LOGIN"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
Kisah keluarga Sheila memang rumit, percis kisah sinetron ikan terbang yang sering ditoton ibunya sore hingga malam hari. Dina menikah dengan suaminya kini, ayah tiri Sheila - Ujang. Pernikahan Ujang dengan Dina tidak berjalan mulus. Ujang hanya buruh bangunan dan Dina berkerja jadi kuli cuci di rumah keluarga Ridwan - ayah kandung Sheila.
Kerumitan terjadi ketika masalah ekonomi membelit keluarga Ujang dan Dina. Padahal saat itu Dandi masih bayi dan kebutuhannya banyak. Bertengkar hampir setiap hari, akhirnya mereka bercerai.
Sementara Ridwan dan Mayang, tidak dikaruniai anak bahkan setelah lima belas tahun pernikahan. Karena kasihan dengan Dina yang menjadi janda muda dan keinginan memiliki anak, Ridwan menikahi Dina dan dikaruniai Sheila. Pernikahan itu juga atas restu Mayang, istri pertama Ridwan.
Sheila diasuh oleh Mayang selama Dina mengasuh Dandi. Pernikahan dua rumah itu awalnya baik-baik saja hingga Dina sering berulah dengan menghamburkan uang suaminya. Ridwan geram dan mereka mulai sering bertengkar. Dina memang bukan perempuan yang mudah patuh seperti Mayang, akhirnya Ridwan menceraikan Dina. Sheila saat itu diambil hak asuhnya oleh Ridwan dan Mayang.
Tak ingin jadi janda, Dina CLBK dengan Ujang dan kembali menikah. Keduanya akhirnya punya anak perempuan, Karina. Sejak itu dua keluarga itu tak pernah berhubungan lagi, hingga Sheila diantar pamannya ke rumah Dina karena Ridwan meninggal tak lama setelah Mayang.
"Cuci ini sekalian!" Dandi melempar kaos yang sudah bau keringat ke wajah Sheila. Tak ada mesin cuci di sini, hasilnya Sheila harus mencuci dengan manual. Tangannya selalu terasa perih setiap selesai mencuci. Tak jarang akan meninggalkan luka lecet di punggung jari juga rasa panas dan gatal karena detergen.
Mengingat itu rasanya Sheila ingin menangis. Ia tak kuat lagi. Mana cucian sebanyak empat ember besar. Sambil mengucek pakaian, air matanya menetes. Ia ingin pulang, ke rumahnya yang dulu. Mustahil, rumah itu telah berpindah tangan pada orang lain. Sheila juga tak tahu mengapa bisa demikian. Tak sepeserpun harta ayahnya yang tertinggal. Kini, hanya ada hidupnya yang malang.
"Bukannya buru-buru malah nangis. Jijik banget!" komentar Karina yang saat itu ke kamar mandi untuk cuci tangan. Gadis itu sengaja menyiramkan air bekas kobokan ketubuh Sheila. Perih, diperlakukan seperti itu oleh perempuan yang usianya lebih muda. Namun, Sheila tak memiliki daya dan upaya.
Selesai mencuci, Sheila mengeringkan pakaian di halaman belakang rumah. Sesekali ia menatap ke pintu belakang lalu menangis lagi. "Nikah saja, Shei. Jadi kamu bisa pergi dari sana," ide teman Sheila yang masih terngiang di telinganya.
Semalaman Sheila berpikir. Jika ia menikah, meski pria itu tidak kaya, ia akan keluar dari rumah dan mengontrak. Meski Sheila tetap bekerja dan melakukan pekerjaan rumah - itu lebih baik daripada disiksa.
Tangan Sheila merasa pegal. Ia duduk sebentar di kursi kayu yang berada di bawah pohon jambu. Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Paling tidak ia memiliki sesuatu yang menghiburnya, kabar anggota boyband NCT.
Sheila membuka beranda Instagram di mana video juga foto-foto NCT sering di tawarkan Instagram dari berbagai akun. Ia tersenyum melihat cuplikan video dan beberapa kali menekan like. Tak lupa ia melihat lagi ke arah pintu takut ibu atau saudaranya melihat.
Menaik turunkan layar ponsel, Sheila melihat iklan yang menarik. "Dicari, orang yang siap menikah. Biaya daftar hanya lima puluh ribu untuk mengikuti acara perjodohan. Minat? DM," Sheila membaca isi iklannya.
