahaya lampu menyoroti keduanya. Wangi pewangi ruangan membangkitkan gairah. Dengan wajah malu-malu keduanya menunduk. Sesekali mata menatap ke arah audien. "Kita ucapkan selamat kepada calon pasangan yang baru. Mudah-mudahan kalian cocok dan langsung naik ke pelaminan."
Andre menatap Sheila yang terhalang oleh MC acara. Gadis itu tersenyum begitu manis dan lucu, memancing Andre untuk ikut tersenyum juga. Sepertinya cinta memang sudah mulai tumbuh dalam hati Andre sejak dulu, hanya ia baru menyadarinya sekarang.
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.