Mag-log in"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.
Bu Suratmi mengusap rambut Lala. "Kamu gimana sih, Nak. Anak baik begitu kenapa bisa kamu kecewakan?" tanya Bu Suratmi.
Sheila masih nelihat ke arah pintu keluar kemudian kembali melihat Lala. "Iya, Bu. Aku salah. Aku pikir bisa mendapat pria yang lebih kaya dari Andre. Nyatanya, aku malah kehilangan semua," lirih Lala.
Melihat keadaan ini membuat Sheila merasa serba salah. Bukan tempatnya juga untuk ikut campur. Hanya saja ia tak punya ongkos pulang. Bagaimana bisa ia kembali ke rumah.
"Kak Lala, Sheila susul Oom Andre dulu, ya?" pamit Sheila.
"Iya, Shei. Tolong tenangin dia," pinta Lala. Masih tertulis raut sedih di wajahnya.
Sheila menggeleng. "Aku cuman mau numpang pulang, Kak. Gak ada ongkos," ucapnya polos.
Lala dan Bu Suratmi hanya bisa nyengir. Sheila lekas menyusul Andre. Ia hampir kehilangan pria itu, syukur Andre masih tertahan di depan lift.
"Oom!" panggil Sheila.
Andre berbalik. Ia melihat Sheila dengan mata berlinang. "Gak usah, Shei. Jangan tahan aku. Aku gak bisa nerima dia lagi," tolak Andre.
Sheila mengedipkan mata. "Kalau mau pulang ya pulang aja, Sheila cuman mau numpang. Gak ada uang," ralat Sheila.
Rasanya Andre ingin menenggelamkan wajahnya. Apa sudah begitu hina ia kini, diselingkuhi juga dimintai tumpangan.
Pintu lift terbuka. Sheila mengekor Andre masuk ke dalam lift. "Maaf, Shei. Aku gak bisa nerima Lala lagi. Aku harap kamu ngerti. Cinta juga ada batasnya. Buat apa cinta habis-habisan kalau salah satu gak gitu," keluh Andre.
"Iya, Sheila ngerti. Ngapain marah, itu urusan Oom Andre sama Kak Lala."
Andre menatap Sheila. Matanya begitu lirih. "Semudah begitu kamu melepaskan aku?" tanya Andre kecewa.
"Terus aku harus maksa Oom Andre bawa Kak Lala ke KUA?"
"Jangan juga. Ya kalau gak gitu, mohon-mohon dulu biar aku merasa bahagia," pinta Andre.
Sheila menggeleng. "Gak penting," tolak Sheila.
Keluar dari lift, mereka berjalan ke lobi dan menuju parkiran di depan. Andre menengok kanan dan kiri. "Mobilku mana, Shei?" tanya Andre.
Sheila menggeleng. "Emang tadi di simpen di mana?"
Andre merogoh sakunya dan menyalakan alarm mobil. Terdengar bunyi benda itu menjerit. "Ouh, itu mobilku paling keren," ucapnya percaya diri sekali.
Sheila mendelik. "Ya Allah, jauhkan aku dari makhluk seperti ini," batinnya.
Mereka naik ke dalam mobil. Andre menyalakan mesin mobilnya. Ia sudah siap di depan kemudi.
"Oom, gak sedih?" tanya Sheila yang bingung karena wajah Andre sudah terlihat baik-baik saja.
Andre menggeleng. "Ikhlas, ridho. Pasti Allah memberikan ganti yang lebih baik," jawabnya sok alim. Sheila hanya bisa mengaminkan.
Tak ada lagi dialog yang terdengar dari mulut keduanya. Hingga di tengah jalan, ponsel Andre berdering. Ia mendengkus. Lekas Andre menyambungkan ponsel ke earphone bluetoothnya.
"Apa, Eoy!" jawab Andre.
"Heh, adek laknat! Buruan balik, Papah nyari!" omel suara di seberang sana.
Andre menggeleng. "Kasian suamimu, Kak! Tiap hari kupingnya harus dimasukin freezer," ledek Andre.
"Aku gini sama kamu, doank! Soalnya di rumah cuman kamu yang kurang ajar!" Anggi, kakak pertama Andre itu memang sudah sangat emosi pada adik bungsunya.
"Dari kemarin di telpon gak diangkat! Di suruh pulang ada saja alasannya! Papah khawatir. Kamu mau bikin Papah darah tinggi?"
"Aku sudah tegasin dari awal! Kalau perempuan itu di sana, aku gak pulang!" tegas Andre.
"Dia, mamah kita! Mau gak mau kamu harus nerima," paksa Anggi.
Andre menggeleng. "Andre ke rumah, cuman namu. Habis itu Andre balik ke kos. Itu juga kalau perempuan itu pergi. Andre gak sudi liat wajah dia!" omel Andre.
"Terserah! Yang penting balik dulu! Ada yang ingin Papah obrolin!" tegas Anggi langsung menutup telpon.
"Gak sopan! Bukannya ucapin salam. Dasar Kakak gak ada akhlak!"