Mata Sheila berbinar. Ia seperti mendapat jalan untuk masalahnya. Sempat bingung mencari calon suami yang bisa membawanya dari neraka ini, akhirnya ia temukan pintu terbuka. Takut ketahuan, Sheila mengintip ke pintu lagi. Suasana masih tenang di sana. Sheila menekan tombol pesan di akun itu. "Min, saya mau daftar. Transfernya di mana, ya?"
***
Iklan itu muncul di beranda Instagram dan dilihat banyak orang. Andre yang sedang menikmati jam istirahat di ruangannya iseng melihat foto-foto yang tersebar di sana. Tanpa sengaja ia juga melihat iklan yang sama dengan yang Sheila lihat.
Andre mengangguk-angguk. "Boleh juga. Aku juga harus punya istri agar tak selalu diminta pulang ke rumah." Sudah lama ia memikirkan itu. Andre tak ingin pulang dan melihat wajah ibu kandung yang meninggalkannya sejak usia tiga tahun dengan pria lain.
Banyak alasan baginya untuk terus tinggal di luar rumah. Dimulai dari jarak kantor ke rumah, tapi yang lebih masuk akal adalah menikah. Usianya sudah dua puluh tiga tahun. Ia juga sudah memiliki pekerjaan tetap di perusahaan. Gajinya cukup untuk menyicil KPR di mana ia tinggal dengan istrinya. Masalahnya adalah ia tak punya pacar yang bisa dijadikan istri. Wanita terakhir yang pacari justru hamil oleh pria lain. Ah, ingat itu kepala Andre merasa cenat-cenut.
"Min, daftarnya bagaimana?" tanya Andre dalam direct message aplikasi tebar foto itu. Tak butuh waktu lama, admin mengirimkan alamat acara.
"Datang ke sini saja, kak. Nanti bayar di tempat," jawab admin. Andre mengepalkan tangan dan menggerakkan ke depan dan belakang tanda senang jalannya mulai terbuka.
"Kenapa, Dre?" Andre hampir terkena serangan jantung akibat suara Sunny yang datang tanpa mengetuk pintu. Meski tahu sahabatnya adalah salah satu atasan, dia masih saja bersikap kurang ajar pada Andre. Mau bagaimana lagi, sudah kenal dari TK.
"Kepo kamu! Datang-datang bukannya salam malah pengen tahu urusan orang," protes Andre. Sunny mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan mendekati Andre dan duduk di kursi depan sahabatnya itu.
"Gak ada akhlak memang. Main masuk ruangan manager dan duduk pula tanpa izin. Hati-hati kebiasaan sampe ke manager lain," omel Andre.
Sunny nyengir. Ia santai saja menyandarkan punggung ke kursi. Ruangan Andre cukup luas. Ada tiga sofa dan meja panjang untuk menerima tamu. Meja kerja Andre juga besar terbuat dari kayu mahoni dan dicat coklat tua. Kursi merah putar tempat ia duduk mengatur rencana keuangan divisinya. Ini ada di lantai sepuluh. Dari kacanya terlihat gedung-gedung lain yang berdiri dengan tegak, termasuk Menara Masjid Agung Kota Bandung.
"Aslinya, kamu ngurus apaan, sih? Kok sampai gak keluar makan siang. Lama banget jadi aku makan duluan saja." Sunny mengambil pulpen di atas meja dan memutarnya.
Andre berpikir sejenak. Temannya ini kalau tidak dijejal sogokan pasti bocor ke mana-mana. "Biasa urusan atasan. Remahan kagak usah tahu," celetuk Andre.
Sunny melempar pulpen ke arah temannya itu. "Pikasebeleun!" umpat Sunny. Andre hanya tertawa. Ia berencana merahasiakan sampai menemukan calon istri untuk dinikahi.
"Aku dengar dari Pablo Fulgoso, katanya kamu putus sama Si Lala?" tanya Sunny penasaran. Andre mengangguk. Pablo adalah bagian dari tiga sesikut Bersama Andre juga Sunny. Tiga anak yang dulu diasuhkan pada Bu Maya, janda dengan anak satu. Namanya Pablo karena ibunya senang menonton film Rosalinda dan Paquita. Dasar sahabat sengkleknya menambah dengan kata Fulgoso, an jingnya Marimar.
"Syok aku, Sun. Dia hamil," jawab Andre.
Mulut Sunny terbuka lebar. "Kamu hamilin dia dan gak mau tanggung jawab?" terkanya membuat Andre kesal karena lagi-lagi dituduh yang benar-benar.
"Bukanlah! Dia hamil sama pria lain. Mana katanya sudah punya istri. Laki-lakinya gak mau tanggung jawab. Dia malah minta aku yang nikahin. Mana maulah, aku ini masih jejaka, masih polos kayak bubur tanpa topping. Aku juga belum siap nikah langsung punya bayi. Apalagi bayinya punya orang," jelas Andre.
Sunny mengangguk-angguk. Ia duduk tegak sambil menempelkan telapak tangan di meja. "Iyalah, yang enak-enak mereka, ngapain kamu yang harus nanggung. Kecuali kamu diajak juga, pas kalau mau bagi dua," celetuk Sunny.
Tangan Andre dengan sikap menggeplak Sunny dengan buku polio tempat ia menyusun laporan secara manual. Andre itu dipilih jadi manager di usia muda karena keterampilannya dalam pekerjaan. Dalam setengah tahun bekerja ia terus naik jabatan. Hingga kini fotonya selalu terpampang sebagai pegawai teladan.
"Terus sekarang jomlo lagi?" tebak Sunny.
Andre mengangguk. Ia merasa hidupnya penuh dengan ironi. Andre melihat wajahnya terpantul di layar laptop. Dagunya kotak dan tegas. Matanya begitu dalam dengan garis berbentuk almond. Alisnya tebal seperti orang Arab, dan hidung mancung. Orang bilang meski turunan Bandung dan Garut, Andre malah lebih seperti artis Korea turunan Arab.
"Wajah ganteng memang kalah sama duit banyak," keluh Andre.
Sunny mengangkat alis. "Aku tanya kenapa Lala tega selingkuh. Katanya laki-laki itu kaya, punya usaha sendiri. Sedih banget ya? Aku yang ganteng dan masih muda ini kalah sama Oom-oom beristri," keluhnya. Menyebut kata Oom mendadak Andre bergidik sendiri. Ia ingat dengan perempuan yang sering memanggilnya dengan kata itu. Sejenak ia tersenyum.
"Kenapa kamu? Tadi sedih, sekarang nyengir sendiri," ledek Sunny.
Andre menggeleng. "Aku baru nemu perempuan aneh. Temannya Lala. Padahal seumur, tapi manggil aku Oom. Sudah diprotes tetap saja begitu. Beberapa lalu dia makan makanan kadaluarsa di mobilku. Besoknya sakit perut dan minta pertanggung jawaban. Dibawa ke puskesmas malah minta balik lagi, gara-gara dokternya ganteng jadi malu kalau meriksa badan gara-gara mencret," cerita Andre.
***
"Kenapa?" Malam itu Andre menjemput Sheila ke toko. Ia sudah trauma ketika pacarnya yang dulu tak mau dijemput ternyata dijemput ke kamar hotel oleh suami orang. Dengan Sheila, Andre akan lebih protektif. Ia tak mau kehilangan kesayangannya lagi. Mana untuk nembak, ia meski maksa tukang jus untuk jual tiga buah mangganya. Syukur tukang jusnya janda dua anak, dipanggil bidadari surga langsung luluh dia.
"Ini." Andre membelikan Sheila satu kantong kertas cireng dengan berbagai jenis rasa, dari sosis pedas sampai abon. Sayang gak ada yang isinya uang seratus rebuan dan kalau lagi sial dapat kertas tulisan 'coba lagi'.
Kehilangan keberanian, Andre dan Sheila diam seribu bahasa. Si pria fokus dengan kemudi dan wanitanya hanya melihat ke luar jendela mobil memperhatikan setiap toko yang ia lewati. Aneh rasanya, tiba-tiba diam-diaman begini. Biasanya jika bertemu pasti mereka sudah habis berdebat dengan sesuatu yang tidak penting dan berfaedah.
Sheila sudah berdandan cantik menuju tempat yang admin tunjuk. Ia memakai gincu juga bedak tabur gambar ibu-ibu agar terlihat segar. Untung saja mukanya sudah cantik sejak dari cetakan. Meski tak memakai make up full color, tetap sama cantiknya dengan anggota Blackpink.
"Shei! Nyuci kamu sana!" titah Dina setelah Sheila selesai masak. Hari libur hanya judul tagline bagi Sheila. Nyatanya jika tidak bekerja di toko, ia harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Sedang adik dan kakaknya bermalas-malasan duduk di sofa sambil menatap layer hape.
"Maaf, La. Kamu tahu apa yang paling aku benci, dikhianati." Andre berbalik. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Lala hanya bisa menatap sedih kepergian Andre.