Andre menyimpan earphone di dashboard. Sheila bergidik. Suara kakak Andre terdengar hingga ke telinga Sheila meski pakai earphone.
Andre melirik Sheila. "Kalau mau diantar pulang, ikut dulu ke rumah orang tuaku. Cuma lima belas menit."
Sheila menggeleng. "Gak mau, emang aku wanita apa sembarang di ajak ke rumah orang tua orang lain!" tolaknya.
Kancing mata Andre memutar. "Pede amat, dah! Tunggu saja di mobil, aku mau masuk. Siapa yang mau ngenalin kamu ke orang tuaku? Kayak kamu lebih cantik dari SPG HP saja!"
***
"Andre sudah bilang, kan. Kalau perempuan itu ada di sini, Andre gak akan datang!" protes Andre.
"Terus?" tanya Anggi sambil berkacak pinggang.
Andre berbalik. "Pulang lagi saja," ucapnya tegas sambil berjalan ke arah pintu.
"Kentut saja kalau datang ninggalin bau! Masa kentut lebih sopan dari kamu. Temuin Papah dulu!" Anggi menarik tangan Andre hingga pria itu terpaksa masuk ke ruang tamu meski dengan kaki yang diseret.
"Andre pulang lagi ke kosan, Pah. Assalamu'alaikum," pamit Andre ketika tiba di ruang tamu. Meski berbicara pada papahnya, mata Andre justru melirik ke pintu keluar.
Anggi memaksa Andre agar menatap papah mereka. "Duduk, Dre!" titah Ari, Papah Andre.
Mendengar suara tinggi papahnya, Andre menurut. Ia lekas duduk di sofa yang jauh dari tempat papahnya duduk. Alasannya hanya ada satu, karena ibu kandungnya, Ajeng sedang duduk di samping Ari.
"Kenapa langsung pergi, baru juga pulang," keluh Ajeng.
Sudut bibir Andre terangkat. "Bukan urusanmu," timpal Andre begitu keras.
Ayu, kakak kedua Andre lekas menyikut lengan adiknya. "Yang sopan sama mamah," tegur Ayu.
"Memang kita punya mamah? Bukannya sudah mati sejak Andre tiga tahun? Masa kakak lupa." Mata Andre sedikit mendelik.
Ajeng menelan ludah. Ia tak mampu bersua lagi. Kepalanya menunduk. "Tak apa, dia gak akan selamanya marah." Ari mengusap punggung Ajeng.
"Gini, Nak. Mamahmu ingin mengenalkan kamu pada putri temannya, Arleta namanya," tunjuk Ari pada wanita muda yang duduk di sebelah Ajeng.
Andre melirik sebentar dan mengakui parasnya memang cantik. Kemudian pria itu menggeleng. "Tidak, apalagi kalau tahu dia anak teman wanita jalang ini!" tolak Andre.
Ari cukup kaget mendengarnya. "Andre! Jangan bersikap begitu pada ibumu."
Andre tertawa perih. "Ibu? Andre gak ingat punya ibu. Jangan bodoh, Pah. Wanita itu sudah ninggalin papah dua puluh tahun dengan laki-laki lain dan mudah sekali papah nerima dia. Apa papah gak pernah sholat sampai kena pelet?"
"Andre!"
"Kalau Andre mau nikah, Andre biar cari perempuan sendiri. Gak usah dijodohin. Apalagi sama anak teman wanita ini. Takut sebelas dua ribeng!" tolak Andre tegas. Ia bangkit.
Ayu dan Anggi hanya bisa nyengir kuda. Keduanya sudah sangat besar saat Ajeng kabur dari rumah dari selingkuhannya. Mereka sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan. Lain dengan Andre yang masih tiga tahun.
Kaki Andre melangkah pergi. Ia kembali ke mobilnya. Ketika membuka pintu, ia dikagetkan sebuah pemandangan.
"Apa ini?" tanya Andre dengan mata terbelalak. Sheila mematung sambil memegang sebotol koka kola dan roti keju. "Kenapa kamu makan?" tegur Andre.
Sheila menelan roti yang sudah terlanjur ia kunyah. "Maaf, Oom. Habis lama sekali Oom ini!" keluh Sheila.
Andre menggeleng. "Aku gak pelit, ya! Kalau ada makanan aku kasih, tapi makanan itu. Roti sudah kadaluarsa satu hari dan koka kola sudah dua bulan. Tadinya aku niat buang."
Wajah Sheila mendadak ter-pause. Ia tak mampu mengeluarkan satu komentar pun. Ia lekas membuka pintu mobil dan mencari solokan terdekat untuk membuang kupu-kupu dalam perut.
Andre menghampirinya sambil memberikan air mineral akua. "Makanya lain kali kalau mau maling cek kadaluarsanya dulu. Kena kamu!'
"Oom Andre yang salah. Kalau tahu kadaluarsa kenapa disimpen di mobil. Orang bego pasti ketipu!" protes Sheila.
"Syukur kalau sadar bego," kelakar Andre. Meski ia kesal, semua berubah suasana hangat penuh tawa akibat yang terjadi pada Sheila.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.